Kini Gelar Akademis Menjadi Sakral

Gelar Akademis Sakral

Gelar Akademis Sakralcahayaumat.net – Baru-baru ini lembaga pendidikan semakin diperketat dengan aturan terkait status tenaga pendidik. Sudah menjadi ketetapan jika seorang guru (pendidik) mulai dari tingkat dasar (seperti PAUD, TK dan SD), tingkat menengah (SMP sederajat) dan atas (SMA sederajat) munimal harus bergelar Strata satu (S1). Sedangkan pada tingkat tinggi “Perguruan Tinggi”, dosen yang mengajar S1 minimal lulusan pascasarjana alias S2. Yang mengajar S2 diwajibkan minimal bergelar doktor dan pengajar mahasiswa jenjang doktorel harus Guru besar alias Profesor.

Dengan aturan seketat itu, banyak lembaga pendidikan harus berbenah total. Bagi lembaga pendidikan yang berskala besar/maju, mau tidak mau harus menguliahkan guru/dosen yang belum menamatkan jenjang S1, S2 dan S3 sesuai kemampuan lembaga pendidikan masing-masing. Sedangkan lembaga pendidikan yang berskala kecil, harus memberi pilihan kepada guru/dosen apakah melanjutkan studinya atau “diberi ucapan terima kasih”.

Selain aturan diatas, masih dibenturkan dengan aturan tidak boleh memiliki nomer induk kependidikan ganda bagi pendidik yang mengajar di dua jenjang pendidikan berbeda. Seperti seorang guru yang juga merangkap jadi dosen. Mereka harus memilih antara mempertahankan NUPTK atau NIDN. Dengan demikian, pendidik (guru/dosen) tadi harus memilih. Sedangkan lembaga juga tidak mau dirugikan jika pendidik mengajar di salah satu lembaga sedangkan nomer induk kependidikannya berada di lembaga yang lain.

Aturan-aturan diatas membawa perubahan yang signifikan. Banyak lembaga pendidikan, baik tingkat sekolah (PAUD, SD, SMP sederajat dan SMA sederajat) maupun tingkat tinggi (ST, Institut dan Universitas) berlomba-lomba mencari tenaga pendidik baru yang sarjana dan belum memiliki induk kependidikan yang bisa dijadikan guru/dosen tetap. Aturan ini pula yang akhirnya menghadirkan berbagai “ucapan terima kasih” kepada pendidik karena tidak memiliki standar yang berlakukan oleh pemerintah tersebut.

Diberlakukannya aturan tersebut tentu dengan tujuan yang mulia, demi mutu pendidikan bangsa Indonesia. Hanya saja, masih banyak lembaga pendidikan yang belum siap menerima peraturan tersebut. Akibatnya, banyak lembaga pendidikan, khususnya perguruan tinggi banyak merekrut tenaga baru meski yang direkrut tidak lebih baik dari tenaga lama. Karena setiap jurusan harus memiliki sejumlah dosen tetap, minimal 6 orang.

Banyak orang pandai, kharismatik dan penuh talenta seolah kurang berarti akibat aturan tersebut. Bahkan lulusan pesantren -contohnya- yang sudah paham tentang ilmu agama, sosial dan budaya rasanya kurang lengkap jika tidak memiliki gelar akademis. Bahkan, mereka terkesan diabaikan oleh pemerintah meski kompetensinya bisa menyamai seorang doktor sekalipun. Padahal, menjadi seorang bupati/wali kota, gubernur, menteri bahkan presidenpun tidak harus bergelar magister apalagi doktor.

Kini gelar Akademis itu menjadi sakral. Karena bagaimanapun, disadari atau tidak, diterima atau tidak, demi memperbaiki mutu pendidikan itu sendiri. Lembaga pendidikan dituntut untuk terus aktif melakukan perubahan. Tentunya dengan cara-cara yang baik agar tidak terjadi persoalan dikemudian hari. Tetapi jangan dilupakan, bahwa bangsa Indonesia yang kaya raya ini juga memiliki orang-orang hebat, pandai dan penuh telenta meski belum sempat memiliki gelar akademis. Hanya Allah swt Yang Tahu.

KINI GELAR AKADEMIS MENJADI SAKRAL
Oleh: Abdurrahman Gibol

Penulis adalah kandidat Doktor Manajemen pendidikan Islam di Pascasarjana UIN Malang

Kesungguhan Dr. saad Ibrahim MA dalam Mencari ilmu

Saad IbrahimKesungguhan Dr. saad Ibrahim MA dalam Mencari ilmu

Oleh: Fadh Ahmad Arifan

Seorang pria berbaju batik bermotif Muhammadiyah keluar dari mobil Baleno warna silver. Ia parkir di depan mobilnya Wakil direktur Pascasarjana UIN Malang. Otomatis saya habiskan bekal makanan dan bergegas masuk ke kelas. Hari itu giliran mas Asvi burhanuddin mempresentasikan makalah tentang tafsir Hermeneutika. Wajah Pria asal Pacet mojokerto itu serius banget membaca isi makalah kawanku tadi. “Sepertinya… asvi kena banyak revisi fadh”. Bisik teman sebelahku Faisol rizal.

Makalah sampean belum mencantumkan siapa saja yang mengkampanyekan tafsir ini di IAIN/UIN. Dengarkan… kebanyakan orang yg mengajarkan tafsir bibel ini bukan ahli tafsir dan ushul fiqh. Azyumardi azra, komaruddin dkk tidak mengerti apa-apa tentang tafsir Quran.” Masih kata pria tersebut,”Quraish shihab tidak setuju dengan pemakaian hermeneutika terhadap kitabullah“. Benarlah ucapan dosen ini. Di buku terbaru Prof Quraish shihab yang berjudul Kaidah Tafsir, beliau mengkritisi hermeneutika.

Prof Dr. Quraish shihab adalah pembimbing disertasinya yang jumlah halamannya dibawah 100. Konon disertasi tertipis di Indonesia. Disertasinya telah diterbitkan UIN maliki press dengan judul “Kemiskinan perspektif al Quran”. Suami dari rochimah ini lulus dari prodi tafsir Quran pada tahun 1997. Saat menimba ilmu di jakarta, ayah lima anak ini mengaku belajar banyak ke Nurcholis madjid dan Harun nasution. “Kita tidak bisa ambil satu lalu kita meniru. Ibaratnya ada bunga bunga yang kita ambil dari berbagai tempat, lalu kita letakkan di vas bunga. Itulah kita“. Jadi bukan ikuti satu dua guru, tapi memadukan semuanya hingga menjadi kita. Itu yang saya pahami saat bertanya kepada beliau,”Cak nur dan Prof harun liberal, untuk apa belajar kepada mereka?”

