BI Kembangkan Ekonomi Syariah Untuk Mengatasi Kemiskinan

image
DR. M. Nafik Ketua Forum Akselerasi Ekonomi Syariah

Ekonomi Syariah- cahayaumat.net, Dalam upaya mengatasi inflasi dan kemiskinan Bank Indonesia Jatim mengadakan seminar Ekonomi Syariah, dengan tema “Ekonomi Syariah Dalam Pengendalian Inflasi Dan Penanggulangan Kemiskinan”

Seminar yang di peruntukan para da’i dari berbagai ormas Islam di Jatim, dengan tujuan para dai bisa menyampaikan pada umat tentang pentingnya membangun ekonomi syariah.

Pada acara tersebut, Bank Indonesia Jatim Menghadirkan tiga pakar Ekonomi Syariah, Taufiq Saleh Debuti Direktur Bank Indonesia, DR. M. Nafik H.R, Ketua Forum Akselerasi Ekonomi Syariah, dan Irfan Syauqi Beik, Ph. D, dari Pusat Studi Bisnis dan Ekonomi Syariah (CIBEST) IBP.

Saleh Mengatakan, “Bahwa untuk mengatasi Inflasi dan Kemiskinan tidak akan selesai tanpa adanya campur tangan Tuhan” ujarnya (30/07/2015).

Yang dimaksud dengan campur Tangan Tuhan adalah sistem ekonomi dalam mengatasi kemiskinan dan inflasi adalah sistem ekonomi syariah. kata Saleh dalam Materinya (30/7/2015). (bs)

Puasa Ramadhan Dan Kebangkitan Ekonomi Islam

Ekonomi islam
Ekonomi islam
Ilustrasi Ekonomi islam

cahayaumat.net, Banyak pesan moral/etik yang diajarkan dalam Ramadhan ini, khususnya tentang bagaimana kita perperilaku dalam ekonomi. Allah SWT mengutus Nabi Muhammad SAW sekali lagi bukan hanya mengajarkan dzikir dan doa, namun Muhammad menegaskan misi kehadirannya sebagai rahmat bagi seluruh alam (Rahmatan lil Alamin). Termasuk menyempurnakan akhlak manusia, moral dan etika kemanusiaan. Dengan ajaran Islamnya yang paripurna mampu menyentuh segala aspek kehidupan baik ibadah mahdhah maupun ghairu mahdhah termasuk di bidang mu’amalat duniawiah (Interaksi keduniawian: Sosial, Budaya, politik dan ekonomi).

Puasa Ramadhan Dan Kebangkitan Ekonomi Islam

Pesan moral yang pertama, adalah Konsep Kepemilikan harta. Menurut Islam, harta yang ada di tangan kita pada hakekatnya adalah milik Allah SWT, karenanya harus diperlakukan secara adil. Agak berbeda dengan prinsip Kapitalisme bahwa harta itu mutlak milik manusia yang dapat digunakan sebesar-besar meraih keuntungan dan atas nama kapital dan kepentingan modal dapat melakukan exploitation de l’homme par l’homme (Eksploitasi manusia atas manusia) yang hari ini sedang bersimaharajalela di dunia kita. Dalam pandangan Islam Allah sebagai pemilik hakiki harta itu menguasakan kepada manusia yang ‘dipercaya’ untuk menggunakan dan memanfaatkan harta dengan baik. Prinsip kepemilikan itu tercermin dalam kalimat, “Innalillahi wa inna ilaihi raajiuun, Sesungguhnya segalanya milik Allah akan kembali kepada Allah” (QS. Al-Baqarah: 156).

Kedua, Cara memperoleh harta. Puasa mengajarkan bahwa sekalipun kita mampu menahan lapar dan dahaga namun jika proses sampai kepada buka puasa itu terdapat kesalahan dan dosa, maka yang didapat hanyalah lapar dan haus alias tidak mendapat apa-apa. Begitu pula dalam hal meraih kesejahteraan ekonomi, harta yang melimpah tetapi tidak diperoleh dengan cara yang dibenarkan tentu hanya bernilai dosa di hadapan-Nya. Prinsip ekonomi syariah menekankan pentingnya proses tidak hanya hasil. Yaitu terhindarnya kegiatan bisnis, ekonomi dari gharar (Ketidakjelasan), maysir (judi, spekulasi) dan riba (Tambahan atas harta yang tidak memiliki underlying/dasar transaksi yg dibenarkan). Sebaliknya Allah mengajarkan segala aktifitas ekonomi didasarkan transaksi yang jelas dibenarkan, semisal, firman Allah QS. Al-Baqarah: 275,  “Wa ahallallahul bai’a waharramarriba”, Allah menghalalkan jual-beli dan mengharamkan riba. Dan banyak transaksi bisnis yang mulia lainnya yang sudah ghalib terjadi ditengah masyarakat, seperti berbagi hasil (Musyarakah, Mudharabah), bergadai (Rahn), sewa (Ijarah), dan lain-lain.

