Shalat Iftitah 2 Rakaat Ringan sebelum Shalat Tarawih, Begini Tuntunanya

Salah satu sunnah dalam bulan Ramadhan adalah mendirikan qiyamu Ramadhan, yang lebih dikenal dengan shalat tarawih. Yaitu 8 rakaat tarawih ditambah 3 shalat witir. Masing-masing dilakukan tanpa tasyahud awal, sehingga formasinya adalah 4 rakaat- 4 rakaat- 3 rakaat. Bisa juga dengan formasi 2-2-2-2-3 atau 2-2-2-2-2-1.

Sebelum melaksanakan shalat tarawih, sebagaimana tertuang dalam berbagai hadits Nabi Muhammad saw, disunnahkan mengerjakan shalat sunnah dua rakaat ringan, atau shalat Iftitah. Berbeda dengan shalat lazimnya, shalat iftitah punya beberapa kekhususan.

Diantara beberapa dalil yang berkaitan dengan shalat iftitah adalah sebagai berikut. Pertama, hadits riwayat Muslim yang diriwayatkan dari Aisyah ra:

عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا قَامَ مِنْ اللَّيْلِ لِيُصَلِّيَ افْتَتَحَصَلاَتَهُ بِرَكْعَتَيْنِ خَفِيفَتَيْنِ

Artinya: Diriwayatkan dari Aisyah, ia berkata: Adalah Rasulullah saw apabila akan melaksanakan salat lail, beliau memulai (membuka) salatnya dengan (salat) dua rakaat yang ringan-ringan. (HR Muslim)

Hadits yang kedua adalah riwayat Imam Muslim dari Abu Hurairah ra:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِذَا قَامَأَحَدُكُمْ مِنْ اللَّيْلِ فَلْيَفْتَتِحْ صَلاَتَهُ بِرَكْعَتَيْنِ خَفِيفَتَيْنِ

Artinya: Diriwayatkan dari Abu Hurairah, dari Nabi saw, beliau bersabda: Apabila salah saeorang dari kamu akan melakukan salat lail, hendaklah memulai salatnya dengan dua rakaat yang ringan-ringan. (HR Muslim)

Hadits yang ketiga adalah riwayat Imam Abu Daud:

حَدَّثَنَا عَبْدُ الْمَلِكِ بْنُ شُعَيْبِ بْنِ اللَّيْثِ حَدَّثَنِي أَبِي عَنْ جَدِّي عَنْ خَالِدِ بْنِ يَزِيدَ عَنْ سَعِيدِ بْنِ أَبِي هِلاَلٍ عَنْ مَخْرَمَةَ بْنِ سُلَيْمَانَ أَنَّ كُرَيْبًا مَوْلَى ابْنِ عَبَّاسٍ أَخْبَرَهُ أَنَّهُ قَالَ سَأَلْتُ ابْنَ عَبَّاسٍ كَيْفَ كَانَتْ صَلاَةُ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِاللَّيْلِ قَالَ بِتُّ عِنْدَهُ لَيْلَةً وَهُوَ عِنْدَ مَيْمُونَةَ فَنَامَ حَتَّى إِذَا ذَهَبَ ثُلُثُ اللَّيْلِ أَوْ نِصْفُهُ اسْتَيْقَظَ فَقَامَ إِلَى شَنٍّ فِيهِ مَاءٌ فَتَوَضَّأَ وَتَوَضَّأْتُ مَعَهُ ثُمَّ قَامَ فَقُمْتُ إِلَى جَنْبِهِ عَلَى يَسَارِهِ فَجَعَلَنِي عَلَى يَمِينِهِ ثُمَّ وَضَعَ يَدَهُ عَلَى رَأْسِي كَأَنَّهُ يَمَسُّ أُذُنِي كَأَنَّهُ يُوقِظُنِي فَصَلَّى رَكْعَتَيْنِ خَفِيفَتَيْنِ قَدْ قَرَأَ فِيهِمَا بِأُمِّ الْقُرْآنِ فِي كُلِّ رَكْعَةٍ ثُمَّ سَلَّمَ ثُمَّ صَلَّى حَتَّى صَلَّى إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً بِالْوِتْرِ ثُمَّ نَامَ فَأَتَاهُ بِلاَلٌ فَقَالَ الصَّلاَةُ يَا رَسُولَ اللهِ فَقَامَ فَرَكَعَ رَكْعَتَيْنِ ثُمَّ صَلَّى لِلنَّاسِ

Artinya: Abdul Malik bin Syu’aib bin al-Lais telah menceritakan kepada kami, ayahku telah menceritakan kepadaku, diriwayatkan dari kakekku,diriwayatkan dari Khalid bin Yazid, diriwayatkan dari Sa’id bin Abi, diriwayatkan dari Makhramah bin Sulaiman sungguh Kuraib hamba ibnu Abbas ia menceritakan bahwa dirinya berkata: Saya bertanya kepada Ibnu Abbas, bagaimana salat Rasulullah saw pada malam hari dimana saya bermalan di tempatnya sedang beliau (Rasulullah) berada di tempat Maimunah, maka beliaupun tidur, apabila waktu  telah memasuki sepertiga malam atau setengahnya beliau bangun dan menuju ke griba (wadah air dari kulit)kemudian beliau berwudlu dan aku pun berwudlu bersama beliau, lalu beliau berdiri (untuk melakukan salat) dan aku pun berdiri di sebelah kirinya, maka beliau menjadikan aku berada di sebelah kanannya, kemudian beliau meletakkan tangannya di atas kepalaku, seolah-olah beliau memegang telingaku, seolah-olah beliau membangunkanku, kemudian beliau salat dua rakaat ringan-ringan, beliau membaca ummul-Qur’an pada setiap rakaat, kemudian beliau mengucapkan salam sampai beliau salat sebelas rakaat dengan witirnya, kemudian beliau tidur. Maka sahabat Bilal menghampirinya sambil berseru; waktu salat wahai Rasulullah, lalu beliau bangkit (bangun dari tidurnya) dan salat dua rakaat, kemudian memimpin salat orang banyak. (HR Abu Dawud)

Baca Juga:  Ramadhan 2017, Lazismu Se-Jatim Terima dan Salurkan Zakat Rp 18.729.582.160

Dari beberapa hadits itu, terdapat beberapa kesimpulan tentang pelaksanaan shalat iftitah:

1.  Salat iftitah dua rakaat dilakukan sebelum melaksanakan qiyamu lail atau qiyamu Ramadhan

2.   Cara melakukan salat iftitah dua rakaat tersebut yaitu pada rakaat pertama setelah takbiratul-ihram membaca doa iftitah pendek, yaitu: “Subhanallah dzil malakuuti wal jabaruti wal kibriya-i wal ‘adzamah”,

3. Kemudian dilanjutkan dengan membaca surat al-Fatihah, dilanjutkan dengan rukun shalat lainnya, yaitu rukuk tanpa membaca ayat atau surat lainnya. Setelah rukuk, dilanjutkan dengan i’tidal, sujud, duduk di antara 2 sujud, sujud, dan kembali berdiri memasuki rakaat kedua. Bacaan dalam setiap gerakan shalat tersebut tidak beda dengan shalat fardlu maupun sunnah lainnya.

Baca Juga:  Sambut Ramadhan, Pemuda Muhammadiyah Magetan Ngaji Keabsahan Dalil Shalat Tarawih Formasi 4-4-3

 

4. Adapun dalam rakaat kedua , hanya membaca surat al-Fatihah sebagaimana rakaat pertama tanpa tambahan membaca surat ataupun ayat al-Quran. Sehingga dalam 2 rakaat salat iftitah hanya membaca al-Fatihah tanpa membaca surat/ayat lainnya.

5. Bagaimana cara membaca alfatihah dalam shalat iftitah: jahr (suara keras) atau sir (pelan)? Jika merujuk pada hadits yang ketiga riwayat Imam Abu Daud, yang bisa mendengar apa yang dibaca oleh Nabi Muhammad saat shalat iftitah, maka bacaan tersebut dilakukan dengan jahr.

6. Dilaksanakan sendiri atau secara berjamaah. Lagi-lagi merujuk pada hadits yang ketiga riwayat Imam Abu Daud, ia menunjukkan kebolehan shalat ini dilakukan secara berjamaah.

***

Tulisan ini disarikan dari Buku Himpunan Putusan Tarjih Muhammadiyah, Buku Tanya Jawab Agama  (Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah) jilid 1, 3, 4, dan 5,  serta “Tuntunan Ibadah Pada Bulan Ramadhan” (Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah).

Wallahu aa’lam bi al-shawab. (kholid)

sumber: pwmu.co

KH AR Fachruddin, Sosok Teladan Pemimpin Umat

Di tangannya, Islam terasa sangat mudah dan toleran. Dalam berdakwah, ia memegang prinsip: Islam harus dibawakan dengan senyum.

Ia menyadari betul, senyum memiliki nilai ibadah. Kata Nabi SAW, ”Senyummu kepada saudaramu adalah sedekah.”

Memimpin dengan senyum, kesan itulah yang melekat pada diri ulama kharismatik ini. Agaknya, prinsip ‘senyum’ ini ikut membentuk wajah Muhammadiyah—ormas Islam yang pernah beberapa periode dipimpinnya—terasa teduh.

Tokoh dan ulama Muhammadiyah itu tak lain adalah KH Abdul Razaq Fachruddin atau lebih akrab disapa dengan panggilan Pak AR. Dilahirkan di Clangap, Purwanggan, Yogyakarta, pada 14 Februari 1916.

Ia adalah anak ketujuh dari 11 bersaudara pasangan KH Fachruddin dengan Nyai Hajjah Fachruddin binti KH Idris. KH Fachruddin adalah seorang lurah naib (penghulu) dari Istana Pakualaman. Di kala usianya menginjak 16 tahun, ia menjadi yatim karena ayahnya meninggal dunia.

Masa kanak-kanak Abdul Razaq dihabiskan di Pakualaman. Setelah berusia tujuh tahun, bersama orang tuanya ia pindah ke Purwanggan. Ia menempuh pendidikan dasar di sekolah-sekolah Muhammadiyah.

Mulai dari Standard School Muhammadiyah Bausasran, Madrasah Muallimin Muhammadiyah, Sekolah Guru Darul Ulum Muhammadiyah Sewugalur, Kulonprogo, sampai Tabligh School Muhammadiyah.

