Hukum Membuat Patung Dan Menggambar Dalam Islam

Keputusan mengenai hukum menggambar diambil berdasarkan beberapa pertimbangan:
Pertama, masalah seni gambar dan patung dapat dikategorikan sebagai masalah hukum yangma’qulul-ma’na, yaitu masalah hukum syar’i yang logika hukumnya dapat dipahami melalui penalaran rasional.
Kedua, larangan pembuatan patung dan gambar makhluk hidup itu dapat dilihat dalam konteks perjuangan Nabi Muhammad saw memberantas ajaran penyembahan berhala dan menegakkan ajaran tauhid yang murni, apabila membuat patung dan gambar itu tidak diberantas maka akan terjadi perusakan akidah baru itu. Sedangkan bilamana tidak dikhawatirkan merusak akidah, maka larangan tersebut tidak ada.
Seperti dalam kasus boneka mainan anak-anak. Hal ini juga dapat dipahami dari alasan Nabi saw memerintahkan penyingkiran tabir bergambar karena memalingkan beliau dari Allah dan mengingatkan pada dunia serta mengganggu kekhusyukan salatnya. Jika semua alasan itu tidak ada, maka larangannya pun tidak ada.
Ketiga, di zaman modern, pembuatan patung dan gambar makhluk bernyawa kebanyakan bukanlah untuk disembah dan bagaimanapun, rasanya tidak ada umat Islam yang menyembah patung. Di lain pihak, patung dan gambar mempunyai beberapa manfaat, yang dulu tidak ada di zaman Nabi saw, misalnya untuk pelajaran, pengabadian peristiwa sejarah seperti patung biorama, dan lain-lain.
Keempat, dalam al-Qur’an kecaman kepada patung adalah karena dipuja dan diyakini sebagai penjelmaan Tuhan. Sedangkan patung-patung yang dibuat Nabi Sulaiman as tidak dikecam karena bukan untuk tujuan dan tidak terkait dengan penyembahan. (Tanya Jawab Agama V: 227-228).
Wallahu a’lam bish-shawab. 

Mengapa Mereka Mengkritik Keras Full Day School

Pendidikan karakter yang memadai kepada anak didik di sekolah-sekolah, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy melontarkan gagasan kemungkinan penerapan sistem belajar-mengajar dengan sekolah sehari penuh (Full Day School).

Kata Menteri Muhadjir, FDS ini tidak berarti peserta didik belajar seharian penuh di sekolah, tetapi memastikan bahwa peserta didik dapat mengikuti kegiatan-kegiatan penanaman pendidikan karakter, seperti mengikuti kegiatan ekstrakurikuler. Menurut Muhadjir, FDS dapat membendung pengaruh-pengaruh buruk yang diterima anak saat orang tua sibuk bekerja dan tak sempat mengawasi. Selama satu hari di sekolah, banyak hal yang bisa dipelajari anak-anak untuk menambah wawasan mereka.

Tapi, di luar dugaan, gagasan Menteri Muhadjir mendapat kritik tajam dari berbagai kalangan, dari orang awam hingga cendekiawan. Imam Prasodjo menyebut pernyataan Mendikbud membuat dahi mengkerut; Luthfi Assyaukanie menyebut Mendikbud blunder; Denis Maltoha (filsuf?) menyebut Mendikbud sesat pikir dan kejam (Quereta, 9/8/2016); dan masih banyak lagi kritik-kritik yang jauh lebih tajam bahkan cenderung kasar (di antaranya dalam bentuk meme). Uniknya, tidak sedikit dari para pengritik itu (disadari atau tidak) merupakan “eks anak didik” FDS.

Pada dasarnya FDS sudah diterapkan di banyak sekolah di negeri ini, baik secara tersirat maupun tersurat. Yang tersirat seperti boarding school, pesantren, pendidikan seminari, dan sekolah-sekolah kedinasan yang pada umumnya bahkan menerapkan full day and night school.

Yang tersurat seperti SMA A. Wahid Hasyim (Jombang, Jawa Timur), SMA Internasional Budi Kartini (Surabaya, Jawa Timur), SMA Tunas Luhur Paiton (Probolinggo, Jawa Timur), SMP-SMA Al-Mamoen (Cianjur, Jawa Barat), dan lain-lain.

Mencermati kritik-kritik terhadap FDS, saya teringat Imam Ghazali yang membagi manusia menjadi empat golongan (tipe). Pertama, rajulun yandri wa yadri annahu yadri (orang yang tahu dan tahu dirinya tahu). Kedua, rajulun yadri wa la yadri annahu yadri (orang yang tahu dan tidak tahu dirinya tahu).

Ketiga, rajulun la yadri wa yadri annahu la yadri (orang yang tidak tahu dan tahu bahwa dirinya tidak tahu). Keempat, rajulun la yadri wa la yadri annahu la yadri (orang yang tidak tahu dan tidak tahu bahwa dirinya tidak tahu).

Dengan meminjam kategorisasi Imam Ghazali, saya ingin melihat tipe-tipe kritik yang dilontarkan publik terhadap FDS. Pertama, mereka yang tahu apa dan bagaimana FDS dan tahu plus minusnya jika FDS diterapkan. Mereka gencar mengritik FDS karena dilandasi pengetahuan yang cukup tentang pendidikan. Tapi mungkin karena perbedaan perspektif dalam melihat FDS (antara dirinya dan sang Menteri) sehingga tidak ada titik temu. Perhatikan, misalnya, komentar Imam Prasodjo berikut ini:

“Ketahuilah Pak Menteri bahwa terlalu banyak sekolah yang tak layak sebagai lingkungan belajar, atau bahkan tak layak hanya sebagai tempat sekadar berkumpul. Lihatlah kondisi SD dan SMP di banyak wilayah, apalagi daerah terpencil. Angka statistik di Kemendikbud pasti tersedia yang menunjukkan berapa banyak sekolah yang rusak, tak ada toilet, tak ada halaman bermain, atau bahkan sudah masuk kategori zona berbahaya.”

Jelas ada perspektif yang berbeda antara apa yang dipikirkan Menteri Muhadjir dan yang dipikirkan Imam Prasodjo. Aktivis Nurani Dunia ini melihat kemungkinan penerapan FDS dari sudut pandang negatif, yakni untuk sekolah-sekolah yang dari sudut pandang Menteri Muhadjir pun sebenarnya tidak mungkin akan menjadi tempat penerapan FDS.