Pak Saad Ibrahim, lahir 17 November 1954. Pada 40 hari sebelum dilahirkam ke dunia, beliau menjadi yatim. Saat kelas 4 di MI, ia diajari membaca kitab kuning. Usai lulus dari MI, pak Saad bantu-bantu kakaknya bertani dan cari kayu bakar (Majalah Mimbar, edisi Februari 2016).

Pak saad ini bisa dijadikan uswah dalam mencari ilmu. Tekadnya kuat. Saat kuliah, selain dibiayai kakaknya, ia jual sawah warisan bapaknya. “Sampean harus punya iradah dari sekarang, harus lanjut S3. Ada biaya ngapain tidak lanjut jenjang doktoral? Dulu saya punya prinsip kuat harus kuliah, maka saya tidak berfikir di belakang harinya.” Katanya sambil menepuk pundakku.

Pak saad juga seorang kutu buku. Kakek dari garis ibunya saat wafat meninggalkan banyak kitab kuning. Kalau ke toko buku lagi tidak bawa uang, beliau pinjam temannya. Di lain kesempatan beliau pernah bercerita kalau dirinya pernah mengalami peralihan teologi. Dari NU ke muhammadiyah. Katanya muhammadiyah rasional dan mampu memberi pencerahan.

Saat diskusi panel dengan Prof Dr Ahmad zahro di aula Pascasarjana (gedung lama), pak Saad memberi wejangan yang tidak akan saya lupakan,”Warga NU memberi manfaat bagi sesama warga NU itu biasa. Warga Muhammadiyah memberi manfaat bagi sesama warga Muhammadiyah juga biasa. Yang luar biasa adalah ketika warga NU memberi manfaat bagi warga Muhammadiyah, atau sebaliknya, warga Muhammadiyah memberi manfaat bagi warga NU“.

Meski aktif jadi pucuk pimpinan PWM muhammadiyah jawa timur, beliau dipercaya menjadi ketua Prodi di pascasarjana Unhasy Jombang. Boleh jadi, masuknya pak Saad ke lembaga yang dikelola keluarga Gus Sholah itu tak lepas dari ajakan Prof Dr Imam suprayogo. Beliau marah sekali jika ada mahasiswanya yang lulusan pesanten tapi buta kitab kuning. “Saya ini bukan lulusan pondok tapi alhamdulillah saya bisa baca kitab kuning“. Katanya di tengah perkuliahan. Wallahu’allam

Penulis adalah Pendidik di MTs Muhammadiyah 2 Malang, Jawa timur

Antara Pekerjaan dan Pengabdian, Yang Honorer dan Yang Ber-PNS

Guru Cantik
Guru Cantik
Ilustrasi Guru

PEMAKNAAN GURU DI HARI JADINYA :

Guru adalah sosok insan yang begitu mulia di dalam dunia pendidikan. Dedikasi dan integritas seorang guru yang seyogyanya adalah tugas suci yang mulia, membuat seorang yang sebelumnya tidak mengetahui apa-apa, sehingga mampu mengenal, mengetahui dan mengerti hal-hal yang sebelumnya belum di ketahui. Dengan begitu mulianya profesi seorang guru, sehingga membuat guru juga mempunyai sebutan sebagai pahlawan tanpa tanda jasa. Maka pemerintah menetapkan pada tanggal 25 November di tiap-tiap tahunnya diperingati sebagai Hari Guru Nasional. Peringatan Hari Guru Nasional juga dibarengi dengan peringatan Hari Lagi Tahun PGRI (Persatuan Guru Republik Indonesia).

Sebuah Negara mampu dikatakan dengan kategori sejahtera apabila ketika negara bisa menjamin kesempatan pendidikan secara merata, dan juga mampu menyediakan kesejahteraan yang layak bagi insan pendidik atau guru. Sebab di sadari ataupun tidak, pendidikan memiliki peranan penting untuk memajukan bangsa. Oleh karena itu, poros depan tupoksi seorang guru memiliki pernanan yang sangat urgent untuk memajukan sebuah bangsa. Namun seiring berjalanya waktu dan semakin memparasitnya budaya hedonis yang menjangkiti setiap manusia, maka menurut hemat saya guru mulai mengalami pergeseran makna, antara menjadi pekerjaan dan sebuah pengabdian. Di sini stabilitas dan kredibilitas pemerintah mulai di uji dan perlu juga untuk di soroti, sebab selain guru yang sudah mengalami pergeseran makna, disisi lain pemerintah juga sudah lama memunculkan kesenjangan dikalangan mereka, yakni menciptakan rasa kecemburuan sosial (status sosial dan nominal upah) sehingga yang ada dibenak jiwa setiap guru adalah rasa curiga terhadap sesamanya.

Membaca jawa pos hari ini (rabu 25 november 2015) dijelaskan bahwa nasib seorang guru terbelah menjadi dua, yakni guru yang menyandang predikat pegawai negeri sipil (PNS) yang bergelimang materi, dan guru honorer yang gajinya jauh dari layak. Para guru honorer tersebut hanya mengandalkan sertifikasi, dan itu pun kalau memenuhi syarat yang sesuai dengan ketentuan data berlaku masuk (database) Badan Kepegawaian Negara. Dengan demikian, tanpa disadari akan menciptakan sebuah regulasi kepegawaian yang menimbulkan sebuah kesenjagan dan juga mengkhianati misi luhur pendidikan nasional yang termaktub dalam UUD 45.

Mengkaji makna dari kerja-bekerja-pekerjaan, abdi, mengabdi dan pengabdian adalah sangat penting guna untuk mengembalikan spirit kebenaran tugas seorang guru, Ki Hajar Dewantara menegaskan bahwa guru adalah seorang pamong, yang mempunyai makna membimbing tanpa pamrih. Tapi, titik fokusnya saya rasa bukan di situ, namun paradigma yang terbangun sekarang adalah bukan lagi untuk sebuah pengabdian, tapi sebuah pekerjaan yang berorientasikan gaji yang sangat memadai, dan itu saya rasa adalah sebuah persoalan serius yang harus di Manage oleh pemerintah, sehingga nantinya para anak didik tidak terus-terusan menjadi korban kepentingan, korban seorang guru yang belum pantas untuk melaksanakan proses pengajaran. Harapannya, semoga guru adalah sebenar-benarnya guru yang mempunyai kode etik dalam setiap langkahnya dalam melaksanakan pembelajaran, dan mempunyai kualitas value memadai dalam melaksanakan transformasi ilmunya kepada peserta didiknya.
Amin..!!