Perjalanan kariernya dimulai dari bawah, yaitu sebagai guru dan mubaligh pada usia yang masih belia, 18 tahun. Dengan bekal pendidikan yang diperolehnya tersebut, tahun 1936 ia dikirim oleh Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah untuk menjadi guru di sekolah-sekolah Muhammadiyah yang ada di Palembang.

Ia mendedikasikan diri sebagai guru di Palembang selama 10 tahun. Setelah itu, ia pulang ke kampung halamannya, Bleberan.

Tahun 1944, atas permintaan kepala sekolah Darul Ulum, ia mengajar di sana dan menjadi anggota pengurus Muhammadiyah Sewugalur. Ketika Indonesia merdeka, tahun 1945, AR ikut menjadi anggota Barisan Keamanan Rakyat (BKR) tingkat kecamatan atau pasukan Hizbullah Yon 39. Ia juga pernah menjadi pamong desa Kelurahan Galur, Brosot, Kulonprogo, selama setahun.

Pada awal kemerdekaan negeri ini, Pak AR diangkat menjadi pegawai Departemen Agama. Berbagai jabatan pernah ia emban, seperti kepala Kantor Urusan Agama di Adikarto, Wates, pada tahun 1974.

Tidak lama kemudian, ia pindah ke Kulonprogo, Sentalo, dalam jabatan yang sama. Selama sembilan tahun (1950-1959), ia menjadi pegawai jawatan agama Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) yang berkantor di Kepatihan.

Tahun 1959, ia pindah ke Semarang dan menjabat sebagai kepala Kantor Penerangan Agama Provinsi Jawa Tengah. Tahun 1964, ia kembali ke Yogyakarta dan menjabat sebagai kepala Kantor Penerangan Agama Provinsi DIY hingga pensiun tahun 1972.

A.R Fachruddin Cahaya Kesederhanaan Muhammadiyah

A.R Fachruddin menjadi ketua PP Muhammadiyah terlama sepanjang sejarah. Hidupnya sederhana. Ceramahnya sejuk. Pantang baginya menerima uang untuk kegiatan berdakwah. Ia wafat tanpa pernah memiliki rumah.
tirto.id – Pengalaman indekos di Jalan Cik Ditiro 19 A, Yogyakarta, puluhan tahun silam masih berkesan dalam ingatan Syaifuddin Simon (58 tahun). Ia tak pernah menyangka sosok bersahaja yang menjadi bapak kosnya ternyata salah satu tokoh penting di Tanah Air.

“Pak A.R itu orangnya sangat, sangat, sangat sederhana,” kata Simon, mantan jurnalis yang pernah bekerja di Republika, saat menceritakan pengalamannya kepada Tirto, Selasa (23/5/2017).

Abdul Rozak (A.R) Fachruddin memang lebih akrab disapa Pak AR. Kata “sangat” yang diulang Simon sampai tiga kali menjelaskan banyak hal soal sikap hidup Pak AR.

Lahir di Pakualaman Yogyakarta pada 14 Februari 1916 dari pasangan K.H. Fachruddin dan Maimunah binti K.H. Idris Pakualaman, Pak A.R mengabdikan sebagian besar hidupnya untuk memajukan umat Islam melalui organisasi Muhammadiyah.

Di Muhammadiyah, Pak A.R bekerja dari bawah. Ia pernah menjadi guru di sepuluh lebih sekolah Muhammadiyah, menjadi Ketua Pemuda Muhammadiyah, ketua ranting, ketua cabang, ketua wilayah, hingga akhirnya menjadi Ketua Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah. Pak A.R tercatat sebagai pemimpin PP Muhammadiyah terlama dalam sejarah (1968-1990). Jabatan itu dia emban berdasarkan usul Buya Hamka setelah wafatnya K.H Fakih Usman yang merupakan Ketua PP Muhammadiyah tersingkat dalam sejarah.

“Dalam Muktamar ke-38 tahun 1968 di Yogyakarta diputuskan bahwa Fakih Usman diangkat menjadi Ketua PP Muhammadiyah, meskipun yang memperoleh suara terbanyak adalah A.R Fachrudin. Kepemimpinan Fakih Usman hanya berlangsung sekitar sepekan—ini merupakan kepemimpinan yang paling singkat dalam sejarah Muhammadiyah—karena beliau meninggal,” seperti dilansir dari 1 Abad Muhammadiyah: Gagasan Pembaruan Sosial Keagamaan.

Menjadi orang nomor satu dan terlama di Muhammadiyah tidak lantas mengubah gaya hidup Pak A.R. Kemana-mana ia lebih suka mengayuh sepeda atau mengendarai motor Yamaha bututnya. Motor keluaran tahun 1970-an itu merupakan pemberian pengusaha batik bernama Prawiro Yuwono yang tidak tega melihat orang penting di Muhammadiyah berdakwah ke berbagai daerah hanya menggunakan sepeda.

“Motor itu dia pakai sampai komponennya rusak, butut, olinya berceceran,” ujar Simon.

Suatu hari dalam perjalanan menuju Pajangan, Bantul, motor Pak A.R mogok. Ia lantas menuntun motornya ke bengkel yang lumayan jauh. Tiba-tiba saja Pak A.R bertemu salah seorang kenalannya.

“Lho, Pak, kok motornya dituntun?” tanya kenalannya itu.

Mendengar pertanyaan itu Pak A.R menjawab enteng: “Kalau tidak dituntun takut nanti ngamuk.”

Tawaran berkendara enak dan nyaman bukannya tidak ada. Awal dekade 1980-an, perwakilan PT Astra datang menawarkan mobil Toyota Corolla DX keluaran terbaru secara cuma-cuma. Namun, Pak A.R menolak. Alasannya sederhana saja, ia tidak bisa menyetir dan ogah direpotkan dengan urusan perawatan.

“Mobil kalau [Pak A.R] mau banyak yang kasih, tapi dia tidak pernah mau,” ujar Simon.

Pak A.R sempat berjualan bensin eceran di depan rumah yang dipinjami Muhammadiyah demi menambah biaya kuliah anaknya. Bisa dibayangkan, pemimpin organisasi sebesar Muhammadiyah, memimpin selama lebih dari dua dekade, berjualan bensin eceran untuk mendapatkan pemasukan.

Ia menolak dikasih uang untuk ceramah. Kalau pun terpaksa harus menerima, uang itu sepenuhnya akan dibagikan ke para pegawai Muhammadiyah yang belum sejahtera.

Sekali waktu Pak A.R pernah coba membeli rumah tetapi uang muka dan cicilan yang telah dibayarkan malah dibawa kabur pengembang. Hingga akhir hayatnya Pak A.R tidak pernah memiliki rumah sendiri.

“Aneh tidak kalau zaman sekarang?” tanya Simon dengan nada retoris.

Meski melakoni hidup dengan kesederhanaan Pak A.R memiliki pergaulan luas. Teman-temannya berasal dari berbagai kalangan. Mulai dari tukang becak, intelektual, budayawan, menteri, hingga presiden. Simon mengatakan Gus Dur kerap datang berkunjung ke kediaman Pak A.R bila ingin membicarakan masalah-masalah nasional.

“Karena Pak A.R orang Muhammadiyah yang paling dekat dengan Pak Harto,” kata Simon.

Sekali waktu usai shalat subuh berjamaah dengan anak-anak kosnya, Pak A.R bercerita bahwa dirinya baru saja mengirim surat kepada Presiden Soeharto. Isi suratnya singkat, tentang rencana Muhammadiyah mendirikan universitas di Yogyakarta.

“Pak Harto, Muhammadiyah bade bangun universitas, menawi kerso monggo,” kata Simon menirukan ucapan Pak A.R mengenai isi surat yang dikirim ke Soeharto.

Simon menilai isi surat Pak A.R kepada Soeharto sangat diplomatis. Sebab di dalamnya tidak ada kata atau kalimat meminta bantuan, tetapi justru lebih berupa tawaran ikut membantu. Dan benar saja, selang seminggu surat itu dikirim, telepon berdering dari pihak Soeharto.

“Ternyata ada cek beberapa ratus juta. Waktu itu uang segitu besar sekali,” ujar Simon.

A.R Fachruddin Cahaya Kesederhanaan Muhammadiyahshare infografik

Gaya Dakwah
Suatu hari pengurus masjid di sekitar kawasan Poncowinatan dekat Malioboro datang ke kediaman Pak A.R. Mereka kebingungan lantaran ada salah satu donator masjid dari keluarga non-Muslim ingin jenazah ayahnya disalatkan sebelum dikubur.

Mendengar cerita ini Pak A.R bergegas datang ke lokasi. Setibanya di lokasi Pak A.R memerintahkan pengurus masjid memasukkan peti mati jenazah si non-Muslim. Ia meminta peti jenazah diletakkan di sisi ruangan masjid. Setelah itu Pak A.R mengajak jamaah melaksanakan shalat Ashar berjamaah.

Usai shalat anak almarhum bertanya kepada Pak A.R mengapa peti mati ayahnya tidak diletakan di depan orang salat seperti saat orang Islam meninggal. Pak A.R menjawab: “Yang di depan, kan, orang Islam. Kalau non-Muslim diletakkan di samping. Ini cara kami menghormati dan mengistimewakan tamu.”

Penguasaan ilmu agama yang mendalam justru mematangkan pribadi Pak A.R. Cara dakwahnya sejuk dan mengajak. Bukan menghakimi apalagi memusuhi. Wajar ceramah-ceramah Pak A.R yang disiarkan TVRI Yogyakarta tidak hanya didengar oleh umat Islam tapi juga non-Muslim.

“Pak A.R kalau ada undangan ceramah dari masyarakat kecil dan dari orang kaya, yang diutamakan datang ke masyarakat kecil. Kebalikan dengan [penceramah] zaman sekarang,” ujar Simon.

Di akhir kepengurusan Pak A.R pada tahun 1989, Muhammadiyah untuk pertama kalinya membuat terobosan bekerjasama dengan bank dalam rangka penataan administrasi keuangan dan konsolidasi organisasi. Bank Rakyat Indonesia (BRI) dipilih karena dinilai lebih bermaslahat.

“Kerja sama dengan bank untuk pertama kalinya ini merupakan langkah yang berani karena di lingkungan umat Islam masih terdapat perbedaan pendapat tentang kehalalan bank, terutama berkaitan dengan riba dan bunga bank,” 1 Abad Muhammadiyah: Gagasan Pembaruan Sosial Keagamaan.

Pak A.R Wafat
Jumat 17 Maret 1995 kabar duka datang dari Rumah Sakit Islam Jakarta: Pak A.R wafat. Ia pergi setelah mengalami perawatan intensif selama tiga pekan karena komplikasi penyakit vertigo, pembengkakan jaringan, dan leukemia.