Kedua, mereka yang pada dasarnya memahami apa dan bagaimana FDS, namun (mungkin karena alasan-alasan subjektif) mereka tidak tahu bahwa dirinya paham. Termasuk katagori ini adalah mereka yang sudah lama bergerak di dunia pendidikan (guru, dosen) dan sebagian merupakan alumni (produk) dari pesantren dan atau boardong school. Mereka menjadi kritikus terdepan seolah-olah tidak pernah merasakan manfaat dari FDS. Psikolog Yayah Khisbiyah menyebut mereka ini sebagai great pretender. Orang-orang yang sejatinya mengerti tapi penuh kepura-puraan.

Ketiga, mereka yang benar-benar tidak tahu FDS dan tahu dirinya tidak tahu. Mereka ini bisa dari kalangan awam, bisa juga dari kalangan cerdik pandai yang bukan ahli pendidikan. Prinsipnya kritik dulu, mencermati kemudian. Mengritik mungkin karena mengikuti arus, tapi karena sadar dirinya tidak tahu, maka tetap berusaha mencari tahu apa dan bagaimana FDS. Orang-orang seperti ini biasanya mau menerima penjelasan karena sadar akan ketidaktahuan dirinya. Setelah tahu, bisa berubah mendukung, bisa juga tetap mengkritik.

Keempat, mereka yang tidak tahu FDS dan tidak tahu kalau dirinya tidak tahu. Ini kelompok yang paling buruk. Mengkritik seolah-olah tahu, padahal tidak tahu. Bisa dari kalangan awam, bisa juga dari kalangan orang-orang ternama tapi bukan ahli di bidang pendidikan.

Mereka tidak tahu diri atau sok tahu. Atau bisa juga waton suloyo (asal mencela) untuk sekadar mencari popularitas. Termasuk dalam tipe ini adalah kalangan artis yang tiba-tiba jadi pengamat pendidikan dengan kritik-kritiknya yang tajam seperti Deddy Corbuzier, Sophia Latjuba, Rossa, Tyas Mirasih, dan Julia Perez.

“Gagasan program Full Day School belum tepat diterapkan di Indonesia karena memang secara filosofis dan praktis, gagasan tersebut bermasalah,” kata Anamg Hermansyah.

“Dunia pendidikan kita ini jangan dijadikan kelinci percobaan. Ini bukan waktunya untuk menjadi kelinci percobaan, dan siswa-siswa kita juga bukan kelinci percobaan,” kata Fadli Zon.

Jika anggota Komisi X DPR RI dan Wakil Ketua DPR RI ini mau memahami penjelasan Mendikbud, keduanya bisa masuk kritikus tipe ketiga, tapi jika tidak mau tahu, mungkin termasuk tipe keempat. Wallahu’alam!

Yang menarik, di luar kritik-kritik keras yang berkembang di media dan (terutama) media sosial, FDS justru mendapat apresiasi dan dukungan dari para pendidik kenamaan seperti Arif Rachman, Rhenald Kasali, dan Komaruddin Hidayat.

sumber: http://geotimes.co.id/setelah-full-day-school-menteri-muhadjir-dikritik/

Bihun Cap Bikini atau Bikini Cap Bihun?

Foto Profil Mohammad NurfatoniKH Idham Kholid pernah membuat statemen yang sangat terkenal sampai kini, “Mana yang lebih baik antara minyak samin cap babi daripada minyak babi cap onta?” Pernyataan ini berkaitan dengan diskursus politik Islam, mana yang lebih penting, Islam substansi atau Islam simbolis?

Dalam perdebatan tersebut, Islam substansi digambarkan sebagai ‘minyak samin cap babi’ sedangkan Islam simbolis diibaratkan ‘minyak babi cap onta’. Anda pilih mana? Saya sendiri, akan memilih alternatif yang ketiga: ‘minyak samin cap onta’. Sebab, Islam itu sarat dengan simbol-simbol. Tetapi dalam beragama, umat Islam tidak boleh berhenti pada simbol. Kita harus bisa merengkuh isi di balik simbol itu, yaitu substansi atau esensi Islam. Saya kira dalam konsep Islam politik, alternatif pilihan ketiga itu pun sah-sah saja.

Bagaimana dalam dunia bisnis? Tentu tidak fair, bahkan menyesatkan, jika ada yang menjual minyak babi tapi dilabeli onta? Jangankan babi yang haram, menjual minyak kambing, tapi jika di-packing sebagai minyak onta, itu sudah melanggar etika. Seperti juga menjual makanan dengan merek atau kemasan yang diasosiasikan dengan unsur-unsur pornografi.

(Baca juga: Jangan Ada Korban Lagi seperti Yy)

‘Bihun Bikini’ adalah salah satu contohnya. Nama, ilustrasi atau gambar, dan tagline-nya, semua menjurus pornografi. Lalu di mana etika produsennya? Kreatifitas memang patut dihagai, tetapi kreativitas yang melanggar norma, sopan santun, dan kepatutan, harus dikoreksi. Apalagi, Bihun Bikini itu bukan soal kreativitas. Itu hanya strategi marketing instan, agar produk booming sesaat. Tapi, menurut saya, prinsip meraup untung sebesar-besarnya tidak boleh mengorbankan etika.

Di perusahaan yang saya pimpin, ada prinsip penting yang kami tanamkan, “harga bisa ditawar, tapi tidak soal kualitas.” Maksudnya mahal-murah itu negosible. Bisa tawar-menawar. Termasuk dengan risiko marjin keuntungan yang tipis. Tapi soal kualitas, apalagi yang menyangkut kadar (timbangan dan ukuran), tidak boleh ditawar, alias harga mati.

Tidak boleh ada penurunan, apalagi penipuan, spesifikasi bahan. Meskipun hal itu sangat mungkin dilakukan. Apalagi konsumen tidak akan tahu atau menyadarinya. Kami juga tidak akan menerima order cetakan yang ada unsur pornografi, judi, dan minuman keras. Bahkan order cetakan rokok pun sebisa mungkin kami hindari.

Tapi di abad modern ini, soal etika bisnis masih pentingkah? Rasanya banyak pebisnis yang meminggirkan etika demi meraup untung besar. Celakanya, risiko kesehatan, bahkan kematian, tidak lagi dihitung. Makanan dicampur berbagai zat kimia yang membahayakan kesehatan konsumen. Obat, yang dibeli untuk tujuan menyembuhkan, justru dipalsu. Vaksin pun dipalsu!

(Baca juga: Membeli Kepalsuan Diri)

Dalam Islam, aktivitas bisnis termasuk bagian dari mu’amalah. Pesan utama dalam mu’amalah (interaksi) bisnis misalnya bisa kita dapati dalam Albaqarah ayat 188, “Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan (interaksi bisnis) di antara kamu secara batil …” Menurut ahli tafsir Prof M Quraish Shihab, kata ‘batil’ diartikan sebagai “segala sesuatu yang bertentangan dengan ketentuan dan nilai agama”.

