Mengapa Mereka Mengkritik Keras Full Day School

Pendidikan karakter yang memadai kepada anak didik di sekolah-sekolah, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy melontarkan gagasan kemungkinan penerapan sistem belajar-mengajar dengan sekolah sehari penuh (Full Day School).

Kata Menteri Muhadjir, FDS ini tidak berarti peserta didik belajar seharian penuh di sekolah, tetapi memastikan bahwa peserta didik dapat mengikuti kegiatan-kegiatan penanaman pendidikan karakter, seperti mengikuti kegiatan ekstrakurikuler. Menurut Muhadjir, FDS dapat membendung pengaruh-pengaruh buruk yang diterima anak saat orang tua sibuk bekerja dan tak sempat mengawasi. Selama satu hari di sekolah, banyak hal yang bisa dipelajari anak-anak untuk menambah wawasan mereka.

Tapi, di luar dugaan, gagasan Menteri Muhadjir mendapat kritik tajam dari berbagai kalangan, dari orang awam hingga cendekiawan. Imam Prasodjo menyebut pernyataan Mendikbud membuat dahi mengkerut; Luthfi Assyaukanie menyebut Mendikbud blunder; Denis Maltoha (filsuf?) menyebut Mendikbud sesat pikir dan kejam (Quereta, 9/8/2016); dan masih banyak lagi kritik-kritik yang jauh lebih tajam bahkan cenderung kasar (di antaranya dalam bentuk meme). Uniknya, tidak sedikit dari para pengritik itu (disadari atau tidak) merupakan “eks anak didik” FDS.

Pada dasarnya FDS sudah diterapkan di banyak sekolah di negeri ini, baik secara tersirat maupun tersurat. Yang tersirat seperti boarding school, pesantren, pendidikan seminari, dan sekolah-sekolah kedinasan yang pada umumnya bahkan menerapkan full day and night school.

Yang tersurat seperti SMA A. Wahid Hasyim (Jombang, Jawa Timur), SMA Internasional Budi Kartini (Surabaya, Jawa Timur), SMA Tunas Luhur Paiton (Probolinggo, Jawa Timur), SMP-SMA Al-Mamoen (Cianjur, Jawa Barat), dan lain-lain.

Mencermati kritik-kritik terhadap FDS, saya teringat Imam Ghazali yang membagi manusia menjadi empat golongan (tipe). Pertama, rajulun yandri wa yadri annahu yadri (orang yang tahu dan tahu dirinya tahu). Kedua, rajulun yadri wa la yadri annahu yadri (orang yang tahu dan tidak tahu dirinya tahu).

Ketiga, rajulun la yadri wa yadri annahu la yadri (orang yang tidak tahu dan tahu bahwa dirinya tidak tahu). Keempat, rajulun la yadri wa la yadri annahu la yadri (orang yang tidak tahu dan tidak tahu bahwa dirinya tidak tahu).

Dengan meminjam kategorisasi Imam Ghazali, saya ingin melihat tipe-tipe kritik yang dilontarkan publik terhadap FDS. Pertama, mereka yang tahu apa dan bagaimana FDS dan tahu plus minusnya jika FDS diterapkan. Mereka gencar mengritik FDS karena dilandasi pengetahuan yang cukup tentang pendidikan. Tapi mungkin karena perbedaan perspektif dalam melihat FDS (antara dirinya dan sang Menteri) sehingga tidak ada titik temu. Perhatikan, misalnya, komentar Imam Prasodjo berikut ini:

“Ketahuilah Pak Menteri bahwa terlalu banyak sekolah yang tak layak sebagai lingkungan belajar, atau bahkan tak layak hanya sebagai tempat sekadar berkumpul. Lihatlah kondisi SD dan SMP di banyak wilayah, apalagi daerah terpencil. Angka statistik di Kemendikbud pasti tersedia yang menunjukkan berapa banyak sekolah yang rusak, tak ada toilet, tak ada halaman bermain, atau bahkan sudah masuk kategori zona berbahaya.”

Jelas ada perspektif yang berbeda antara apa yang dipikirkan Menteri Muhadjir dan yang dipikirkan Imam Prasodjo. Aktivis Nurani Dunia ini melihat kemungkinan penerapan FDS dari sudut pandang negatif, yakni untuk sekolah-sekolah yang dari sudut pandang Menteri Muhadjir pun sebenarnya tidak mungkin akan menjadi tempat penerapan FDS.