Presiden Soeharto, Menteri Agama Tarmizi Taher, Ketua Umum MUI KH Hasan Basri, Ketua Umum DPP PPP Ismail Hasan Metareum, Ketua PP Muhammadiyah sempat melayat ke rumah sakit. Jenazah Pak A.R kemudian dibawa ke Masjid Istiqlal. Di sana, ribuan umat Islam sudah menanti untuk menshalatkan jenazahnya.

Presiden Soeharto memesan khusus sebuah pesawat Hercules untuk membawa jenazah Pak A.R ke kampung halamannya Yogyakarta. Di Masjid Besar Kauman Keraton Yogyakarta ribuan umat Islam juga sudah berkumpul. Meluber ke sisi barat alun-alun depan keraton.

“Ini peristiwa langka,” kata sejarawan Universitas Gadjah Mada Djoko Suryo seperti diberitakan Harian Republika.

Amien Rais dalam sambutan atas nama keluarga dan Muhammadiyah mengatakan Pak A.R pergi meninggalkan tiga warisan: kesederhanaan, kejujuran, dan keikhlasan. Jenazah Pak A.R dikebumikan di Pemakaman Umum Karang Kajeng berderet dengan pendiri Muhammadiyah K.H Ahmad Dahlan.

Di bawah matahari yang redup dan gerimis kecil, pekik takbir pelayat mengiringi perjalanan Pak A.R ke rumahnya yang abadi.

Pak A.R tercatat sebagai pemimpin PP Muhammadiyah terlama dalam sejarah (1968-1990)
Menjadi orang nomor satu dan terlama di Muhammadiyah tidak lantas mengubah gaya hidup Pak A.R

sumber: tirto.id – jay/nqm

https://tirto.id/ar-fachruddin-cahaya-kesederhanaan-muhammadiyah-cpwf

Sikap PP Ikatan Pelajar Muhammadiyah Tentang Kebijakan Penyesuaian 5 Hari Sekolah

Pernyataan Pimpinan Pusat Ikatan Pelajar Muhammadiyah
Tentang Kebijakan Penyesuaian 5 Hari Sekolah

Assalamu’alaikum Wr.Wb
Mengawali tahun ajaran baru 2017/2018, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Prof. Dr. Muhadjir Effendy, M.Ap mengeluarkan kebijakan penyesuaian jam belajar siswa selama lima hari di sekolah. Kebijakan ini merupakan wujud dari implementasi Program Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) yang dijalankan mulai tanggal 1 Juli 2017. Menanggapi kebijakan baru ini, Pimpinan Pusat Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) melakukan serangkaian kajian dengan berbagai pertimbangan sebagai berikut:

1. IPM memandang pendidikan sebagai sektor strategis bagi pembangunan peradaban bangsa. Ketika sistem pendidikan yang dijalankan baik, maka baik pula kualitas manusia di dalamnya. Karena strategisnya sektor ini, sistem pendidikan yang dijalankan di Indonesia harus mampu mengembangkan manusianya menjadi insan yang cerdas, berakhlak mulia, kreatif, berbudi luhur, dan memiliki daya saing tinggi.

2. Modal yang penting agar mampu bersaing di ranah global adalah memiliki sumber daya manusia yang berkarakter dan berbudaya. Kita boleh menjulang ke atas langit, tapi juga harus mengakar kuat ke dalam bumi. Oleh karena itu, pendidikan karakter menjadi kerangka utama pengembangan manusia Indonesia yang salah satunya termanifestasikan melalui sistem pendidikan yang terstruktur dan sistematis.

3. Urgensi pelaksanaan pendidikan karakter akhir-akhir ini dirasa penting di tengah menguatnya paham ekstremisme, sektarianisme, terorisme, dan penyebaran ideologi transnasionalis yang berpotensi melunturkan semangat dan nilai-nilai Pancasila di kalangan masyarakat. Menanamkan identitas ke-Indonesiaan sejak dini diharapkan menjadi bekal kemajuan bangsa di masa depan.
4. Agar pendidikan karakter ini bisa berjalan optimal, diperlukan sinergisitas berbagai pihak. Sekolah bekerjasama dengan keluarga, tokoh masyarakat, tokoh agama, pengusaha, hingga lembaga keagamaan sehingga memiliki pandangan dan kesadaran yang sama. Keterlibatan berbagai pihak ini memungkinkan para pelajar untuk belajar secara langsung bersama pihak luar sehingga tercipta proses dialog dan pembelajaran yang mencerahkan. Sekolah dengan demikian menjadi ruang diskursus yang dapat memantik nalar kritis dan apresiatif para siswa.

5. Dalam menyelenggarakan program ini, hak-hak pelajar tidak boleh dikesampingkan. Pelajar memiliki hak untuk dibimbing dan diarahkan sesuai minat, bakat, dan potensinya masing-masing yang belum tentu sama. Hak pelajar ini juga termasuk kesempatan untuk berkreasi dan mengembangkan minat dan bakat tersebut.

Kerangka diskusi yang disebutkan di atas kami gunakan untuk melihat kebijakan Kemendikbud sehingga menghasilkan beberapa poin penting sebagai berikut:
1. IPM mengapresiasi upaya pemerintah mengedepankan aspek pendidikan karakter bagi pelajar di Indonesia. Pada bagian ini, suksesnya pelajar memasuki jenjang pendidikan tidak sekadar diukur dari materi pelajaran yang disampaikan di kelas saja. Memberikan porsi 70% untuk pembentukan karakter dan 30% untuk ilmu pengetahuan memungkinkan pelajar mendapatkan materi yang aplikatif dan berguna dalam kehidupan secara langsung, meski tidak meninggalkan pengetahuan umum.

2. Jika dihitung berdasarkan proporsi yang disebut di atas, penyesuaian waktu sekolah menjadi 5 hari tidak serta merta dilihat sebagai penambahan waktu dan pemadatan belajar siswa. Delapan jam sehari tidak melulu dihabiskan di dalam kelas mendengarkan ceramah guru. Jika porsi pengetahuan umumnya 30 persen, maka dari delapan jam itu hanya 2,4 jam saja yang difokuskan untuk mengkaji ilmu pengetahuan secara khusus. Selebihnya, waktunya dapat digunakan untuk mengembangkan ilmu pengetahuan yang didapat dari praktik yang dibimbing oleh guru. Ilmu dari praktik di laboratorium atau di lingkungan secara langsung lebih memudahkan siswa mencerap materi dan merasakan kegunaan ia belajar materi.

baca: Sekolah 5 Hari Dorong Siswa Ikut Diniyah, Mendikbud Muhadjir Effendy

3. Di luar porsi 30 persen untuk pengetahuan umum, pelajar dimungkinkan untuk mengembangkan minat dan bakatnya di luar kelas. Kegiatan ekstrakulikuler seperti olahraga, kesenian, PMR, jurnalistik, kegiatan keagamaan, organisasi siswa, dan komunitas kreatif lainnya memungkinkan untuk dibentuk di sekolah. Pemberian porsi yang besar pada kegiatan pengembangan ini dan diberikannya hak penilaian atas kegiatan yang dilakukan menjawab harapan masyarakat umum yang selama ini menganggap bahwa penilaian siswa berpusat pada pengetahuan kognitif, beban belajar (ilmu pengetahuan) yang terlalu berat, dan kurang bermuatan karakter.

4. Proses belajar di sekolah yang menjadi lima hari jika dilihat konsepnya lebih dalam tidak serta merta mengalienasi pelajar dari lingkungan sekitar. Program Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) yang disusun oleh Kemendikbud melibatkan keluarga dan masyarakat sebagai pembimbing secara kolaboratif bersama pihak sekolah. Melibatkan keluarga dan masyarakat dalam proses pendidikan di sekolah mampu meningkatkan kesadaran bahwa pendidikan tidak sekadar tanggung jawab guru dan sekolah, melainkan tanggung jawab bersama. Bentuknya, proses pendidikan bisa dilakukan di tengah-tengah kampung, masjid, gereja, taman, dan tempat-tempat umum lainnya.

5. Waktu libur Sabtu-Ahad secara penuh yang didapatkan pelajar menjadi waktu yang panjang untuk berkreativitas secara lebih luas. Waktu libur yang panjang ini dapat menjadi waktu senggang yang panjang untuk mengembalikan semangat beraktivitas di hari Senin. Mengembalikan mood agar lebih segar setelah beraktivitas bermanfaat untuk menjaga proses belajar mengajar berjalan efektif.

baca: Full Day School Bisa menangkal Radikalisme di Sekolah, Maarif Institute

Berdasarkan hasil diskusi yang panjang tersebut, Pimpinan Pusat Ikatan Pelajar Muhammadiyah menyatakan sikap sebagai berikut:
1. Mengapresiasi kebijakan Kemendikbud yang fokus pada pengembangan pendidikan karakter serta mendukung penyesuaian waktu belajar lima hari agar proses dan hasilnya efektif mendukung jargon Revolusi Mental yang digagas Presiden Jokowi di mana revolusi membutuhkan perubahan sosial-kebudayaan yang berlangsung cepat dan menyangkut dasar serta pokok kehidupan masyarakat.
2. Karena ini berkaitan dengan kebijakan nasional, penerapannya membutuhkan penyesuaian di berbagai daerah. Untuk itu, kami mendorong Kemendikbud untuk melakukan sosialisasi lebih luas mengenai hal ini agar semua pihak mengerti apa yang direncanakan. Agar tidak miskomunikasi dan terjebak pada perdebatan istilah-istilah tertentu yang tidak masuk pada substansinya. Sosialisasi ini juga penting agar pada tataran aplikasi, sekolah tidak sekadar menambah jam pelajaran sehingga malah justru memberatkan para siswa. Penyesuaian ini dilakukan tentu saja diterapkan dengan mempertimbangkan bobot capaian yang telah dimaksud sesuai dengan rencana program.
3. Dalam penerapannya di awal ajaran baru nanti, IPM mengharap pada sekolah sepenuhnya memperhatikan hak-hak pelajar untuk berkembang sesuai dengan minat, bakat, dan potensi para peserta didik. Mari jadikan sekolah sebagai rumah kedua yang menyenangkan bagi pelajar untuk berkarya nyata bagi bangsa dan negara.

Demikian pernyataan sikap Pimpinan Pusat Ikatan Pelajar Muhammadiyah ini dibuat. Semoga kita semua bisa bersinergi dalam upaya mewujudkan cita-cita besar untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Semoga Allah SWT. selalu meridhoi setiap langkah perjuangan kita.
Amiin.

