Mendikbud Muhadjir Effendy, Jabat Presiden Organisasi Menteri Pendidikan Asia Tenggara

Jakarta, Indonesia terpilih untuk memimpin organisasi menteri-menteri pendidikan se-Asia Tenggara atau South East Asian Ministers of Education Organization (SEAMEO). Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) RI, Muhadjir Effendy, menjabat sebagai Presiden SEAMEO untuk kurun waktu dua tahun, yaitu 2017-2019.

Serah terima jabatan Presiden SEAMEO berlangsung dalam Konferensi Menteri Pendidikan se-Asia Tenggara ke-49 (49th SEAMEO Council Conference) di Jakarta, (25/7/2017). Menteri Pendidikan Thailand  Teerakiat Jareonsettasin menyerahkan jabatan Presiden SEAMEO kepada Mendikbud Muhadjir Effendy, disaksikan para delegasi SEAMEO dari 11 negara Asia Tenggara.

Dalam sambutan singkatnya usai serah terima jabatan, Mendikbud mengatakan komitmennya untuk meneruskan kerja sama yang baik antarnegara anggota SEAMEO, baik di bidang pendidikan, sains, maupun kebudayaan. “Indonesia dan SEAMEO akan terus berupaya berkontribusi secara signifikan untuk kemajuan pendidikan, sains, dan kebudayaan di kawasan Asia Tenggara,” katanya.

Sebelumnya dalam sambutan selamat datang atau welcome speech, Mendikbud menyampaikan bahwa Pemerintah Indonesia berkomitmen untuk terus memperluas akses pendidikan bagi warga negaranya, mulai dari jenjang pendidikan anak usia dini (PAUD), hingga pembelajaran sepanjang hayat atau life long learning. Karena itulah Indonesia aktif menjalin kerja sama dengan negara lain dan bergabung dengan organisasi internasional, baik tingkat regional maupun global, antara lain dengan SEAMEO. “Saya yakin SEAMEO bisa berkontribusi secara signifikan dalam meningkatkan kualitas hidup dan menjamin masa depan yang cerah untuk negara anggotanya secara regional,” ujarnya.

Menteri Pendidikan Thailand, Teerakiat Jareonsettasin mengatakan, selama dua tahun menjadi Presiden SEAMEO (2015-2017), ia sangat memperhatikan keberagaman yang dimiliki negara-negara Asia Tenggara dalam setiap kunjungannya. Menurutnya, negara-negara ASEAN memiliki keunikannya masing-masing. Meskipun berbeda-beda, tuturnya, semua negara anggota bisa menghargai keberagaman itu. “SEAMEO is providing an  example of unity in diversity,” katanya.

Pertemuan menteri-menteri pendidikan Asia Tenggara akan berlangsung selama tiga hari di Jakarta, yaitu pada 25 s.d. 27 Juli 2017. Hari pertama akan diisi dengan sidang pleno dengan seluruh delegasi negara anggota SEAMEO, bilateral meeting antara Indonesia dengan Malaysia dan Indonesia dengan Timor Leste, hingga gala dinner yang dimeriahkan dengan pertunjukan seni-budaya. Pada hari kedua para delegasi akan mengikuti agenda “school and cultural visit” dengan mengunjungi SMKN 27 Jakarta dan Museum Nasional Indonesia. Di hari ketiga mereka akan bersiap-siap kembali ke negara masing-masing. (Desliana Maulipaksi)
Sumber :

Mengapa Mereka Mengkritik Keras Full Day School

Pendidikan karakter yang memadai kepada anak didik di sekolah-sekolah, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy melontarkan gagasan kemungkinan penerapan sistem belajar-mengajar dengan sekolah sehari penuh (Full Day School).

Kata Menteri Muhadjir, FDS ini tidak berarti peserta didik belajar seharian penuh di sekolah, tetapi memastikan bahwa peserta didik dapat mengikuti kegiatan-kegiatan penanaman pendidikan karakter, seperti mengikuti kegiatan ekstrakurikuler. Menurut Muhadjir, FDS dapat membendung pengaruh-pengaruh buruk yang diterima anak saat orang tua sibuk bekerja dan tak sempat mengawasi. Selama satu hari di sekolah, banyak hal yang bisa dipelajari anak-anak untuk menambah wawasan mereka.

