Shalat Iftitah 2 Rakaat Ringan sebelum Shalat Tarawih, Begini Tuntunanya

Salah satu sunnah dalam bulan Ramadhan adalah mendirikan qiyamu Ramadhan, yang lebih dikenal dengan shalat tarawih. Yaitu 8 rakaat tarawih ditambah 3 shalat witir. Masing-masing dilakukan tanpa tasyahud awal, sehingga formasinya adalah 4 rakaat- 4 rakaat- 3 rakaat. Bisa juga dengan formasi 2-2-2-2-3 atau 2-2-2-2-2-1.

Sebelum melaksanakan shalat tarawih, sebagaimana tertuang dalam berbagai hadits Nabi Muhammad saw, disunnahkan mengerjakan shalat sunnah dua rakaat ringan, atau shalat Iftitah. Berbeda dengan shalat lazimnya, shalat iftitah punya beberapa kekhususan.

Diantara beberapa dalil yang berkaitan dengan shalat iftitah adalah sebagai berikut. Pertama, hadits riwayat Muslim yang diriwayatkan dari Aisyah ra:

عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا قَامَ مِنْ اللَّيْلِ لِيُصَلِّيَ افْتَتَحَصَلاَتَهُ بِرَكْعَتَيْنِ خَفِيفَتَيْنِ

Artinya: Diriwayatkan dari Aisyah, ia berkata: Adalah Rasulullah saw apabila akan melaksanakan salat lail, beliau memulai (membuka) salatnya dengan (salat) dua rakaat yang ringan-ringan. (HR Muslim)

Hadits yang kedua adalah riwayat Imam Muslim dari Abu Hurairah ra:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِذَا قَامَأَحَدُكُمْ مِنْ اللَّيْلِ فَلْيَفْتَتِحْ صَلاَتَهُ بِرَكْعَتَيْنِ خَفِيفَتَيْنِ

Artinya: Diriwayatkan dari Abu Hurairah, dari Nabi saw, beliau bersabda: Apabila salah saeorang dari kamu akan melakukan salat lail, hendaklah memulai salatnya dengan dua rakaat yang ringan-ringan. (HR Muslim)

Hadits yang ketiga adalah riwayat Imam Abu Daud:

حَدَّثَنَا عَبْدُ الْمَلِكِ بْنُ شُعَيْبِ بْنِ اللَّيْثِ حَدَّثَنِي أَبِي عَنْ جَدِّي عَنْ خَالِدِ بْنِ يَزِيدَ عَنْ سَعِيدِ بْنِ أَبِي هِلاَلٍ عَنْ مَخْرَمَةَ بْنِ سُلَيْمَانَ أَنَّ كُرَيْبًا مَوْلَى ابْنِ عَبَّاسٍ أَخْبَرَهُ أَنَّهُ قَالَ سَأَلْتُ ابْنَ عَبَّاسٍ كَيْفَ كَانَتْ صَلاَةُ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِاللَّيْلِ قَالَ بِتُّ عِنْدَهُ لَيْلَةً وَهُوَ عِنْدَ مَيْمُونَةَ فَنَامَ حَتَّى إِذَا ذَهَبَ ثُلُثُ اللَّيْلِ أَوْ نِصْفُهُ اسْتَيْقَظَ فَقَامَ إِلَى شَنٍّ فِيهِ مَاءٌ فَتَوَضَّأَ وَتَوَضَّأْتُ مَعَهُ ثُمَّ قَامَ فَقُمْتُ إِلَى جَنْبِهِ عَلَى يَسَارِهِ فَجَعَلَنِي عَلَى يَمِينِهِ ثُمَّ وَضَعَ يَدَهُ عَلَى رَأْسِي كَأَنَّهُ يَمَسُّ أُذُنِي كَأَنَّهُ يُوقِظُنِي فَصَلَّى رَكْعَتَيْنِ خَفِيفَتَيْنِ قَدْ قَرَأَ فِيهِمَا بِأُمِّ الْقُرْآنِ فِي كُلِّ رَكْعَةٍ ثُمَّ سَلَّمَ ثُمَّ صَلَّى حَتَّى صَلَّى إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً بِالْوِتْرِ ثُمَّ نَامَ فَأَتَاهُ بِلاَلٌ فَقَالَ الصَّلاَةُ يَا رَسُولَ اللهِ فَقَامَ فَرَكَعَ رَكْعَتَيْنِ ثُمَّ صَلَّى لِلنَّاسِ

Artinya: Abdul Malik bin Syu’aib bin al-Lais telah menceritakan kepada kami, ayahku telah menceritakan kepadaku, diriwayatkan dari kakekku,diriwayatkan dari Khalid bin Yazid, diriwayatkan dari Sa’id bin Abi, diriwayatkan dari Makhramah bin Sulaiman sungguh Kuraib hamba ibnu Abbas ia menceritakan bahwa dirinya berkata: Saya bertanya kepada Ibnu Abbas, bagaimana salat Rasulullah saw pada malam hari dimana saya bermalan di tempatnya sedang beliau (Rasulullah) berada di tempat Maimunah, maka beliaupun tidur, apabila waktu  telah memasuki sepertiga malam atau setengahnya beliau bangun dan menuju ke griba (wadah air dari kulit)kemudian beliau berwudlu dan aku pun berwudlu bersama beliau, lalu beliau berdiri (untuk melakukan salat) dan aku pun berdiri di sebelah kirinya, maka beliau menjadikan aku berada di sebelah kanannya, kemudian beliau meletakkan tangannya di atas kepalaku, seolah-olah beliau memegang telingaku, seolah-olah beliau membangunkanku, kemudian beliau salat dua rakaat ringan-ringan, beliau membaca ummul-Qur’an pada setiap rakaat, kemudian beliau mengucapkan salam sampai beliau salat sebelas rakaat dengan witirnya, kemudian beliau tidur. Maka sahabat Bilal menghampirinya sambil berseru; waktu salat wahai Rasulullah, lalu beliau bangkit (bangun dari tidurnya) dan salat dua rakaat, kemudian memimpin salat orang banyak. (HR Abu Dawud)