Nuun Walqolami Wama Yasthurun
Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Jakarta, 12 Juni 2017/ 17 Ramadhan 1438 H
Velandani Prakoso
Ketua Umum PP IPM
(0857-4700-0596)

Sekolah Macapat Gresikan, Ikhtiar Dakwah Kultural Muhammadiyah Gresik

Mulai Rabu (15/3) malam, Sekolah Macapat Gresikan dibuka di Gedung Dakwah Muhammadiyah Gresik. Kegiatan yang diselenggarakan oleh Lembaga Seni Budaya dan Olahraga (LSBO) Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Gresik rencananya rutin diadakan tiap pekan.

“Kegiatan ini rencananya akan dilaksanakan, secara rutin setiap hari Rabu malam dengan 15 kali pertemuan. Kalau perlu diperpanjang jika diperlukan”, kata Sri Wahyuni SAg, Ketua LSBO PDM Gresik.

Sekolah Macapat Gresikan diasuh langsung oleh Mat Kauli, 86 tahun, seorang pakar Macapat Gresikan. “Beliau, yang belajar Macapat sejak tahun 1949 dari ayahnya yang bernama Samadi Mitisastro di daerah Gumantar Gresik, sangat bersemangat memberikan pelajaran Macapat ini. Karena menurut beliau sangat jarang orang mau belajar Macapat, sehingga kegiatan ini menjadi harapan untuk pelestarian Macapat Gresikan,” kata Wahyuni.

Pembukaan Sekolah Macapat Gresikan selain dihadiri oleh peserta umum dan warga Muhammadiyah Gresik, juga dihadiri oleh Wakil Ketua PDM Gresik Mustakim SS MSi dan pakar Karawitan Jawa, Drs Sugeng Adi Pitoyo M Hum dari Unesa.

Wahyuni menjelaskan, macapat adalah salah satu jenis genre tembang Jawa yang ringkas dan mudah digunakan sebagai media menyampaikan suatu ajaran, ungkapan kegelisahan, bahkan ungkapan cinta kasih.

“Tembang Jawa itu sebenarnya ada 3, yaitu tembang macapat, tembang tengahan, dan tembang gedhe,” tambah Dodik Priyambada, Ketua Majelis Dikdasmen PDM Gresik yang juga seorang pemerhati budaya Jawa.

Pada acara perdana ini Bapak Mat Kauli mengajarkan kepada peserta tembang ‘Pucung’, salah satu jenis macapat. Para peserta secara bergantian dan bersamaan melagukan tembang itu, dengan gembira dan penuh semangat. “Pada pertemua Rabu malam berikutnya, akan dilanjutkan dengan tembang tembang Macapat lainnya, “ kata Sriwahyuni.

LSBO PDM Gresik telah memulai sebuah langkah untuk memperkuat media dakwah kultural melalui tembang Macapat. Ayo dukung! (MN) sumbe: pwmu.co

Resep Aneka Olahan Singkong



Resep

cahayaumat.net – Singkong… bahan pangan yang murah ini bisa ditemui di mana saja. Bisa diolah menjadi berbagai panganan.

1. Singkong Goreng Gurih Empuk

Bahan:

  • Singkong; kupas, cuci, potong-potong. 
  • Bawang putih
  • Garam
  • Merica
  • Gula pasir sedikit saja

Cara :

  1. Haluskan bawang putih, garam, merica dan gula pasir.
  2. Didihkan air dalam panci, masukkan singkong dan bumbu halus.
  3. Masak hingga singkong empuk.
  4. Angkat, tiriskan hingga dingin.
  5. Goreng sebentar dalam minyak panas.
  6. Sajikan.

Catatan :

  • Bila tidak ingin langsung digoreng, setelah dingin masukkan singkong dalam kantong / wadah plastik, tutup rapat. Simpan dalam freezer.
  • Saat ingin di makan, keluarkan dari freezer dan bisa langsung di goreng

2. Keripik Singkong

Keriping singkong

Bahan :

  • Singkong kupas , iris tipis, rendam dalam air kapur 1 – 2 jam

Cara :

  1. Tiriskan singkong dan goreng dalam minyak banyak dan panas, sambil diaduk-aduk, hingga matang.
  2. Angkat dan tiriskan.
  3. Beri bumbu sesuai selera.

3. Misro

Bahan :

  • Singkong, kupas parut 
  • Kelapa parut
  • Garam sedikit saja
  • Gula merah, sisir

Cara :

  1. Campur Singkong parut, kelapa parut dan garam, aduk rata.
  2. Ambil kurleb 2 sdm , padatkan dgn cara di kepal-kepal, lalu pipihkan ( dgn cara digencer dgn tangan yang satu lagi, beri gula merah , tutup adonan, rapatkan, dgn cara dikepal pelan . ( bentuk sesuai selera, mau pipih atau oval.
  3. Lakukan hingga adonan habis.
  4. Goreng dalam minyak banyak ( api sedang ), masukkan 5 -7 buah saja ( tergantung ukuran wajan dan ukuran misronya ), agar tidak pecah, dan jangan terlalu sering dibolak-balik.
  5. Bila telah berwarna kecoklatan, artinya misro telah matang.
  6. Angkat dan tiriskan.

4. Singkong Kukus Saus Gula (Kwait)

Bahan

  • Singkong, kupas, parut kasar  ( setebal 2 batang korek api ), dan panjang-panjang.
  • Kelapa parut ( kelapa sedang )
  • Garam sedikit saja.
  • Gula merah
  • Daun pandan

Cara :

  1. Masukkan singkong parut dalam loyang  yang sudah diolesi denga sedikit minyak goreng ( jangan dipadatkan ), kukus dalam dandang panas 15 – 20 menit.Angkat, dinginkan. Potong sesuai selera.
  2. Kukus kepala parut yang sudah diberi garam  ( sebentar saja ).
  3. Rebus gula merah dan daun pandan dalam air ( kekentalan sesuai selera , biasanya  200 gr gula merah direbus dgn 100  mil air ). Setelah gula larut dan mendidih, angkat dan saring, dinginkan.
  4. Sediakan piring saji, letakkan  sepotong singkong parut kukus, beri kelapa parut kukus dan siram dgn saus gula. Sajikan.

Sumber: dapurummumusasyi

(zafaran/muslimahzone.com)

sumber:Muslimahzone(dot)com by cahayaumat.net

Berita sebelumyaTendang ke Gelanggang walau Seorang!!
Berita berikutnyaShalawat Nabi Muhammad – Sholawat ghuroba Subhanallah by Indah Indah nz

kabar islam terkini

Tips Merebus Telur yang Baik



Resep, Tips

cahayaumat.net – Muslimah..merebus telur adalah pekerjaan yang gampang-gampang susah. Salah sedikit saja hasilnya bisa tidak sempurna, yang cangkangnya pecah lah, atau bahkan isinya sampai keluar, atau kuningnya posisinya tidak di tengah, atau kuningnya belum matang, atau pas dikupas cangkangnya masih menempel sehingga telurnya jadi tidak cantik lagi, jadi kecewa kan ….???

Ini ada beberapa tips cara merebus telur. Semoga bermanfaat.

Merebus telur ayam

Caranya: 

  • Didihkan air dalam panci. Permukaan air harus lehih tinggi dari telur, artinya telur yang direbus harus tenggelam.
  • Setelah air mendidih masukkan telur dgn sendok sayur  sampai ke dasar panci.
  • Rebus selama 7 – 8 menit.
  • Angkat telur.
  • Rendam dalam air dingin, sampai telur benar-benar dingin.
  • Setelah itu, baru kupas.

Merebus telur bebek

Caranya:

  • Didihkan air dalam panci. Permukaan air harus lebih tinggi dari telur, artinya telur yang direbus harus tenggelam.
  • Setelah air mendidih masukkan telur dgn sendok sayur  sampai ke dasar panci.
  • Rebus selama 9 – 10 menit.
  • Angkat telur.
  • Rendam dalam air dingin, sampai telur benar-benar dingin.
  • Setelah itu, baru kupas.

Merebus telur puyuh

Caranya: 

  • Didihkan air dalam panci. Permukaan air harus lebih tinggi dari telur, artinya telur yang direbus harus tenggelam.
  • Setelah air mendidih masukkan telur dgn sendok sayur  sampai ke dasar panci.
  • Rebus selama 4 – 5 menit.
  • Angkat telur.
  • Rendam dalam air dingin, sampai telur benar-benar dingin.
  • Setelah itu, baru kupas.

Jadi …. pada dasarnya sama saja hanya beda di waktu perebusannya.

Tips lainya :

  • Untuk telur yang dari kulkas tambahkan 2 menit waktu perebusannya untuk tiap jenis telur.
  • Agar posisi kuning telur ditengah, caranya dgn mengaduk-aduk dgn rencana selama proses perebusan berlangsung. Dalam hal ini berarti alam sekali merebus, jumlah telur jangan banyak, jadi saat di aduk, telur tidak sering bertabrakan, dan tentunya mengaduknya harus hati-hati agar jangan sampai membuat si telur jadi “cedera”.
  • Gunakan api sedang.
  • Cara lain agar mudah waktu mengupas telur rebus adalah dgn meretakkan telur sesaat setelah matang, caranya: telur dipukul pelan sampai retak, tapi harus hati-hati soalnya kalau terlalu keras memukulmua bisa-bisa putih telurnya jadi rusak. Kalau menggunakan cara ini maka telurnya harus direndam dalam air matang dan dingin.
  • Kata orang supaya mudah waktu mengupas telur rebus bisa juga dgn menambahkan sedikit garam dan cuka dalam air rebusan.
  • Untuk telu yang cangkangnya ada retak ( tapi isinya ngga sampai keluar, saat merebusnya agar tidak pecah, bungkus/masukkan telur dalam plastik ( yang untuk bikin es batu ), ikat, lalu rebus seperti biasa.

Insya Allah kalau cara diatas dipraktekkan dgn benar, hasilnya akan lebih memuaskan. Selamat mencoba.