Tapi, di luar dugaan, gagasan Menteri Muhadjir mendapat kritik tajam dari berbagai kalangan, dari orang awam hingga cendekiawan. Imam Prasodjo menyebut pernyataan Mendikbud membuat dahi mengkerut; Luthfi Assyaukanie menyebut Mendikbud blunder; Denis Maltoha (filsuf?) menyebut Mendikbud sesat pikir dan kejam (Quereta, 9/8/2016); dan masih banyak lagi kritik-kritik yang jauh lebih tajam bahkan cenderung kasar (di antaranya dalam bentuk meme). Uniknya, tidak sedikit dari para pengritik itu (disadari atau tidak) merupakan “eks anak didik” FDS.

Pada dasarnya FDS sudah diterapkan di banyak sekolah di negeri ini, baik secara tersirat maupun tersurat. Yang tersirat seperti boarding school, pesantren, pendidikan seminari, dan sekolah-sekolah kedinasan yang pada umumnya bahkan menerapkan full day and night school.

Yang tersurat seperti SMA A. Wahid Hasyim (Jombang, Jawa Timur), SMA Internasional Budi Kartini (Surabaya, Jawa Timur), SMA Tunas Luhur Paiton (Probolinggo, Jawa Timur), SMP-SMA Al-Mamoen (Cianjur, Jawa Barat), dan lain-lain.

Mencermati kritik-kritik terhadap FDS, saya teringat Imam Ghazali yang membagi manusia menjadi empat golongan (tipe). Pertama, rajulun yandri wa yadri annahu yadri (orang yang tahu dan tahu dirinya tahu). Kedua, rajulun yadri wa la yadri annahu yadri (orang yang tahu dan tidak tahu dirinya tahu).

Ketiga, rajulun la yadri wa yadri annahu la yadri (orang yang tidak tahu dan tahu bahwa dirinya tidak tahu). Keempat, rajulun la yadri wa la yadri annahu la yadri (orang yang tidak tahu dan tidak tahu bahwa dirinya tidak tahu).

Dengan meminjam kategorisasi Imam Ghazali, saya ingin melihat tipe-tipe kritik yang dilontarkan publik terhadap FDS. Pertama, mereka yang tahu apa dan bagaimana FDS dan tahu plus minusnya jika FDS diterapkan. Mereka gencar mengritik FDS karena dilandasi pengetahuan yang cukup tentang pendidikan. Tapi mungkin karena perbedaan perspektif dalam melihat FDS (antara dirinya dan sang Menteri) sehingga tidak ada titik temu. Perhatikan, misalnya, komentar Imam Prasodjo berikut ini:

“Ketahuilah Pak Menteri bahwa terlalu banyak sekolah yang tak layak sebagai lingkungan belajar, atau bahkan tak layak hanya sebagai tempat sekadar berkumpul. Lihatlah kondisi SD dan SMP di banyak wilayah, apalagi daerah terpencil. Angka statistik di Kemendikbud pasti tersedia yang menunjukkan berapa banyak sekolah yang rusak, tak ada toilet, tak ada halaman bermain, atau bahkan sudah masuk kategori zona berbahaya.”

Jelas ada perspektif yang berbeda antara apa yang dipikirkan Menteri Muhadjir dan yang dipikirkan Imam Prasodjo. Aktivis Nurani Dunia ini melihat kemungkinan penerapan FDS dari sudut pandang negatif, yakni untuk sekolah-sekolah yang dari sudut pandang Menteri Muhadjir pun sebenarnya tidak mungkin akan menjadi tempat penerapan FDS.