Kedua, mereka yang pada dasarnya memahami apa dan bagaimana FDS, namun (mungkin karena alasan-alasan subjektif) mereka tidak tahu bahwa dirinya paham. Termasuk katagori ini adalah mereka yang sudah lama bergerak di dunia pendidikan (guru, dosen) dan sebagian merupakan alumni (produk) dari pesantren dan atau boardong school. Mereka menjadi kritikus terdepan seolah-olah tidak pernah merasakan manfaat dari FDS. Psikolog Yayah Khisbiyah menyebut mereka ini sebagai great pretender. Orang-orang yang sejatinya mengerti tapi penuh kepura-puraan.

Ketiga, mereka yang benar-benar tidak tahu FDS dan tahu dirinya tidak tahu. Mereka ini bisa dari kalangan awam, bisa juga dari kalangan cerdik pandai yang bukan ahli pendidikan. Prinsipnya kritik dulu, mencermati kemudian. Mengritik mungkin karena mengikuti arus, tapi karena sadar dirinya tidak tahu, maka tetap berusaha mencari tahu apa dan bagaimana FDS. Orang-orang seperti ini biasanya mau menerima penjelasan karena sadar akan ketidaktahuan dirinya. Setelah tahu, bisa berubah mendukung, bisa juga tetap mengkritik.

Keempat, mereka yang tidak tahu FDS dan tidak tahu kalau dirinya tidak tahu. Ini kelompok yang paling buruk. Mengkritik seolah-olah tahu, padahal tidak tahu. Bisa dari kalangan awam, bisa juga dari kalangan orang-orang ternama tapi bukan ahli di bidang pendidikan.

Mereka tidak tahu diri atau sok tahu. Atau bisa juga waton suloyo (asal mencela) untuk sekadar mencari popularitas. Termasuk dalam tipe ini adalah kalangan artis yang tiba-tiba jadi pengamat pendidikan dengan kritik-kritiknya yang tajam seperti Deddy Corbuzier, Sophia Latjuba, Rossa, Tyas Mirasih, dan Julia Perez.

“Gagasan program Full Day School belum tepat diterapkan di Indonesia karena memang secara filosofis dan praktis, gagasan tersebut bermasalah,” kata Anamg Hermansyah.

“Dunia pendidikan kita ini jangan dijadikan kelinci percobaan. Ini bukan waktunya untuk menjadi kelinci percobaan, dan siswa-siswa kita juga bukan kelinci percobaan,” kata Fadli Zon.

Jika anggota Komisi X DPR RI dan Wakil Ketua DPR RI ini mau memahami penjelasan Mendikbud, keduanya bisa masuk kritikus tipe ketiga, tapi jika tidak mau tahu, mungkin termasuk tipe keempat. Wallahu’alam!

Yang menarik, di luar kritik-kritik keras yang berkembang di media dan (terutama) media sosial, FDS justru mendapat apresiasi dan dukungan dari para pendidik kenamaan seperti Arif Rachman, Rhenald Kasali, dan Komaruddin Hidayat.

sumber: http://geotimes.co.id/setelah-full-day-school-menteri-muhadjir-dikritik/

Inilah, Kabar Peniadaan Pendidikan Agama di Sekolah Tidak Benar

Mendikbud Muhajir Sekolah 5 hari fullday
Mendikbud Muhajir Sekolah 5 hari fullday
Mendikbud foto:kemdikbud.go.id

Jakarta, Kemendikbud — Beredarnya pemberitaan yang menyebutkan bahwa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) akan meniadakan Pendidikan Agama di sekolah adalah tidak benar. Upaya untuk meniadakan pendidikan Agama itu tidak ada di dalam agenda reformasi sekolah sesuai arahan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) ungkap Kepala Biro Komunikasi dan Layanan Masyarakat (Ka BKLM) Ari Santoso.

baca: Full Day School Bisa menangkal Radikalisme di Sekolah, Maarif Institute

“Justru pendidikan keagamaan yang selama ini dirasa kurang dalam jam pelajaran pendidikan agama akan semakin diperkuat melalui kegiatan ekstrakurikuler,” disampaikan Ari Santoso usai mengikuti Rapat Koordinasi dan Sinkronisasi Kebijakan dengan Unit Pelaksana Teknis di kantor Kemendikbud, Jakarta, Selasa sore (13/6).

