Basic Principles Of Islamic Economic-sebuah pertimbangan dalam berekonomi

ekonomi Syariah

Oleh:Dian Berkah, MHI
(kandidat doktor ekonomi Islam, Unair dan Kaprodi Perbankan Shariah, UMSurabaya)

Basic Principles Of Islamic Economic-sebuah pertimbangan dalam berekonomi

Tulisan ini ditujukan sebagai bahan pertimbangan bagi siapa saja yang berperilaku ekonomi yang berhubungan dengan per-bank-an, per-koperasi-an, penggadai-an, baik dalam bentuk funding, financing dan service.

Berbicara ekonomi Islam, tidak hanya berhubungan dengan per-bank-an dan per-koperasi-an semata, tetapi ekonomi Islam memiliki cakupan yang sangat luas, berhubungan dengan segala bentuk perilaku manusia, baik individu, keluarga, dan bermasyarakat. Tentunya tidak lain dalam rangka memenuhi kebutuhan hidup manusia, baik kebutuhan material maupun kebutuhan spiritual, yang kesemuanya itu bergumul dalam satu tujuan mencapai kebahagian hidup di dunia dan kebahagian hidup di akhirat.

ekonomi Syariah
BRI-Syariah-ilustrasi

Karena itu sangatlah diperlukan sebuah langkah dalam mengkaji Islamic values tentang prinsip-prinsip dasar ekonomi Islam yang bersumber dari al-Quran dan al-hadits, dan bukanlah sebaliknya berdasarkan hawa nafsu. Selanjutnya, prinsip-prinsip dasar yang berbasis Islam tersebut akan menuntun siapa saja dalam berperilaku ekonomi, baik dalam bentuk perdagangan, per-bank-an, per-koperasi-an, dan perusahaan, serta bentuk usaha lainnya. Dengan demikian, segala bentuk aktifitas manusia dalam berekonomi akan berjalan berdasarkan petunjuk Allah.

Tentu bukanlah seperti yang terjadi di masyarakat dewasa ini, mereka menggunakan label syari’ah tetapi perilaku mereka masih mengikuti prinsip-prinsip yang terjadi di pasar. Disadari atau tidak, sebagian besar masyarakat telah berpegang pada slogan “bermodal sekecil-kecilnya untuk mencapai keuntungan sebesar-besarnya”. Sekali pun mereka menggunakan label syari’ah di dalam usahanya, namun praktinya mereka masih mengikuti prinsip-prinsip pasar. Misalnya saja, dalam bidang jual-beli ada harga barang; dalam bidang per-bank-an ada rating bunga bank; dalam bidang kesehatan semakin maraknya para dokter membuka praktik sendiri dengan biaya yang sangat tinggi; dalam bidang transportasi semakin meningkatnya kemacetan, kecelakaan dan polusi udara; dalam bidang perhotelan dan pariwisata maraknya kemaksiatan; dalam industri makanan maraknya pencampuran dengan borax dan formalin.

Tentu, Islam membenarkan keuntungan dari suatu usaha manusia, namun keuntungan tersebut tidak hanya diperuntukan bagi dirinya semata tetapi juga masyarakat secara luas, bahkan mereka dituntut untuk selalu berperan aktif dalam penyediaan lapangan pekerjaan (pro job), pengentasan kemiskinan (pro poor), pengembangan usaha (pro growth), dan pelestarian lingkungan (pro inveronment). Dengan demikian tugas manusia sebagai khalifah (pemimpin) benar-benar terwujud dalam menciptakan kemakmuran di muka bumi ini.

Dalam hal ini ada beberapa prinsip dasar ekonomi Islam yang dapat dijadikan landasan bergerak bagi siapa saja yang berperilaku ekonomi di kehidupan dunia ini, sebagaimana yang tersirat di bawah ini,

Tujuan kehidupan

Secara langsung Allah menunjukan tujuan penciptaan manusia adalah ibadah. Artinya setiap perilaku manusia di dunia harus bernilai ibadah, baik perilaku manusia dalam berekonomi untuk memenuhi kebutuhan material maupun perilaku manusia dalam beribadah untuk memenuhi kebutuhan spiritual. Dalam hal ini ada beberapa ayat al-Quran yang menjelaskan tujuan kehidupan manusia, sebagai berikut:

Q.S. al-Dzariat ayat 56

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku

Q.S. al-Nisa ayat 21

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُواْ رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ وَالَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