Sekolah Berbasis Lingkungan Di Gresik

MENGAGAS SEKOLAH BERBASIS LINGKUNGAN DI KOTA GRESIK

ilustrasi Sekolah Bebasis Lingkungan
ilustrasi Sekolah Bebasis Lingkungan

Kota Gresik yang lebih di kenal dengan sebutan kota Santri, Gresik berhias iman atau kota Pudak, seolah-olah menjadikan kota tersebut mempunyai nilai plus tersendiri. Namun di sisi lain, dengan menjamurnya puluhan pabrik, seakan-akan kota Gresik yang lebih dekat di telingga masyarakat dengan sebutan kota santri, kota pudak, kini secara perlahan tergeser dengan sebutan baru yakni gresik kota industri yang identik dengan limbah atau pencemaran lingkungan. Penegasan akan gresik kota industri memang sudah terlihat jelas dan sangat berefek terhadap jumlah penduduk di kota tersebut yang semakin meningkat, masyarakat yang secara berduyun-duyun datang dan menjadikan gresik sebagai pilihan utamanya, memang bukan tanpa alasan, dan juga bukan di sebabkan dengan banyaknya pabrik-pabrik semata, di sisi lain para pendatang tersebut juga melihat angka nominal UMK yang ada di kota tersebut.

Permasalahan UMK yang memang Santer di beritakan baik di media masa online maupun koran-koran, bahwa UMK di kota gresik mempunyai nilai angka nominal yang sangat tinggi dibanding dengan kota-kota tetangga sebelah, seperti halnya surabaya, sidoarjo maupun pasuruan. Memang tujuan utama mereka adalah bisa untuk bekerja dan mampu merubah nasibnya menjadi lebih baik, namun di lain sisi setidaknya ini adalah menjadi tanggung jawab dan pekerjaan rumah bagi jajaran elit pejabat dikota tersebut, sehingga dengan banyaknya pendatang dan semakin padatnya jumlah penduduk bisa di kendalikan secara rapi atau di tampung dengan memanfaatkan banyaknya pabrik-pabrik. Di lain sisi juga, hal yang tidak kalah penting di soroti dan diberikan perhatian khusus adalah masalah pencemaran lingkungan atau limbah pabrik yang disadari ataupun tidak sangat berdampak serius terhadap proses belajar-menngajar di lingkungan sekolah.

Kota Industri yang identik dengan pabrik dan pastinya juga identik dengan limbah, akan sangat berdampak serius terhadap komponen-kompen penunjang yang ada dikota tersebut, salah satunya adalah dunia pendidikan. Di sadari ataupun tidak, efek dari limbah pabrik baik itu padat, gas maupun cair akan memberikan rasa ketidaknyaman dalam proses pembelajaran. Hal terkecil dari limbah pabrik yang dianggap remeh temeh adalah masalah bau asap yang sangat menyegat, sehingga peranan sekolah diperlukan untuk memberikan perhatian khusus untuk menanggulangi permasalahan tersebut. Namun yang sangat di sayangkan adalah Basic sekolah yang lebih mengutamakan untuk mempercantik penampilan dengan membangun gedung-gedungnya yang tinggi, megah dan mewah seakan-akan hanya terlihat seperti apartemen kelas elit tanpa memperhatikan lingkungan sekitar.

Memanfaatkan lingkungan sebagai penunjang proses pembelajaran dengan tujuan untuk kenyamanan, setidaknya akan lebih efektif dan harus mulai di galakkan di berbagai sekolah-sekolah. Dengan tujuan untuk meminimalisir efek dari limbh pabrik, dan juga untuk menanamkan kepada peserta didik mengenai pentingnya menjaga lingkungan, bukan lantas siswa hanya di perkenalkan mengenai nilai-nilai elektronik dengan konsep robotic saja. Bentuk atau konsep sekolah dengan memanfaatkan lingkungan sekitar dengan pembuatan taman sekolah, kebun di sekolah (Bukan pekarangan sekolahan), kiranya akan memberikan dampak nilai positif dengan suasana proses pembelajaran yang terasa lebih asri, merakyat dan ramah lingkungan, semoga kesadaran akan pentingnya menjaga lingkungan muncul dan tumbuh dengan baik. (sh)

Islam Nusantara Yang Berkemajuaan

Muhammadiyah Tokoh Lintas Agama

wpid-wp-1438388098230.jpegOleh: Nasihin Masha

Pekan ini, hampir secara bersamaan dua ormas Islam terbesar di Indonesia menggelar muktamar. Permusyawaratan lima tahunan ini selain menyusun kepengurusan baru juga merumuskan program lima tahun ke depan. Nahdlatul Ulama, berdiri 1926, memulai muktamar pada Sabtu (1/8), di Jombang, Jawa Timur. Adapun Muhammadiyah, berdiri 1912, memulai muktamar pada Senin (3/8), di Makassar, Sulawesi Selatan.

Sebagai organisasi berbasis pesantren, muktamar NU digelar di pesantren-pesantren. Sedangkan Muhammadiyah yang memiliki kekuatan di lembaga pendidikan dan lembaga kesehatan menggelarnya di perguruan tinggi. Jika pada muktamar kali ini, NU memunculkan tagline “Islam Nusantara”, maka Muhammadiyah melahirkan tagline “Indonesia/Islam berkemajuan”. Tagline Muhammadiyah lahir lebih dulu, yaitu ketika mereka menyusun buku putih bagi kiprah Muhammadiyah dalam 100 tahun kedua. Buku itu lahir pada 2012. Muktamar Muhammadiyah tahun ini adalah muktamar pertama di abad kedua organisasi yang didirikin KH Ahmad Dahlan ini. Sedangkan tagline NU muncul sebagai tema muktamar organisasi yang didirikan KH Hasyim Asyari ini.

Dalam wacana publik, dua tagline ini seolah ‘dipertandingkan’. Namun harus diakui persandingan itu selain perhelatan itu hampir berbarengan, juga karena kekuatan frasa “Islam Nusantara” — lebih kontekstual dan daya magnitud yang bertenaga. Tagline ini mampu memicu diskusi publik yang panjang, bahkan agak panas dan kontroversial. Karena itu kemudian publik menengok pada tagline “Indonesia/Islam Berkemajuan”. Tagline Muhammadiyah ini lebih datar namun sudah beyond Islam.

