KH AR Fachruddin, Sosok Teladan Pemimpin Umat

Di tangannya, Islam terasa sangat mudah dan toleran. Dalam berdakwah, ia memegang prinsip: Islam harus dibawakan dengan senyum.

Ia menyadari betul, senyum memiliki nilai ibadah. Kata Nabi SAW, ”Senyummu kepada saudaramu adalah sedekah.”

Memimpin dengan senyum, kesan itulah yang melekat pada diri ulama kharismatik ini. Agaknya, prinsip ‘senyum’ ini ikut membentuk wajah Muhammadiyah—ormas Islam yang pernah beberapa periode dipimpinnya—terasa teduh.

Tokoh dan ulama Muhammadiyah itu tak lain adalah KH Abdul Razaq Fachruddin atau lebih akrab disapa dengan panggilan Pak AR. Dilahirkan di Clangap, Purwanggan, Yogyakarta, pada 14 Februari 1916.

Ia adalah anak ketujuh dari 11 bersaudara pasangan KH Fachruddin dengan Nyai Hajjah Fachruddin binti KH Idris. KH Fachruddin adalah seorang lurah naib (penghulu) dari Istana Pakualaman. Di kala usianya menginjak 16 tahun, ia menjadi yatim karena ayahnya meninggal dunia.

Masa kanak-kanak Abdul Razaq dihabiskan di Pakualaman. Setelah berusia tujuh tahun, bersama orang tuanya ia pindah ke Purwanggan. Ia menempuh pendidikan dasar di sekolah-sekolah Muhammadiyah.

Mulai dari Standard School Muhammadiyah Bausasran, Madrasah Muallimin Muhammadiyah, Sekolah Guru Darul Ulum Muhammadiyah Sewugalur, Kulonprogo, sampai Tabligh School Muhammadiyah.

Perjalanan kariernya dimulai dari bawah, yaitu sebagai guru dan mubaligh pada usia yang masih belia, 18 tahun. Dengan bekal pendidikan yang diperolehnya tersebut, tahun 1936 ia dikirim oleh Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah untuk menjadi guru di sekolah-sekolah Muhammadiyah yang ada di Palembang.

Ia mendedikasikan diri sebagai guru di Palembang selama 10 tahun. Setelah itu, ia pulang ke kampung halamannya, Bleberan.

Tahun 1944, atas permintaan kepala sekolah Darul Ulum, ia mengajar di sana dan menjadi anggota pengurus Muhammadiyah Sewugalur. Ketika Indonesia merdeka, tahun 1945, AR ikut menjadi anggota Barisan Keamanan Rakyat (BKR) tingkat kecamatan atau pasukan Hizbullah Yon 39. Ia juga pernah menjadi pamong desa Kelurahan Galur, Brosot, Kulonprogo, selama setahun.

Pada awal kemerdekaan negeri ini, Pak AR diangkat menjadi pegawai Departemen Agama. Berbagai jabatan pernah ia emban, seperti kepala Kantor Urusan Agama di Adikarto, Wates, pada tahun 1974.

Tidak lama kemudian, ia pindah ke Kulonprogo, Sentalo, dalam jabatan yang sama. Selama sembilan tahun (1950-1959), ia menjadi pegawai jawatan agama Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) yang berkantor di Kepatihan.

Tahun 1959, ia pindah ke Semarang dan menjabat sebagai kepala Kantor Penerangan Agama Provinsi Jawa Tengah. Tahun 1964, ia kembali ke Yogyakarta dan menjabat sebagai kepala Kantor Penerangan Agama Provinsi DIY hingga pensiun tahun 1972.

A.R Fachruddin Cahaya Kesederhanaan Muhammadiyah

A.R Fachruddin menjadi ketua PP Muhammadiyah terlama sepanjang sejarah. Hidupnya sederhana. Ceramahnya sejuk. Pantang baginya menerima uang untuk kegiatan berdakwah. Ia wafat tanpa pernah memiliki rumah.
tirto.id – Pengalaman indekos di Jalan Cik Ditiro 19 A, Yogyakarta, puluhan tahun silam masih berkesan dalam ingatan Syaifuddin Simon (58 tahun). Ia tak pernah menyangka sosok bersahaja yang menjadi bapak kosnya ternyata salah satu tokoh penting di Tanah Air.