Dijelasakannya bahwa pertanyaan wartawan kepada Mendikbud Muhadjir Effendy usai Rapat Kerja dengan Komisi X DPR RI mengenai apakah dengan penerapan lima hari sekolah akan meniadakan madrasah atau mengaji. Pertanyaan tersebut dijawab Mendikbud dengan tegas bahwa sesuai dengan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Permendikbud) Nomor 23 Tahun 2017, sekolah dapat bekerja sama dengan lembaga pendidikan yang menyelenggarakan pendidikan karakter yang sesuai dengan nilai karakter utama religiusitas atau keagamaan.

baca: Sekolah 5 Hari Dorong Siswa Ikut Diniyah, Mendikbud Muhadjir Effendy

“Judul pemberitaan tersebut tidak tepat. Ada konteks yang terlepas dari pernyataan Mendikbud usai Raker dengan Komisi X tadi siang,” jelas Ari.

Ari menambahkan, bahwa Mendikbud mencontohkan penerapan penguatan pendidikan karakter yang dilakukan beberapa kabupaten seperti Kabupaten Siak yang memberlakukan pola sekolah sampai pukul 12 lalu dilanjutkan dengan belajar agama bersama para uztad. Siswa diberi makan siang yang dananya diambil dari APBD. Kemudian Mendikbud menyampaikan pola yang diterapkan Kabupaten Pasuruan. Seusai sekolah, siswa belajar agama di madrasah diniyah.

Pernyataan Mendikbud telah sesuai dengan pasal 5 ayat 6 dan ayat 7 Permendikbud tentang Hari Sekolah yang mendorong penguatan karakter religius melalui kegiatan ekstrakurikuler.

“Termasuk di dalamnya kegiatan di madrasah diniyah, pesantren kilat, ceramah keagamaan, retreat, katekisasi, baca tulis Al Quran dan kitab suci lainnya,” pungkas Ari. (*)

Jakarta, 13 Juni 2017
Biro Komunikasi dan Layanan Masyarakat Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

Kini Gelar Akademis Menjadi Sakral

Gelar Akademis Sakral

Gelar Akademis Sakralcahayaumat.net – Baru-baru ini lembaga pendidikan semakin diperketat dengan aturan terkait status tenaga pendidik. Sudah menjadi ketetapan jika seorang guru (pendidik) mulai dari tingkat dasar (seperti PAUD, TK dan SD), tingkat menengah (SMP sederajat) dan atas (SMA sederajat) munimal harus bergelar Strata satu (S1). Sedangkan pada tingkat tinggi “Perguruan Tinggi”, dosen yang mengajar S1 minimal lulusan pascasarjana alias S2. Yang mengajar S2 diwajibkan minimal bergelar doktor dan pengajar mahasiswa jenjang doktorel harus Guru besar alias Profesor.

Dengan aturan seketat itu, banyak lembaga pendidikan harus berbenah total. Bagi lembaga pendidikan yang berskala besar/maju, mau tidak mau harus menguliahkan guru/dosen yang belum menamatkan jenjang S1, S2 dan S3 sesuai kemampuan lembaga pendidikan masing-masing. Sedangkan lembaga pendidikan yang berskala kecil, harus memberi pilihan kepada guru/dosen apakah melanjutkan studinya atau “diberi ucapan terima kasih”.

Selain aturan diatas, masih dibenturkan dengan aturan tidak boleh memiliki nomer induk kependidikan ganda bagi pendidik yang mengajar di dua jenjang pendidikan berbeda. Seperti seorang guru yang juga merangkap jadi dosen. Mereka harus memilih antara mempertahankan NUPTK atau NIDN. Dengan demikian, pendidik (guru/dosen) tadi harus memilih. Sedangkan lembaga juga tidak mau dirugikan jika pendidik mengajar di salah satu lembaga sedangkan nomer induk kependidikannya berada di lembaga yang lain.