Baca Juga:  Ramadhan 2017, Lazismu Se-Jatim Terima dan Salurkan Zakat Rp 18.729.582.160

Dari beberapa hadits itu, terdapat beberapa kesimpulan tentang pelaksanaan shalat iftitah:

1.  Salat iftitah dua rakaat dilakukan sebelum melaksanakan qiyamu lail atau qiyamu Ramadhan

2.   Cara melakukan salat iftitah dua rakaat tersebut yaitu pada rakaat pertama setelah takbiratul-ihram membaca doa iftitah pendek, yaitu: “Subhanallah dzil malakuuti wal jabaruti wal kibriya-i wal ‘adzamah”,

3. Kemudian dilanjutkan dengan membaca surat al-Fatihah, dilanjutkan dengan rukun shalat lainnya, yaitu rukuk tanpa membaca ayat atau surat lainnya. Setelah rukuk, dilanjutkan dengan i’tidal, sujud, duduk di antara 2 sujud, sujud, dan kembali berdiri memasuki rakaat kedua. Bacaan dalam setiap gerakan shalat tersebut tidak beda dengan shalat fardlu maupun sunnah lainnya.

Baca Juga:  Sambut Ramadhan, Pemuda Muhammadiyah Magetan Ngaji Keabsahan Dalil Shalat Tarawih Formasi 4-4-3

 

4. Adapun dalam rakaat kedua , hanya membaca surat al-Fatihah sebagaimana rakaat pertama tanpa tambahan membaca surat ataupun ayat al-Quran. Sehingga dalam 2 rakaat salat iftitah hanya membaca al-Fatihah tanpa membaca surat/ayat lainnya.

5. Bagaimana cara membaca alfatihah dalam shalat iftitah: jahr (suara keras) atau sir (pelan)? Jika merujuk pada hadits yang ketiga riwayat Imam Abu Daud, yang bisa mendengar apa yang dibaca oleh Nabi Muhammad saat shalat iftitah, maka bacaan tersebut dilakukan dengan jahr.

6. Dilaksanakan sendiri atau secara berjamaah. Lagi-lagi merujuk pada hadits yang ketiga riwayat Imam Abu Daud, ia menunjukkan kebolehan shalat ini dilakukan secara berjamaah.

***

Tulisan ini disarikan dari Buku Himpunan Putusan Tarjih Muhammadiyah, Buku Tanya Jawab Agama  (Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah) jilid 1, 3, 4, dan 5,  serta “Tuntunan Ibadah Pada Bulan Ramadhan” (Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah).

Wallahu aa’lam bi al-shawab. (kholid)

sumber: pwmu.co

Sidang Isbat Putuskan Idul Fitri Jum’at 17 Juli

image
Sidang Isbat

cahayaumat.net, Kementerian Agama menetapkan bahwa Idul Fitri 1 Syawal 1436 H di Indonesia jatuh pada hari Jum’at tanggal 17 Juli 2015.

Diputuskan sesudah dilakukan sidang itsbat di Auditorium KH M Rasjidi, Kantor Kementerian Agama di Jl MH Thamrin No. 6, Jakarta hari Kamis sore (16/7/2015).

Dalam sidang tersebut, ketua Tim Hisab Rukyat Kemenag RI, Cecep Nurwendaya menjelaskan bahwa hasil tim kerja hisab di Batam yang beemarkas di Pelabuhan Ratu, dari semua metode mengatakan ijtimak terjadi pada hari Kamis (16/7/2015) pukul 08.24 WIB. Semua mengatakan dengan ketinggian di atas 2-3 derajat.

Dari 23 metode yang kumpulkan oleh Kemenag dalam Rapat kerja di Batam memutuskan awal Syawal 1436 H jatuh pada hari Jum’at (17/7/2015). Meski secara hisab menandakan bahwa Jum’at memasuki 1 Syawal, namun belum pasti karena perlu melewati proses rukyat terlebih dahulu. Jika ada yang melaporkan hilal sebelum matahari terbenam, maka hal tersebut mustahil, karena hilal tidak mungkin dapat terlihat setelah hilal terbenam, demikian seperti dikutip dari akun Twitter @SidangIsbat.

Dalam sidang isbat nampak beberapa perwakilan organisasi-organisasi Islam.

Sidang Itsbat kali ini dipimpin oleh Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin, digelar secara tertutup, dan diumumkan Kamis sekitar pukul 18.45 WIB.  (Bs/dakwahtuna)

Puasa Ramadhan dan Pembiasaan Ibadah

ramadan-2015Proses pertumbuhan anak akan semakin meningkat dari tahun ke tahun sesuai dengan pertambahan usia. Pada proses pertumbuhan ini perlu dikenalkan ibadah puasa. Pengenalan puasa bisa dimulai ketika anak duduk di bangku sekolah dasar. Sebagai orang tua harus peka untuk pembelajaran puasa kepada anaknya. Metode pembelajaran puasa yang diajarkan bisa bertahap sesuai dengan perkembangan anak.