“Pak A.R itu orangnya sangat, sangat, sangat sederhana,” kata Simon, mantan jurnalis yang pernah bekerja di Republika, saat menceritakan pengalamannya kepada Tirto, Selasa (23/5/2017).

Abdul Rozak (A.R) Fachruddin memang lebih akrab disapa Pak AR. Kata “sangat” yang diulang Simon sampai tiga kali menjelaskan banyak hal soal sikap hidup Pak AR.

Lahir di Pakualaman Yogyakarta pada 14 Februari 1916 dari pasangan K.H. Fachruddin dan Maimunah binti K.H. Idris Pakualaman, Pak A.R mengabdikan sebagian besar hidupnya untuk memajukan umat Islam melalui organisasi Muhammadiyah.

Di Muhammadiyah, Pak A.R bekerja dari bawah. Ia pernah menjadi guru di sepuluh lebih sekolah Muhammadiyah, menjadi Ketua Pemuda Muhammadiyah, ketua ranting, ketua cabang, ketua wilayah, hingga akhirnya menjadi Ketua Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah. Pak A.R tercatat sebagai pemimpin PP Muhammadiyah terlama dalam sejarah (1968-1990). Jabatan itu dia emban berdasarkan usul Buya Hamka setelah wafatnya K.H Fakih Usman yang merupakan Ketua PP Muhammadiyah tersingkat dalam sejarah.

“Dalam Muktamar ke-38 tahun 1968 di Yogyakarta diputuskan bahwa Fakih Usman diangkat menjadi Ketua PP Muhammadiyah, meskipun yang memperoleh suara terbanyak adalah A.R Fachrudin. Kepemimpinan Fakih Usman hanya berlangsung sekitar sepekan—ini merupakan kepemimpinan yang paling singkat dalam sejarah Muhammadiyah—karena beliau meninggal,” seperti dilansir dari 1 Abad Muhammadiyah: Gagasan Pembaruan Sosial Keagamaan.

Menjadi orang nomor satu dan terlama di Muhammadiyah tidak lantas mengubah gaya hidup Pak A.R. Kemana-mana ia lebih suka mengayuh sepeda atau mengendarai motor Yamaha bututnya. Motor keluaran tahun 1970-an itu merupakan pemberian pengusaha batik bernama Prawiro Yuwono yang tidak tega melihat orang penting di Muhammadiyah berdakwah ke berbagai daerah hanya menggunakan sepeda.

“Motor itu dia pakai sampai komponennya rusak, butut, olinya berceceran,” ujar Simon.

Suatu hari dalam perjalanan menuju Pajangan, Bantul, motor Pak A.R mogok. Ia lantas menuntun motornya ke bengkel yang lumayan jauh. Tiba-tiba saja Pak A.R bertemu salah seorang kenalannya.

“Lho, Pak, kok motornya dituntun?” tanya kenalannya itu.

Mendengar pertanyaan itu Pak A.R menjawab enteng: “Kalau tidak dituntun takut nanti ngamuk.”

Tawaran berkendara enak dan nyaman bukannya tidak ada. Awal dekade 1980-an, perwakilan PT Astra datang menawarkan mobil Toyota Corolla DX keluaran terbaru secara cuma-cuma. Namun, Pak A.R menolak. Alasannya sederhana saja, ia tidak bisa menyetir dan ogah direpotkan dengan urusan perawatan.

“Mobil kalau [Pak A.R] mau banyak yang kasih, tapi dia tidak pernah mau,” ujar Simon.

Pak A.R sempat berjualan bensin eceran di depan rumah yang dipinjami Muhammadiyah demi menambah biaya kuliah anaknya. Bisa dibayangkan, pemimpin organisasi sebesar Muhammadiyah, memimpin selama lebih dari dua dekade, berjualan bensin eceran untuk mendapatkan pemasukan.

Ia menolak dikasih uang untuk ceramah. Kalau pun terpaksa harus menerima, uang itu sepenuhnya akan dibagikan ke para pegawai Muhammadiyah yang belum sejahtera.