 

Sumber: dapurummumusasyi

 

(zafaran/muslimahzone.com)

sumber:Muslimahzone(dot)com by cahayaumat.net

Berita sebelumyaTata Cara Mandi Haid dan Mandi Junub
Berita berikutnyaKeutamaan Ilmu

kabar islam terkini

Keutamaan Ilmu

cahayaumat.net – Menuntut ilmu tak semata menunaikan kewajiban yang Allah dan Rasul-Nya perintahkan, tetapi juga sebuah tuntutan agar hidup kita terus berkembang. Karena tanpa ilmu, hidup kita jauh dari kebaikan. Seperti diingatkan oleh Imam Syafi’i, “Siapa yang tidak mencintai ilmu (agama), tidak ada kebaikan untuknya”

Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu juga mengingatkan, “Tuntutlah ilmu (belajarlah Islam) karena mempelajarinya adalah suatu kebaikan untukmu. Mencari ilmu adalah suatu ibadah . Saling mengingatkan akan ilmu adalah tasbih . Membahas suatu ilmu adalah jihad. Mengajarkan ilmu pada orang yang tidak mengetahuinya adalah sedekah. Mencurahkan tenaga untuk belajar dari ahlinya adalah suatu qurbah – bentuk pendekatan diri kepada Allah”

Satu hal yang harus ditekankan dalam menuntut ilmu adalah kemurnian niat. Belajar semata karena Allah. Bukan untuk mengejar kesenangan dunia, kehormatan, popularitas, atau untuk memiliki kemampuan dalam mendebat ulama’

Nabi bersabda, “Barangsiapa yang mempelajari ilmu yang seharusnya ia niatkan untuk mengharap wajah Allah ‘Azza wa Jalla, namun ia malah niatkan untuk menggapai dunia, maka di hari kiamat ia tidak akan mencium bau surga” (HR. Abu Daud no. 3664 dan Ibnu Majah no. 252, dari Abu Hurairah ra)

Tantangan terbesar bagi penuntut ilmu diantaranya komitmen untuk menimba ilmu dgn mengorbankan harta, tenaga, dan waktu. Seperti yang diingatkan oleh Imam Malik rahimahullahu.

Diriwayatkan saat Khalifah Harun Ar-Rasyid sedang bersafar ke Madinah, beliau tertarik mengikuti kajian Al-Muwaththa’ Imam Malik, yang menghimpun 100.000 hadits. Khalifah mengutus Yahya bin Khalid al-Barmaki untuk memanggil Imam Malik.

Namun, Imam Malik menolak seraya berkata kepada utusan khalifah itu, “Ilmu itu dikunjungi, bukan mengunjungi; didatangi, bukan mendatangi.”

Akhirnya, terpaksa Khalifah Harun ar-Rasyid mendatangi Imam Malik dan duduk di majelisnya.

Kisah Inspiratif Para Penuntut Ilmu

Sebagaimana telah diketahui bahwa mempelajari ilmu agama memiliki keutamaan yang begitu banyak. Di antara keutamaan tersebut tersirat dalam sabda Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam berikut,

مَنْ يُرِدِ اللهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِيْ الدِّيْنِ

“Barangsiapa dikehendaki baginya kebaikan oleh Allah, Maka Dia akan memberikan pemahaman agama kepadanya.” [HR Bukhari dan Muslim dari Muawwiyah radhiyallahu anhu]

Pada tulisan kali ini kami ingin sedikit menampikan cuplikan kisah para penuntut ilmu baik dari kalangan Nabi, sahabat maupun ulama’ setelah mereka.  Semoga kita bisa mengambil faedah dari cuplikan kisah mereka.

1. Kisah Nabi Musa alaihissalam

Tidak hanya manusia biasa, para Nabi pun juga menuntut ilmu. Diantaranya Nabi Musa , alaihissalam, kalimurahman. Beliau menutut ilmu pada Khidzir alaihissalam, sebagaimana Allah kisahkan dalam surat al Kahfi ayat 60-82.  Dari firman Allah ta’ala,

وَإِذْ قَالَ مُوسَىٰ لِفَتَاهُ لَا أَبْرَحُ حَتَّىٰ أَبْلُغَ مَجْمَعَ الْبَحْرَيْنِ أَوْ أَمْضِيَ حُقُبًا

Dan (ingatlah) ketika Musa berkata kepada muridnya: “Aku tidak akan berhenti (berjalan) sebelum sampai ke pertemuan dua buah lautan; atau aku akan berjalan sampai bertahun-tahun”.

Sampai perkataan Khidhir,

وَمَا فَعَلْتُهُ عَنْ أَمْرِي ۚ ذَٰلِكَ تَأْوِيلُ مَا لَمْ تَسْطِع عَّلَيْهِ صَبْرًا

“Bukanlah aku melakukannya itu menurut kemauanku sendiri. Demikian itu adalah tujuan perbuatan-perbuatan yang kamu tidak dapat sabar terhadapnya”. (QS Al Kahfi: 82)

Faedah dari kisah ini bahwa para nabi pun juga menuntut ilmu. Faedah lainnya, bahwa jangan sampai kita merasa sombong dan tidak mau menuntut ilmu pada orang yang dibawah kita. Nabi Musa lebih mulia karena beliau termasuk seorang Nabi ulil azmi, sedang Khidir masih diperselisihkan kenabiaanya. Faedah lainnya juga bahwa hendaknya kita melakukan safar untuk menuntut ilmu.

2. Kisah Abu Hurairah radhiyallahu anhu

Para sahabat sangat semangat menuntut ilmu dari Rasulullah shallallahu alaihi wassallam. Diantara sahabat yang menonjol adalah Abu Hurairah, yang mana beliau adalah sahabat yang paling banyak meriwayatkan hadits (5374 hadits). Nama beliau adalah Abdurrahman bin Shokhr Ad Dausi al Yamani. Masuk Islam agak akhir yaitu sekitar tahun ke 7 Hijriyah saat perang Khaibar sehingga sekitar 4 tahun beliau hidup bersama Nabi. Diantara sebab beliau banyak meriwayatkan hadits dibanding sahabat lainnya:

  • Beliau ahlushshufah yang berdiam di Masjid Nabawi
  • Beliau fokus mengikuti Nabi kemanapun beliau pergi
  • Beliau memiliki hafalan yang kuat berkat do’a Nabi
  • Beliau hidup lama setelah Rasulullah wafat (beliau wafat sekitar 57H)

Beliau berkata, “Kalian akan menyatakan, bahwa Abu Hurairah banyak meriwayatkan hadits. Dan Allahlah tempat (untuk membuktikan) janji. Juga mengatakan ‘Mengapa orang-orang Al Muhajirin dan Anshor tidak banyak meriwayatkan hadits, seperti periwayatan Abu Hurairah?’ Sungguh, saudara- saudaraku dari Muhajirin disibukkan dgn jual-beli di pasar. Sedangkan saudara- saudaraku dari Anshor disibukkan oleh pengelolaan harta mereka. Adapun aku seorang miskin yang selalu mengikuti Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam selama perutku berisi. Aku hadir saat mereka tidak hadir, dan aku ingat dan paham saat mereka lupa.”

Faedah dari kisah Abu Hurairah adalah hendaknya  sabar diatas penderitaan dalam menuntut ilmu. Beliau rela menjadi ahlusshufah yang penuh keterbatasan secara ekonomi demi belajar pada Rasulullah. Faedah yang lainnya adalah hendaknya kita selalu semangat dalam belajar, memanfaatkan waktu sebaik-baiknya dan mulazamah pada seorang yang berilmu.

3. Kisah Ibnu Abbas radhiyallahu anhu

Ibnu Abbas adalah ahli tafsir dan anyak meriwayatkan hadits juga (terbanyak ke 5, setelah Abu Hurairah, Ibnu Umar, Anas bin Malik dan Ummul Mukminin Aisyah).  Dia adalah putera Abbas bin Abdul Mutthalib bin Hasyim, paman Rasulullah dan ibunya adalah Ummul Fadl Lababah binti harits saudari ummul mukminin Maimunah.

Beliau menuntut ilmu sejak kecil. Beliau kadang menginap di rumah bibinya Maimunah untuk agar dapat belajar dari Rasulullah. Ia mendapat keberkahan do’a Rasulullah. Rasulullah pernah mendoakannya “Ya Allah berilah ia pengertian dalam bidang agama dan berilah ia pengetahuan takwil (tafsir)”

Setelah Rasulullah wafat beliau banyak menimba dari para sahabat yang masih hidup. Suatu saat beliau pernah mendatangi salah seorang sahabat diwaktu siang untuk mendengar hadits darinya. Ternyata sahabat tersebut sedang istirahat siang.

Maka Ibnu Abbas pun menunggu di depan pintu dan ketiduran disitu sampai mukannya terkena debu. Ketika sahabat tersebut membuka pintu maka ia terkaget melihat Ibnu Abbas.

Ia pun mengatakan, “Wahai anak paman Rasulullah, apa yang membuat engkau datang? Kenapa engkau tidak mengutus salah seorang agar aku mendatangimu? Ibnu Abbas menjawab, Tidak, akulah yang lebih berhak mendatangimu. Telah sampai hadits kepadaku darimu bahwa engkau mendengar dari Rasulullah. Aku ingin mendengar langsung darimu.”

Salah satu faedah dari kisah Ibnu Abbas adalah hendaknya memanfaatkan waktu muda untuk belajar. Faedah lainnya yaitu menghormati ilmu dan ahli ilmu. Beliau mendatangi para sahabat untuk mendapat ilmu karena beliau merasa butuh dgn ilmu.

Dikisahkan pula ibnu Abbas melihat Zaid bin Tsabit mau menaiki tunggangannya. Maka Ibnu Abbas pun berdiri di depannya, lalu memegang tunggangan tersebut agar Zaid naik dan mengambil tali kekangnya.

Zaid pun mengatakan padanya, ”Tinggalkan itu wahai anak paman Rasulullah!” Abdullah menjawab “Demikian kami diperintah untuk memperlakukan (menghormati) ulama kami.”  Zaid pun mengatakan, “Keluarkan tanganmu”.

Lalu Ibnu Abbas mengeluarkan tangannya lalu Zaid menciumnya dan berkata, “Demikian kami diperintah untuk memperlakukan ahli bait Rasulullah.”

4. Kisah Imam Syafii rahimahullah

Imam Syafii adalah salah satu diantara aimmatul arba’ah (4 imam madzab Fikih). Beliau terkenal sebagi nashirussunnah (penolong sunnah) dan peletak ilmu ushul fikih.  Nama beliau adalah Muhammad bin Idris As Syafii, lahir tahun 150 H di palestina.  Ayah beliau wafat di masa muda.

Ketika berumur dua tahun, beliau dibawa ibunya ke negeri Hijaz dan berbaur dgn penduduk negeri itu yang keturunan Yaman karena sang ibu berasal dari kabilah Azdiyah (dari Yaman).  Lalu ketika berumur 10 tahun, beliau dibawa ke Mekkah.