Sebetulnya dua tagline itu hanya penegasan saja. NU selama ini mentasbihkan dirinya sebagai gerakan Aswaja – ahlussunnah wal jama’ah. Sebuah gerakan yang dalam fikih berpatokan pada empat mazhab – syafii, hanafi, hambali, maliki – dan dalam kalam berpatokan pada paham Asy’ariyah. Ringkasnya, ia adalah Sunni, bukan Syiah. Di masa KH Hasyim Muzadi menjadi ketua umum NU, organisasi ini menonjolkan tagline “Islam rahmatan lil ‘alamin”. Hal ini sesuai konteks ketika kondisi umat di dunia maupun di Indonesia sedang dicengkeram terorisme serta konflik antarumat beragama.Tagline itu mampu menjadi mantra bahwa Islam itu damai dan mengayomi. Kini, ketika kondisi umat di dunia maupun Indonesia marak oleh gerakan salafi dan bahkan melahirkan ISIS, maka NU memunculkan “Islam Nusantara” — Islam yang khas Indonesia. Konflik-konflik di Timur Tengah dan Asia Selatan adalah konflik sesama Sunni. NU juga Sunni, karena itu perlu diferensiasi dengan Sunni yang lain. Ada kebutuhan untuk itu. Bahkan ditarik garis yang lebih tegas tentang dakwah Walisongo — yang berjumlah sembilan yang disimbolkan dalam bintang sembilan pada logo NU — sebagai wujud kesuksesan dakwah model Islam Nusantara. Tagline baru ini berdimensi dua: kebutuhan diferensiasi dengan Sunni yang lain serta melawan gelombang salafi.

Muhammadiyah dikenal sebagai pergerakan memodernisasi umat. Modern adalah maju. Awalnya adalah perang terhadap tiga penyakit umat saat itu: TBC – takhayul, bid’ah, dan churafat (khurafat). Untuk memerangi tiga penyakit itu, para pendirinya fokus pada pendidikan, pelayanan kesehatan, dan menyantuni anak yatim. Karena itu Muhammadiyah sangat menonjol pada keunggulan lembaga pendidikan, rumah-rumah sakit dan balai pengobatan, serta panti-panti asuhan. Kini, Muhammadiyah tak lagi fokus ke hal itu. Bahkan dalam lima tahun terakhir, mereka fokus pada Jihad Konstitusi. Mereka berjuang agar semua aturan dan perundangan kembali ke visi konstitusi UUD 1945, yang melindungi dan menyejahterakan warganya. Jihad kali ini lebih banyak masuk ke wilayah ekonomi. Dalam seratus tahun kedua ini, fokus mereka tidak lagi pada wilayah keumatan saja. Umat adalah bagian dari bangsa, Muhammadiyah adalah bagian dari Indonesia, organisasi adalah ‘bagian’ dari negara. Karena itu umat harus berkontribusi menyelesaikan rumah besarnya. Umat akan damai dan sejahtera jika bangsa dan negara Indonesia juga maju, demikian pula sebaliknya. Namun ini bukan berarti Muhammadiyah akan masuk pada politik praktis kekuasaan. Muhammadiyah akan masuk pada dimensi nilai, spirit, moral, visi, dan pengaruh. Dalam konteks ini, Muhammadiyah juga masuk pada kajian fikih berkemajuan. Kemajuan suatu bangsa dan masyarakat sangat erat dengan etik dan spirit. Kajian-kajian sosiologi pembangunan – terutama diinisiasi Max Weber – sangat lekat dengan soalan ini.

NU dan Muhammadiyah adalah dua mesin utama umat, juga bangsa Indonesia. Mesin itu ada yang mengemudikan. Sebuah mobil bagus menjadi sia-sia jika dikemudikan sopir amatir atau sopir ugal-ugalan. Proses perekrutan kepemimpinan menjadi demikian penting. Dalam konteks ini, sistem pemilihan pemimpin di Muhammadiyah sudah lebih mapan. Selain kepemimpinan yang bersifat kolegial, prosesnya pun panjang. Muktamar hanya ujungnya saja. Setahun sebelum muktamar, sidang tahunan Tanwir menjaring usulan dari 200 utusan. Masing-masing mengusulkan tiga nama. Nama-nama itu kemudian diseleksi oleh panitia pemilihan sesuai persyaratan administratif, di antaranya pernah menjadi pengurus di pusat. Pada sidang Tanwir pra muktamar, peserta memilih 39 nama dari nama-nama yang lolos administrasi. Nama-nama itulah yang dibawa ke muktamar untuk memilih 13 orang. Selanjutnya 13 orang itu memilih ketua umum untuk disetujui muktamar. Pola ini sudah berjalan sejak 1937, yang saat itu memilih KH Mas Mansur. Sulit untuk bermain kekuasaan atau bermain uang. Proses yang panjang dan berjenjang serta bolak-balik sangat meminimalkan permainan-permainan yang manipulatif. Namun demikian selalu saja ada nama unggulan yang bersaing. Kali ini ada dua nama: Haedar Nashir dan Abdul Mu’ti, secara kebetulan masing-masing adalah ketua dan sekretaris tim penyusun buku putih Indonesia Berkemajuan.

Untuk tahun ini, NU mencoba menerapkan pola baru untuk pemilihan di Syuriah, yaitu melalui Ahlul Halli Wal Aqdi (Ahwa). Musytasyar dan Syuriah sudah menetapkan 39 nama. Nama-nama itu diserahkan ke cabang-cabang. Saat registrasi muktamar, utusan cabang dan wilayah akan memasukkan sembilan nama. Maka sembilan nama peraih suara terbanyak akan menjadi anggota Ahwa. Ahwa inilah yang akan memilih rais aam Syuriah dan calon ketua umum Tanfidziah secara musyawarah mufakat. Namun pemilihan ketua umum Tanfidziah masih dipilih secara langsung melalui one man one vote. Pola ini masih berpotensi munculnya money politics dan penggalangan-penggalangan. Kadang fokus muktamar menjadi ke pemilihan ini, bukan ke perumusan agenda. Ada tiga nama yang bersaing di Tanfidziah: KH Said Aqil Siradj, KH Asad Said Ali, dan KH Salahuddin Wahid. Syuriah adalah lembaga kepemimpinan tertinggi, sedangkan Tanfidziah adalah pelaksana kebijakan.

Semoga muktamar NU dan Muhammadiyah akan melahirkan pemimpin yang visioner dan responsif. Pemimpin yang bukan hanya menengok pada jamaahnya saja, juga bukan pemimpin yang hanya menimbang gambar besarnya saja.

Siapapun yang akan memimpin dua ormas keagamaan ini perlu memperhatikan norma berikut ini. Besar kadang bisa berarti gemuk. Itu berarti kelambanan. Lamban kadang menjadi tak bertenaga. Besar juga bisa berarti kemapanan. Itu bisa berarti respons yang mulai samar. Indonesia adalah negeri yang sedang berproses untuk maju. Indonesia juga masih demikian cair. Dalam situasi itu selalu saja ada dinamika yang tajam dan fluktuatif. Umat butuh respons cepat dan bertenaga. Kebesaran NU dan Muhammadiyah kita harapkan seperti kebesaran kapal induk: kuat, pusat, menampung.

Selamat bermuktamar. Indonesia ada di tangan Anda, sebagaimana Anda harus berada di hati kami.