Aturan-aturan diatas membawa perubahan yang signifikan. Banyak lembaga pendidikan, baik tingkat sekolah (PAUD, SD, SMP sederajat dan SMA sederajat) maupun tingkat tinggi (ST, Institut dan Universitas) berlomba-lomba mencari tenaga pendidik baru yang sarjana dan belum memiliki induk kependidikan yang bisa dijadikan guru/dosen tetap. Aturan ini pula yang akhirnya menghadirkan berbagai “ucapan terima kasih” kepada pendidik karena tidak memiliki standar yang berlakukan oleh pemerintah tersebut.

Diberlakukannya aturan tersebut tentu dengan tujuan yang mulia, demi mutu pendidikan bangsa Indonesia. Hanya saja, masih banyak lembaga pendidikan yang belum siap menerima peraturan tersebut. Akibatnya, banyak lembaga pendidikan, khususnya perguruan tinggi banyak merekrut tenaga baru meski yang direkrut tidak lebih baik dari tenaga lama. Karena setiap jurusan harus memiliki sejumlah dosen tetap, minimal 6 orang.

Banyak orang pandai, kharismatik dan penuh talenta seolah kurang berarti akibat aturan tersebut. Bahkan lulusan pesantren -contohnya- yang sudah paham tentang ilmu agama, sosial dan budaya rasanya kurang lengkap jika tidak memiliki gelar akademis. Bahkan, mereka terkesan diabaikan oleh pemerintah meski kompetensinya bisa menyamai seorang doktor sekalipun. Padahal, menjadi seorang bupati/wali kota, gubernur, menteri bahkan presidenpun tidak harus bergelar magister apalagi doktor.

Kini gelar Akademis itu menjadi sakral. Karena bagaimanapun, disadari atau tidak, diterima atau tidak, demi memperbaiki mutu pendidikan itu sendiri. Lembaga pendidikan dituntut untuk terus aktif melakukan perubahan. Tentunya dengan cara-cara yang baik agar tidak terjadi persoalan dikemudian hari. Tetapi jangan dilupakan, bahwa bangsa Indonesia yang kaya raya ini juga memiliki orang-orang hebat, pandai dan penuh telenta meski belum sempat memiliki gelar akademis. Hanya Allah swt Yang Tahu.

KINI GELAR AKADEMIS MENJADI SAKRAL
Oleh: Abdurrahman Gibol

Penulis adalah kandidat Doktor Manajemen pendidikan Islam di Pascasarjana UIN Malang

PD IPM Kabupaten Gresik Mengagas Gerakan Pelajar Sehat (GPS)

GPSCahayaumat.net, – Pimpinan Daerah Ikatan Pelajar Muhammadiyah Gresik berkerjasama dengan UKM Lembaga Pengkajian Penanggulangan Narkoba dan HIV AIDS (Lakapanzha) UWKS guna mengadakan kegiatan penyuluan kesehatan di Kabupaten Gresik.

Dalam sambutannya, Idha Rahayu Ningsih, M.Psi, Wakil Rektor 1 mengutarakan jika pelajar atau remaja sekarang mesti mengerti dengan filosofi obat nyamuk, ia bergerak ke inti atau kedalam. Begitupula dengan remaja yang harus selalu menjaga diri dengan aqidah yang benar. Tidak mudah terjerumus ke pergaulan bebas.

“Sesuai dengan tema Mewujudkan Pelajar Gresik Yang Cerdas, Bebas Narkoba dan HIV AIDS. Kami berusaha menyiapkan generasi mendatang tuk lebih maju, terutama harus dapat memahami dampak negatif dan berbahanyanya Narkoba dan AIDS. Ini juga menjadi awal Gerakan Pelajar Sehat (GPS)”, tutur Muhammad Manu, ketum PD IPM Gresik di Auditorium Universitas Muhammadiyah Gresik. Ahad, 07 Februari 2016.

Agustianto, SH. Kepala BNN Kabupaten Gresik memberikan materi pertama dan menjelaskan bahwa di Gresik ada tren naik terutama pada pecandu. Ini dikarenakan semakin terbukanya masyarakat Gresik tuk melapor, bukan BNN hanya diam. Ada 3 pilar yang kita lakukan yakni cegah, berantas, dan rehab.