Beliau hafal al Qur’an sebelum baligh. Beliau banyak belajar pada ulama’ Mekah saat itu diantaranya Sufyan bin Unaiyah, Fudhail bin Iyadh dan lainnya. Beliau juga belajar bahasa Arab pada suku pedalaman sekitar Makah. 

Salah seorang guru beliau membolehkan beliau untuk berfatwa disaat usia beliau masih sangat beliau.

Lalu beliau ke Madinah untuk belajar pada ahlul hadits di kota Nabi tersebut.  Beliau pun belajar pada Imam Malik sampai beliau wafat. Usia imam Syafii saat itu sekitar 29 tahun. Kemudian beliau balik ke Makah kemudian ke Yaman. Di Yaman nama beliau semakin tenar. Beliau lalu difitnah ikut dalam gerakan yang ingin memberontak pada khalifah.

Akhirnya beliau dibawa ke Baghdad, tetapi tuduhan pada beliau tidak terbukti. Lalu beliau belajar pada ahlur ra’yi di Baghdad, diantaranya Mumammad bin Hassan- salah seorang sahabat Imam Abu Hanifah yang menonjol-. Beliau pun mengabungkan fikih ahlul hadits dan ahlur ra’yi.

Setelah itu beliau kembali ke Makah dan mengajar di sana cukup lama kemudian kembali lagi ke Baghdad.  Setelah kondisi Baghdad tidak kondusif lagi beliau kemudian pindah ke Mesir dan menyebarkan madzhabnya disana. Beliau tinggal di Mesir sampai wafat beliau.

Salah satu faedah dari kisah Imam Syafii ini adalah bahwa jangan sampai kita segera puas dalam belajar. Meskipun beliau sudah mendapat izin untuk berfatwa di masa muda beliau tetap terus belajar.

Beliau belajar pada Imam Malik sampai beliau wafat. Beliau juga belajar pada ulama’ Baghdad padahal saat itu beliau juga sudah cukup terkenal.

5. Kisah Imam Bukhari rahimahullah

Tentu tidak ada yang asing lagi dgn Imam Bukhari, pengarang Jami’ Shahih yang merupakan kitab karangan manusia yang paling shahih. Imamnya para ahlil hadits. Muhammad bin Ismail al Bukhari lahir 194 H di daerah Bukhara. 

Beliau memiliki kecerdasan dan kekuatan hafalan yang luar biasa. Beliau menghafal al Qur’an sejak kecil. Beliau memulai menekuni ilmu agama sejak belia pula. Beliau memiliki kecintaan yang besar pada ilmu hadits.

Muhammad bin Abi Hatim Warraq Al Bukhari menceritakan: Aku mendengar Bukhari mengatakan, “Aku mendapatkan ilham untuk menghafal hadits ketika aku masih berada di sekolah baca tulis (kuttab).” Aku berkata kepadanya, “Berapakah umurmu ketika itu?” Dia menjawab, “Sepuluh tahun atau kurang dari itu. Kemudian setelah lulus dari Kuttab, aku pun bolak-balik menghadiri majelis haditsnya Ad-Dakhili dan ulama hadits lainnya. Suatu hari tatkala membacakan hadits di hadapan orang-orang dia (Ad-Dakhili) mengatakan, ‘Sufyan meriwayatkan dari Abu Zubair dari Ibrahim.’ Maka aku katakan kepadanya, ‘Sesungguhnya Abu Zubair tidak meriwayatkan dari Ibrahim.’ Maka dia pun menghardikku, lalu aku berkata kepadanya, ‘Rujuklah kepada sumber aslinya, jika kamu punya.’ Kemudian dia pun masuk dan melihat kitabnya lantas kembali dan berkata, ‘Bagaimana kamu bisa tahu wahai anak muda?’ Aku menjawab, ‘Dia adalah Az Zubair (bukan Abu Zubair, pen). Nama aslinya Ibnu Adi yang meriwayatkan hadits dari Ibrahim.’ Kemudian dia pun mengambil pena dan membenarkan catatannya. Dan dia pun berkata kepadaku, ‘Kamu benar’. Menanggapi cerita tersebut, Bukhari ini Warraq berkata, “Biasa, itulah sifat manusia. Ketika membantahnya umurmu berapa?” Bukhari menjawab, “Sebelas tahun.” (Hadyu Sari, hal. 640)

Suatu ketika Bukhari rahimahullah datang ke Baghdad. Para ulama hadits yang ada di sana mendengar kedatangannya dan ingin menguji kekuatan hafalannya. Mereka pun mempersiapkan seratus buah hadits yang telah dibolak-balikkan isi hadits dan sanadnya, matan yang satu ditukar dgn matan yang lain, sanad yang satu ditukar dgn sanad yang lain. Kemudian seratus hadits ini dibagi kepada 10 orang yang masing-masing bertugas menanyakan 10 hadits yang berbeda kepada Bukhari. Setiap kali salah seorang di antara mereka menanyakan kepadanya tentang hadits yang mereka bawakan, maka Bukhari menjawab dgn jawaban yang sama, “Aku tidak mengetahuinya.” Setelah sepuluh orang ini selesai, maka gantian Bukhari yang berkata kepada 10 orang tersebut satu persatu, “Adapun hadits yang kamu bawakan bunyinya demikian. Namun hadits yang benar adalah demikian.” Hal itu beliau lakukan kepada sepuluh orang tersebut. Semua sanad dan matan hadits beliau kembalikan kepada tempatnya masing-masing dan beliau mampu mengulangi hadits yang telah dibolak-balikkan itu hanya dgn sekali dengar. Sehingga para ulama pun mengakui kehebatan hafalan Bukhari dan tingginya kedudukan beliau (lihat Hadyu Sari, hal. 652)

Beliau banyak melakukan pengembaraan untuk mencari hadits. Banyak sekari daerah yang ia kunjungi seperti Madinah, Makah, Syam, Mesir, Baghdad dan lainya. Beliau sendiri mengatakan memiliki lebih dari seribu guru yang beliau tulis haditsnya. Diantara gurunya yang terkenal adalah Imam Ahmad bin Hambal, Imam Ali bin Madini, dan Yahya bin Ma’in.  

Di antara sebab beliau dapat memiliki banyak guru adalah beliau memulai belajar ilmu sejak kecil dan beliau banyak berkelana mencari ilmu.  Beliau juga memiliki banyak murid yang menjadi ulama’ besar dalam hadits seperti Imam Muslim, Imam Tirmidzi, Ibnu Khuzaimah, Imam Abu Hatim, Imam Ibnu Abi Dunya, dan lainnya. Beliau wafat tahun 256H.

Referensi:

  • Fanpage Hizbut Tahrir Indonesia
  • ukhuwahislamiah.com

(fauziya/muslimahzone.com)

sumber:Muslimahzone(dot)com by cahayaumat.net

kabar islam terkini

Tata Cara Mandi Haid dan Mandi Junub

cahayaumat.net – Haid adalah salah satu najis yang menghalangi wanita untuk melaksanakan ibadah sholat dan puasa (pembahasan mengenai hukum-hukum seputar haidh telah disebutkan dalam beberapa edisi yang lalu), maka setelah selesai haidh kita harus bersuci dgn cara yang lebih dikenal dgn sebutan mandi haid atau mandi wajib.

Agar ibadah kita diterima Allah maka dalam melaksanakan salah satu ajaran islam ini, kita harus melaksanakannya sesuai tuntunan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam dan Rasulullah telah menyebutkan tata cara mandi haid dalam hadits yang diriwayatkan oleh Muslim dari ‘Aisyah Radhiyallahu ‘Anha bahwa Asma’ binti Syakal Radhiyallahu ‘Anha bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tentang mandi haidh, maka beliau bersabda:

تَأْخُذُإِحْدَا كُنَّ مَائَهَا وَسِدْرَهَا فَتََطَهَّرُ فَتُحْسِنُ الطُّهُورَ أوْ تَبْلِغُ فِي الطُّهُورِ ثُمَّ تَصُبُّ عَلَى رَأْسِهَا فَتَدْلُكُُهُ دَلْكًا شَدِ يْدًا حَتََّى تَبْلِغَ شُؤُونَ رَأْسِهَا ثُمَّ تَصُبُّ عَلَيْهَا المَاءَ ثُمَّ تَأْخُذُ فِرْصَةً مُمَسَّكَةً فَتَطْهُرُ بِهَا قَالَتْ أسْمَاءُ كَيْفَ أتََطَهَّرُبِهَا قَالَ سُبْحَانَ الله ِتَطَهُّرِي بِهَا قَالَتْْ عَائِشَةُ كَأنَّهَا تُخْفِي ذَلِكَ تَتَبَّعِي بِهَا أثَرَالدَّمِ

“Salah seorang di antara kalian (wanita) mengambil air dan sidrahnya (daun pohon bidara, atau boleh juga digunakan pengganti sidr seperti: sabun dan semacamnya-pent) kemudian dia bersuci dan membaguskan bersucinya, kemudian dia menuangkan air di atas kepalanya lalu menggosok-gosokkannya dgn kuat sehingga air sampai pada kulit kepalanya, kemudian dia menyiramkan air ke seluruh badannya, lalu mengambil sepotong kain atau kapas yang diberi minyak wangi kasturi, kemudian dia bersuci dgnnya. Maka Asma’ berkata: “Bagaimana aku bersuci dgnnya?” Beliau bersabda: “Maha Suci Allah” maka ‘Aisyah berkata kepada Asma’: “Engkau mengikuti (mengusap) bekas darah (dgn kain/kapas itu).”

Dari ‘Aisyah Radhiyallahu ‘Anha bahwa seorang wanita bertanya kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam tentang mandi dari haid. Maka beliau memerintahkannya tata cara bersuci, beliau bersabda:

تَأْخُذُ فِرْصَةً مِنْ مِسْكٍ فَتَطَهُّرُ بِهَا قَالَتْ كَيْفَ أَتَطَهُّرُ بِهَاقَالَ تَطَهَّرِي بِهَاسُبْحَانَ اللهِ.قَالَتْ عَائِشَةُ وَاجْتَذَبْتُهَا إِلَيَّ فَقُلْتُ تَتَبْعِي بِهَاأَثَرَا لدَّمِ

“Hendaklah dia mengambil sepotong kapas atau kain yang diberi minyak wangi kemudian bersucilah dgnnya. Wanita itu berkata: “Bagaimana caranya aku bersuci dgnnya?” Beliau bersabda: “Maha Suci Allah bersucilah!” Maka ‘Aisyah menarik wanita itu kemudian berkata: “Ikutilah (usaplah) olehmu bekas darah itu dgnnya(potongan kain/kapas).” (HR. Muslim: 332)

An-Nawawi rahimahullah berkata (1/628): “Jumhur ulama berkata (bekas darah) adalah farji (kemaluan).” Beliau berkata (1/627): “Diantara sunah bagi wanita yang mandi dari haid adalah mengambil minyak wangi kemudian menuangkan pada kapas, kain atau semacamnya, lalu memasukkannya ke dalam farjinya setelah selesai mandi, hal ini disukai juga bagi wanita-wanita yang nifas karena nifas adalah haid.” (Dinukil dari Jami’ Ahkaam an-Nisaa’: 117 juz: 1).