Red: Maman Sudiaman

Islam Nusantara Vs Islam Berkemajuan

Islam Nusantara
Islam Nusantara
Islam Nusantara

Oleh :Ahmad Najib Burhani*

Muhammadiyah dan NU (Nahdlatul Ulama) akan menyelenggarakan Muktamar pada waktu yang berdekatan, yakni minggu pertama Agustus 2015. Tema yang diangkat sekilas mirip: Muhammadiyah “Gerakan Pencerahan Menuju Indonesia Berkemajuan” dan NU “Meneguhkan Islam Nusantara untuk Peradaban Indonesia dan Dunia”. Meski terlihat bersinggungan, namun “Islam berkemajuan” dan “Islam Nusantara” adalah respon yang berbeda terhadap fenomena yang sama, yaitu globalisasi, terutama globalisasi kebudayaan, baik dalam bentuk Arabisasi ataupun Westernisasi.

Islam Nusantara Vs Islam Berkemajuan

Globalisasi sering dipahami sebagai proses penyatuan dunia dimana waktu, jarak dan tempat bukan lagi persoalan dan ketika setiap hal dan setiap orang di bumi ini terkait satu sama lain. Ada empat pergerakan utama dalam globalisasi, yaitu: barang dan layanan, informasi, orang, dan modal. Perpindahan keempat hal tersebut dari satu negara ke negara lain memang telah terjadi sejak dahulu kala. Namun perpindahan dengan sangat cepat hanya terjadi setelah revolusi dalam teknologi telekomunikasi dan transportasi pada beberapa dekade belakangan ini. Akibat dari revolusi itu, dimensi jarak dan waktu menjadi semakin kabur dan sedikit demi sedikit menghilang.

Dalam konteks Indonesia, globalisasi ini menyebabkan masyarakat secara mudah mengakses informasi dari luar ataupunberinteraksi secara intens dalam sebuah ruang global. Ketika ISIS (Islamic State of Iraq and Syria) mendeklarasikan kekhilafahan dibawah Abu Bakar al-Baghdadi, kita dikejutkan dengan adanya sejumlah orang Indonesia yang sudah bergabung dengan mereka di Timur Tengah dan sebagian dari mereka merekrut anggota di Indonesia serta melakukan baiat di UIN (Universitas Islam Negeri) Jakarta. Ketika konflik Sunni dan Syiah terjadi di Suriah, pengaruhnya merembet ke Indonesia dengan munculnya gerakan anti-Syiah seperti dalam bentuk ANNAS (Aliansi Nasional Anti-Syiah).

Globalisasi juga menyebabkan Trans-National Capitalist Network (TNC) masuk dalam kehidupan masyarakat dan menyedot kekayaan yang mestinya diperuntukkan untuk kesejahteraan rakyat. Bekerjasama dengan ‘komprador’, para kapitalis global itu menciptakan jurang yang begitu lebar antara mereka yang kaya dan miskin seperti terjadi di daerah penambangan Freeport di Papua.

Filosofi yang mendasari globalisasi adalah asimilasionisme. Dalam filosofi ini, yang kuat akan mendominasi yang lemah. Makanya, dalam globalisasi budaya, salah satu dampaknya adalah homogenisasi. Ini, misalnya, terwujud dalam bentuk McWorld atau McDonaldization. Contoh lainnya adalah memandang Islam secara homogen dengan mengidentikkannya dengan Arab dan Arabisasi.

Islam Nusantara
Homogenisasi ini tentu tidak serta merta diterima oleh masyarakat. Respon balik atau resistensi terhadap homogenisasi ini diantaranya dalam bentuk indigenization. Islam Nusantara yang dipopulerkan anak-anak NU dan menjadi tema Muktamar NU ke-33 di Jombang pada 1-5 Agustus nanti adalah satu bentuk respon terhadap globalisasi dengan melakukan indigenisasi.

Islam Nusantara merupakan istilah yang sering dipakai untuk mengacu kepada Islam ala Indonesia yang otentik; langgamnya Nusantara, tapi isi dan liriknya Islam; bajunya Indonesia, tapi badannya Islam. Ide Islam Nusantara ini berkaitan dengan gagasan “pribumisasi Islam” yang pernah dipopulerkan almarhum KH Abdurrahman Wahid. Penggunaan resmi nama ini diantaranya adalah dalam Jurnal Tashwirul Afkar edisi no. 26 tahun 2008.

Munculnya Islam Nusantara adalah bagian dari apa yang biasanya disebut sebagai “paradoks globalisasi”. Dalam istilah TH Erikson (2007, 14), “Semakin orang mengglobal seringkali dia menjadi semakin terobsesi dengan keunikan budaya asalnya.” Dalam kalimat ilmuwan lain, “ketika dunia semakin global maka perbedaan-perbedaan kecil antar umat manusia itu semakin ditonjolkan” (Ang 2014, 10). Banyak yang menduga bahwa semakin kita mengenal dunia luar dan kelompok yang berbeda, maka kita menjadi semakin terbuka. Namun seringkali yang terjadi tidak sejalan dengan logika itu. Di tengah globalisasi, banyak orang yang semakin fanatik dan tidak menerima perbedaan serta pluralitas. Ini misalnya terjadi dalam beberapa pilkada yang “mengharuskan” putra daerah yang dipilih. Dalam konteks dunia, justru di era globalisasi ini hampir setiap tahun kita melihat kemunculan negara baru dalam keanggotaan PBB.

Tentu saja respon terhadap globalisasi dalam bentuk “Islam Nusantara” adalah pilihat terbaik dibandingkan dengan penolakan total atau penerimaan total. Dalam merespon terhadap globalisasi, terutama yang datang dari Barat, beberapa kelompok agama justru mencari perlindungan dalam homogenitas dan eksklusivitas kelompoknya. Sepertinya kedamaian itu bisa terjadi dengan menolak keragaman atau sesuatu yang asing. Di tengah globalisasi, banyak orang yang mencoba menutup diri dan menghalangi orang yang berbeda hadir di tengah masyarakat. Fenomena munculnya perumahan atau clusterperumahan eksklusif untuk komunitas agama tertentu adalah misal. Bahkan kuburan/ pemakaman dan rumah kos pun kadang dibuat untuk pengikut agama tertentu. Respon terhadap globalisasi yang lebih buruk lagi tentu saja seperti dalam bentuk redikalisme dan terorisme. Islam Nusantara bisa menjadi respon yang sangat baik terhadap globalisasi jika ia tidak mengarah kepada parokhialisme dan sektarianisme.