Kedua, mereka yang pada dasarnya memahami apa dan bagaimana FDS, namun (mungkin karena alasan-alasan subjektif) mereka tidak tahu bahwa dirinya paham. Termasuk katagori ini adalah mereka yang sudah lama bergerak di dunia pendidikan (guru, dosen) dan sebagian merupakan alumni (produk) dari pesantren dan atau boardong school. Mereka menjadi kritikus terdepan seolah-olah tidak pernah merasakan manfaat dari FDS. Psikolog Yayah Khisbiyah menyebut mereka ini sebagai great pretender. Orang-orang yang sejatinya mengerti tapi penuh kepura-puraan.

Ketiga, mereka yang benar-benar tidak tahu FDS dan tahu dirinya tidak tahu. Mereka ini bisa dari kalangan awam, bisa juga dari kalangan cerdik pandai yang bukan ahli pendidikan. Prinsipnya kritik dulu, mencermati kemudian. Mengritik mungkin karena mengikuti arus, tapi karena sadar dirinya tidak tahu, maka tetap berusaha mencari tahu apa dan bagaimana FDS. Orang-orang seperti ini biasanya mau menerima penjelasan karena sadar akan ketidaktahuan dirinya. Setelah tahu, bisa berubah mendukung, bisa juga tetap mengkritik.

Keempat, mereka yang tidak tahu FDS dan tidak tahu kalau dirinya tidak tahu. Ini kelompok yang paling buruk. Mengkritik seolah-olah tahu, padahal tidak tahu. Bisa dari kalangan awam, bisa juga dari kalangan orang-orang ternama tapi bukan ahli di bidang pendidikan.

Mereka tidak tahu diri atau sok tahu. Atau bisa juga waton suloyo (asal mencela) untuk sekadar mencari popularitas. Termasuk dalam tipe ini adalah kalangan artis yang tiba-tiba jadi pengamat pendidikan dengan kritik-kritiknya yang tajam seperti Deddy Corbuzier, Sophia Latjuba, Rossa, Tyas Mirasih, dan Julia Perez.

“Gagasan program Full Day School belum tepat diterapkan di Indonesia karena memang secara filosofis dan praktis, gagasan tersebut bermasalah,” kata Anamg Hermansyah.

“Dunia pendidikan kita ini jangan dijadikan kelinci percobaan. Ini bukan waktunya untuk menjadi kelinci percobaan, dan siswa-siswa kita juga bukan kelinci percobaan,” kata Fadli Zon.

Jika anggota Komisi X DPR RI dan Wakil Ketua DPR RI ini mau memahami penjelasan Mendikbud, keduanya bisa masuk kritikus tipe ketiga, tapi jika tidak mau tahu, mungkin termasuk tipe keempat. Wallahu’alam!

Yang menarik, di luar kritik-kritik keras yang berkembang di media dan (terutama) media sosial, FDS justru mendapat apresiasi dan dukungan dari para pendidik kenamaan seperti Arif Rachman, Rhenald Kasali, dan Komaruddin Hidayat.

sumber: http://geotimes.co.id/setelah-full-day-school-menteri-muhadjir-dikritik/

Sikap PP Ikatan Pelajar Muhammadiyah Tentang Kebijakan Penyesuaian 5 Hari Sekolah

Pernyataan Pimpinan Pusat Ikatan Pelajar Muhammadiyah
Tentang Kebijakan Penyesuaian 5 Hari Sekolah

Assalamu’alaikum Wr.Wb
Mengawali tahun ajaran baru 2017/2018, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Prof. Dr. Muhadjir Effendy, M.Ap mengeluarkan kebijakan penyesuaian jam belajar siswa selama lima hari di sekolah. Kebijakan ini merupakan wujud dari implementasi Program Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) yang dijalankan mulai tanggal 1 Juli 2017. Menanggapi kebijakan baru ini, Pimpinan Pusat Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) melakukan serangkaian kajian dengan berbagai pertimbangan sebagai berikut:

1. IPM memandang pendidikan sebagai sektor strategis bagi pembangunan peradaban bangsa. Ketika sistem pendidikan yang dijalankan baik, maka baik pula kualitas manusia di dalamnya. Karena strategisnya sektor ini, sistem pendidikan yang dijalankan di Indonesia harus mampu mengembangkan manusianya menjadi insan yang cerdas, berakhlak mulia, kreatif, berbudi luhur, dan memiliki daya saing tinggi.

