Ada Apa Di Umur 40 Tahun ?

40-tahunCahayaumat.net, -Setiap manusia pasti mengalami masa anak-anak, dewasa, hingga menjadi tua. Hakikat umur sejatinya waktu perjalanan tuk bertemu dengan Allah Yang Maha Menciptakan, kita akan kembali kepada Allah SWT.

Berusia 40 tahun pada persimpangan, bagian perjalanan telah dilalui dan bagian yang lain dijalani tuk menuju tujuan terakhir. Pada usia tersebut selayaknya terus bersyukur dan bersikap baik sebagai pilihan penting.

Pada usia 40 masuk masa dewasa, dimana sudah punya kematangan berfikir, mampu mengelola emosi dan melakukan perenungan. Ia akan meresapi keadaan sekarang dan mempertimbangkan sisa perjalanan yang akan dilalui kedepan.

Dalam Al-Quran surah Al-Ahqaf ayat 15, “….apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia berdoa: “Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhai; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri”.

Pada zaman sekrang ini, sepatutnya tuk memperbanyak syukur atas segala nikmat yang diberikan Allah SWT tuk diri sendiri dan juga orang tua agar dapat terus beramal baik yang diridhai Allah. (mm)

 

Masjid dan Jalanan

Jika ingin mengetahui karakter asli suatu masyarakat, janganlah melihat ketika mereka berada di tempat ibadah. Di sana mereka tentu bersikap santun, mau saling menolong, bersedekah, saling mengucap salam. Di tempat ibadah, seseorang secara spontan ataupun terpaksa, bisa menjadi orang baik.

Jika ingin mengetahui karakter asli masyarakat, lihatlah saat mereka berada di jalanan. Di jalanan itu apakah mereka “membawa serta Tuhan mereka” ataukah “meninggalkan-Nya di tempat ibadah”? apakah kesantunan, kebaikan, dan kepedulian itu terasa ada di jalanan ataukah hanya menempel ketika di tempat ibadah saja?

Inilah yang oleh banyak pihak masyarakat kita dikritik masih mengalami kesalehan ritual, belum sampai pada kesalehan sosial. Silahkan disangkal keras-keras, namun faktanya masih menunjukkan hal itu. Apalagi jika kita melihatnya di jalanan kota besar, kota metropolitan. Maka seolah-olah tidak ada agama di sana. Padahal ketika waktu shalat di masjid-masjid masyarakatnya santun sekali. Namun saat kembali ke jalanan, nilai agama seolah ditanggalkan.

Di jalanan kita tahu bagaimana dalam berkendara orang saling serobot. Bila perlu tidak patuhi rambu, yang penting lebih cepat sampai tujuan. Petugas keamanan bisa jadi malah memanfaatkan keadaan hanya untuk mengeruk keuntungan pribadi. Transaksi suap-menyuap sudah menjadi lumrah: pengendara tidak mau susah ikuti aturan negara.

Jangan terlalu percaya pada orang yang tidak dikenal, karena bisa jadi mereka pelaku kejahatan yang cari korban. Karenanya kemudian tidak ada saling sapa, saling bicara. Bahkan di kendaraan umum, semua saling diam. Su’udzon di jalan kemudian dirasa lebih mendatangkan keamanan daripada khusnudzon, dan itu banyak buktinya.

Jika ada peminta-minta di jalan, tak perlu diberi uang. Bahkan tak perlu diberi belas kasihan. Kebanyakan mereka sudah kaya dari meminta, tak perlu susah bekerja. Banyak juga yang cacatnya adalah tipuan, dan bayi yang digendongnya adalah sewaan. Rasa iba menjadi dilema, memberi khawatir ditipu.

Kalau barang dan uang kita jatuh di jalan, lebih baik ikhlaskan. Peluang barang itu masih ada, atau dikembalikan pada pemilik oleh penemunya sangat kecil. Pendek kata, jalanan adalah rimba belantara, siapa kuat dia menang.

Tentu masih banyak anggota masyarakat kita yang masih baik. Bahkan saya yakin, sebagian masyarakat kita yang sempat mengalami kehidupan dalam adat “ketimuran” merasa muak dengan kehidupan jalanan yang semacam itu.

Maka kita perlu kembali kepada agama. Agama bukan sekedar ibadah ritual semata, dan Tuhan jangan ditinggal di masjid saja. Kita bawa nilai dan kesantunan agama kita di jalan. Di masjid atau di jalan, kita sama tetap beriman. Kita tunjukkan bahwa Islam adalah rahmatan lil ‘alamin, bahwa kesalehan ritual kita berbanding lurus dengan kesalehan sosial. Jika terwujud, dalam skala luas, inilah yang disebut masyarakat madani, civil society. Baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur. Insyaallah.[]

Ahmad Faizin Karimi