Puasa Ramadhan dan Pembiasaan Ibadah
Untuk kelas satu sekolah dasar metode pembelajaran puasa dengan pemberian sarapan pagi dan tidak diperkenankan makan sampai adzan dhuhur. Ketika adzan dhuhur berkumandang anak diberi makan siang dan tidak diperkenankan makan sampai adzan maghrib. Ketika sudah di kelas dua, pembelajaran puasa ditingkatkan anak mulai diajak makan sahur dan tidak diperkenankan makan sampai dengan ashar. Ketika mendengar adzan ashar anak bisa merasakan hidangan yang akan disiapkan untuk berbuka. Di samping itu sekali-kali anak dicoba untuk berpuasa sampai maghrib untuk melihat sejauh mana kekuatan dan ketahanan tubuh anak dalam berpuasa.
Menginjak kelas tiga anak sudah terbangun dengan pemikiran untuk puasa dengan ikut makan sahur bersama sampai dengan adzan maghrib. Untuk semakin memotivasi anak dalam berpuasa ada kalanya anak diberi hadiah apabila anak sukses menunaikan ibadah puasa sehari penuh atau sebulan penuh. Pembelajaran puasa ini sangat penting sedini mungkin dikenalkan maka akan semakin mudah diingat oleh anak. Dan pembelajaran puasa dengan model bertahap merupakan pembelajaran itu dimulai dari mudah dilalui kemudian diberikan peningkatan-peningkatan sehingga tercapai standar yang ditentukan.
Allah sudah mewajibkan umat Islam untuk berpuasa sebulan penuh. Hikmah yang umum agar umat Islam yang kaya atau berkecukupan merasakan bagaimana rasanya menjadi orang miskin itu tiada makanan ketika lapar dan tiada minuman tatkala haus sehingga umat Islam yang kaya harus menginfakkan hartanya atau menyantuni orang yang miskin. Namun selain itu karakter umat Islam itu bermacam-macam ada yang sholeh, dan ada yang tidak puas untuk mengejar kebahagiaan duniawi saja yang hanya sekedar menggugurkan kewajiban sebagai umat Islam sehingga malas mengerjakan ibadah-ibadah sunnah.
Oleh karena itu Allah mengingatkan bagi yang terobsesi duniawi dengan ibadah puasa Ramadhan selama sebulan penuh sebagai pembiasaan bagi umat Islam yang tidak pernah melakukan ibadah sunnah. Pembiasaan-pembiasaan yang terkandung dalam ibadah puasa seperti berikut:
Pertama, makan sahur. Makan akan menjadi motivasi yang kuat bagi orang yang sedang tidur. Apalagi menu yang dihidangkan dan bau makanan yang tercium mengundang selera makan. Awal puasa sulit sekali untuk membangunkan anggota keluarga untuk makan sahur sehingga para ibu-ibu membangunkan keluarga dengan sentuhan. Kalau masih belum bangun dengan sedikit goyangan pada tubuh. Setelah beberapa hari cukup dengan memanggil saja. Waktu makan sahur yang teratur dan tepat waktu jika dilakukan selama sebulan akan membuat tubuh secara otomatis akan terjaga.
Kedua, sholat Tarawih. Sholat tarawih merupakan pembiasaan bagi umat Islam yang tidak pernah melakukan sholat tahajud. Sehingga pelaksanaan sholat tarawih diletakkan di awal malam setelah sholat isya dengan berjamaah.
Kedua hal tersebut harus dilakukan sebulan penuh jika hanya setengah-setengah maka pembiasaan dalam tubuh tidak akan terbentuk. Kondisi badan yang terjaga pada waktu sepertiga malam terakhir dilanjutkan dengan mengambil air wudlu dan melakukan sholat tahajud dan di situlah doa-doa semuanya dikabulkan.[]

Oleh : Fauzuddin Ahmad, S.Pd.
Guru SD Muhammadiyah 2 GKB

PUASA DAN AMANAH PEREMPUAN

Kartun Muslimah
Kartun Muslimah

Pendidikan anak dimulai dari jauh sebelum anak dalam kandungan, yakni dari calon ibu semasa menginjak dewasa atau aqil baligh. Baik dalam menjaga diri, berprilaku, sampai memilih pasangan. Sehingga jika menjadi ibu kelak mampu mewarnai lingkungan keluarga dengan sangat baik. Allah sudah menjanjikan bahwa hamba yang baik akan mendapatkan pasangan yang baik, begitu juga sebaliknya. Sehingga jika calon ibu dan calon ayah pandai menjaga diri dan sangat rajin beribadah maka dipastikan putra putrinya kelak akan menjadi generasi yang baik. Apalagi sudah benar benar menjadi ibu dan ayah yang memang bertugas langsung untuk mendidik putra putrinya, mereka akan bisa menjadi idola dan figur orang tua dambaan anak.

PUASA DAN AMANAH PEREMPUAN

Jika ada anak kecil sudah mau berpuasa biasanya orang tua mereka semasa remaja memang rajin berpuasa. Bukan sekedar dorongan ustadzah di taman pendidikan mereka atau lingkungan tempat tinggal mereka. Ada ikatan dan keterkaitan yang kuat dalam pendidikan mereka sangat jauh sebelum mereka dilahirkan ke dunia. Maka marilah kita didik dan kita pupuk kebajikan anak anak kita sehingga mereka mampu melahirkan dzurriyyah atau generasi penerus yang tanpa paksaan dalam beribadah terutama puasa.

Kita sebagai ibu tetap tidak bisa lengah. Kewajiban mendampingi mereka tetap yang utama. Bagaimana mereka selalu merasa nyaman, mereka butuh dekapan dan kasih sayang serta sanjungan dari seorang ibu terhadap semua kebaikan yang telah mereka lakukan. Terkadang kita sebagai ibu hanya mengedepankan ego dengan dalih pemberdayaan perempuan. Membantu perekonomian keluarga, memenui materi yang dibutuhkan anak dan masih banyak lagi yang lainnya. Perempuan kini makin jarang merabah fitrah, bahwa seorang ibu yang baik adalah selalu mendampingi anaknya, selalu ada jika mereka butuh.