Ketiga, Kepedulian. Puasa mengajarkan kita walaupun harta itu milik kita tapi kita tidak dapat memakannya sebelum tiba waktunya yang tepat (Berbuka). “Aku tidak pernah melihat ada orang dengan harta berlimpah kecuali di sampingnya ada hak orang lain yang disia-siakan.” (Sahabat Ali bin Abi Thalib). Orang yg berpuasa melihat bahwa di sebahagian hartanya terdapat hak-hak orang lain yang harus dikeluarkan. Dengan demikian ajaran puasa menyuruh kita menyisihkan sebagian harta yang dimiliki untuk yang membutuhkan melalui zakat, Infaq dan Shadaqah (ZIS). ZIS menyisipkan cita-cita mulia, yaitu pemberdayaan. Mengupdate status Mustahiq (Penerima zakat) menjadi Muzakki (Penzakat). Namun demikian cita-cita luhur itu membutuhkan proses perjuangan panjang di tengah masyarakat. Tugas penggerak lembaga ZIS menjadi sangat signifikan dan ditunggu.
Semoga Puasa dapat dimanfaatkan secara massif sebagai momentum menuju gerakan ekonomi syariah. Amin.

Puasa dan Ekonomi Islam

Agus L. Hidayat
Dirut Bank Mitra Syariah Gresik

Dengan Qur’an Kita Bangkitkan Mental Saat Ekonomi Terpuruk

ekonomi islam

ekonomi islamKondisi mental bangsa Indonesia di dalam keterpurukan ekonomi harus digugah kembali lewat semangat berdaulat beberapa pemimpin yang cerdas mengambil hikmah dari isi Alquran.” Bila dilihat dari kaca mata agama, tentu hal semacam ini tak jadi masalah bila beberapa pemimpin tahu resepnya serta bagaimana menghadapinya,”Kata pimpinan Arrahman Quranic Learning (AQL) Islamic Center Ustadz Bachtiar Nasir, akhir minggu lantas .

Dengan Qur’an Kita Bangkitkan Mental Saat Ekonomi Terpuruk

Menurut dia , bila beberapa pemimpin bangsa ini berkeyakinan bahwa hanya pada Allah bertumpu untuk mengemukakan keinginan , jadi kedaulatan Indonesia dari semua segi bakal jadi punya bangsa. Dia mengingatkan pada beberapa petinggi negara agar terus berdaulat dalam pikiran, sampai bangsa Indonesia serta Tanah Air berdaulat dengan cara teritorial, pemerintahan, ekonomi, militer, sosial, serta semua segi kehidupan.

Bagaimana langkahnya ? Yakni dengan mengimplementasikan Alquran dalam kehidupan ini. Menurut dia , Indonesia ada lantaran beberapa pendiri bangsa ini berkeyakinan bahwa seluruhnya itu dicapai atas karena serta rahmat Allah seperti dalam pembukaan UUD.”Katakan, Qul Huwallahu Ahad. Katakan, kedaulatan bangsa berdiri bukanlah lantaran turunnya dolar juga sebagai indikator paling utama perekomomian bangsa ini, bukan juga lantaran pertolongan negara-negara lain,” ujarnya .

Seperti dalam histori , turunnya Alquran memanglah telah menekan di turunkan waktu itu supaya jadi resep peradaban manusia.”Ada yang menarik, mengapa yang turun pertama kalinya waktu itu bln. ayat politik? Bukanlah ayat ekonomi? Yang turun yaitu iqro (Bacalah) yakni pengetahuan . Disinilah implementasi ayat-ayat Alquran dalam segi kehidupan manusia,” ujarnya .

Dari turunnya ayat pertama itu, ada dua pengetahuan yang harus dipelajari untuk umat Islam di Tanah Air. Indonesia bakal sampai pada peradaban bila dua pengetahuan ini dimplementasikan. Iqra yakni bacalah dengan Nama Tuhan yang membuat mu. Dia menguraikan, ada dua pertanyaan yang harus dijawab untuk wujudkan peradaban didunia ini. Bila keduanya tak terjawab, jadi kacau balaulah kehidupan didunia ini.