Islam Berkemajuan
Respon lain terhadap globalisasi ditampilkan oleh Muhammadiyah dengan slogan “Islam berkemajuan”. Sebelum tahun 2009, slogan ini jarang terdengar bahkan di kalangan Muhamadiyah sendiri. Ia baru diperkenalkan kembali, setelah cukup lama terpendam, dengan terbitnya buku berjudul Islam Berkemajuan: Kyai Ahmad Dahlan dalam Catatan Pribadi Kyai Syuja’ (2009). Buku yang ditulis oleh murid langsung Kyai Dahlan ini diantaranya menjelaskan seperti apa karakter Islam yang dibawa oleh Muhammadiyah. Istilah yang dipakai oleh Muhammadiyah awal untuk menyebut dirinya adalah “Islam berkemajuan”. Pada Muktamar di Yogyakarta tahun 2010, istilah ini lantas dipakai dan dipopulerkan untuk mengidentifikasi karakter ke-Islaman Muhammadiyah.

Dalam kaitannya dengan globalisasi, Islam berkemajuan itu sering dimaknai sebagai “Islam kosmopolitan”, yakni kesadaran bahwa umat Muhammadiyah adalah bagian dari warga dunia yang memiliki “rasa solidaritas kemanusiaan universal dan rasa tanggung jawab universal kepada sesama manusia tanpa memandang perbedaan dan pemisahan jarak yang bersifat primordial dan konvensional” (Tanfidz Muhammadiyah 2010, 18). Mengapa Islam kosmopolitan menjadi pilihan Muhammadiyah? Muhammadiyah menyadari bahwa kelahirannya merupakan produk dari interaksi Timur-tengah dan Barat yang dikemas menjadi sesuatu yang otentik di Indonesia. Ia memadukan pemikiran Muhammad Abduh, sistem yang berkembang di Barat, dan karakter Indonesia. Karena itu, kosmopolitanisme yang dikembangkan Muhammadiyah diharapkan menjadi wahana bagi untuk dialog antar peradaban.

Ringkasnya, kelahiran dari slogan “Islam Nusantara” dan “Islam berkemajuan” memiliki kemiripan dengan apa yang terjadi pada tahun 1920-an. Ketika itu, sebagai respon terhadap berbagai peristiwa di Arabia dan Turki (comite chilafat dan comite hijaz), maka lahirlah NU. Sementara Muhammadiyah lahir sebagai reaksi terhadap penjajahan, misi Kristen, pemikiran Abduh, dan budaya Jawa. Bisa dikatakan bahwa apa yang terjadi saat ini adalah semacam Déjà vu.
-oo0oo- *Peneliti LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia) sumber : SINDO

Homo Seksual Bukan Di Sebabkan Gen

perkawinan Sejenis
perkawinan Sejenis
Ilustrasi perkawinan Sejenis

Lesbian, gay, biseksual, serta transgender berasumsi kelainan yang mereka alami disebabkan aspek genetika. Psikiater Prof. Dadang Hawari menyanggah hal itu. Kecenderungan suka sejenis, menurut dia, lebih di dominasi oleh aspek lingkungan.

Homo Seksual Bukan Di Sebabkan Gen

“Sama sekali bukanlah lantaran gen. Gen itu cuma rasionalisasi asumsi dari golongan homo itu sendiri. Jadi ada seseorang professor Amerika yang menyebutkan homoseksual dapat berlangsung disebabkan kurangnya pendidikan agama, ” kata Dadang Hawari pada Republika, Rabu (1/7/2015).

Dari semua masalah yang di teliti semua profesor tentang homoseksual, lanjut Dadang, mereka alami kelainan lantaran tak memperoleh pendidikan agama.

Dia menuturkan, bila menengok system pendidikan Islam, telah jelas bagaimanakah semestinya orangtua memperlakukan masing-masing anak. Anak laki-laki diperlakukan seperti apa, serta wanita diperlakukan seperti apa.

Lain halnya, saat agama tak turut bertindak. Laki-laki serta wanita diperlakukan sama juga. Karena tak ada ketentuan agama, tak ada kontrol waktu mereka berkembang ke arah menyimpang.

“Toleransi orang-orang Indonesia terkadang terlampau tinggi. Homoseksual dikampanyekan juga sebagai hak asasi manusia. Hak asasi itu bila berpasang-pasangan laki-laki serta wanita, ” kata Dadang.

Selanjutnya, psikiater ini berpandangan, orang-orang harusnya sadar serta tanggap pada kehadiran beberapa gay. Ia mengakui prihatin, karena orang-orang sampai kini condong berlaku diam, walau sudah mengetahui ada aktivis yang terang-terangan mengkampanyekan homoseksual. (sf/Rol)

Dalil Yang Melarang Perkawinan Sejenis

فَلَمَّا جَاءَ أَمْرُنَا جَعَلْنَا عَالِيَهَا سَافِلَهَا وَأَمْطَرْنَا عَلَيْهَا حِجَارَةً مِنْ سِجِّيلٍ مَنْضُودٍ

Maka tatkala datang azab Kami, Kami jadikan negeri kaum Luth itu yang di atas ke bawah (Kami balikkan), dan Kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang terbakar dengan bertubi-tubi. (Qs. Huud (11): 82)

Kemudian Nabi saw bersabda:

عَنْ عَمْرِو بْنِ شُعَيْبٍ ، عَنْ أَبِيهِ ، عَنْ جَدِّهِ ، أَنَّ رَسُولَ الله صَلَّى الله عَلَيه وسَلَّم لَعَنَ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ : مَلْعُونٌ مَلْعُونٌ مَلْعُونٌ ، مَنْ عَمِلَ عَمَلَ قَوْمِ لُوطٍ

dari Amr bin Syu’aib, dari bapaknya, dari kakeknya, bahwasannya Rasulullah SAW telah melaknat tiga kali: Sungguh orang yang dilaknat, sungguh orang yang dilaknat, sungguh orang yang dilaknat (yaitu)orang yang mengerjakan amalannya kaum Luth. (HR. Baihaqi)

Ramadhan Momen Mengembangkan Kapasitas

Ramadhan Mubarok

Ramadhan Mubarokcahayaumat.net, Agama Islam sebagai sebuah ajaran yang sempurna meletakkan kepentingan individu dan sosial dalam hubungan yang harmonis: tidak ada kehidupan sosial yang baik tanpa individu-individu yang baik, begitu pula seorang individu yang baik tidaklah sempurna manakala ia hidup dalam kehidupan sosial yang tidak baik. Prinsip semacam ini bisa kita dapati tercermin dalam banyak aspek ajaran Islam, baik yang langsung mengangkut muammalah, ibadah, bahkan aqidah.

Ramadhan Momen Mengembangkan Kapasitas

Hal ini dapat kita tangkap dari pesan-pesan dalam ibadah yang kita jalani. Misalnya saja shalat, bagaimana shalat itu diharapkan memberi dampak kepada pelakunya agar tercegah dari perbuatan keji dan munkar. Contoh lain, mekanisme Zakat-Sedekah yang memungkinkan distribusi kekayaan dari Si Kaya kepada Si Miskin secara efektif—jauh lebih efektif sebenarnya daripada mekanisme pajak.