Nah, selain di dalam Alquran, ketentuan dan nilai agama soal bisnis (etika bisnis) terdapat dalam berbagai kitab hadis. Dalam kitab Bulughul Maram misalnya, ada satu bab khusus tentang jual beli, yang memuat hadis-hadis tentang hal-hal yang boleh dan yang dilarang dalam bisnis. Bahkan soal pailit dan pembekuan transaksi pun dibahas.

Dari semua hadis di dalam kitab itu, semangatnya bisa ditangkap dalam salah satu hadis yang secara eksplisit melarang tipu menipu dalam bisnis. Diriwayatkan oleh Bukhari Muslim, Ibnu Umar berkata bahwa ada seseorang mengadu kepada Rasulullah saw bahwa dia tertipu dalam jual beli. Lalu beliau bersabda, Jika engkau jual beli, katakanlah, ‘Jangan melakukan tipu daya!’

Persoalannya, apakah etika bisnis dalam Alquran dan Alhadis itu banyak yang tidak diketahui? Atau, jangan-jangan sudah tahu tapi karena tidak lagi peduli dengan nilai-nilai, maka rambu-rambu bisnis banyak yang diterabas. Jika hal terakhir yang terjadi, maka saya sarankan untuk menyelami kembali ‘ilmu menghadirkan’ dalam dunia bisnis.

(Baca juga: Anehdong Jumat, 12 Kisah Lucu Seputar Jumatan)

Ilmu menghadirkan adalah menghadirkan perasaan orang lain dalam diri sendiri. Jika hendak menipu, hadirkan perasaan para korban penipuan itu. Jika akan berbisnis vaksin palsu, maka hadirkan perasaan jiwa yang akan terdampak serius akibat vaksin palsu itu. Sebelum memproduksi makanan bercampur borak atau zat warna sintesis, maka hadirkan perasaan para konsumen yang akan mati pelan-pelan, rusak tubuhnya oleh bahan kimia berbahaya itu. Bagaimana jika itu terjadi pada diri keluarga kita?

Dalam bisnis, memang salah satu tujuannya mendapatkan keuntungan. Tapi keuntungan itu harus dicapai dengan cara-cara beretika. Prinsip bisnis Islami yang saya pahami, soal harta itu bukan akeh-akehan (sebanyak-banyaknya), tetapi sebersih-bersihnya. Itu yang bikin hidup penuh barakah. Semoga! (*)

Kolom Mohammad Nurfatoni General Manager Cakrawala Print
Tulisan ini kali pertama dipublikasikan di harian Duta Masyarakat, 12 Agustus 2016

Source link

Jangan Ada Korban Lagi seperti Yy

Foto Profil Mohammad Nurfatoni
Liberalisasi budaya bukanlah ekspresi kemerdekaan, 
ia justru akan membunuh peradaban secara perlahan.

Seorang
Raja sedang dirundung duka. Putri kesayangannya sakit parah. Berbagai upaya pengobatan dilakukan. Belum juga si Putri sembuh. Beberapa dokter telah didatangkan. Tak ada hasil.

Tapi sang Raja tak patah arang. Ia terus berusaha. Sampai suatu saat, datanglah ‘orang pintar’. Ia menawarkan resep kesembuhan Putri. Resep manjur, katanya.

Orang pintar memberi tiga pilihan resep. Raja boleh memilih satu di antaranya. Cukup satu. Tak perlu dua atau tiga. Adapun tiga syarat itu adalah: pertama, agar si Putri sembuh, raja harus memukul istrinya. Raja tertegun dengan syarat ini. Sebab, ia dikenal sebagai raja yang sangat sayang pada istrinya. Bagaimana mungkin ia akan menyakitinya?

Raja menolak syarat ini. Raja meminta syarat yang kedua. Lalu orang pintar menjelaskannya. “Baginda harus membunuh kuda tunggangan!” katanya. Raja bimbang. Ia penyayang binatang. Apalagi kuda kerajaan. Tunggangan resmi sang raja. “Tak mungkin, saya membunuhnya,” protesnya dalam hati.

(Baca: Siyono dan Nyawa Seekor Semut)

Dalam bimbang, raja bertanya resep ketiga. Orang pintar membuka suara, “Raja harus minum khamr. Minuman keras.” Raja terperanjat. Seumur-umur belum pernah ia meminum minuman beralkohol. Ia raja yang taat. Tapi ia mulai goyah. Putrinya harus sembuh. Ia sangat mencintai putrinya. “Haruskah aku terpaksa menenggak khamr?” Otak dan hatinya mulai berperang. Saling berhadapan.

Otaknya memberi nasehat, “Nggak apa. Lakukan saja. Minum tak merugikan orang lain. Beda dengan memukul istri atau membunuh kuda.” Hatinya menolak. “Jangan, itu haram. Dosa.”

Tapi raja harus membuat keputusan. Otaknya yang menang. Menurutnya, meminum khamr, jauh lebih sedikit mudaratnya. Ia hanya akan merugikan diri sendiri. Jika pun berdosa, ia bisa bertobat. Yang penting putrinya sembuh. “Okey,” kata Raja. “Saya pilih resep ketiga. Saya siap minum khamr.” Maka ia pun minum khamr yang dibawa orang pintar itu.

Seteguk. Dua teguk. Dan akhirnya beberapa teguk minuman keras itu mulai beraksi. Raja pusing. Ia setengah tak sadar. Saat itu, seperti biasa, kuda meringkik di kandang. Tapi kali ini lain. Emosi Raja sedang tidak stabil oleh pengaruh minuman keras. Ringkikan kuda itu membuatnya murka. Ia hunus pedang. Ia tebas kuda itu. Kuda kesayangan pun tumbang.

Mengetahui kejadian itu, istri raja tergopoh menghampiri. Ia hendak mencari tahu apa yang terjadi. Tapi raja malah tersinggung. Ia pukul sang Istri. Babak belur. Sakit, hatinya.

Kisah penuh metafor ini pernah saya baca di rubrik “Hikmah” koran Republika sekitar akhir 90-an. Saya tidak bisa mengutip persis. Korannya sudah raib. Mbah Google pun saya tanya, tidak menjawab. Akhirnya saya tulis kembali, dengan gaya bahasa sendiri.

Ada pesan penting yang hendak saya sampaikan dari kisah itu: jangan remehkan efek minuman keras. Raja memilih resep menenggak khamr, karena menganggap dampaknya paling kecil. Tapi ternyata justru membuyarkan segalanya. Jatuh korban-korban. Kudanya mati. Sang Istri pun terluka. Padahal dua keadaan itu sejak semula coba ia hindari. Ini gara-gara minuman keras. Minuman yang mampu merusak daya kontrol emosi seseorang.