Syaikh Mushthafa Al-’Adawy berkata: “Wajib bagi wanita untuk memastikan sampainya air ke pangkal rambutnya pada waktu mandinya dari haidh baik dgn menguraikan jalinan rambut atau tidak.Apabila air tidak dapat sampai pada pangkal rambut kecuali dgn menguraikan jalinan rambut maka dia (wanita tersebut) menguraikannya-bukan karena menguraikan jalinan rambut adalah wajib-tetapi agar air dapat sampai ke pangkal rambutnya, Wallahu A’lam.” (Dinukil dari Jami’ Ahkaam An-Nisaa’ hal: 121-122 juz: 1 cet: Daar As-Sunah).

Maka wajib bagi wanita apabila telah bersih dari haidh untuk mandi dgn membersihkan seluruh anggota badan; minimal dgn menyiramkan air ke seluruh badannya sampai ke pangkal rambutnya; dan yang lebih utama adalah dgn tata cara mandi yang terdapat dalam hadits Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, ringkasnya sebagai berikut:

  1. Wanita tersebut mengambil air dan sabunnya, kemudian berwudhu’ dan membaguskan wudhu’nya.
  2. Menyiramkan air ke atas kepalanya lalu menggosok-gosokkannya dgn kuat sehingga air dapat sampai pada tempat tumbuhnya rambut. Dalam hal ini tidak wajib baginya untuk menguraikan jalinan rambut kecuali apabila dgn menguraikan jalinan akan dapat membantu sampainya air ke tempat tumbuhnya rambut (kulit kepala).
  3. Menyiramkan air ke badannya.
  4. Mengambil secarik kain atau kapas(atau semisalnya) lalu diberi minyak wangi kasturi atau semisalnya kemudian mengusap bekas darah (farji) dgnnya.

TATA CARA MANDI JUNUB BAGI WANITA

Dari ‘Aisyah Radhiyallahu ‘Anha, beliau berkata:

كُنَّاإِذَأَصَابَتْ إِحْدَانَاجَنَابَةٌأَخَذَتْ بِيَدَيْهَاثَلَاثًافَوْقَ رَأْسَهَا ثُمَََّ تَأْخُذُ بِيَدِهَا عَلَى شِقِّهَاالْأيَْمَنِ وَبِيَدِهَااْلأُخْرَى عََََلَى شِقِّهَااْلأ يْسَرِ

“Kami ( istri-istri Nabi) apabila salah seorang diantara kami junub, maka dia mengambil (air) dgn kedua telapak tangannya tiga kali lalu menyiramkannya di atas kepalanya, kemudian dia mengambil air dgn satu tangannya lalu menyiramkannya ke bagian tubuh kanan dan dgn tangannya yang lain ke bagian tubuh yang kiri.” (Hadits Shahih riwayat Bukhari: 277 dan Abu Dawud: 253)

Seorang wanita tidak wajib menguraikan (melepaskan) jalinan rambutnya ketika mandi karena junub, berdasarkan hadits berikut:

Dari Ummu Salamah Radhiyallahu ‘Anha berkata:

قُاْتُ ياَرَسُولَ اللهِ إِنِّي امْرَأَةٌ أَشُدُّ ضَفْرَرَأْسِي أَفَأَنْقُضُهُ لِغُسْلِ الْجَنَابَةِ؟ قَالَ:لاَإِنَّمَايَكْفِيْكِ أَنْ تَحْثِيْنَ عَلَى رَأْسِكِ ثَلاَثَ حَثَيَاتٍ مِنْ مَاءٍثُمََّ تُفِيْضِيْنَ عَلَى سَائِرِ جَسَادِكِ الماَءَ فَتَطْهُرِيْن

Aku (Ummu Salamah) berkata: “Wahai Rasulullah, aku adalah seorang wanita, aku menguatkan jalinan rambutku, maka apakah aku harus menguraikannya untuk mandi karena junub?” Beliau bersabda: “Tidak, cukup bagimu menuangkan air ke atas kepalamu tiga kali kemudian engkau mengguyurkan air ke badanmu, kemudian engkau bersuci.” (Hadits Shahih riwayat Muslim, Abu Dawud: 251, an-Nasaai: 1/131, Tirmidzi:1/176, hadits: 105 dan dia berkata: “Hadits Hasan shahih,” Ibnu Majah: 603)

Ringkasan tentang mandi junub bagi wanita adalah:

  1. Seorang wanita mengambil airnya, kemudian berwudhu dan membaguskan wudhu’nya (dimulai dgn bagian yang kanan).
  2. Menyiramkan air ke atas kepalanya tiga kali.
  3. Menggosok-gosok kepalanya sehingga air sampai pada pangkal rambutnya.
  4. Mengguyurkan air ke badan dimulai dgn bagian yang kanan kemudian bagian yang kiri.
  5. Tidak wajib membuka jalinan rambut ketika mandi.

Tata cara mandi yang disebutkan itu tidaklah wajib, akan tetapi disukai karena diambil dari sejumlah hadits-hadits Rasululllah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Apabila dia mengurangi tata cara mandi sebagaimana yang disebutkan, dgn syarat air mengenai (menyirami) seluruh badannya, maka hal itu telah mencukupinya. Wallahu A’lam bish-shawab.

***

Diringkas dari majalah As Sunah Edisi 04/Th.IV/1420-2000, oleh Ummu ‘Athiyah

sumber: muslimah

(zafaran/muslimahzone.com)

sumber:Muslimahzone(dot)com by cahayaumat.net

kabar islam terkini

Peran besar muslimah dalam dakwah Islam

Sejak awal, perempuan telah memainkan peran penting dalam kemajuan Dakwah Islam. Mulai dari pengorbanan Sumayyah, hingga peran Aishah dalam pengumpulan hadist-hadist, perempuan telah berperan dalam berkembangnya dan menyebarkan dien ini.

Sayangnya selama ini, kebangkitan Islam menderita kelemahan dalam personil Muslimah yang berkualitas, karena adanya ‘pembatasan’ kerja dakwah ke grup aktivis, dgn upaya terbatas terkait dakwah tarbiyah yang difokuskan pada wanita .

Dakwah terhadap perempuan adalah keharusan, bahkan perempuan sendiri juga terikat akan kewajiban berdakwah. Karena pada dasarnya berdakwah adalah kewajiban bagi seluruh Muslim.

Terlebih dari kaum perempuan sendiri cenderung, ‘meninggalkan’ dan menjauhi aktivitas dakwah itu sendiri.

Beberapa permasalahan dan hambatan kurangnya tenaga dakwah dari kaum perempuan, antara lain:

  • Kurangnya kemampuan Dakwah oleh perempuan.

  • Terbatasnya sumber daya serta kurangnya inisiatif pribadi pada pihak perempuan.

  • Adanya pengabaian atau kelalaian terhadap isu-isu perempuan dalam perencanaan Dakwah Islam.

  • Tidak adanya tarbiyah yang kuat dan kurangnya pengetahuan Islam di bidang Dakwah.

  • Kebanyakan wanita tidak memiliki pemahaman yang tepat terkait peran Dakwah, karena itu, mereka tidak dapat memahami pentingnya waktu yang diberikan untuk proyek-proyek dakwah di luar rumah, sehingga seringkali menimbulkan permasalahan dalam rumah tangga dikarenakan ‘suami yang lebih banyak menghabiskan waktu di luar rumah untuk urusan dakwah.

  • Program dakwah oleh lembaga terhadap wanita belum terorganisasi dgn baik.

Berikut adalah beberapa alasan betapa pentingnya partisipasi perempuan dalam bidang Dakwah (terhadap Muslimah yang lain):

  • Wanita lebih mampu daripada laki-laki yang dalam berkomunikasi dgn perempuan lain. Wanita biasanya lebih dipengaruhi oleh kata, perbuatan, dan perilaku perempuan lain. Wanita lebih mampu mengenali kekhasan dan masalah yang terkait dgn pendidikan perempuan dan tarbiyah.

  • Wanita dapat memahami dgn lebih baik ke arah mana dakwah terhadap perempuan harus diarahkan. Mereka yang terbaik dapat melihat urutan prioritas, karena mereka lebih akrab dgn bidang ini.

  • Wanita lebih bebas daripada pria dalam berkomunikasi dgn perempuan lain, baik secara individual untuk kegiatan Dakwah, atau dalam kegiatan belajar, forum lain dan tempat-tempat pertemuan.

  • Banyak wanita Muslim yang membutuhkan bimbingan, pendidikan, namun kurangnya kehadiran lembaga yang dapat menyediakan layanan ini, karena itu sangat masuk akal bahwa perempuan yang berkualitas di masyarakat harus ‘menawarkan’ diri sebagai pembimbing bagi saudari seimannya.

  • Permasalahan terkait pendidikan dan kebutuhan tarbiyah perempuan yang lebih besar dari laki-laki. Mereka hamil, melahirkan, dan merawat anak-anak. Anak-anak lebih terikat dgn ibu mereka daripada mereka kepada ayah mereka.

  • Perempuan memiliki efek besar pada suami mereka. Jika mereka memiliki Iman yang kuat dan karakter, mereka memiliki kesempatan yang sangat baik untuk membantu suami mereka menjadi kuat juga.

  • Wanita memiliki banyak karakteristik yang menekankan pentingnya peran Dakwah mereka. Mereka juga harus diperhitungkan setiap kali ada pekerjaan Dakwah direncanakan.

Sebuah Peran Pasti:

Pekerjaan para wanita Muslim di bidang Dakwah pada dasarnya memperkuat kerja dahwah pria. Sangat menyedihkan bahwa peran ini begitu terlalu diabaikan dan diremehkan. Dengan sifatnya sebagai selimut spiritual dan psikologis manusia, wanita dapat memainkan peran penting dalam Dakwah.