Khusus pada Bulan Ramadhan ini, kita umat muslim seluruh dunia menjalankan ibadah puasa. Tidak berbeda dengan ibadah lain, disamping mengembangkan kapasitas individual pelakunya ibadah ini juga mengajarkan kepada kita pentingnya kesalehan sosial. Baik kita sadari maupun tidak, ibadah Puasa memungkinkan kita menjadi orang yang lebih baik, baik bagi diri kita sendiri maupun bagi makhluk Allah yang lain. Uraian selanjutnya akan menjelaskan mengenai pernyataan tersebut.

Ramadhan dan pengembangan kapasitas individual

Secara etimologi, ramadhan berasal dari kata ra-mi-dha yang artinya “panas” atau “panas yang menyengat”. Kata ini berkembang sebagaimana umumnya dalam struktur bahasa Arab dan bisa dimaknai “menjadi panas, atau sangat panas”, atau diartikan “hampir membakar”. Dalam kamus Al-Munjid, ramidha atau ramdha’ memiliki makna syadid al-har (“sangat panas”, “terik”).

Ar-Ramadhu juga bisa berarti “batu yang panas karena panas teriknya matahari” sebagaimana terdapat dalam kitab Matn Al-Lughah. Ibnu Manzhur berpendapat: “Ramadhan adalah salah satu nama bulan yang telah dikenal”. Ibnu Duraid menambahkan: “Ketika orang-orang mengadopsi nama-nama bulan dari bahasa kuno secara sima’i dengan zaman (masa) yang ada dalam bulan itu, maka bulan Ramadhan bertepatan dengan masa panas terik, lalu dinamakanlah dengan Ramadhan.

Menurut Quraish Shihab, ramadhan berasal dari akar kata yang berarti “membakar” atau “mengasah”. Disebut demikian karena pada bulan ini dosa-dosa manusia pupus, habis terbakar, akibat kesadaran dan amal salehnya. Bisa juga karena bulan tersebut dijadikan waktu untuk mengasah dan mengasuh jiwa manusia.

Dari sudut pandang lain, kita menemukan menurut al-Ghazali makna Ramadhan juga sebagai sebuah proses “pengurangan” dan “pengosongan”. Pengurangan (taqliil) yang mesti kita lakukan dalam bulan Puasa, yakni pengurangan terhadap pemuasan kebutuhan konsumtif kita baik itu dalam hal konsumsi makanan, konsumsi seksual, bahkan konsumsi penampilan. Konsumsi penampilan adalah pemuasan atas kecenderungan kita untuk memperlihatkan diri sebagai orang suci di depan orang lain namun penampakan itu hanya sebatas topeng belaka.

Sayangnya, menurut al-Ghazali, kita sering luput dalam aspek pengurangan ini. Yang terjadi kemudian malah puasa hanya sebatas penundaan, bahkan pelipatan. Kita hanya menunda konsumsi yang biasanya kita penuhi saat siang menjadi saat malam, bahkan pelipatan konsumsi/penambahan jumlah pemenuhan kebutuhan kita. “Memakan apa yang tak dimakan di selain bulan Ramadan, mengonsumsi sesuatu lebih banyak dari hari-hari non-puasa, sungguh telah jauh melenceng dari ruh puasa,” demikian tulis al-Ghazali.

Ketika kita berhasil melakukan “pengurangan”, maka kita perlu berlanjut pada tahap “pengosongan” (al-khawaa’) dan penaklukan keinginan-keinginan diri (kasr al-hawaa) yang bersifat fisikal. Dengan perubahan fokus dari alam fisikal ke alam spiritual, barulah jiwa seseorang diyakini bisa mencapai level takwa. Pengurangan intensi dalam aspek-aspek yang fisikal diandaikan akan meninggikan sensitivitas terhadap alam spiritual.

Beberapa hadits populer menegaskan fungsi puasa Ramadhan sebagai sarana pengembangan kapasitas diri sebagai mana dijelaskan al-Ghazali. “Barangsiapa berpuasa Ramadhan dengan iman dan ihtisab maka diampuni baginya dosa-dosa yang telah lalu” juga berarti puasa Ramadhan berdampak pada pengosongan dosa. Bahkan hadits “Berpuasalah niscaya kalian sehat”, bermakna peningkatan kualitas jasmani.

Ramadhan dan pengembangan kapasitas komunal

Sudah jamak diketahui bahwa puasa bukanlah ibadah ekslusif umat Islam. Ulama menggolongkan puasa dalam salah satu ajaran yang dilandaskan pada syariat pra-Islam dikarenakan umat-umat sebelumnya sudah menjalankan ibadah semacam ini. Sebagaimana perintah puasa dalam al-Qur’an “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian, agar kalian bertakwa”. Imam Al-Quthubi dalam bukunya al-Jami` li Ahkam al-Qur’an (Juz I, hlm. 672) menyatakan bahwa umat Nabi Nuh, Nabi Musa, dan Nabi Isa telah mempraktekkan ibadah puasa, walau dengan waktu dan tata cara yang mungkin berbeda dengan yang dilaksanakan umat Islam.

Dalam sebuah hadits sahih diceritakan, ketika pertama kali datang ke Madinah, Nabi mendapati orang-orang Yahudi berpuasa pada hari Asyura. (Shahih Bukhari, hadits ke 3942 dan 3943). Hadits lain juga senada, orang-orang Quraisy sebelum Islam terbiasa melakukan puasa Asyura. Dan Nabi memerintahkan umat Islam berpuasa pada hari Asyura hingga turun perintah yang mewajibkan umat Islam berpuasa di bulan Ramadan. Pemeluk agama Yahudi misalnya, berpuasa selama 25 jam, pada hari kesepuluh Tishrei atau yang dikenal dengan hari Yom Kippur, setiap tahunnya. Demikian juga pemeluk agama Kristen Timur, yang berpuasa selama 40 hari sebelum perayaan paskah.

Mengapa Ramadhan kemudian menjadi bulan spesial yang dipilih sebagai bulan wajib puasa? Apabila kita bandingkan Ramadhan dengan bulan ke-11, 12, 1, dan 7 dalam penanggalan Hijrah–secara berturut-turut kita kenal sebagai bulan Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharram, dan Rajab, kita akan menemukan fakta bahwa dalam kelender Arab pagan, maupun Islam sekalipun, Ramadhan sebelumnya tidak memiliki status sebagai bulan haram. Bulan haram sendiri adalah institusi Arab pra-Islam yang dilembagakan untuk meredam pertumpahan darah yang sering terjadi di jazirah Arab. Pada bulan-bulan ini, setiap bentuk kekerasan dan peperangan dilarang. Festival keagamaan kuno, seperti umrah pada bulan Rajab pun dilakukan, demikian pula festival haji besar yang berlangsung pada Dzulhijjah, dan bangsa Arab untuk sementara menikmati status sebagai bangsa beradab.