Seorang remaja putri Yy, dalam kisah kontemporer adalah korban dari pembiaran produksi dan distribusi minuman keras. Anak-anak remaja leluasa minum alkohol. Lalu mereka dengan brutal, memerkosa, dan membunuh korban.

Tidak bisa dibayangkan 14 remaja memerdayai perempuan kecil. Tidak salah jika banyak yang berpendapat bahwa pengaruh minuman menjadi penyebabnya. Minuman keras membuat mereka menjadi raja tega. Menjadi buas. Dan konon, para pelaku kejahatan punya resep sebelum bertindak. Mereka butuh alat pacu keberanian. Dan minuman keras pilihannya.

Liberalisasi budaya
Selain hilangnya kontrol emosi, pengalaman bawah sadar juga punya peran penting. Pembunuhan dalam film, yang ditonton berulang-ulang, suatu saat akan memengaruhi cara bertindak seseorang. Demikian juga kekerasan seks, termasuk pornografi.

Sementara atmosfir film, lokal atau impor, telah didominasi materi seks dan kekerasan. Anehnya, muncul pula gugatan keberadaan lembaga sensor. Dengan sensor saja begitu brutal, bagaimana jika film-film ditonton tanpa sensor? Tapi dunia internet mana bisa disensor? Sulit. Sementara di dalamnya berhamburan materi pornografi. Anak di bawah umur dengan mudah mengaksesnya: dari gadget yang dibelikan oleh orang tua!

Yang tidak boleh dilupakan adalah pengaruh berkelompok. Jika bersendiri, mungkin ia tak berani. Tapi dengan berkelompok? Seperti sering nekatnya supporter yang bergerombol di jalanan. Psikologi kelompok membuat 14 remaja itu berani durjana berjamaah.

Apa yang harus dilakukan? Peran keluarga sangat penting. Tapi semua itu butuh kehadiran negara. Liberalisasi budaya tidak boleh dibiarkan. Negera harus hadir. Negara punya dan bisa membuat perangkat hukum untuk melarang produksi dan peredaran minuman keras. Juga melarang konten kekerasan dan pornografi dalam industri hiburan.

Negara harus serius memikirkan hulu (penyebab), jangan hanya berdebat soal hilir (hukuman pelaku). Lebih aneh, jika negara malah ambil untung dari semua itu. Seperti punya saham pada perusahaan minuman beralkohol. Cukup. Stop. Jangan ada korban lagi seperti Yy! (*)

Oleh Mohammad Nurfatoni, Sekretaris Yayasan Bina Qalam Indonesia
Hari ini (13/5/2016), tulisan ini dimuat koran Duta Masyarakat, Surabaya

Source link

Kini Gelar Akademis Menjadi Sakral

Gelar Akademis Sakral

Gelar Akademis Sakralcahayaumat.net – Baru-baru ini lembaga pendidikan semakin diperketat dengan aturan terkait status tenaga pendidik. Sudah menjadi ketetapan jika seorang guru (pendidik) mulai dari tingkat dasar (seperti PAUD, TK dan SD), tingkat menengah (SMP sederajat) dan atas (SMA sederajat) munimal harus bergelar Strata satu (S1). Sedangkan pada tingkat tinggi “Perguruan Tinggi”, dosen yang mengajar S1 minimal lulusan pascasarjana alias S2. Yang mengajar S2 diwajibkan minimal bergelar doktor dan pengajar mahasiswa jenjang doktorel harus Guru besar alias Profesor.

Dengan aturan seketat itu, banyak lembaga pendidikan harus berbenah total. Bagi lembaga pendidikan yang berskala besar/maju, mau tidak mau harus menguliahkan guru/dosen yang belum menamatkan jenjang S1, S2 dan S3 sesuai kemampuan lembaga pendidikan masing-masing. Sedangkan lembaga pendidikan yang berskala kecil, harus memberi pilihan kepada guru/dosen apakah melanjutkan studinya atau “diberi ucapan terima kasih”.

Selain aturan diatas, masih dibenturkan dengan aturan tidak boleh memiliki nomer induk kependidikan ganda bagi pendidik yang mengajar di dua jenjang pendidikan berbeda. Seperti seorang guru yang juga merangkap jadi dosen. Mereka harus memilih antara mempertahankan NUPTK atau NIDN. Dengan demikian, pendidik (guru/dosen) tadi harus memilih. Sedangkan lembaga juga tidak mau dirugikan jika pendidik mengajar di salah satu lembaga sedangkan nomer induk kependidikannya berada di lembaga yang lain.

Aturan-aturan diatas membawa perubahan yang signifikan. Banyak lembaga pendidikan, baik tingkat sekolah (PAUD, SD, SMP sederajat dan SMA sederajat) maupun tingkat tinggi (ST, Institut dan Universitas) berlomba-lomba mencari tenaga pendidik baru yang sarjana dan belum memiliki induk kependidikan yang bisa dijadikan guru/dosen tetap. Aturan ini pula yang akhirnya menghadirkan berbagai “ucapan terima kasih” kepada pendidik karena tidak memiliki standar yang berlakukan oleh pemerintah tersebut.

Diberlakukannya aturan tersebut tentu dengan tujuan yang mulia, demi mutu pendidikan bangsa Indonesia. Hanya saja, masih banyak lembaga pendidikan yang belum siap menerima peraturan tersebut. Akibatnya, banyak lembaga pendidikan, khususnya perguruan tinggi banyak merekrut tenaga baru meski yang direkrut tidak lebih baik dari tenaga lama. Karena setiap jurusan harus memiliki sejumlah dosen tetap, minimal 6 orang.

Banyak orang pandai, kharismatik dan penuh talenta seolah kurang berarti akibat aturan tersebut. Bahkan lulusan pesantren -contohnya- yang sudah paham tentang ilmu agama, sosial dan budaya rasanya kurang lengkap jika tidak memiliki gelar akademis. Bahkan, mereka terkesan diabaikan oleh pemerintah meski kompetensinya bisa menyamai seorang doktor sekalipun. Padahal, menjadi seorang bupati/wali kota, gubernur, menteri bahkan presidenpun tidak harus bergelar magister apalagi doktor.

Kini gelar Akademis itu menjadi sakral. Karena bagaimanapun, disadari atau tidak, diterima atau tidak, demi memperbaiki mutu pendidikan itu sendiri. Lembaga pendidikan dituntut untuk terus aktif melakukan perubahan. Tentunya dengan cara-cara yang baik agar tidak terjadi persoalan dikemudian hari. Tetapi jangan dilupakan, bahwa bangsa Indonesia yang kaya raya ini juga memiliki orang-orang hebat, pandai dan penuh telenta meski belum sempat memiliki gelar akademis. Hanya Allah swt Yang Tahu.