Banyak anak anak kecil yang melaksanakan puasa tetapi tidak dengan gembira. Ketika saya tany: Kenapa kalian murung? jawabnya karena sampai menjelang maghrib ibuku belum tiba, belum pulang kerja. Astaghfirullah…sebenarnya apa yang dicari seorang ibu dengan pulang malam? Uang atau kebahagiaan sejati?

Di Jepang yang penduduknya bukan Islam saja para ibu rela cuti panjang demi memberikan ASI dan mendampingi putra putrinya. Tetapi kita umumnya takut dipecat oleh pemilik perusahaan. Karena perusahaan di Indonesia jarang ada yang memberi kelonggaran bagi ibu yang sedang menyusui dan mendampingi putra putrinya dengan pemberian cuti melebihi ketentuan, apalagi sesuai kebutuhan. Padahal jika pekerja dan pengusaha saling menyadari, maka akan menghasilkan SDM yang luar biasa hebat.

Seorang ibu mestinya menyempatkan diri mendampingi anak-anak. Jika bekerja seyogyanya pilih pekerjaan yang selesainya tidak terlalu sore, sehingga anak-anak masih merasa nyaman. Perusahaan atau instansi juga harus memberi kelonggaran cuti kepada pekerja wanita, sehingga seorang ibu bisa bekerja dengan nyaman tanpa harus ada beban karena meninggalkan anak anaknya.

Banyak didirikan lembaga taman asuh dengan harapan mampu meringankan kewajiban ibu dalam mendidik dan mengawasi putra putrinya. Sayangnya banyak para ibu yang merasa gugur kewajibannya setelah putra-putrinya dititipkan lembaga ini. Sehingga tidak ada yang mengurangi waktu sedikitpun dalam bekerja walau bulan Ramadhan. Astaghfirullah, miris sekali. Mereka lupa kalau yang memberi rizki adalah Allah, bukan perusahaan tempat mereka bekerja.

Padahal sebenarnya jika kita mau mengemban amanah Allah dengan baik, maka Allah memberi rizki sesuai takaran yang ditentukan. Wallahu a’lam bishshowab.

Dzukirotul Baroroh, S.Ag.

PC. Aisyiyah Manyar Gresik

 

 

Puasa Dan Perintah Bersedekah

Sedekah
Sedekah
ilustrasi Sedekah

Kehadiran bulan Ramadhan setiap tahun senantiasa menjadi penghibur hati orang mukmin. Bagaimana tidak, beribu keutamaan ditawarkan di bulan ini. Seorang yang menyadari kurangnya bekal yang dimiliki untuk menghadapi hari penghitungan kelak, tak ada perasaan lain kecuali gembira menyambut Ramadhan.

Salah satu pintu yang dibuka oleh Allah untuk meraih keuntungan besar di bulan Ramadhan adalah melalui sedekah. Islam sangat menganjurkan umatnya untuk banyak bersedekah, lebih-lebih pada bulan Ramadhan. Kedermawanan adalah sifat Allah SWT, sebagaimana hadits: “Sesungguhnya Allah SWT itu Maha Memberi, Ia mencintai kedermawanan serta akhlak yang mulia, Ia membenci akhlak yang buruk.” (HR. Al Baihaqi).

Puasa Dan Perintah Bersedekah

Sesungguhnya pelit dan bakhil serta suka meminta-minta adalah akhlak yang buruk dan bukan akhlak seorang mukmin. Seorang mukmin seharusnya suka memberi. Sabda Rasulullah SAW: “Tangan di atas lebih baik dari tangan di bawah. Tangan di atas adalah orang yang memberi dan tangan dibawah adalah orang yang meminta.” (HR. Bukhari)

Allah SWT benar-benar memuliakan hamba-Nya yang bersedekah. Allah menjanjikan banyak keutamaan dan balasan yang menakjubkan bagi hamba-Nya yang gemar bersedekah. Keutamaan bersedekah antara lain: Menghapus dosa, Mendapatkan naungan di hari akhir, Memberi keberkahan pada harta, Dilipatgandakan pahalanya, Menjadi bukti keimanan seseorang, Terdapat pintu surga yang hanya dapat dimasuki oleh orang yang bersedekah, Dapat membebaskan dari siksa kubur, Dapat mencegah pedagang melakukan maksiat dalam jual-beli, dan Orang yang bersedekah merasakan dada yang lapang dan hati yang bahagia.

Sungguh Rasulullah SAW, teladan terbaik, beliau orang yang paling dermawan, dan kedermawanan beliau lebih dahsyat lagi di bulan Ramadhan. Diriwayatkan oleh Ibnu Abbas radhiallahu’anhuma: “Rasulullah SAW adalah orang yang paling dermawan. Beliau lebih dermawan lagi di bulan Ramadhan saat beliau bertemu Jibril. Jibril menemuinya setiap malam untuk mengajarkan Al Qur’an. Kedermawanan Rasulullah SAW melebihi angin yang berhembus.” (HR. Bukhari, no.6)

Kedermawanan Rasulullah SAW di Bulan Ramadhan melebihi angin yang berhembus, karena sangat ringan dan cepat dalam memberi, tanpa banyak berpikir, sebagaimana angin yang berhembus cepat.