Sekali waktu Pak A.R pernah coba membeli rumah tetapi uang muka dan cicilan yang telah dibayarkan malah dibawa kabur pengembang. Hingga akhir hayatnya Pak A.R tidak pernah memiliki rumah sendiri.

“Aneh tidak kalau zaman sekarang?” tanya Simon dengan nada retoris.

Meski melakoni hidup dengan kesederhanaan Pak A.R memiliki pergaulan luas. Teman-temannya berasal dari berbagai kalangan. Mulai dari tukang becak, intelektual, budayawan, menteri, hingga presiden. Simon mengatakan Gus Dur kerap datang berkunjung ke kediaman Pak A.R bila ingin membicarakan masalah-masalah nasional.

“Karena Pak A.R orang Muhammadiyah yang paling dekat dengan Pak Harto,” kata Simon.

Sekali waktu usai shalat subuh berjamaah dengan anak-anak kosnya, Pak A.R bercerita bahwa dirinya baru saja mengirim surat kepada Presiden Soeharto. Isi suratnya singkat, tentang rencana Muhammadiyah mendirikan universitas di Yogyakarta.

“Pak Harto, Muhammadiyah bade bangun universitas, menawi kerso monggo,” kata Simon menirukan ucapan Pak A.R mengenai isi surat yang dikirim ke Soeharto.

Simon menilai isi surat Pak A.R kepada Soeharto sangat diplomatis. Sebab di dalamnya tidak ada kata atau kalimat meminta bantuan, tetapi justru lebih berupa tawaran ikut membantu. Dan benar saja, selang seminggu surat itu dikirim, telepon berdering dari pihak Soeharto.

“Ternyata ada cek beberapa ratus juta. Waktu itu uang segitu besar sekali,” ujar Simon.

A.R Fachruddin Cahaya Kesederhanaan Muhammadiyahshare infografik

Gaya Dakwah
Suatu hari pengurus masjid di sekitar kawasan Poncowinatan dekat Malioboro datang ke kediaman Pak A.R. Mereka kebingungan lantaran ada salah satu donator masjid dari keluarga non-Muslim ingin jenazah ayahnya disalatkan sebelum dikubur.

Mendengar cerita ini Pak A.R bergegas datang ke lokasi. Setibanya di lokasi Pak A.R memerintahkan pengurus masjid memasukkan peti mati jenazah si non-Muslim. Ia meminta peti jenazah diletakkan di sisi ruangan masjid. Setelah itu Pak A.R mengajak jamaah melaksanakan shalat Ashar berjamaah.

Usai shalat anak almarhum bertanya kepada Pak A.R mengapa peti mati ayahnya tidak diletakan di depan orang salat seperti saat orang Islam meninggal. Pak A.R menjawab: “Yang di depan, kan, orang Islam. Kalau non-Muslim diletakkan di samping. Ini cara kami menghormati dan mengistimewakan tamu.”

Penguasaan ilmu agama yang mendalam justru mematangkan pribadi Pak A.R. Cara dakwahnya sejuk dan mengajak. Bukan menghakimi apalagi memusuhi. Wajar ceramah-ceramah Pak A.R yang disiarkan TVRI Yogyakarta tidak hanya didengar oleh umat Islam tapi juga non-Muslim.

“Pak A.R kalau ada undangan ceramah dari masyarakat kecil dan dari orang kaya, yang diutamakan datang ke masyarakat kecil. Kebalikan dengan [penceramah] zaman sekarang,” ujar Simon.

Di akhir kepengurusan Pak A.R pada tahun 1989, Muhammadiyah untuk pertama kalinya membuat terobosan bekerjasama dengan bank dalam rangka penataan administrasi keuangan dan konsolidasi organisasi. Bank Rakyat Indonesia (BRI) dipilih karena dinilai lebih bermaslahat.

“Kerja sama dengan bank untuk pertama kalinya ini merupakan langkah yang berani karena di lingkungan umat Islam masih terdapat perbedaan pendapat tentang kehalalan bank, terutama berkaitan dengan riba dan bunga bank,” 1 Abad Muhammadiyah: Gagasan Pembaruan Sosial Keagamaan.