KINI GELAR AKADEMIS MENJADI SAKRAL
Oleh: Abdurrahman Gibol

Penulis adalah kandidat Doktor Manajemen pendidikan Islam di Pascasarjana UIN Malang

Kesungguhan Dr. saad Ibrahim MA dalam Mencari ilmu

Saad IbrahimKesungguhan Dr. saad Ibrahim MA dalam Mencari ilmu

Oleh: Fadh Ahmad Arifan

Seorang pria berbaju batik bermotif Muhammadiyah keluar dari mobil Baleno warna silver. Ia parkir di depan mobilnya Wakil direktur Pascasarjana UIN Malang. Otomatis saya habiskan bekal makanan dan bergegas masuk ke kelas. Hari itu giliran mas Asvi burhanuddin mempresentasikan makalah tentang tafsir Hermeneutika. Wajah Pria asal Pacet mojokerto itu serius banget membaca isi makalah kawanku tadi. “Sepertinya… asvi kena banyak revisi fadh”. Bisik teman sebelahku Faisol rizal.

Makalah sampean belum mencantumkan siapa saja yang mengkampanyekan tafsir ini di IAIN/UIN. Dengarkan… kebanyakan orang yg mengajarkan tafsir bibel ini bukan ahli tafsir dan ushul fiqh. Azyumardi azra, komaruddin dkk tidak mengerti apa-apa tentang tafsir Quran.” Masih kata pria tersebut,”Quraish shihab tidak setuju dengan pemakaian hermeneutika terhadap kitabullah“. Benarlah ucapan dosen ini. Di buku terbaru Prof Quraish shihab yang berjudul Kaidah Tafsir, beliau mengkritisi hermeneutika.

Prof Dr. Quraish shihab adalah pembimbing disertasinya yang jumlah halamannya dibawah 100. Konon disertasi tertipis di Indonesia. Disertasinya telah diterbitkan UIN maliki press dengan judul “Kemiskinan perspektif al Quran”. Suami dari rochimah ini lulus dari prodi tafsir Quran pada tahun 1997. Saat menimba ilmu di jakarta, ayah lima anak ini mengaku belajar banyak ke Nurcholis madjid dan Harun nasution. “Kita tidak bisa ambil satu lalu kita meniru. Ibaratnya ada bunga bunga yang kita ambil dari berbagai tempat, lalu kita letakkan di vas bunga. Itulah kita“. Jadi bukan ikuti satu dua guru, tapi memadukan semuanya hingga menjadi kita. Itu yang saya pahami saat bertanya kepada beliau,”Cak nur dan Prof harun liberal, untuk apa belajar kepada mereka?”

Pak Saad Ibrahim, lahir 17 November 1954. Pada 40 hari sebelum dilahirkam ke dunia, beliau menjadi yatim. Saat kelas 4 di MI, ia diajari membaca kitab kuning. Usai lulus dari MI, pak Saad bantu-bantu kakaknya bertani dan cari kayu bakar (Majalah Mimbar, edisi Februari 2016).

Pak saad ini bisa dijadikan uswah dalam mencari ilmu. Tekadnya kuat. Saat kuliah, selain dibiayai kakaknya, ia jual sawah warisan bapaknya. “Sampean harus punya iradah dari sekarang, harus lanjut S3. Ada biaya ngapain tidak lanjut jenjang doktoral? Dulu saya punya prinsip kuat harus kuliah, maka saya tidak berfikir di belakang harinya.” Katanya sambil menepuk pundakku.

Pak saad juga seorang kutu buku. Kakek dari garis ibunya saat wafat meninggalkan banyak kitab kuning. Kalau ke toko buku lagi tidak bawa uang, beliau pinjam temannya. Di lain kesempatan beliau pernah bercerita kalau dirinya pernah mengalami peralihan teologi. Dari NU ke muhammadiyah. Katanya muhammadiyah rasional dan mampu memberi pencerahan.

Saat diskusi panel dengan Prof Dr Ahmad zahro di aula Pascasarjana (gedung lama), pak Saad memberi wejangan yang tidak akan saya lupakan,”Warga NU memberi manfaat bagi sesama warga NU itu biasa. Warga Muhammadiyah memberi manfaat bagi sesama warga Muhammadiyah juga biasa. Yang luar biasa adalah ketika warga NU memberi manfaat bagi warga Muhammadiyah, atau sebaliknya, warga Muhammadiyah memberi manfaat bagi warga NU“.

Meski aktif jadi pucuk pimpinan PWM muhammadiyah jawa timur, beliau dipercaya menjadi ketua Prodi di pascasarjana Unhasy Jombang. Boleh jadi, masuknya pak Saad ke lembaga yang dikelola keluarga Gus Sholah itu tak lepas dari ajakan Prof Dr Imam suprayogo. Beliau marah sekali jika ada mahasiswanya yang lulusan pesanten tapi buta kitab kuning. “Saya ini bukan lulusan pondok tapi alhamdulillah saya bisa baca kitab kuning“. Katanya di tengah perkuliahan. Wallahu’allam

Penulis adalah Pendidik di MTs Muhammadiyah 2 Malang, Jawa timur

Jalan Lapar Itu Jalan Kebaikan

Foto Profil Mohammad Nurfatoni

BANYAK kajian tentang hikmah puasa. Tapi menurut saya, hikmah penting dari puasa itu adalah mempraktikkan “jalan lapar” dalam kehidupan.

Selain diajarkan via puasa wajib Ramadan, Baginda Nabi Muhammad saw juga mengajarkan jalan lapar melalui puasa sunah. Ada puasa Senin-Kamis, puasa ayyamul bidh (13,14,15 bulan Qamariyah), atau puasa Daud (sehari puasa sehari berbuka).

Sebagai jalan lapar, puasa bukan sekedar berpindah jadwal makan. Tentang ini, ada sebuah kisah menarik. Seorang bocah suka mondar-mandir. Di tangan kanan menggenggam roti. Tangan kiri membawa es kelapa. Seperti ngece (Jawa, meledek), dia makan roti dan minum es itu, di hadapan orang-orang yang lagi berpuasa. Ya, puasa Ramadhan.

(Baca: Korupsi dan Religiusitas Semu)

Tentu, banyak yang kesal. Mereka ikut menelan ludah. “Ini anak, kok malah sengaja makan dan minum di hadapan para shaimin,” guman seseorang yang merasa terusik. Lalu ia tegur sang bocah. Tapi, bocah itu bukannya sadar dan berhenti memamerkan makan dan minumnya. Ia justru berucap. Ucapan yang cukup menggemparkan.