Salah satu bulan haram terpenting adalah Muharram, ia bertepatan dengan Tishrei yang menjadi bulan suci bangsa Yahudi. Dalam penanggalan Yahudi yang juga menganut sistem lunisolar, Tishrei bertepatan dengan masa panen raya yang biasanya jatuh pada bulan September dan Oktober. Hari kesepuluh Tishrei dirayakan oleh bangsa Yahudi sebagai masa berpuasa untuk memperingati turunnya 10 perintah Tuhan kepada Musa atau biasa dinamakan sebagai Yom Kippur, Hari Pertobatan. Pada mulanya, perintah puasa bagi umat Islam dilakukan bersamaan dengan Hari Raya umat Yahudi tersebut. Jejak dari perubahan waktu berpuasa umat Islam ini bisa kita baca dari redaksi ayat 2:183-4 yang memperkenalkan perintah untuk berpuasa tanpa petunjuk khusus tentang waktu tertentu untuk melakukannya. Dalam banyak literatur, kedua ayat ini secara tidak langsung merujuk pada puasa 10 Muharram yang saat itu mengikuti perayaan Yom Kippur. Pengenalan Ramadhan sebagai waktu untuk berpuasa, baru hadir di ayat 2:185, yang merevisi term hari-hari tertentu, ayyam ma’dudat, pada Yom Kippur menjadi kewajiban berpuasa sebulan penuh pada bulan Ramadhan. Dikemudian hari, 10 Muharram mengalami modifikasi makna dikalangan muslim Syiah, menjadi hari untuk memperingati kematian Hussein pada perang Karbala.

Enam bulan setelah Muharram, ada Rajab yang merupakan satu-satunya bulan haram diluar 3 bulan haram yang saling berurutan. Ia hadir pada awal musim semi, sekitar Maret, dan berkorelasi dengan salah satu hari raya Yahudi dan Kristen. Dalam banyak peradaban kuno, awal musim semi atau akhir musim dingin selalu menjadi hari besar yang dirayakan. Dalam peradaban Cina, kita mengenal Imlek yang merayakan saat pergantian musim itu dan awal masa bercocok tanam. Dalam kalender Yahudi, awal musim semi ini dikenal dengan nama Nisan, didalamnya ada perayaan Passover, yang memperingati keluarnya Musa dari Mesir. Passover dikemudian hari mengalami modifikasi makna oleh umat Kristen menjadi hari penyaliban dan kenaikan Isa ke langit, atau lebih dikenal sebagai perayaan Paskah. Kedudukan perayaan-perayaan besar di luar dunia Arab ini pada akhirnya mempengaruhi mereka dalam mempersepsi Rajab yang dirayakan didalamnya ibadah umrah, sekaligus menjadi festival pasar tahunan bangsa Arab.

Perubahan waktu wajib puasa bagi “ummah” saat itu menegaskan bahwa agama Islam memiliki independensi dan tidak sekedar meniru konsep agama sebelumnya. Perubahan ini tidak sekedar perubahan waktu semata, namun perubahan paradigma. Bersama dengan dua perubahan lain (perubahan kiblat dari Yerussalem ke Mekkah) dan perubahan waktu shalat, kewajiban puasa di Bulan Ramadhan memberi kita pesan bahwa komunitas muslim semestinya memiliki kepercayaan diri untuk tidak ikut-ikutan dalam hal beribadah atau berprinsip. Inilah pesan pertama dari peribadatan puasa Ramadhan secara komunal: umat muslim memiliki kemiripan dengan umat terdahulu namun juga memiliki ciri khas tersendiri yang harus dibanggakan.

Kedua, puasa Ramadhan juga menegaskan bahwa kebaikan sebuah “ummah” dibentuk dari kebaikan-kebaikan individual yang berhasil dicapai oleh anggota-anggota sebuah komunitas. Darimana kesimpulan ini kita dapatkan?

Mari kita perhatikan kembali ayat al-Qur’an mengenai perintah puasa dalam QS. Al-Baqarah: 183 “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa”. Jelas bahwa perintah puasa ditujukan bagi orang-orang yang beriman (mukmin) agar bisa meningkatkan kualitas menjadi orang bertakwa (muttaqin). Dan orang yang bertakwa adalah mereka yang berimankepada yang ghaib, yang mendirikan shalat, dan menafkahkan sebahagian rezki yang dianugerahkan kepada mereka, dan mereka yang beriman kepada Kitab (Al Quran) yang telah diturunkan kepadamu dan Kitab-kitab yang telah diturunkan sebelummu, serta mereka yakin akan adanya (kehidupan) akhirat (QS.2:3-4). Orang muttaqin juga seorang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema’afkan (kesalahan) orang serta orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka (QS.3:134-135).

Dapat kita lihat secara eksplisit bahwa parameter ketakwaan secara umum terdiri atas dua aspek pokok: kesalehan ritual (beriman dan shalat) serta kesalehan sosial (membagi rizki, menahan marah, suka memaafkan, suka merenung dan bertobat).

Jadi secara sederhana bisa dikatakan puasa—yang dilakukan dengan iman dan sungguh-sungguh—akan menjadikan seseorang bertakwa dan orang yang bertakwa akan melakukan kebaikan pribadi yang berdampak pula pada kebaikan ummah, kebaikan masyarakat.

Sebuah renungan

Efek luas dari puasa adalah terciptanya keseimbangan yang tampak dalam kebaikan pribadi dan kebaikan ummah. Jika realitas sosial kita berkata lain, maka patutlah kita merenung apakah puasa-puasa yang kita lakukan masih sebatas untuk kepentingan diri sendiri dan belum berdampak pada kebaikan ummah? Ataukah malah juga belum berdampak pada kebaikan diri?

Maka pantas bagi kita untuk selalu mengingat agar waspada. Mari kita menjadikan puasa Ramadhan ini kembali pada tujuannya sebagai sarana “pembakaran”, “pengurangan”, dan “pengosongan” diri dan ummah. Karena jika kebaikan puasa itu bisa kita dapatkan, maka bukankah kita dan ummah ini akan mendapatkan solusi dari aneka problematika modernitas yang melanda kita sekarang ini. Sebuah janji yang diberikan oleh Allah swt: “Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar, Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya…Dan barang-siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya” (QS. Ath-Thalaq:2-4).

Wallahu ‘alam bisshawab.