Pak A.R Wafat
Jumat 17 Maret 1995 kabar duka datang dari Rumah Sakit Islam Jakarta: Pak A.R wafat. Ia pergi setelah mengalami perawatan intensif selama tiga pekan karena komplikasi penyakit vertigo, pembengkakan jaringan, dan leukemia.

Presiden Soeharto, Menteri Agama Tarmizi Taher, Ketua Umum MUI KH Hasan Basri, Ketua Umum DPP PPP Ismail Hasan Metareum, Ketua PP Muhammadiyah sempat melayat ke rumah sakit. Jenazah Pak A.R kemudian dibawa ke Masjid Istiqlal. Di sana, ribuan umat Islam sudah menanti untuk menshalatkan jenazahnya.

Presiden Soeharto memesan khusus sebuah pesawat Hercules untuk membawa jenazah Pak A.R ke kampung halamannya Yogyakarta. Di Masjid Besar Kauman Keraton Yogyakarta ribuan umat Islam juga sudah berkumpul. Meluber ke sisi barat alun-alun depan keraton.

“Ini peristiwa langka,” kata sejarawan Universitas Gadjah Mada Djoko Suryo seperti diberitakan Harian Republika.

Amien Rais dalam sambutan atas nama keluarga dan Muhammadiyah mengatakan Pak A.R pergi meninggalkan tiga warisan: kesederhanaan, kejujuran, dan keikhlasan. Jenazah Pak A.R dikebumikan di Pemakaman Umum Karang Kajeng berderet dengan pendiri Muhammadiyah K.H Ahmad Dahlan.

Di bawah matahari yang redup dan gerimis kecil, pekik takbir pelayat mengiringi perjalanan Pak A.R ke rumahnya yang abadi.

Pak A.R tercatat sebagai pemimpin PP Muhammadiyah terlama dalam sejarah (1968-1990)
Menjadi orang nomor satu dan terlama di Muhammadiyah tidak lantas mengubah gaya hidup Pak A.R

sumber: tirto.id – jay/nqm

https://tirto.id/ar-fachruddin-cahaya-kesederhanaan-muhammadiyah-cpwf

Amanah Pak AR Fachruddin Untuk Calon Pimpinan Muhammadiyah

ar fachruddin mp3 ar fachruddin mp3 biografi kh.ar.fachrudin masjid ar-fachrudin fakhruddin ar razi
ar fachruddin mp3 ar fachruddin mp3 biografi kh.ar.fachrudin masjid ar-fachrudin fakhruddin ar razi
KH.AR.Fachrudin

Saya AR Fachruddin. Yang mulai tahun 1935 menjadi guru Muhammadiyah, yang berarti sudah mempunyai pengalaman sedikit-sedikit memimpin Muhammadiyah. Dari yang ranting sampai yang Pimpinan Pusat.

Dari pelajaran para pimpinan, senior dan sesepuh Muhammadiyah –juga dari hasil membaca kitab tarikh para Nabi khususnya tarikh Nabi Muhammad SAW— dalam salah satu pertemuan para peserta Kursus Kader Muhammadiyah saya pernah berbicara. Untuk bekal bagi Saudara-saudara yang ingin memimpin Muhammadiyah, saya memberikan garis-garis kepemimpinan.

Memimpin, mengelola, menggerakkan Muhammadiyah dengan pemahaman bahwa yang dipimpinkan, yang digerakkan bukan sekedar organisasinya. Tetapi justru yang dipimpinkan itu adalah Agama Allah, agama Islam yang berdasar Alquran dan Sunnah Rasulullah.

Seperti halnya Rasulullah memimpinkan agama Islam kepada para sahabat-sahabatnya, tidak pernah menyempurnakan interesnya sendiri. Agama Islam yang dipimpinkan harus murni dari Allah. Jangan dicampuri. Betul-betul semua yang dari wahyu Allah. Wama ‘alaina illal balagh. Begitulah Rasulullah Muhammad SAW. Saudara-saudara yang akan memimpinkan Muhammadiyah, juga tidak benar kalau dicampuri dengan interesnya pribadi-pribadi sendiri.