Hai manusia, sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertakwa

Q.S. al-Jumuah ayat

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا نُودِي لِلصَّلَاةِ مِن يَوْمِ الْجُمُعَةِ فَاسْعَوْا إِلَى ذِكْرِ اللَّهِ وَذَرُوا الْبَيْعَ ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَّكُمْ إِن كُنتُمْ تَعْلَمُونَ

Hai orang-orang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat Jum’at, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli . Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui

Rentang waktu (space time)

Allah menunjukan dua dimensi waktu, antara dunia dan akhirat. Rentang waktu inilah yang harus menjadi perhatian bagi siapa saja yang berperilaku ekonomi, tidak hanya mencari keuntungan untuk memenuhi kebutuhan di dunia, tetapi juga mencari keuntungan untuk memenuhi kebutuhan hidup di akhirat kelak. Bahkan Allah memerintahkan manusia untuk mencari kebahagian hidup di akhirat tanpa melupakan kebahagian yang ada di dunia. Itu artinya kebahagian akhirat harus menjadi prioritas bagi manusia. Keterangan tersebut berdasar pada surat al-Qashash ayat 77,

وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ وَلَا تَنسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا وَأَحْسِن كَمَا أَحْسَنَ اللَّهُ إِلَيْكَ وَلَا تَبْغِ الْفَسَادَ فِي الْأَرْضِ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمُفْسِدِينَ

Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (keni’matan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.

Di sinilah space time yang harus diperhatikan bagi siapa saja yang berperilaku ekonomi di dunia ini. Sebagai penjelas tentang berapa perbandingan kehidupan akhirat dengan kehidupan dunia. Ada keterangan di masyarakat tentang perbandingan satu hari di akhirat sama dengan seribu tahun di dunia. Sungguh keterangan itu tidak benar. Karena penjelasan itu dapat dikembalikan kepada petunjuk Allah yang menjelaskan bahwa perhitungan itu hanya menunjukan bahwa Allah menurunkan suatu urusan dari langgit ke bumi, kemudian kembali lagi ke langit, bukan hitungan perbandingan antara kehidupan akhirat dengan kehidupan dunia. Secara langsung dapat dilihat dalam surat al-sajadah ayat 5 di bawah ini,

يُدَبِّرُ الْأَمْرَ مِنَ السَّمَاءِ إِلَى الْأَرْضِ ثُمَّ يَعْرُجُ إِلَيْهِ فِي يَوْمٍ كَانَ مِقْدَارُهُ أَلْفَ سَنَةٍ مِّمَّا تَعُدُّونَ

Dia mengatur urusan dari langit ke bumi, kemudian (urusan) itu naik kepadaNya dalam satu hari yang kadarnya adalah seribu tahun menurut perhitunganmu

Selanjutnya, perhitungan yang benar tentang perbandingan kehidupan akhirat dengan kehidupan dunia dapat ditemukan secara langsung melalui petunjuk Allah dalam surat Thaha ayat 103-104 sebagai berikut,

يَتَخَافَتُونَ بَيْنَهُمْ إِن لَّبِثْتُمْ إِلَّا عَشْراً, نَحْنُ أَعْلَمُ بِمَا يَقُولُونَ إِذْ يَقُولُ أَمْثَلُهُمْ طَرِيقَةً إِن لَّبِثْتُمْ إِلَّا يَوْماً

mereka berbisik-bisik di antara mereka: “Kamu tidak berdiam (di dunia) melainkan hanyalah sepuluh (hari)”, Kami lebih mengetahui apa yang mereka katakan, ketika berkata orang yang paling lurus jalannya di antara mereka: “Kamu tidak berdiam (di dunia), melainkan hanyalah sehari saja”.

Dari ayat di atas, dapat diketahui perhitungan perbandingan kehidupan akhirat dengan kehidupan dunia sama seperti perhitungan satu hari di akhirat sama dengan selamanya kehidupan dunia. Sungguh tidak ada satu pun yang mengetahui berapa lamanya kehidupan dunia, mengingat tidak ada keterangan kapan Adam a.s diturunkan ke dunia dan kapan dimulai hari kiamat. Di sinilah keterbatasan manusia yang harus menjadi perhatian bagi siapa saja yang berperilaku ekonomi di dunia ini, agar mereka melihat kekuasaan Allah SWT yang mengetahui perhitungan antara kehidupan akhirat (ghaib) dan kehidupan dunia (nyata). Keterangan inilah yang seharusnya diperhatikan karena dari ayat di atas terdapat ayat selanjutnya yang menunjukan akan kekuasaan Allah, sebagaimana yang tertulis dalam surat al-Sajadah ayat 6,