Agustianto juga menambahkan jika di tahun 2016 akan menjalankan 3 program uggulan yakni 1) Sekolah Bersih Narkoba; 2) Kurikulum Terintegerasi dengan pengentahuan Narkoba dan 3) Kampung Bersih Narkoba. Tentu ketiganya bekerjasama dengan badan-badan terkait di Gresik.

Sebelumnya, peserta diberikan pre-test untuk mengukur pemahaman Narkoba dan AIDS oleh panitia. Materi kedua diberikan oleh Ketum UKM Lakapanzha, Tri Juli Yansyah mengenai HIV AIDS dan Kesehatan Reproduksi.

“Jauhilah penyakitnya bukan orangnya, yang dijauhi perliku yang beresiko membuka jalan-jalan masuknya HIV”, terang Iyan.

Banyak antusiasme yang di perlihatkan peserta, karena rasa ingin tahu yang tinggi bagi pelajar. Setelah acara selesai, peserta diberikan post-test tuk mengukur kembali seberapa jauh ilmu yang didapatkan pada penyuluhan kali ini. (mm)

Mendikbud : Tablet Sebagai Pengganti Buku Pelajaran Siswa di Sekolah

Anis BasCahayaumat.net, – Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Anis Baswedan mempunyai rencana tuk menambahkan tablet tuk jadi alat bantu dalam proses Kegiatan Belajar Mengajar (KBM).

“Di beberapa Negara pelajar sudah memanfaatkan tablet sebagai pengganti buku pelajaran. Ini secepatnya akan dirasakan oleh pelajar di Indonesia”, imbuhnya.

Buku yang menggunakan kertas tetap digunakan, tablet hanya untuk penyimpanan materi pembelajaran. Menurutnya, buku merupakan elemen penting dalam belajar mengajar. Lebih dari 50 juta anak Indonesia bersekolah yang diajar oleh lebih dari 3 juta guru.

“Dahulu kita mengenal Sabak tuk menghemat penggunaan kertas, sekarang tablet bisa mengadopsi sabak dengan nama E-Sabak”, ujar Anis di kantor Jakarta.

E-Sabak selain dapat menghemat kertas, juga tidak diperngaruhi oleh kualitas buku, bagaimana distribusi atau rumitnya logistik. E-Sabak juga lebih interaktif dan dapat memebrikan banyak bahan-bahan materi bagi para guru. (mm)

30 Universitas Muhammadiyah Mendapat Bantuan Tim Ahli Dari Jerman

Kurang lebih 30 Kampus Muhammadiyah di beberapa daerah di Indonesia bakal memperoleh bantuan tenaga pakar dari pemerintah Jerman dalam rencana tingkatkan kemampuan pengajaran serta penelitian ilmiah.
” Kami tanggapi positif tawaran itu. Itu utama untuk tingkatkan daya saing generasi muda kita di masa Orang-orang Ekonomi ASEAN (MEA) , ” kata Bendahara Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Prof Dr Suyatno pada Lokakarya Sosialisasi Pertolongan Tenaga Pakar Jerman di Jakarta, Senin.

Menurut Rektor Kampus Muhammadiyah Prof Dr Hamka (Uhamka) ini, pertolongan Jerman itu diberikan pada kampus di negara-negara yang mempunyai potensi besar, berbentuk tenaga pakar yang upahnya dibiayai pemerintah Jerman, sedang perguruan tinggi setempat (Muhammadiyah) berbentuk akomodasi.

Tenaga pakar itu, lanjut Suyatno, dapat adalah pakar dalam soal pengajaran, praktek lapangan, penelitian serta jurnal, sampai bagian kepemimpinan yang memanglah diperlukan beberapa dosen serta mahasiswa di perguruan tinggi Muhammadiyah.

Suyatno menyampaikan, kerja sama juga dengan Jerman itu searah dengan gerakan penambahan kemampuan Perguruan Tinggi Muhammadiyah (PTM) sebagai prioritas Majelis Pendidikan Tinggi Muhammadiyah.

” Kami mau akreditasi dari 1. 300 program studi di 154 Perguruan Tinggi Muhammadiyah rata-rata B. Sekarang ini 50 % masih tetap C, 45 % B serta cuma 5 % yang A. Itu satu diantara contoh kemampuan yang butuh ditingkatkan, ” ujarnya.