Rasulullah SAW memberi teladan untuk lebih bersemangat dalam bersedekah di bulan Ramadhan karena lebih dahsyat dibanding sedekah di bulan lainnya, antara lain:

Pertama, Jaminan surga. “Sesungguhnya di surga terdapat ruangan-ruangan yang bagian luarnya dapat dilihat dari dalam dan bagian dalamnya dapat dilihat dari luar. Allah menganugerahkannya kepada orang yang berkata baik, bersedekah makanan, berpuasa, dan shalat di kala kebanyakan manusia tidur.” (HR. At Tirmidzi)

Kedua, Mendapatkan bonus pahala puasa dari orang lain. “Orang yang memberikan hidangan berbuka puasa kepada orang lain yang berpuasa, ia akan mendapatkan pahala orang tersebut tanpa sedikitpun mengurangi pahalanya.” (HR. At Tirmidzi)

Ketiga, Bersedekah di bulan Ramadhan lebih dimudahkan. “Jika datang bulan Ramadhan, pintu surga dibuka, pintu neraka ditutup dan setan-setan dibelenggu.” (HR. Bukhari)

Dapat disimpulkan bahwa orang yang bersedekah di bulan Ramadhan akan dilipat gandakan pahalanya 10 sampai 700 kali; khusus amalan sedekah dilipatkan gandakan lagi sesuai kehendak Allah (Al A’raf: 16). Kemudian ditambah lagi mendapatkan berbagai

Puasa dan Perintah Sedekah, Ir. Sugeng, MM.

Ketua LAZISMU Gresik

Puasa Ramadhan Dan Tumbuhnya Mental Memberi

Ilustrasi Sedekah
Ilustrasi Sedekah

Puasa dan Mental Memberi

Alhamdulillah kita berkesempatan menjalankan puasa Ramadhan tahun ini. Puasa sebagai salah satu ibadah yang dimasukkan sebagai rukun Islam tentu memiliki hikmah mendalam. Tujuan ibadah puasa adalah “la’allakum tattaquun”, agar kita bertaqwa (QS Al Baqarah: 183). Diantara ciri-ciri orang yang bertaqwa sebagaimana disebutkan Allah SWT dalam QS Ali Imran:134 yaitu orang-orang yang mau berinfaq, baik di waktu senang (berkecukupan) maupun di kala susah (kekurangan), menahan amarah dan memaafkan (kesalahan) orang lain.

Puasa Ramadhan Dan Tumbuhnya Mental Memberi 
Bulan Ramadhan adalah bulan di mana amal kebaikan dilipat gandakan balasannya oleh Allah SWT, maka tidak salah bila kita melihat kaum muslimin lebih mudah dan lebih banyak mengeluarkan zakat, infaq maupun sedekahnya (ZIS) di bulan ini. Tidak heran bila lembaga/badan amil zakat mendapat kepercayaan dalam menyalurkan dana ZIS berkali-lipat di bulan Ramadhan dibanding bulan-bulan lainnya.
Banyak hikmah yang dapat dipetik dari ibadah puasa, khususnya terkait ciri-ciri orang yang bertaqwa sebagaimana disebut dalam QS Ali Imran di atas, yaitu mentalitas memberi. Orang yang bertaqwa identik dengan orang yang senang memberi. Memberi (berinfaq) di jalan Allah dalam Al Qur’an sering disebut dengan istilah jihad, yaitu  jihadu fisabilillah biamwalikum wa anfusikum (berjihad di jalan Allah dengan harta dan diri kalian).
Memberi sejatinya adalah kunci dari kesuksesan. Nabi Muhammad Saw bersabda “sebaik-baik manusia adalah yang paling memberi manfaat bagi orang lain”.  Kesuksesan adalah anugerah yang hanya dapat diterima setelah memberi, maka fokus kita dalam hidup seharusnya memproduksi manfaat sebesar-besarnya bagi orang lain.
Sesungguhnya dasar dari sesuatu adalah memberi. Kenapa kita mencintai seseorang? Karena ada sesuatu yang diberikan kepada kita; Kenapa kita rela membayar? Karena ada sesuatu yang kita dapatkan; Kenapa kita rela memperjuangkan seseorang menjadi pejabat? Karena kita yakin ia memberi manfaat sesuatu; Kenapa kita memuji seseorang? Karena ia memberi sesuatu. Para profesional dibayar mahal karena diyakini dapat memberi sesuatu yang besar. Pebisnis mendapat kekayaannya setelah berhasil menjadi pemberi manfaat kepada masyarakat.
Sebaliknya mental atau spirit meminta merupakan sumber dari kegagalan atau kehancuran. Tidak ada agama manapun yang membenarkan umatnya menjadi peminta, apalagi membanggakannya. Peminta berorientasi pada dirinya sendiri, egois atau ananiyah. Demokrasi di negari kita akan kehilangan maknanya manakala para pelakunya hanya memikirkan diri sendiri, atau peminta. Bayangkan bila seseorang yang dipercaya memimpin, yang seharusnya memberi lewat kepemimpinannya, malah memanfaatkan segala peluang untuk dirinya sendiri. Jadi rumus kegagalan adalah terlalu banyak orang yang bermental peminta.
Situasi sosial di negara kita, sungguh benar-benar menjadi ujian bagi kita pelaku puasa. Di tengah kehidupan mereka yang kaya, terdapat banyak masyarakat kurang mampu di sekitarnya. Manakala tercipta mental memberi, maka akan tercipta kehidupan harmonis dan saling menghargai. Bahkan bagi yang sedang kekurangan uang pun, mental memberi bisa diwujudkan dalam bantuan-bantuan non-finansial seperti tenaga, pikiran, maupun waktu.
Marilah melalui momentum puasa Ramadhan ini kita menjadi orang yang bermental pemberi yang memberi manfaat bagi banyak orang. Lebih baik lagi bila mentalitas dan kebiasaan memberi itu tetap kita laksanakan pasca bulan Ramadhan ini. Sehingga kita bisa menjadi Rahmatan Lil ‘Alamin. Aamiin.