Pertama, manusia tak pernah tahu mengapa ia dilahirkan serta mendadak saja lahir ke dunia?

Ke-2 , manusia tidak paham mengapa  harus mati?”Beginilah bila tidak paham mengapa ia lahir serta Tersebut yang bikin dunia ini kacau balau. Kematian serta kelahiran yg tidak pernah kita ketahui , seluruhnya itu dikerjakan sehingga kita diuji, siapa yang terbaik amalannya, siapa yang paling benar mencontoh Rasulullah. Dari Alquranlah kita tahu ,” tambah ustadz Bachtiar.

Dia menyatakan , seluruhnya pemimpin juga bakal inginkan rakyatnya bahagia serta sejahtera. Tapi sayangnya yang senantiasa jadikan tolok ukur kebahagiaan serta kesuksesan manusia untuk aspek kesejahteraan sangatlah parsial.

Indikatornya hanya materi belaka.” Tidak usah kita pusing dengan dolar yang naik- turun. Karena kedaulatan di negeri ini berlangsung bila penduduknya beriman serta bertakwa.

Demikian sebaliknya , bila bangun negara dengan utang jadi sama juga dengan bangun kebohongan. Bila kita mendustakan agama, jadi meyakini negara kita akan tidak berdaulat,” ujarnya .

Muhammadiyah Produksi Beras Sehat Semi Organic

beras muhammadiyah
beras muhammadiyah
beras muhammadiyah

Pimpinan Pusat Muhammadiyah, melalui salah satu majelisnya, Majelis Pemberdayaan Masyarakat meluncurkan beras sehat ramah lingkungan – di kenal dengan beras sila – di Unit Usaha Centre Gedung Iqra, Kampus Muhammadiyah Makassar, 28 Juni 2015.

Muhammadiyah Produksi Beras Sehat Semi Organic
Ada Konsultan pakar MPM PP Muhammadiyah Ir Syafii Latuconsina, MPM PP, Wakil Rektor I Unismuh Dr H Abdul Rahman Rahim, MM, dosen Unismuh Agus Salim, HR, SE, MM, pengurus MPM Sulsel, Drs H Mahung Sangaji, Nasrullah Rahim, Idham Halid serta beberapa puluh mahasiswa Fakultas Ekonomi Unismuh Makassar.

Konsultan Pakar MPM PP Muhammadiyah, Syafii Latuconsina menyampaikan beras sila yaitu merk beras yang di produksi petani Indonesia dengan system pertanian ramah lingkungan atau system pertanian yang terintegrasi (Integrated Farming) yang di kembangkan oleh MPM Muhammadiyah di beberapa lokasi di Indonesia.

” Termasuk juga yang bakal di kembangkan di Sulsel kerja sama MPM Lokasi Sulsel dengan Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) di semua kabupaten serta kota di Indonesia dengan dibina segera oleh MPM Muhammadiyah, ” tutur Syafii.

Syafii menuturkan aktivitas pemberdayaan orang-orang baik yang dikerjakan dengan cara mandiri ataupun melalui beragam instansi orang-orang ini telah dikerjakan mulai sejak 1993.

” Mulai sejak 1998 telah mengawali gerakan bangun kedaulatan pangan Indonesia lewat cara menanam sendiri beragam komoditi pangan, juga sebagai percontohan untuk beberapa petani di beberapa daerah di Indonesia, ” tuturnya.

Wakil Rektor I Unismuh, Abdul Rahman Rahim menyampaikan beras sila memanglah belum di produksi di Sulsel, tetapi pihaknya mengharapkan di waktu-waktu yang akan datang dapat juga di kembangkan di Sulsel.

Dia menyampaikan pemasaran step awal bakal di tawarkan untuk orang-orang kelompok menengah ke atas, namun sesudah beras ini di kenal orang-orang luas, jadi pemasarannya telah dapat menyentuh orang-orang luas.

” Memanglah untuk langkah awal perjumpaan product beras sila ini untuk kelas menengah ke atas, pasalnya harga nya hingga Rp45 ribu per kilo, ” katanya.