Ia berujar, “Kami lapar. Sementara perut kalian kenyang. Kami sakit tanpa ada obat. Apalagi biaya berobat. Sementara kalian terus menambah kesakitan kami. Dengan mempertontonkan kemewaan dunia di hadapan kami. Di depan mata kami yang sedang berpakaian kemiskinan. Kami menangis. Kami merintih. Adakah di antara kalian yang peduli?”

“Bukankah juga di bulan puasa ini hanya pergeseran waktu saja kalian menahan rasa lapar dan haus? Ketika azan maghrib terdengar, kalian kembali pada kerakusan kalian?” lanjutnya. “Sementara, kami terus berpuasa meski bukan saatnya berpuasa. Lantaran ketiadaan makanan. Lantaran ketiadaan minuman. Kami berpuasa tanpa ujung.” Kisah di atas bisa dibaca secera lengkap dalam buku Bocah Misterius (2004), tulisan Yusuf Mansur. Sebuah kisah simbolis yang sarat makna. Sebuah otokritik bagi para shaimin yang lupa, bawah puasa sesungguhnya adalah jalan lapar.

(Baca juga: Puasa yang Memenjarakan Tuhan)

Simbol dan makna
Puasa, juga ibadah lain dalam Islam, tidak bisa dipisahkan dari dimensi: simbolik dan filosofis. Kehilangan satu dari dua dimensi itu menyebabkan ketimpangan. Tanpa simbol, sulit mengukur eksistensi dan identitas suatu ibadah. Dan sebaliknya, tanpa filosofi, ibadah bagaikan kulit tanpa isi.

Dalam dimensi simbol, yang disebut shalat adalah perpaduan antara gerak, bacaan, dan diam. Diawali dengan takbir dan diakhiri dengan salam. Sangat sulit diukur jika seorang mengakui telah melakukan shalat, padahal ia tak melakukan perbuatan seperti itu. Sekalipun ia berdalih telah memahami dan mempraktikkan filosofi atau makna shalat dalam kehidupan. Misalnya ia mengaku tidak berbuat jahat atau kriminal (inna shalata tanha an al fakhsyai wa al munkar).

(Baca juga: Puasa, Deformasi Tubuh, dan Jati Diri Baru)

Sebaliknya dengan orang yang menjalankan shalat secara simbolik. Jika shalatnya tidak membawa implikasi kebaikan pada diri dan lingkungannya, maka akan dikelompokkan pada golongan manusia celaka (fawailul lil mushallin). Alquran mengecam orang yang melalaikan filosofi shalatnya karena tidak menyantuni orang miskin (Almaun: 1-7).

Berpuasa bukan sekedar tidak makan dan minum. Puasa mengandung filosofi. Puasa adalah gerakan menahan nafsu. Nafsu kenyang. Nafsu serakah. Kesuksesan puasa tidak sekedar diukur, sejauh mana shaimin mampu menahan makan dan minum dari subuh sampai maghrib. Di balik itu, puasa adalah jalan kebaikan.

Jika sudah mampu menahan lapar, maka seharusnya juga mampu menahan “rasa kenyang” lainnya dalam kehidupan. Seperti serakah terhadap harta benda. Agak sulit dinalar, jika ada orang Islam yang korupsi. Hampir semua sepakat, korupsi dilakukan bukan karena pelakunya tidak bisa makan.

(Baca juga: Puasa dan Kepedulian Sosial)

Para tersangka koruptor adalah orang kaya. Malah sangat kaya. Tetapi mengapa ia masih menumpuk-numpuk harta secara tidak halal? Jawabnya, ia gagal dalam jalan lapar. Gagal mempraktikkan puasa formal dalam kehidupan. Ia ingin selalu “kenyang”. Ada nafsu serakah yang membuncah. Nafsu yang belum bisa dikendalikan. Sebagaimana dikendalikannya lapar atau dahaga dalam puasa.

Batas dan penyelamat
Korupsi juga soal kesempatan. Kita yang berteriak-teriak antikorupsi mungkin belum diuji oleh kesempatan itu. Nah, puasa adalah ujian soal kesempatan itu. Dalam kesendirian, ada kesempatan “mencuri” makan dan minum. Tapi itu tidak dilakukan, karena kita menjaga puasa. Menjaga jalan lapar. Tetapi menjaga jalan lapar tidak boleh berhenti pada simbol ibadah. Jalan lapar adalah jalan kebaikan. Jalan kehidupan.

Seperti jalan lapar yang ada batas. Dalam jalan kebaikan pun ada batas. Ada rambu. Tapi rambu itu bukan membatasi. Bukan mengekang. Bukan. Justru batas itu membaikkan hidup. Seperti batas dalam wujud palang pintu pada rel kereta api. Apakah ia akan memburukkan hidup? Tidak. Palang pintu itu justru akan menyelamatkan.

(Baca juga: Maksiat Tutup di Bulan Ramadhan?)

Dalam terminologi Islam, batas disebut syariat. Ada halal, ada haram. Ada yang boleh dan ada yang tak boleh. Tanpa batas, tatanan masyarakat akan kacau. Manusia bisa seenaknya. Sekehendaknya.

Bayangkan jika seseorang boleh mengawini siapa saja! Sesukanya. Tanpa batas. Tanpa nilai. Maka bukan saja seorang lelaki akan “mengawini” sesama lelaki, lebih jauh lagi ia akan “mengawini” makhluk spesies lain. Mengerikan! Menjaga batas itulah yang diajarkan puasa, sebagai jalan lapar. Semoga! (*)

Kolom Mohammad Nurfatoni ini kali pertama dipublikasikan oleh Majalah YDSF, edisi Juni 2016

Source link

Visi Saudi 2030, Haji-Umrah, dan Green Card

muslims-makkah

Oleh : Ikhwanul Kiram Mashuri

cahayaumat.net, Selama ini Arab Saudi mungkin melihat haji dan umrah hanya sebelah mata. Secara ekonomi tentu saja.  Bukan yang lain. Maklumlah selama puluhan tahun negara Raja Salman bin Abdul Aziz ini telah dimanja dengan minyak. Hampir  80 persen pendapatan negara itu berasal dari ekspor emas hitam – nama lain dari minyak — ini. 

Itu sebabnya negara yang didirikan dengan nama keluarga pendirinya — Raja Abdul Aziz bin Abdul Rahman al Saud — ini sering dijuluki sebagai Negara Petro Dolar. Maksudnya dari ladang-ladang minyak Saudi ini kemudian menghasilkan miliaran dolar.

Dalam bahasa Wakil Putra Mahkota (Waly Waly al ‘Ahdi) Mohammad bin Salman bin Abdul Aziz, Saudi selama ini sudah kadung kecanduan minyak. ‘‘Sepertinya konstitusi Saudi itu Alquran, Hadis, dan kemudian minyak,’’  ujar orang ketiga dalam hirarki penguasa di Saudi itu dalam wawancara dengan stasiun televisi  ‘Al ‘Arabiyah’ pekan lalu.