Kemas Saiful Rizal, SE.
Sekretaris LAZISMU Kab. Gresik

Puasa Ramadhan Dan Kebangkitan Ekonomi Islam

Ekonomi islam
Ekonomi islam
Ilustrasi Ekonomi islam

cahayaumat.net, Banyak pesan moral/etik yang diajarkan dalam Ramadhan ini, khususnya tentang bagaimana kita perperilaku dalam ekonomi. Allah SWT mengutus Nabi Muhammad SAW sekali lagi bukan hanya mengajarkan dzikir dan doa, namun Muhammad menegaskan misi kehadirannya sebagai rahmat bagi seluruh alam (Rahmatan lil Alamin). Termasuk menyempurnakan akhlak manusia, moral dan etika kemanusiaan. Dengan ajaran Islamnya yang paripurna mampu menyentuh segala aspek kehidupan baik ibadah mahdhah maupun ghairu mahdhah termasuk di bidang mu’amalat duniawiah (Interaksi keduniawian: Sosial, Budaya, politik dan ekonomi).

Puasa Ramadhan Dan Kebangkitan Ekonomi Islam

Pesan moral yang pertama, adalah Konsep Kepemilikan harta. Menurut Islam, harta yang ada di tangan kita pada hakekatnya adalah milik Allah SWT, karenanya harus diperlakukan secara adil. Agak berbeda dengan prinsip Kapitalisme bahwa harta itu mutlak milik manusia yang dapat digunakan sebesar-besar meraih keuntungan dan atas nama kapital dan kepentingan modal dapat melakukan exploitation de l’homme par l’homme (Eksploitasi manusia atas manusia) yang hari ini sedang bersimaharajalela di dunia kita. Dalam pandangan Islam Allah sebagai pemilik hakiki harta itu menguasakan kepada manusia yang ‘dipercaya’ untuk menggunakan dan memanfaatkan harta dengan baik. Prinsip kepemilikan itu tercermin dalam kalimat, “Innalillahi wa inna ilaihi raajiuun, Sesungguhnya segalanya milik Allah akan kembali kepada Allah” (QS. Al-Baqarah: 156).

Kedua, Cara memperoleh harta. Puasa mengajarkan bahwa sekalipun kita mampu menahan lapar dan dahaga namun jika proses sampai kepada buka puasa itu terdapat kesalahan dan dosa, maka yang didapat hanyalah lapar dan haus alias tidak mendapat apa-apa. Begitu pula dalam hal meraih kesejahteraan ekonomi, harta yang melimpah tetapi tidak diperoleh dengan cara yang dibenarkan tentu hanya bernilai dosa di hadapan-Nya. Prinsip ekonomi syariah menekankan pentingnya proses tidak hanya hasil. Yaitu terhindarnya kegiatan bisnis, ekonomi dari gharar (Ketidakjelasan), maysir (judi, spekulasi) dan riba (Tambahan atas harta yang tidak memiliki underlying/dasar transaksi yg dibenarkan). Sebaliknya Allah mengajarkan segala aktifitas ekonomi didasarkan transaksi yang jelas dibenarkan, semisal, firman Allah QS. Al-Baqarah: 275,  “Wa ahallallahul bai’a waharramarriba”, Allah menghalalkan jual-beli dan mengharamkan riba. Dan banyak transaksi bisnis yang mulia lainnya yang sudah ghalib terjadi ditengah masyarakat, seperti berbagi hasil (Musyarakah, Mudharabah), bergadai (Rahn), sewa (Ijarah), dan lain-lain.

Ketiga, Kepedulian. Puasa mengajarkan kita walaupun harta itu milik kita tapi kita tidak dapat memakannya sebelum tiba waktunya yang tepat (Berbuka). “Aku tidak pernah melihat ada orang dengan harta berlimpah kecuali di sampingnya ada hak orang lain yang disia-siakan.” (Sahabat Ali bin Abi Thalib). Orang yg berpuasa melihat bahwa di sebahagian hartanya terdapat hak-hak orang lain yang harus dikeluarkan. Dengan demikian ajaran puasa menyuruh kita menyisihkan sebagian harta yang dimiliki untuk yang membutuhkan melalui zakat, Infaq dan Shadaqah (ZIS). ZIS menyisipkan cita-cita mulia, yaitu pemberdayaan. Mengupdate status Mustahiq (Penerima zakat) menjadi Muzakki (Penzakat). Namun demikian cita-cita luhur itu membutuhkan proses perjuangan panjang di tengah masyarakat. Tugas penggerak lembaga ZIS menjadi sangat signifikan dan ditunggu.
Semoga Puasa dapat dimanfaatkan secara massif sebagai momentum menuju gerakan ekonomi syariah. Amin.

Puasa dan Ekonomi Islam

Agus L. Hidayat
Dirut Bank Mitra Syariah Gresik

Hikmah Puasa dan Pembenahan Olah Raga

Olaraga Saat Berpuasa
Olaraga Saat Berpuasa
Olaraga Saat Berpuasa

Puasa Ramadhan kali memberikan suasana yang sangat mengharukan dan sangat tepat  untuk dijadikan momen refleksi, khususnya bagi pelaku dan pecinta olahraga di Indonesia. Dalam konteks perbaikan prestasi olahraga, sebenarnya kita bisa menarik petunjuk dan hikmah dari ibadah puasa.

Hikmah Puasa dan Pembenahan Olah Raga

Jika puasa Ramadhan tersebut dikontekstualisasikan untuk olahraga, maka akan muncul sebuah sistem yang mirip, terdiri dari penyiapan infrastruktur (sahur), pembinaan (puasa), dan turnamen (berbuka). Di mana sebelum sistem itu dilakukan tentu harus ada orang-orang yang menjalankan (pengurus, pelatih dan atlet) yang dipilih dengan syarat-syarat khusus (berintegritas, berkompeten di bidangnya, leadership kuat, dan kemampuan manajerial organisasi yang bagus) seperti halnya adanya syarat-syarat pada orang yang diwajibkan puasa (muslim, baligh, mampu, dll).