Ia mengimbau, seputar 30 PTM di beberapa daerah selekasnya menindaklanjuti penandatangnan MoU dengan Senior Experten Service (SES) yang berpusat di Bonn Jerman itu, terlebih banyak PTM di beberapa daerah kekurangan tenaga pengajar.

Beberapa wakil dari PTM ini diantaranya dari Kampus Muhammadiyah Jakarta, Malang, Surabaya, Ponorogo, Sidoarjo, Kudus, Purwokerto, Tangerang, Palembang, Bengkulu, Batam, Palangkaraya, Banjarmasin, Gorontalo, dan Kampus Muhammadiyah Kendari.

Disamping itu, Konsuler Kerja Sama Pembangunan Kedubes Jerman di Jakarta Deniz Sertcan pada saat yang sama menyampaikan, Jerman sudah lama bekerja bersama dengan Indonesia serta memiliki komitmen selalu meneruskannya, termasuk juga dalam bagian pendidikan.

” Kami mengajak Muhammadiyah lantaran organisasi itu telah di kenal sebagai organisasi yang mulai sejak lama berikan pendidikan pada jutaan rakyat Indonesia. Saat ini Indonesia adalah negara yang tengah tumbuh perekonomiannya, ” ujarnya.  di kutip dari antara

Indonesia Jadikan Pesantren Sebagai Pusat Entrepreneur

Cahayaumat.net, – Pesantren entrepreneur perlu secepatnya dikembangkan di Indonesia. Karena dalam pengembangan pasantren ini memiliki peranan serta besar terhadap kemajuan masyarakat.

Selasa, 1-2 Desember 2015.  Hal tersebut melihat dari hasil penelitian Efri Syamsul Bahri, Peneliti SEBI Islmaic Bussiness dan Economics Research Center (SIBER-C) menyampaikan dalam acara 1st World Islam Sosial Science Congress di Universitas Sultan Zainal Abidin, Putrajaya, Malaysia.

Di Indonesia sendiri berdasarkan data dari Kementrian Agama pada 2012 menjelaskan bahwa ada 27.230 pesantren dan ada 3,66 juta santri (2011). Ini merupakan sebuah potensi besar dalam upaya peningkatan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat. Khsusunya umat islam Indonesia.

Efri juga mengatakan,”Pemerintah harus bisa memberikan support yang maksimal agar gerakan ini dapat menyeluruh dan menjadikan pesantren sebagai pusat-pusat entrepreneur nasional”.(mm)

 

OJK : Budaya menabung sebagai gaya hidup pelajar

Cahayaumat.net, – Kampanye tuk membangkitkan gemar menabung ini sering dilakukan oleh Otoritas Jas Keuangan (OJK).

Budaya menabung ini semestinya sudah dimuali sejak usia dini. Agar bisa memberikan pendidikan kepada anak tuk mengendalikan diri dan tidak bersikap konsumtif. Dan pembelajaran untuk memakai uang dengan bijak.

Peribahasa “hemat pangkal kaya” hendaknya selalu didengungkan kepada pelajar supaya bersemangat tuk menyisihkan uang saku tuk ditabung. Kegemaran menabung merupakan bekal besar tuk meraih masa depan.

Tidak hanya itu, semestinya budaya menabung dibuat gaya hidup positif bagi pelajar dan melatih merekan tuk bisa mengelola keuangan.

Salah satu bank ternama di Indonesia juga mendukung  upaya yang dilakukan OJK dalam membangkitkan budaya menabung di kalangan pelajar. OJK memfasilitasi dengan produk tabungan Simpanan Pelajar (SimPel). (mm)

SMA Muhammadiyah Gresik Peduli Sampah Plastik

NBC BAND Kampanye Anti Sampah Plastik
NBC BAND Kampanye Anti Sampah Plastik

Banyak cara yang bisa dilakukan untuk menjaga linkungan kita agar tetap asri. SMA Muhammadiyah 1 Gresik mengadakan acara guna mengampanyekan dan mencintai lingkungan dengan cara mengurangi penggunaan kantong plastik di sekolah maupun di rumah.