Karena itu siapapun yang akan memimpin Muhammadiyah haruslah yang pertama niatnya ikhlas karena Allah. Bukan untuk mencari kedudukan, keduniaan atau mencari kekayaan. Atau karena lain-lainnya yang sifatnya keduniaan.

Karena memimpin, menggerakkan Muhammadiyah itu pada hakekatnya memimpin dan menggerakkan agama Islam yang berdasar dan dikembalikan kepada Alquran dan Sunnah yang shahih, maka Kyai Haji Ahmad Dahlan sampai pernah berucap: Hidup-hidupkanlah Muhammadiyah dan jangan mencari hidup di Muhammadiyah.

***

Apakah karena ucapan pendiri Muhammadiyah itu lalu guru-guru Muhammadiyah, dokter dan karyawan Rumah Sakit Muhammadiyah tidak boleh menerima gaji? Apakah lalu anggota-anggota Muhammadiyah tidak dibenarkan menjadi anggota DPR, MPR, DPA? Atau menjadi Bupati, Danrem, Pagdam, Gubernur, Duta Besar, Menteri dan sebagainya dan sebagainya?

Apakah Rektor Perguruan Tinggi Muhammadiyah tidak boleh menerima gaji? Muballigh-muballighot dalam Muhammadiyah, Aisyiyah, Pemuda Muhammadiyah dan Nasyiatul Aisyiyah, tidak dibenarkan menerima ongkos jalan? Lalu apa harus jalan kaki? Tidak dibenarkan naik mobil, naik kereta api, naik pesawat terbang? Apa begitu?

Menurut cerita Bapak KH Syujak, sejak zaman KHA Dahlan, muballigh-muballigh yang diutus bertabligh ke tepat-tempat di luar Yogyakarta tentu diberi ongkos jalan. Dengan demikian jelas bahwa “jangan cari hidup dalam Muhammadiyah” bukan dimaksudkan untuk serba gratis-gratisan. Namun yang jelas, jangan sampai warga Muhammadiyah secara gegabah menggunakan harta milik Muhammadiyah yang pada umumnya hasil dari wakaf atau infaq dari para warga Muhammadiyah –bahkan banyak juga harta yang berasal dari mereka yang simpati kepada Muhammadiyah.

Amanah Pak AR Fachruddin Untuk Calon Pimpinan Muhammadiyah

Kyai Dahlan mengajak warga Muhammadiyah mengurbankan sebagian harta uangnya untuk membiayai gerak dan jalannya Muhammadiyah. Dan yang demikian itu oleh Kyai Dijelaskan, asal ikhlas, termasuk ibadah kepada Allah. Dan hebatnya, Kyai sendiri benar-benar memberi contoh kepada para warga Muhammadiyah dengan menginfakkan sebagian harta uangnya.

Dengan demikian menggerakkan atau mengelola Muhammadiyah pada hakekatnya mengelola dan menggerakkan agama Allah, agama Islam. Kyai Dahlan mendirikan Muhammadiyah yang dimulai pada tanggal 8 Dzulhijjah tahun 1330 Hijriyah pada hakekatnya adalah menggerakkan agama Islam yang bersumber dari Alquran dan Sunnah. Hakekatnya menggerakkan atau menghidupkan Alquran dan Sunnah, karena Kyai Dahlan pada waktu itu tahu benar bahwa Alquran dan Sunnah boleh dikatakan telah mati.

Memang Agama Islam masih ada. Tetapi Islam yang tinggal namanya. Islam yang sudah bercampur dengan adat kebiasaan yang macam-macam. Bercampur dengan macam-macam tahayul, dengan macam-macam khurofat dan dengan macam-macam bid’ah. Walaupun dengan berselubung kebudayaan, berselubung kesenian dan lain-lain sebagainya. Dan –KHA Dahlan menginginkan dihidupkannya agama Islam yang murni, yang kembali bersumber Alquran dan Sunnah.