Sebagian product beras sila yaitu beras coklat (pecah kulit), beras hitam, beras ungu, beras Jepang/Melati Wangi, beras premium mix (semi organic). (ckp/bisnis)

Basic Principles Of Islamic Economic-sebuah pertimbangan dalam berekonomi

ekonomi Syariah

Oleh:Dian Berkah, MHI
(kandidat doktor ekonomi Islam, Unair dan Kaprodi Perbankan Shariah, UMSurabaya)

Basic Principles Of Islamic Economic-sebuah pertimbangan dalam berekonomi

Tulisan ini ditujukan sebagai bahan pertimbangan bagi siapa saja yang berperilaku ekonomi yang berhubungan dengan per-bank-an, per-koperasi-an, penggadai-an, baik dalam bentuk funding, financing dan service.

Berbicara ekonomi Islam, tidak hanya berhubungan dengan per-bank-an dan per-koperasi-an semata, tetapi ekonomi Islam memiliki cakupan yang sangat luas, berhubungan dengan segala bentuk perilaku manusia, baik individu, keluarga, dan bermasyarakat. Tentunya tidak lain dalam rangka memenuhi kebutuhan hidup manusia, baik kebutuhan material maupun kebutuhan spiritual, yang kesemuanya itu bergumul dalam satu tujuan mencapai kebahagian hidup di dunia dan kebahagian hidup di akhirat.

ekonomi Syariah
BRI-Syariah-ilustrasi

Karena itu sangatlah diperlukan sebuah langkah dalam mengkaji Islamic values tentang prinsip-prinsip dasar ekonomi Islam yang bersumber dari al-Quran dan al-hadits, dan bukanlah sebaliknya berdasarkan hawa nafsu. Selanjutnya, prinsip-prinsip dasar yang berbasis Islam tersebut akan menuntun siapa saja dalam berperilaku ekonomi, baik dalam bentuk perdagangan, per-bank-an, per-koperasi-an, dan perusahaan, serta bentuk usaha lainnya. Dengan demikian, segala bentuk aktifitas manusia dalam berekonomi akan berjalan berdasarkan petunjuk Allah.

Tentu bukanlah seperti yang terjadi di masyarakat dewasa ini, mereka menggunakan label syari’ah tetapi perilaku mereka masih mengikuti prinsip-prinsip yang terjadi di pasar. Disadari atau tidak, sebagian besar masyarakat telah berpegang pada slogan “bermodal sekecil-kecilnya untuk mencapai keuntungan sebesar-besarnya”. Sekali pun mereka menggunakan label syari’ah di dalam usahanya, namun praktinya mereka masih mengikuti prinsip-prinsip pasar. Misalnya saja, dalam bidang jual-beli ada harga barang; dalam bidang per-bank-an ada rating bunga bank; dalam bidang kesehatan semakin maraknya para dokter membuka praktik sendiri dengan biaya yang sangat tinggi; dalam bidang transportasi semakin meningkatnya kemacetan, kecelakaan dan polusi udara; dalam bidang perhotelan dan pariwisata maraknya kemaksiatan; dalam industri makanan maraknya pencampuran dengan borax dan formalin.

Tentu, Islam membenarkan keuntungan dari suatu usaha manusia, namun keuntungan tersebut tidak hanya diperuntukan bagi dirinya semata tetapi juga masyarakat secara luas, bahkan mereka dituntut untuk selalu berperan aktif dalam penyediaan lapangan pekerjaan (pro job), pengentasan kemiskinan (pro poor), pengembangan usaha (pro growth), dan pelestarian lingkungan (pro inveronment). Dengan demikian tugas manusia sebagai khalifah (pemimpin) benar-benar terwujud dalam menciptakan kemakmuran di muka bumi ini.

Dalam hal ini ada beberapa prinsip dasar ekonomi Islam yang dapat dijadikan landasan bergerak bagi siapa saja yang berperilaku ekonomi di kehidupan dunia ini, sebagaimana yang tersirat di bawah ini,

Tujuan kehidupan

Secara langsung Allah menunjukan tujuan penciptaan manusia adalah ibadah. Artinya setiap perilaku manusia di dunia harus bernilai ibadah, baik perilaku manusia dalam berekonomi untuk memenuhi kebutuhan material maupun perilaku manusia dalam beribadah untuk memenuhi kebutuhan spiritual. Dalam hal ini ada beberapa ayat al-Quran yang menjelaskan tujuan kehidupan manusia, sebagai berikut:

Q.S. al-Dzariat ayat 56

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku

Q.S. al-Nisa ayat 21

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُواْ رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ وَالَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