Penyiapan infrastruktur merupakan bagian awal dalam rangka mempersiapkan pembinaan. Penyedian fasilitas olahraga yang memadai dan sesuai kebutuhan sangat penting untuk diperhatikan. Hal ini sama dengan sahur, sahur memiliki makna mempersiapkan diri dengan bekal makanan yang cukup sebagai sumber energi untuk menjalankan puasa.

Pembinaan merupakan tahapan yang paling penting. Menjalaninya dengan penuh semangat, kesabaran dan kedisplinan sesuai dengan program yang telah ditentukan. Hal ini sama dengan puasa yang membutuhkan semangat tinggi, kesabaran dan kedisiplinan dalam menjalaninya sehingga puasanya bisa berjalan lancar. Dan tentu saja kebiasaan berpuasa ini akan semakain bagus bila diterapkan kepada anak sejak dini (meski belum bisa penuh sampai tenggelamnya matahari).

Turnamen merupakan wujud apresiasi sekaligus sebagai salah satu alat ukur kesuksesan atas pembinaan atau latihan-latihan yang telah dilakukan. Dari turnamen ini bisa dilihat pembinaan yang selama ini dilakukan berhasil atau tidak. Seperti halnya berbuka yang merupakan apresiasi setelah melakukan puasa. Orang yang berpuasa bisa melakukan berbagai aktivitas ibadah yang sebelumnya tidak diperbolehkan pada siang hari.

Dan yang perlu menjadi perhatian penting lainnya adalah penguatan keilmuan dalam setiap sistem yang dijalankan tersebut, yang dalam dunia olahraga populer dengan istilah sport science. Penguatan keilmuan “sport science” ini sangat urgent dalam rangka optimalisasi, efektifitas dan efisiensi potensi keolahragaan yang ada (khususnya atlet). Seperti halnya puasa yang setelah dikaji secara medis, psikologis, bahkan sosiologis banyak memberikan manfaat bagi kehidupan.

Semoga Ramadhan 1436 H kali ini bisa menjadi motivasi kita semua untuk berbenah, memperbaiki diri dan terus memperbaiki kualitas iman, ilmu dan amal sehingga kita bisa benar-benar bisa menjadi pribadi yang bertaqwa dan berprestasi di hadapan Allah SWT. Seperti apa yang menjadi tujuan akhir dari puasa yaitu agar menjadi pribadi yang bertaqwa maka dalam konteks olahraga bisa dikatakan sebagai pribadi yang berprestasi.[]
Achmad Zainuri Arif, S.Pd.,Gr.
JIMM Gresik

Hikmah Puasa Ramadan dan Konservasi Lingkungan

Puasa dan Konvensi lingkungan
 Puasa dan Konservasi lingkungan
ilustrasi Puasa dan Konvensi lingkungan

Puasa Ramadhan kali ini cukup relevan bila dikaitkan dengan isu lingkungan. Pada kenyataannya negara kita saat ini sedang mengalami krisis lingkungan yang semakin parah. Fakta yang banyak kita jumpai adalah seringnya bencana alam (banjir, tanah longsor, kebakaran hutan, tercemarnya udara dan air oleh asap dan limbah cair pabrik) menyapa kita. Ini diakibatkan oleh tangan-tangan manusia tidak bertanggungjawab demi memenuhi hasrat keuntungan pribadinya. Alam dieksploitasi sampai batas titik nadir kemampuanya. Akibatnya harmonisasi lingkungan terganggu. Lagi-lagi manusia yang tidak berdosa menjadi korban amarah alam yang disebabkan hanya oleh segelintir mereka yang tidak bertanggungjawab.

Hikmah Puasa Ramadan dan Konservasi Lingkungan

Di belahan dunia yang lain, saat ini banyak negara yang sudah tersadar betul akan pentingnya menjaga harmoni alam dan kehidupan manusia. Padahal negara-negara tersebut notabene bukan negara berpenduduk mayoritas muslim. Sedangkan dalam Islam sendiri menjaga lingkungan merupakan sebuah kewajiban. Sebut saja di Jepang, syarat mendirikan bangunan ada tiga hal penting yang harus dipenuhi. Pertama, kekuatan bangunan terhadap gempa. Kedua, estetika, keindahan, keunikan dan bernilai arsitektur. Ketiga, ramah lingkungan.

Di negara lain misalnya di Jerman, studi daur ulang bahan tambang terus digiatkan. Kota dapat digambarkan menjadi sebuah sumber tambang. Setiap bangunan ada besi/baja, semen, pasir, dan bahan lain seperti plastic dan seterusnya, ketika bangunan tersebut dirobohkan akan 100% di daur ulang.

Puasa merupakan salah satu ibadah wajib umat Islam yang sudah tertuang dalam rukun Islam ke 4. Karena sifat hukumnya wajib, maka memahami dan mentafsir dalam setiap aktivitas puasa adalah sebuah kewajiban pula yang mesti dilaksanakan oleh seluruh umat Islam. Tentu berdasarkan pemahaman masing-masing sesuai yang diajarkan oleh Rasulullah SAW.

Ada beberapa poin hikmah puasa, yang pertama secara tafsir bahasa, puasa dalam bahasa Arab adalah shoum yang artinya menahan diri. Menahan diri ini seharusnya universal, dalam arti tataran pelaksanaan tidak hanya menahan makan dan minum saja. Dalam konteks menjaga alam adalah menahan diri dari merusak alam melalui eksploitasi yang berlebihan tanpa diimbangi dengan konservasi alam. Kedua, dalam ritual puasa dianjurkan untuk memperbanyak menanam amal kebaikan. Janji Allah SWT apabila seorang hamba melaksanakan kebaikan saat bulan Ramadhan maka pahalanya akan dilipatgandakan. Sejatinya tidak luput juga tafsir puasa dengan konservasi alam, terus menanam dalam arti sebenarnya: reboisasi, menghidupkan lahan-lahan kosong dengan terus menanam tanaman produktif. Kalau di perkotaan biasa disebut urban farming.