SMA Muhammadiyah 1 Gresik, merupakan sekolah yang konsen dalam kegiatan menjaga lingkungan, yang belum lama ini SMAM1 Gresik juga ikut serta dalam kegiatan komunitas Gresik Sumpek untuk bersih-bersih kawasan Pantai Dalegan minggu (1/10/2015). Acara kampanye meminimalisir penggunaan Plastik ini juga mendapat apresiasi dari komunitas Internasional dengan hadirnya grop musik asal Autralia yang tergabung dalam NBC Band.

NBC BAND Kampanye Anti Sampah Plastik

NBC Band, yang digawangi oleh dua orang yaitu, Jason Matthew Sttrugarek dan Robbert William Kurta Maeier. Dua orang ini sengaja akan keliling di Indonesia untuk gerakan peduli lingkungan terutama sampah plastik.

Menurut wakil Kepala Sekolah SMA Muhamamdiyah 1 Gresik, Ainul Mutaqin, “Kegiatan semacam ini sangatlah penting untuk di tanamkan kepada anak didiknya, karena keberadaan sampah-sampah plastik yang tidak bisa terurai dalam kurun ratusan tahun, dan untuk mencegahnya harus di mulai dari sekarang untuk tidak menggunakan kantong plastik, ujarnya.

Acara yang berlangsung cukup meria dan di juga di selingi acara Selfie Bersama ini di harapkan membawa dampak positif bagi siswa dan dan dewan guru untuk senantiasa menjaga lingkungan, imbuh Ainul.

2 Mahasiswi Jepang Belajar Baca Alqur’an Pada Siswi SMP

image

cahayaumat.net, SMP Putri Luqman al Hakim Pesantren Hidayatullah Surabaya, Senin, (11/08/2015) . Sekolah yang beralamat di Jalan Kejawan Putih Tambak 6/1 Mulyorejo Surabaya itu kehadiran tamu dua mahasiswa dari Jepang.

2 mahasiswi dari Jepang itu berkunjung ke SMP Putri Luqman al Hakim dalam misi pertukaran info pendidikan. Dua mahasiswa jepang itu bernama Chizua Toma serta Ayumi Nakasone.

“Saya lihat pelajarIndonesia sangat rajin, ” kata Ayumi Nakasone merupakan seorang guru matematika di Jepang. Ia menyampaikan kurang lebih sama juga dengan di Jepang, bedanya di Jepang proses belajarnya lebih resmi dan formal.

Ayumi juga tawarkan pada beberapa siswi untuk meneruskan pendidikan ke Jepang. “Pemerintah Jepang buka diri untuk mahasiswa dari Indonesia yang berminat belajar ke Jepang, ” ujar dalam Bahasa Jepang.

Beda halnya dengan Chizua Toma, yang sejatunya adalah karyawati sebuah bank di Jepang itu di dapuk untuk menjafi guru dadakan untu siswi Pondok pesantren Al Hakim. Toma mengajar oara siswi oelajaran Bahasa Jepang dan langsung di terjemahkan oleh tranlater ke bahasa indonesia.

Demikian pula sebaliknya, siswi SMP Putri Luqman al Hakim juga jadi pengajar untuk Chizua Toma serta Ayumi. Zoya, salah seorang siswi mengajari mereka berdua membaca Alquran. “Qulhu, . . ” ucap Zoya yang ditirukan Chizua dengan terbata-bata.

Ayumi walau bukan beragama muslim tapi suka diajari membaca Quran. Semakin banyak mereka bertukar budaya pendidikan dan banyak tempat yang di kunjunginya, semakin banyak pula budaya yang mereka dapt, di SMP Putri memperoleh pengetahuan lain. “Saya belajar Islam di sini, ” papar wanita asal Okinawa Jepang qini.

2 Mahasiswi Jepang Belajar Baca Alqur’an Pada Siswi SMP

Menurut Kepala Sekolah SMP Al Hakim, Somi Suradi, kehadiran dua mahasiswa Jepang Toma dan Ayumi memberikan pengalaman internasional untuk siswinya. Harapannya, siswi di SMP Al Hakim Ponpes Hidayatullah terinspirasi dapat meneruskan pendidikan di Jepang yang di kenal juga sebagai Negara Hitech itu. (tw)