Hai manusia, sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertakwa

Q.S. al-Jumuah ayat

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا نُودِي لِلصَّلَاةِ مِن يَوْمِ الْجُمُعَةِ فَاسْعَوْا إِلَى ذِكْرِ اللَّهِ وَذَرُوا الْبَيْعَ ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَّكُمْ إِن كُنتُمْ تَعْلَمُونَ

Hai orang-orang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat Jum’at, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli . Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui

Rentang waktu (space time)

Allah menunjukan dua dimensi waktu, antara dunia dan akhirat. Rentang waktu inilah yang harus menjadi perhatian bagi siapa saja yang berperilaku ekonomi, tidak hanya mencari keuntungan untuk memenuhi kebutuhan di dunia, tetapi juga mencari keuntungan untuk memenuhi kebutuhan hidup di akhirat kelak. Bahkan Allah memerintahkan manusia untuk mencari kebahagian hidup di akhirat tanpa melupakan kebahagian yang ada di dunia. Itu artinya kebahagian akhirat harus menjadi prioritas bagi manusia. Keterangan tersebut berdasar pada surat al-Qashash ayat 77,

وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ وَلَا تَنسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا وَأَحْسِن كَمَا أَحْسَنَ اللَّهُ إِلَيْكَ وَلَا تَبْغِ الْفَسَادَ فِي الْأَرْضِ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمُفْسِدِينَ

Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (keni’matan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.

Di sinilah space time yang harus diperhatikan bagi siapa saja yang berperilaku ekonomi di dunia ini. Sebagai penjelas tentang berapa perbandingan kehidupan akhirat dengan kehidupan dunia. Ada keterangan di masyarakat tentang perbandingan satu hari di akhirat sama dengan seribu tahun di dunia. Sungguh keterangan itu tidak benar. Karena penjelasan itu dapat dikembalikan kepada petunjuk Allah yang menjelaskan bahwa perhitungan itu hanya menunjukan bahwa Allah menurunkan suatu urusan dari langgit ke bumi, kemudian kembali lagi ke langit, bukan hitungan perbandingan antara kehidupan akhirat dengan kehidupan dunia. Secara langsung dapat dilihat dalam surat al-sajadah ayat 5 di bawah ini,

يُدَبِّرُ الْأَمْرَ مِنَ السَّمَاءِ إِلَى الْأَرْضِ ثُمَّ يَعْرُجُ إِلَيْهِ فِي يَوْمٍ كَانَ مِقْدَارُهُ أَلْفَ سَنَةٍ مِّمَّا تَعُدُّونَ

Dia mengatur urusan dari langit ke bumi, kemudian (urusan) itu naik kepadaNya dalam satu hari yang kadarnya adalah seribu tahun menurut perhitunganmu

Selanjutnya, perhitungan yang benar tentang perbandingan kehidupan akhirat dengan kehidupan dunia dapat ditemukan secara langsung melalui petunjuk Allah dalam surat Thaha ayat 103-104 sebagai berikut,

يَتَخَافَتُونَ بَيْنَهُمْ إِن لَّبِثْتُمْ إِلَّا عَشْراً, نَحْنُ أَعْلَمُ بِمَا يَقُولُونَ إِذْ يَقُولُ أَمْثَلُهُمْ طَرِيقَةً إِن لَّبِثْتُمْ إِلَّا يَوْماً

mereka berbisik-bisik di antara mereka: “Kamu tidak berdiam (di dunia) melainkan hanyalah sepuluh (hari)”, Kami lebih mengetahui apa yang mereka katakan, ketika berkata orang yang paling lurus jalannya di antara mereka: “Kamu tidak berdiam (di dunia), melainkan hanyalah sehari saja”.

Dari ayat di atas, dapat diketahui perhitungan perbandingan kehidupan akhirat dengan kehidupan dunia sama seperti perhitungan satu hari di akhirat sama dengan selamanya kehidupan dunia. Sungguh tidak ada satu pun yang mengetahui berapa lamanya kehidupan dunia, mengingat tidak ada keterangan kapan Adam a.s diturunkan ke dunia dan kapan dimulai hari kiamat. Di sinilah keterbatasan manusia yang harus menjadi perhatian bagi siapa saja yang berperilaku ekonomi di dunia ini, agar mereka melihat kekuasaan Allah SWT yang mengetahui perhitungan antara kehidupan akhirat (ghaib) dan kehidupan dunia (nyata). Keterangan inilah yang seharusnya diperhatikan karena dari ayat di atas terdapat ayat selanjutnya yang menunjukan akan kekuasaan Allah, sebagaimana yang tertulis dalam surat al-Sajadah ayat 6,