Oleh karena itu mengelola atau menggerakkan Muhammadiyah tidak semata-mata menggerakkan atau mengelola organisasinya. Melainkan mengelola atau menggerakkan “Agama Islamnya”. Itulah sebabnya maka untuk ber-Muhammadiyah diperlukan benar-baner rasa keikhlasan. Semata-mata karena Allah, dan supaya diniatkan untuk beribadah kepada Allah.

***

Mengelola atau menggerakkan Muhammadiyah memang memerlukan cara-cara atau ilmu-ilmu sekarang. Seperti umpamanya, dalam khittah keputusan Muktamar Palembang, diputuskan: “Dengan organisasi teratur, Muhammadiya menjadi kuat. Dengan administrasi yang tertib, Muhammadiyah terjaga dari fitnah”.

Menggerakkan atau mengelola Muhammadiyah memerlukan rasa, keprihatinan’, yang didasarkan atas rasa “tanggung jawab kepada Allah”.

Rasulullah SAW dalam soal rasa keprihatinan benar-benar menjadi contoh utama. Walaupun kita tahu bahwa Rasulullah SAW oleh Allah memang diciptakan untuk menjadi contoh utama dalam segala hal.

“Sungguh ada untuk kamu dalam jiwa dan pribadi Muhammad Rasulullah itu merupakan contoh yang bagus bagi siapa yang mengharapkan keridhaan Allah dan pada hari akhir, dan senantiasa ingat kepada Allah sepanjang masa”.(al-Ahzab: 21)

Allah menyifati keprihatinan Rasulullah untuk ummatnya dengan firmannya: “Sungguh telah datang kepada kamu seorang Rasul Utusan Alllah dari jenis kamu yang sangat berat baginya hal-hal yang menyusahkan kamu, sangat besar keinginannya untuk keselamatan kamu dan kepada mereka yang beriman, sangat kasih sayang”. (at-Taubah: 128)

“Maka jika mereka itu berpaling, maka katakanlah cukuplah bagiku Allah. Tidak ada sebenarnya yang patut disembah kecuali Allah. Kepada Allah aku berserah diri dan Allah itu Tuhan yang mempunyai ‘arasy yang agung”. (at-Taubah: 129)

Pada ayat 128 surat at-Taubah, Allah menjelaskan bahwa keprihatinan Rasulullah yang benar-benar mendalam, memprihatinkan ummat manusia jangan sampai celaka. Jangan sampai susah sengsara. Rasulullah benar-benar prihatin bagaimana supaya ummat manusia ini mendapatkan kebahagiaan. Dua keprihatinan tersebut “jangan sampai ummat manusia celaka” dan bagaimana “agar ummat manusia berbahagia”. Semuanya itu didasarkan atas rasa “rouf” dan rohiem”.

KHA Dahlan mendirikan Muhammadiyah karena didorong oleh rasa keprihatinan yang mendalam, karena ke-Islaman bangsa Indonesia pada masa itu, ke-Islaman yang tidak kembali kepada kitab suci Alquran, tidak kembali kepada jejak dan perilaku Rasul Utusan Allah yaitu Nabi Muhammad SAW.

Kyai prihatin, bangsa Indonesia yang waktu itu kurang lebih berjumlah 40 juta jiwa, yang mayoritas beragama Islam itu dijajah Belanda yang Kristen.

Kyai prihatin, bangsa Indonesia yang karena ke-Islaman yang tidak benar itu menjadi bodoh, mundur, tidak berkemajuan sehingga kalah dengan bangsa Belanda yang tidak banyak itu.

Kyai prihatin karena bangsa Indonesia yang mayoritas Muslim itu mudah terpecah-pecah, mudah diadu domba oleh penjajah Belanda.

Kyai prihatin, sampai-sampai pernah bertegas-tegas. Memang tidak mungkin Islam lenyap dari dunia sebelum kiamat. Tetapi bukan hal yang mustahil kalau Islam dapat terhapus dari Indonesia seperti Islam di Spanyol dan lain-lain.

Kyai prihatin, sampai-sampai beliau pernah berwasiat “Aku titipkan Muhammadiyah ini kepadamu” tentunya dengan harapan supaya kita meneruskan menyebarluaskan agama Islam yang bersumber dari Alquran dan Sunnah.