Khadijah (radiyhuanha) memberikan kenyamanan, bantuan, dan dukungan kepada Nabi Muhammad SAW, yang menjadikan bukti terbesar dari sangat pentingnya peran ini. Para Sahabat Nabi yang memilih meninggalkan rumah mereka untuk pergi ke tempat yang ribuan mil jauhnya demi Islam pada awal-awl penyebaran Islam di Mekkah, jugaa memiliki dukungan dari istri mereka.

Sangat sedikit wanita saat ini memahami atau menyadari peran dirinya terhadap dakwah, apalagi melaksanakannya. Seorang wanita mungkin berpikir bahwa pernikahan adalah rumah tempat istirahat dan mudah. Mereka belum menyadari bahwa pernikahan adalah titik awal perjuangan, pengorbanan, memberi dan tanggung jawab.

Peran perempuan tidak berakhir di depan pintu. Dia dapat sangat efektif dgn menjadi contoh yang baik kepada orang lain, dgn menjadi baik hati, ramah berbicara, dan perilaku ramah. Dia bisa menawarkan bantuan, dan keprihatinan berbagi serta sukacita. Dia juga dapat menggunakan semua kesempatan yang tepat untuk mendidik, membimbing orang lain.

Wanita, yang memahami peran mereka akan dakwah dan kebangkitan Islam, akan mulai mendidik diri mereka sendiri dan mencapai hak-hak mereka atas pendidikan dan tarbiyah. Lihatlah Hadis riwayat Abu sa’i bahwa Para sahabiyah pernah mengadu kepada Rasul saw karena merasa tidak mendapatkan kesempatan yang sama dgn para sahabat dalam mendapatkan penjelasan agama. Sebab Rasul saw ketika menyampaikan ajaran Islam dalam majlis, hanya dihadiri oleh kaum laki-laki. Maka Para wanita itu meminta kepada Rasul saw agar menyediakan satu hari khusus untuk memberi pelajaran kepada kaum wanita tanpa kehadiran laki-laki.

Ummu Sulaim mengajar anaknya Anas bin Malik tentang Islam, meskipun suaminya menolak Islam. Ketika Abu Thalhah melamarnya (sebelum menerima Islam) dia mengatakan bahwa mas kawinnya adalah Islam, Abu Thalhah pada gilirannya memeluk Islam dan menikahi Ummu Sulaim.

Jika kita bergerak ke lingkaran yang lebih luas, kita akan menemukan bahwa wanita Muslim memainkan peran besar dalam pengorbanan dan layanan untuk agama Allah. Sumayyah menyerah hidupnya ketika Abu Jahal membunuhnya karena memilih menjadi seorang Muslim. Dia adalah Muslim dan perempuan pertama yang tewas dalam Islam.

Khadijah, istri pertama Nabi yang sangat kaya, menghabiskan uangnya untuk mendukung dakwah suami tercintanya. Ummu Salamah rela meninggalkan suaminya dan melihat anak-anaknya dianiaya ketika dia hijrah. Ummu ‘Imarah turut berjuang dalam membela Nabi (damai dan berkah besertanya) dalam perang Uhud, dgn merawat yang terluka dalam pertempuran adalah peran Perempuan Muslim memainkan peran dalam perang sepanjang sejarah Islam.

Fakta bahwa kami menekankan pentingnya peran perempuan dalam Dakwah Islam tidak seharusnya menjauhkan kita dari fitrah penciptaan perempuan terhadap dakwah. Biasanya, peran utama wanita dan pekerjaan di rumah. Ini jelas dinyatakan dalam Al Quran dan Hadis. Allah berfirman,

” Menetaplah di rumah kalian ( para wanita )...” [Ahzab: 33]

Tentu saja perempuan dapat pergi keluar untuk salat di masjid, berpartisipasi dalam kegiatan lain yang mungkin diperlukan dan untuk melakukan Dakwah. Namun, tidak satupun dari kegiatan ini harus bertentangan dgn kewajiban penting di rumah sebagai istri dan ibu.

Dalam banyak kasus, inilah keseimbangan antara tugas-tugas penting wanita itu dan persyaratan kerja Dakwah, yang telah menyebabkan masalah dan kesalahpahaman dalam keluarga dan masyarakat.

Ada banyak hal yang juga harus diperhatikan terkait kegiatan dakwah wanita. Tidak adanya pencampuran pria dan wanita, yang harus diperhatikan dalam setiap kegiatan Dakwah dan dalam keadaan apapun. Cara berpakaian bagi wanita yang harus sesuai syar’i.

Seperti Nabi (damai dan berkah besertanya) melihat kebutuhan untuk menyisihkan waktu khusus untuk menangani kebutuhan perempuan dalam komunitasnya, sehingga organisasi harus mencoba untuk menyesuaikan bekerja Dakwah mereka kepada perempuan dan isu-isu masyarakat.

Setiap program Dakwah diarahkan terhadap wanita harus berusaha untuk, setidaknya, melayani tujuan sebagai berikut:

Memperkuat Iman: Hal tersebut dilengkapi dgn kegiatan ibadah yang meningkat, mengingat Allah (berdzikir), dan refleksi pada nama Allah, dan kekuasaan-Nya dan penciptaan dalam diri kita dan di alam semesta. Namun ini, tidak akan mungkin tanpa penanaman pemahaman yang benar tentang isu-isu tertentu yang terkait dgn ‘Aqidah kita, dan penekanan terhadap Tauhid.

Meningkatkan pengetahuan: Tanpa itu seseorang tidak bisa mencapai banyak. Penekanan khusus harus diletakkan pada dasar-dasar Islam dan pada mata pelajaran terkait kebutuhan bahwa da’iyah di lingkungan nya. Pengetahuan tentang paham, ide, kelompok dan sekte yang menyimpang dari Islam. Kesadaran harus dibangkitkan mengenai mereka yang tidak ingin melihat penyebaran Islam dan yang memperoleh dasar dalam hati dan pikiran orang-orang.

Membangun kepribadian Dakwah: Dakwah membutuhkan pengorbanan dan karena itu perempuan harus siap untuk menanggung ‘biaya’ keungan yang mungkin dikeluarkan untuk Islam. Ini datang dgn tujuan kebangkitan umat Islam dan mengkounter upaya-upaya musuh Islam. Kepemimpinan, tanggung jawab dan inisiatif individu harus diajarkan. Fakultas pendidikan teoritis dan praktis harus dipupuk. Para da’iyah harus diajarkan keterampilan sosial yang diperlukan dan pentingnya Dakwah melalui contoh yang baik dan tindakan. Mereka juga harus diajarkan  konsep nilai waktu, manajemen dan bagaimana menggunakan kegiatan yang menyenangkan dan halal selama waktu luang mereka.

Membangun kekebalan terhadap dosa: Ini termasuk mengenali penyakit-penyakit dosa, terutama yang berkaitan dgn perempuan, dan menghalangi jalan menuju dosa tersebut dgn menghindari hal-hal, kegiatan dan tempat yang akan menjadi pintu terbukanya dosa.

Persiapan psikologis dgn memastikan bahwa da’iyah memiliki iman dalam ketulusan Allah, harapan, cakupan dalam kebenaran, kebanggaan dalam Islam, kesabaran, dan pengetahuan tentang kondisi dan lingkungan dari orang yang mereka menangani. Ini adalah aspek yang sangat penting dari kesiapsiagaan, karena pendakwah terikat kepada orang-orang, yang memiliki karakter dan kecenderungan yang berbeda.

Da’iyat yang memberikan kuliah, seminar, khotbah, dan lain-lain harus mampu membujuk para pendengar dgn mengatasi pikiran mereka melalui bukti dan bukti. Mereka juga harus mampu membangkitkan nafsu mereka, emosi, dan perasaan. Mereka harus berlatih menyampaikan ceramah untuk perempuan di masjid-masjid, sekolah, atau tempat lain di mana wanita berkumpul. Mereka juga harus mengawasi dan membimbing peserta wanita, dan dgn lembut memperbaiki kesalahan mereka.

Bidang kepenulisan dan penerbitan tidak boleh diabaikan dalam zaman ketika manusia dapat dgn mudah mengakses segala hal melalui buku, booklet, surat kabar, dan internet. Tulisan harus meyakinkan, melalui argumen yang jelas, dan disebarkan tentunya.

Menulis adalah bentuk salah satu cara dakwah paling tepat dan penting bagi perempuan. Mereka dapat menulis di rumah dan dgn demikian mampu memanfaatkan waktu luang mereka secara positif dan tentunya dgn cara ini mereka dapat menjangkau semua kelas masyarakat.

Bidang Dakwah Wanita

Bidang pendidikan: Hal tersebut terkait dgn hal memuliakan dan pemurnian jiwa melalui iman. Pikiran dan jiwa sehingga bisa disentuh. Bidang ini dapat ditemukan di masjid-masjid, sekolah, asosiasi, kelompok Dakwah, dan lain-lain.

Bidang sosial: Ini berhubungan dgn kesehatan tubuh dan psikologis serta pembangunan sosial dan interaksi antara orang-orang yang mencerminkan secara positif pada realisasi pendidikan rohani dan pembentukan karakter muslim.

Contoh yang lebih spesifik dari apa yang wanita dapat mengambil bagian sebagai Dakwah adalah:

Rumah: Ini jelas merupakan tempat paling subur dan paling efektif. Yang telah ditetapkan Allah baik suami dan istri sebagai memelihara satu sama lain dan keluarga. Ibu dan ayah bertanggung jawab mendidik dan memelihara anak-anak mereka baik dari aspek fisik moral, psikologis, sosial, dan eksternal satu sama lain dan anak-anak mereka.

Komunitas Muslim: Amal, saran, dan arahan dapat ditawarkan kepada kerabat, tetangga, dan orang miskin.

Sekolah Islam: Kegiatan pendidikan dan kurikulum dapat digunakan untuk bimbingan siswa perempuan serta guru perempuan dan staf.

Masjid: Perempuan harus diizinkan pergi ke masajid untuk kegiatan bermanfaat. Masjid adalah tempat yang cocok untuk beberapa kegiatan perempuan seperti kelompok belajar Quran dan pelatihan lainnya. Serta tempat-tempat lain seperti Rumah Sakit, Penjara, dan Lembaga Kesejahteraan Sosial, Sekolah Tinggi atau Universitas Perempuan.

Ada banyak ayat dalam Quran yang mewajibkan pria Muslim dan perempuan untuk melakukan Dakwah, dan mengajak kepada yang baik dan melarang yang jahat. Sebagai contoh, Allah berfirman:

Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung (QS.3 :104). Wallohua’lam. (rasularasy/arrahmah.com)

sumber:Muslimahzone(dot)com by cahayaumat.net

kabar islam terkini