ذَلِكَ عَالِمُ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ الْعَزِيزُ الرَّحِيمُ

Yang demikian itu ialah Tuhan Yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, Yang Maha Perkasa lagi Maha Penyayang

Mengedepankan prinsip tolong-menolong

Sangat berbeda prinsip tolong menolong dengan perbuatan mengambil kesempatan untuk meningkatkan sejumlah modal atau meningkatkan keuntungan. Di sinilah siapa pun yang berperilaku ekonomi harus benar-benar mengevaluasi setiap gerakannya apakah membantu masyarakat atau mengambil keuntungan dari masyarakat.

Islam secara tegas menunjukan prinsip tolong-menolong untuk kebaikan dan bukan sebaliknya. Secara langsung dapat dilihat dari petunjuk Allah dalam surat al-Maidah ayat 2 berikut ini,

وَتَعَاوَنُواْ عَلَى الْبرِّ وَالتَّقْوَى وَلاَ تَعَاوَنُواْ عَلَى الإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ وَاتَّقُواْ اللّهَ إِنَّ اللّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ

Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya

Secara kasat mata siapa pun bisa melihat, ketika pelaku ekonomi memberikan pinjaman modalnya kepada orang lain tanpa mengambil keuntungan dari peminjaman itu, apakah mereka benar-benar  tidak mendapatkan keuntungan. Sungguh ini pemikiran yang harus diluruskan jika mereka tidak mendapatkan keuntungan. Bukankah jawaban seperti itu yang akhirnya menjebak banyak manusia yang terjerumus kepada penambahan harta barang, penambahan bunga, dan penambahan lainnya.

Sungguh, Bukankah sekali pun mereka tidak dibalas di dunia karena menolong saudaranya dengan meminjamkan modal, bukankah keuntungan itu bisa di dapat di akhirat sebagai investasi atau tabungan di kehidupan yang sangat panjang itu. bukankah pemikiran seperti ini yang tidak dipikirkan oleh sebagian besar masyarakat muslim dewasa ini.

Walau demikian bukan berarti mereka yang berperilaku ekonomi tidak boleh mengambil keuntungan, tetapi harus dibuktikan bahwa peminjam modal itu benar-benar merasakan pertolongan, dan bukan sebaliknya merasa dibebankan dengan tambahan dari modal tersebut. Bukankah banyak terjadi, ketika mereka tidak menambahkan dari modal yang dipinjamkan, ternyata mereka mendapat pengembalian yang lebih dari mereka yang meminjam modal itu. Di sinilah Allah membalas ketulusan, kesungguhan, keistiqomahan siapa saja yang menolong saudaranya yang membutuhkan. Penulis yakin mereka itulah pelaku ekonomi yang mendapatkan keuntungan di dunia dan juga keuntungan di akhirat kelak.

Saran:

Berpijak dari beberapa prinsip dasar ekonomi Islam di atas hendaknya para pelaku ekonomi harus benar-benar memperhatikan poin-poin tersebut, sehingga secara langsung dapat menjadi teladan yang terdepan dalam menerapkan ekonomi Islam, sehingga secara langsung masyarakat dapat merasakan pertolongan dari saudaranya, Akhirnya mereka yang menolong saudaranya yang membutuhkan itu akan mendapatkan keuntungan yang berlipat baik di dunia maupun di akhirat.
Ketika memberikan bunga dari tambahan modal yang dipinjam, berikanlah kepada pemimjam bunga yang serendah mungkin, jika tidak menerima berilah pilihan bunga yang sesuai dengan kemampuan peminjam dan janganlah mengikuti harga pasar. Dengan demikian mereka merasakan pertolongan dan bukan merasakan pembebanan, sekali pun terkadang mereka merasa tidak terbebani, padahal mereka merasa terbebani.
Ketika tidak ada bunga dari peminjaman itu, yakinkalah Allah pasti akan memberikan keuntungan dari ketulusan perbuatan itu, mengingat sangat sedikit orang yang berani menjadi pelopor dalam melakukan gerakan tanpa bunga tersebut. Boleh jadi Allah akan membalasnya dari arah mana saja yang tak pernah diperkirakan sebelumnya oleh siapa pun, yang selanjutnya mereka akan mendapatkan keuntungannya di dunia dan di akhirat.  (dian/cahayaumat.net)