Padahal, lanjut Pangeran Mohammad, kakeknya, Raja Abdul Aziz, dan orang-orang terdekatnya mendirikan Kerajaan Saudi tanpa minyak. Juga ketika mereka  menjalankan pemerintahan. Namun, dengan keberhasilan penggalian emas hitam di bumi Saudi secara besar-besaran negara ini kemudian menjadi kecanduan terhadap minyak. Dan, hal ini telah berlangsung selama puluhan tahun. Akibatnya, kata pangeran muda ini, hampir tidak ada upaya untuk menggali sumber pendapatan lain selain minyak.

Kini, ketika tren harga minyak dunia terus menurun, Saudi pun ‘kalang kabut’.  Dari harga  125 dolar (Rp1,7 juta) per barel pada Maret 2012 turun menjadi di bawah 50 dolar saat ini. Angka ini diperkirakan masih bisa turun hingga 30 dolar per barel. Tahun lalu saja pemasukan Saudi dari sektor minyak turun hingga 23 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Akibatnya, Arab Sudi pun mengalami defisit anggaran hingga mencapai 98 miliar dolar AS atau Rp 1.337 triliun. Selain minyak, defisit ini juga disebabkan faktor lain. Di antaranya kebijakan geopolitik Saudi yang agresif di Timur Tengah. 

Sebagai pemimpin koalisi militer negara-negara Arab, Saudi telah mengerahkan militernya untuk menyerang basis-basis militer al Khauti di Yaman. Kebijakan ini tentu saja telah menguras dana kas negara yang tidak sedikit. Ini belum termasuk biaya yang  dikeluarkan untuk menyerang basis-basis ISIS dan membantu kelompok-kelompok oposisi di Suriah. 

Dampak dari defisit anggaran ini pun kini mulai dirasakan masyarakat Saudi. Harga BBM semua jenis di dalam negeri rata-rata naik sebesar 50 persen. Pemangkasan subsidi di sektor publik ini juga dilakukan untuk layanan air, listrik, dan lainnya. Menurut Dana Moneter Internasional (IMF), Saudi membutuhkan harga minyak pada tingkat sekitar 105 dolar per barel agar APBN mereka tetap sehat.

Untuk mengatasi penurunan pendapatan dari harga minyak ini, Kabinet Arab Saudi pekan lalu telah meloloskan reformasi ekonomi secara menyeluruh. Tujuannya, mengalihkan negara itu dari ketergantungan pada minyak. Reformasi itu diberi nama Visi Saudi 2030.

Sang arsitek dari reformasi ini adalah Pangeran Mohammad bin Salman, 31 tahun. Ia merupakan Wakil Putra Mahkota yang juga putra Raja Salman. Menurutnya, reformasi ekonomi di negaranya bisa dibilang terlambat. Mustinya sudah dilakukan sejak dulu,  katanya dalam wawancara dengan  Televisi Al ‘Arabiyah, baik harga minyak turun ataupun naik. 

Inti dari reformasi ekonomi Saudi ini adalah ‘apa pun yang bisa dijadikan uang (pendapatan negara) akan digarap serius. Sebaliknya, yang bisa menghambat kemajuan ekonomi akan dikikis habis’. 

Ada lebih dari 30 sektor yang menjadi prioritas. Dari penjualan 5 persen saham Aramco — perusahaan Saudi bernilai 2,5 triliun dolar AS — ke bursa internasional, penanaman modal pertambangan mineral, pengembangan enerji matahari, hingga pembangunan industri persenjataan dalam negeri. 

Juga mengundang investor asing untuk membangun perusahaan di Saudi, menjual saham sejumlah rumah sakit kepada investor dalam negeri, mengembangkan produk-produk pertanian dan peternakan, dan menambah jumlah jamaah haji dan umrah. Berikutnya, pemberlakuan Green Card kepada pekerja asing, pemberdayaan perempuan, pelatihan SDM, hingga memerangi korupsi.

Intinya, Saudi akan menggenjot semua potensi ekonomi alias devertifikasi pendapatan. Sang arsitek reformasi ekonomi Saudi mengatakan minyak nantinya hanya sebagai pelengkap dari keseluruhan pendapatan negaranya. Ia menargetkan pada 2020 Saudi sudah bisa hidup tanpa minyak.

Ada beberapa sektor yang barangkali terkait dengan orang-orang Indonesia dari reformasi ekonomi Saudi ini. Antara lain program pemberlakuan Green Card, penanaman modal asing, serta haji dan umrah.

Green Card yang dimaksud adalah seperti yang berlaku di Amerika Serikat. Yaitu pemberian Permanent Residence (izin tinggal tetap) kepada warga asing untuk bekerja di Saudi. Kebijakan ini dimaksudkan agar warga asing dapat tinggal lebih lama di Saudi dan membawa serta keluarganya. Sehingga, uang (gaji) tidak keluar dari Saudi. Green Card ini diutamakan bagi para profesional dari negara-negara Arab dan Islam. Indonesia salah satunya.

Sedangkan penanaman modal asing bisa jadi merupakan kesempatan untuk para pengusaha Indonesia berbisnis di Saudi. Pangeran Mohammad menjamin investasi di Saudi akan sangat menguntungkan. Antara lain karena  posisi Saudi sebagai pusat dan ‘kiblat’ dari negara-negara Arab dan Islam.

Berikutnya adalah sektor haji dan umrah. Dalam hal ini Saudi tentu sangat diuntungkan. Mekah dan Madinah berada di sana. Juga Masjidil Haram dan Masjid Nabawi.

Bayangkan, Indonesia yang merupakan negara besar nan indah berikut ratusan atau bahkan ribuan obyek-obyek wisata baru berhasil menarik wisatawan asing sebanyak 10 jutaan setahun. Itu pun dengan usaha yang gila-gilaan, terutama dalam hal promosi yang juga menghabiskan dana yang tidak kecil. 

Sebaliknya, tanpa promosi dan iklan jutaan manusia dari berbagai bangsa berduyun-duyun pergi ke Saudi untuk melaksanakan ibadah haji dan umrah. Untuk haji bahkan mereka harus rela antre hingga 15 atau 20 tahun. Penyebabnya, keterbatasan lokasi dan waktu pelaksanaan haji. Sehingga, haji sejauh ini dibatasi hanya 4 juta jamaah dari berbagai negara.