Kyai Dahlan karena keprihatinannya kepada anak cucu, sampai menulis nasehat untuk dirinya sendiri di dinding, yang apabila beliau berbaring terlentang, dapat membacanya. Atau juga ditempelkan di meja tulisnya, sehingga setiap beliau duduk di situ dapat membacanya.

Adapun nasehat itu, menurut riwayat KHA Badawi almarhum, berbunyi: “Hai Dahlan, sungguh telah nampak bahaya yang dahsyat, peristiwa-peristiwa yang mengerikan telah berada di hadapanmu. Tidak boleh tidak, engkau pasti berhadapan dengannya. Mungkin engkau terlepas dari malapetaka itu, tetapi mungkin pula terjerumus binasa. Hai Dahlan. Coba bayangkanlah, apakah dayamu di kala engkau menghadap dengan sendirimu di hadirat Allah. Sedang di kala itu di mukamu telah tersedia Maut, kepastian menghadapmu ke hadirat Allah –perhitungan yang memutuskan nasibmu terakhir—surga, dan juga neraka. Nah, kenangkanlah olehmu kepada perhatian yang telah mendekati engkau dari segala peristiwa-peristiwa yang ada di mukamu. Dan tinggalkanlah semua yang mempengaruhi jiwamu. Bulatkanlah perhatianmu hanya kepada Allah semata-mata. Wassalam”.

Saudara-saudara yang berbahagia, Yang pimpinan maupun yang anggota Muhammadiyah – Aisyiyah – Pemuda – Nasyiah. Yang pimpinan atau anggota Majelis-majelis – Ortom-ortom – dosen-dosen – guru-guru – Ikatan Mahasiswa – Ikatan Pelajar dan Tapak Suci Putera Muhammadiyah.

Kalau yang Rasulullah Nabi Muhammad SAW memang demikian mendalam keprihatinannya. Bahkan yang hanya Kyai Dahlan saja begitu jelas dan nyata kerihatinannya, sampai-sampai harta kekayaannya dikorbankan –bahkan hidupnya saja dipertaruhkan, justru karena keprihatinannya memikirkan agama Islam, agama Allah.

Lalu bagaimanakah kita yang mendapat titipan Muhammadiyah dari Kyai Dahlan? Lalu bagaimana?

Untuk itu marilah:

Mengikuti keprihatinan Rasulullah SAW, memprihatinkan Saudara-saudara kita sesama Muslim. Kita prihatinkan tauhidnya, ibadahnya, akhlak Islamiyahnya –yang masih dekat-dekat kepada laku-laku syirik, laku-laku takhayul, laku-laku khurafat, laku-laku bid’ah dan sebagainya. Kepada mereka jangan dimaki-maki, jangan dimarah-marahi. Tetapi kita prihatinkan, kita ajak dan kita doakan.

Mengikuti keprihatinan Kyai Dahlan. Kita prihatinkan Saudara-saudara kita sesama warga Muhammadiyah, Aisyiyah, Pemuda Muhammadiyah, Nasyiatul Aisyiyah, guru-guru Muhammadiyah, dosen-dosen Perguruan Tinggi Muhammadiyah. Kita prihatinkan ke-Muhammadiyahannya.

Kita prihatinkan keluarga kita, sanak saudara kita, tetangga kita yang sedang terbujuk ikut-ikut beragama Kristen. Marilah kita prihatinkan, semoga Allah melimpahkan petunjuknya, lekas kembali kepada agama Allah. Agama Islam yang bersumber Alquran dan Sunnah. Jangan kita marahi mereka. Marilah kita ajak, marilah kita doakan.

Kita prihatinkan remaja-remaja kita yang kita harapkan menjadi penyambung dan penyempurna sejarah kehidupan, sejarah kemegahan dan kejayaan ummat, bangsa dan Negara Pancasila kita. Justru yang kini banyak yang terlanda kebejatan moral dan kenakalan yang diakibatkan derasnya kebudayaan-kebudayaan serta benda yang materialistis.

* Ketua PP Muhammadiyah 1969-1990 (Sumber: Pesan dan Warisan Pak A.R., PT BP KR Yogyakarta, 1995) Dikutip dari tabligh.muhammadiyah