Ketiga di bulan puasa merupakan bulan tarbiyah, yang artinya terus belajar mengembleng diri dalam hal keilmuan dan kebijaksanaan. Dalam tafsir harmoni alam, dapat diartikan bahwa kita harus belajar dan menggali akan pentingnya bersahabat dengan alam, memanfaatkannya dengan bijak untuk kita wariskan kepada anak cucu kita.

Point yang terakhir, tujuan puasa adalah mengajarkan kita untuk menjadi orang yang bertakwa. Bermakna takut atas murka Allah SWT kepada kita karena kita tidak amanah menjaga alam, kita adalah khalifah di bumi, maka tugas kita adalah menjaga dan merawat bumi.

Akhirnya mari terus menanam kebaikan, salah satunya dengan terus menanam tumbuhan, yang menghasilkan oksigen. Malu kalau kita sampai berhutang oksigen pada orang-orang yang giat menanam.[]

Shofan Hariyanto, S.Pd.
Pengajar SD Muhammadiyah Manyar

Hikmah Puasa ” Puasa Berkawan Setan “

hikmah -Puasa berkawan-setan
hikmah -Puasa berkawan-setan
ilustarasi-puasa berkawan setan

Alhamdulillah kita bisa dipertemukan dengan Bulan Ramadhan 1436 H, bulan mulia penuh ampunan. Pada kesempatan ini mari kita introspeksi diri dan melaksanakan puasa dengan niatan ikhlas untuk mencari ridha Allah SWT.

Ada satu hal yang menggelitik di benak kita. Setiap kali di bulan ramadhan pada umumnya pengeluaran rumah tangga untuk kebutuhan konsumsi jauh lebih besar dari bulan-bulan sebelumnya. Setiap Ramadhan pula di jalan-jalan banyak kita jumpai pedagang makanan yang luar biasa menawarkan beragam menu menggoda selera.

Sedemikian menggoda menu yang ditawarkan ini hingga membuat kita membeli untuk menyediakannya sebagai menu berbuka. Menu berbuka kita pada akhinya menjadi berlebih, dari segi kuantitas maupun variasinya. Sebagian dari kita menganggap itu lumrah, sebagai pelampiasan atas kelaparan yang kita rasakan pada siang harinya.

Hikmah Puasa ” Puasa Berkawan Setan “

Ini ironis. Rasulullah Muhammad SAW bersabda bahwa di bulan Ramadhan itu pintu surga dibuka dan pintu neraka ditutup, setan-setan dibelenggu. Namun ketika kita masuk ke rumah, masjid, atau mushalla begitu banyak disodori takjil berbuka puasa. Sedemikia banyak menu itu sampai tidak bisa kita habiskan. Jadilah makanan itu mubadzir.

Di sinilah kontradiksinya terjadi, bukankan orang yang mubadzir itu berkawan dengan syaitan? Satu sisi kita menganggap setan di belenggu pada bulan Ramadhan, namun justru di sisi lain kita menjadi kawan setan dengan cara berperilaku mubadzir. Allah SWT tidak menyukai konsumsi yang berlebihan, “Makan minumlah kamu dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan”.

Logikanya, ketika di luar puasa kita makan tiga kali sedangkan di bulan puasa kita makan dua kali, maka ada selisih satu kali makan. Sehingga secara sederhana mesti ada pengurangan pengeluaran (saving), namun kenyataannya justru pengeluaran bertambah. Idealnya, pengurangan pengeluaran dari konsumsi itu bisa menjadi bagian untuk amal sosial kita.

Coba kita bayangkan betapa besar potensi sedekah ketika selisih pengurangan itu dialokasikan untuk kegiatan amal. Jika di bulan biasa kita makan tiga kali dengan harga per-porsi 10 ribu, maka di bulan puasa kita makan Cuma dua kali, sehingga bisa menyimpan uang sebanyak 10 ribu. Dikalikan 1 bulan ada 300 ribu per-orang. Anggaplah dalam satu keluarga ada 2 orang dewasa, maka dalam 1 bulan Ramadhan ada 600 ribu potensi uang untuk amal sosial. Jika di sebuah perkampungan terdiri dari 1000 keluarga, maka ada potensi 600 juta rupiah untuk kegiatan amal. Nilai sejumlah itu bisa kita gunakan untuk memperbaiki tempat ibadah, memberi makan anak yatim-piatu atau orang miskin, atau kegiatan amal lain.

Alih-alih kita bisa menyimpan selisih pengeluaran untuk amal, sebagian dari kita justru mengharap pemberian. Kita berharap pemberian orang untuk memenuhi kebutuhan kita yang membengkak saat puasa. Bukannya memberi kita maka berharap diberi.

Jadi mari introspeksi kembali perilaku berpuasa kita. Berpuasa itu meliputi segala hal: puasa mata, puasa mulut, puasa pikiran, dan sejenisnya. Sederhananya segala tindak-tanduk kita harus dikendalikan dengan puasa ini. Jangan sampai dengan berpuasa kita hanya mendapatkan lapar dan dahaga, namun puasa kita tidak bisa mengubah keadaan menjadi lebih baik. Baik itu keadaan diri sendiri, maupun keadaan masyarakat kita. []

Thoha Mahsun, S.Ag.
Kepala SMAM 1 Gresik