ذَلِكَ عَالِمُ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ الْعَزِيزُ الرَّحِيمُ

Yang demikian itu ialah Tuhan Yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, Yang Maha Perkasa lagi Maha Penyayang

Mengedepankan prinsip tolong-menolong

Sangat berbeda prinsip tolong menolong dengan perbuatan mengambil kesempatan untuk meningkatkan sejumlah modal atau meningkatkan keuntungan. Di sinilah siapa pun yang berperilaku ekonomi harus benar-benar mengevaluasi setiap gerakannya apakah membantu masyarakat atau mengambil keuntungan dari masyarakat.

Islam secara tegas menunjukan prinsip tolong-menolong untuk kebaikan dan bukan sebaliknya. Secara langsung dapat dilihat dari petunjuk Allah dalam surat al-Maidah ayat 2 berikut ini,

وَتَعَاوَنُواْ عَلَى الْبرِّ وَالتَّقْوَى وَلاَ تَعَاوَنُواْ عَلَى الإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ وَاتَّقُواْ اللّهَ إِنَّ اللّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ

Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya

Secara kasat mata siapa pun bisa melihat, ketika pelaku ekonomi memberikan pinjaman modalnya kepada orang lain tanpa mengambil keuntungan dari peminjaman itu, apakah mereka benar-benar  tidak mendapatkan keuntungan. Sungguh ini pemikiran yang harus diluruskan jika mereka tidak mendapatkan keuntungan. Bukankah jawaban seperti itu yang akhirnya menjebak banyak manusia yang terjerumus kepada penambahan harta barang, penambahan bunga, dan penambahan lainnya.

Sungguh, Bukankah sekali pun mereka tidak dibalas di dunia karena menolong saudaranya dengan meminjamkan modal, bukankah keuntungan itu bisa di dapat di akhirat sebagai investasi atau tabungan di kehidupan yang sangat panjang itu. bukankah pemikiran seperti ini yang tidak dipikirkan oleh sebagian besar masyarakat muslim dewasa ini.

Walau demikian bukan berarti mereka yang berperilaku ekonomi tidak boleh mengambil keuntungan, tetapi harus dibuktikan bahwa peminjam modal itu benar-benar merasakan pertolongan, dan bukan sebaliknya merasa dibebankan dengan tambahan dari modal tersebut. Bukankah banyak terjadi, ketika mereka tidak menambahkan dari modal yang dipinjamkan, ternyata mereka mendapat pengembalian yang lebih dari mereka yang meminjam modal itu. Di sinilah Allah membalas ketulusan, kesungguhan, keistiqomahan siapa saja yang menolong saudaranya yang membutuhkan. Penulis yakin mereka itulah pelaku ekonomi yang mendapatkan keuntungan di dunia dan juga keuntungan di akhirat kelak.

Saran:

Berpijak dari beberapa prinsip dasar ekonomi Islam di atas hendaknya para pelaku ekonomi harus benar-benar memperhatikan poin-poin tersebut, sehingga secara langsung dapat menjadi teladan yang terdepan dalam menerapkan ekonomi Islam, sehingga secara langsung masyarakat dapat merasakan pertolongan dari saudaranya, Akhirnya mereka yang menolong saudaranya yang membutuhkan itu akan mendapatkan keuntungan yang berlipat baik di dunia maupun di akhirat.
Ketika memberikan bunga dari tambahan modal yang dipinjam, berikanlah kepada pemimjam bunga yang serendah mungkin, jika tidak menerima berilah pilihan bunga yang sesuai dengan kemampuan peminjam dan janganlah mengikuti harga pasar. Dengan demikian mereka merasakan pertolongan dan bukan merasakan pembebanan, sekali pun terkadang mereka merasa tidak terbebani, padahal mereka merasa terbebani.
Ketika tidak ada bunga dari peminjaman itu, yakinkalah Allah pasti akan memberikan keuntungan dari ketulusan perbuatan itu, mengingat sangat sedikit orang yang berani menjadi pelopor dalam melakukan gerakan tanpa bunga tersebut. Boleh jadi Allah akan membalasnya dari arah mana saja yang tak pernah diperkirakan sebelumnya oleh siapa pun, yang selanjutnya mereka akan mendapatkan keuntungannya di dunia dan di akhirat.  (dian/cahayaumat.net)