Karena itu, dalam Visi Saudi 2030, Raja Salman akan menggenjot jumlah jamaah umrah hingga mencapai angka 30 juta setiap tahun. Sedangkan untuk haji hanya bisa menambah sekitar 1 jutaan orang. Sekarang ini jumlah jamaah umrah baru sekitar 8 juta setiap tahun. Untuk mendukung rencana ini, berbagai sarana dan prasarana sedang digarap. Dari pembangunan hotel, bandara baru di Taif, pelebaran jalan, sarana transportasi, hingga pusat-pusat perbelanjaan dan lainnya.

Sekali lagi bayangkan, berapa devisa yang bisa diraup dari haji dan umrah. Untuk haji, jamaah akan tinggal di Saudi selama sekitar sebulan lebih. Sedangkan umrah sekitar sepekan. Mereka dipastikan membawa bekal lebih dari cukup untuk dibelanjakan selama berada di Saudi.

Kita berharap agar haji dan umrah ini tidak hanya diberlakukan secara komersial. Pelayanan juga harus ditingkatkan. Dari pengajuan visa, selama berada di Arab Saudi, hingga pulang ke negara masing-masing. Apalagi haji dan umrah adalah ibadah. Pelayanan yang diberikan juga harus mencakup ke-sah-an dan kekhusukan ibadah. Termasuk keamanan dan kenyaman mereka. 

Jangan sampai terulang kembali kecelakaan-kecelakaan yang menimpa jamaah haji. Seperti kecelakaan crane di Masjidil Haram dan Musibah di Mina pada tahun lalu yang menyebabkan ratusan jamaah haji wafat.

www.cahayaumat.net sumber: Republika.co.id

Ada Apa Di Umur 40 Tahun ?

40-tahunCahayaumat.net, -Setiap manusia pasti mengalami masa anak-anak, dewasa, hingga menjadi tua. Hakikat umur sejatinya waktu perjalanan tuk bertemu dengan Allah Yang Maha Menciptakan, kita akan kembali kepada Allah SWT.

Berusia 40 tahun pada persimpangan, bagian perjalanan telah dilalui dan bagian yang lain dijalani tuk menuju tujuan terakhir. Pada usia tersebut selayaknya terus bersyukur dan bersikap baik sebagai pilihan penting.

Pada usia 40 masuk masa dewasa, dimana sudah punya kematangan berfikir, mampu mengelola emosi dan melakukan perenungan. Ia akan meresapi keadaan sekarang dan mempertimbangkan sisa perjalanan yang akan dilalui kedepan.

Dalam Al-Quran surah Al-Ahqaf ayat 15, “….apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia berdoa: “Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhai; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri”.

Pada zaman sekrang ini, sepatutnya tuk memperbanyak syukur atas segala nikmat yang diberikan Allah SWT tuk diri sendiri dan juga orang tua agar dapat terus beramal baik yang diridhai Allah. (mm)

 

Antara Pekerjaan dan Pengabdian, Yang Honorer dan Yang Ber-PNS

Guru Cantik
Guru Cantik
Ilustrasi Guru

PEMAKNAAN GURU DI HARI JADINYA :

Guru adalah sosok insan yang begitu mulia di dalam dunia pendidikan. Dedikasi dan integritas seorang guru yang seyogyanya adalah tugas suci yang mulia, membuat seorang yang sebelumnya tidak mengetahui apa-apa, sehingga mampu mengenal, mengetahui dan mengerti hal-hal yang sebelumnya belum di ketahui. Dengan begitu mulianya profesi seorang guru, sehingga membuat guru juga mempunyai sebutan sebagai pahlawan tanpa tanda jasa. Maka pemerintah menetapkan pada tanggal 25 November di tiap-tiap tahunnya diperingati sebagai Hari Guru Nasional. Peringatan Hari Guru Nasional juga dibarengi dengan peringatan Hari Lagi Tahun PGRI (Persatuan Guru Republik Indonesia).

Sebuah Negara mampu dikatakan dengan kategori sejahtera apabila ketika negara bisa menjamin kesempatan pendidikan secara merata, dan juga mampu menyediakan kesejahteraan yang layak bagi insan pendidik atau guru. Sebab di sadari ataupun tidak, pendidikan memiliki peranan penting untuk memajukan bangsa. Oleh karena itu, poros depan tupoksi seorang guru memiliki pernanan yang sangat urgent untuk memajukan sebuah bangsa. Namun seiring berjalanya waktu dan semakin memparasitnya budaya hedonis yang menjangkiti setiap manusia, maka menurut hemat saya guru mulai mengalami pergeseran makna, antara menjadi pekerjaan dan sebuah pengabdian. Di sini stabilitas dan kredibilitas pemerintah mulai di uji dan perlu juga untuk di soroti, sebab selain guru yang sudah mengalami pergeseran makna, disisi lain pemerintah juga sudah lama memunculkan kesenjangan dikalangan mereka, yakni menciptakan rasa kecemburuan sosial (status sosial dan nominal upah) sehingga yang ada dibenak jiwa setiap guru adalah rasa curiga terhadap sesamanya.

Membaca jawa pos hari ini (rabu 25 november 2015) dijelaskan bahwa nasib seorang guru terbelah menjadi dua, yakni guru yang menyandang predikat pegawai negeri sipil (PNS) yang bergelimang materi, dan guru honorer yang gajinya jauh dari layak. Para guru honorer tersebut hanya mengandalkan sertifikasi, dan itu pun kalau memenuhi syarat yang sesuai dengan ketentuan data berlaku masuk (database) Badan Kepegawaian Negara. Dengan demikian, tanpa disadari akan menciptakan sebuah regulasi kepegawaian yang menimbulkan sebuah kesenjagan dan juga mengkhianati misi luhur pendidikan nasional yang termaktub dalam UUD 45.

Mengkaji makna dari kerja-bekerja-pekerjaan, abdi, mengabdi dan pengabdian adalah sangat penting guna untuk mengembalikan spirit kebenaran tugas seorang guru, Ki Hajar Dewantara menegaskan bahwa guru adalah seorang pamong, yang mempunyai makna membimbing tanpa pamrih. Tapi, titik fokusnya saya rasa bukan di situ, namun paradigma yang terbangun sekarang adalah bukan lagi untuk sebuah pengabdian, tapi sebuah pekerjaan yang berorientasikan gaji yang sangat memadai, dan itu saya rasa adalah sebuah persoalan serius yang harus di Manage oleh pemerintah, sehingga nantinya para anak didik tidak terus-terusan menjadi korban kepentingan, korban seorang guru yang belum pantas untuk melaksanakan proses pengajaran. Harapannya, semoga guru adalah sebenar-benarnya guru yang mempunyai kode etik dalam setiap langkahnya dalam melaksanakan pembelajaran, dan mempunyai kualitas value memadai dalam melaksanakan transformasi ilmunya kepada peserta didiknya.
Amin..!!