2. Modal yang penting agar mampu bersaing di ranah global adalah memiliki sumber daya manusia yang berkarakter dan berbudaya. Kita boleh menjulang ke atas langit, tapi juga harus mengakar kuat ke dalam bumi. Oleh karena itu, pendidikan karakter menjadi kerangka utama pengembangan manusia Indonesia yang salah satunya termanifestasikan melalui sistem pendidikan yang terstruktur dan sistematis.

3. Urgensi pelaksanaan pendidikan karakter akhir-akhir ini dirasa penting di tengah menguatnya paham ekstremisme, sektarianisme, terorisme, dan penyebaran ideologi transnasionalis yang berpotensi melunturkan semangat dan nilai-nilai Pancasila di kalangan masyarakat. Menanamkan identitas ke-Indonesiaan sejak dini diharapkan menjadi bekal kemajuan bangsa di masa depan.
4. Agar pendidikan karakter ini bisa berjalan optimal, diperlukan sinergisitas berbagai pihak. Sekolah bekerjasama dengan keluarga, tokoh masyarakat, tokoh agama, pengusaha, hingga lembaga keagamaan sehingga memiliki pandangan dan kesadaran yang sama. Keterlibatan berbagai pihak ini memungkinkan para pelajar untuk belajar secara langsung bersama pihak luar sehingga tercipta proses dialog dan pembelajaran yang mencerahkan. Sekolah dengan demikian menjadi ruang diskursus yang dapat memantik nalar kritis dan apresiatif para siswa.

5. Dalam menyelenggarakan program ini, hak-hak pelajar tidak boleh dikesampingkan. Pelajar memiliki hak untuk dibimbing dan diarahkan sesuai minat, bakat, dan potensinya masing-masing yang belum tentu sama. Hak pelajar ini juga termasuk kesempatan untuk berkreasi dan mengembangkan minat dan bakat tersebut.

Kerangka diskusi yang disebutkan di atas kami gunakan untuk melihat kebijakan Kemendikbud sehingga menghasilkan beberapa poin penting sebagai berikut:
1. IPM mengapresiasi upaya pemerintah mengedepankan aspek pendidikan karakter bagi pelajar di Indonesia. Pada bagian ini, suksesnya pelajar memasuki jenjang pendidikan tidak sekadar diukur dari materi pelajaran yang disampaikan di kelas saja. Memberikan porsi 70% untuk pembentukan karakter dan 30% untuk ilmu pengetahuan memungkinkan pelajar mendapatkan materi yang aplikatif dan berguna dalam kehidupan secara langsung, meski tidak meninggalkan pengetahuan umum.

2. Jika dihitung berdasarkan proporsi yang disebut di atas, penyesuaian waktu sekolah menjadi 5 hari tidak serta merta dilihat sebagai penambahan waktu dan pemadatan belajar siswa. Delapan jam sehari tidak melulu dihabiskan di dalam kelas mendengarkan ceramah guru. Jika porsi pengetahuan umumnya 30 persen, maka dari delapan jam itu hanya 2,4 jam saja yang difokuskan untuk mengkaji ilmu pengetahuan secara khusus. Selebihnya, waktunya dapat digunakan untuk mengembangkan ilmu pengetahuan yang didapat dari praktik yang dibimbing oleh guru. Ilmu dari praktik di laboratorium atau di lingkungan secara langsung lebih memudahkan siswa mencerap materi dan merasakan kegunaan ia belajar materi.

baca: Sekolah 5 Hari Dorong Siswa Ikut Diniyah, Mendikbud Muhadjir Effendy

3. Di luar porsi 30 persen untuk pengetahuan umum, pelajar dimungkinkan untuk mengembangkan minat dan bakatnya di luar kelas. Kegiatan ekstrakulikuler seperti olahraga, kesenian, PMR, jurnalistik, kegiatan keagamaan, organisasi siswa, dan komunitas kreatif lainnya memungkinkan untuk dibentuk di sekolah. Pemberian porsi yang besar pada kegiatan pengembangan ini dan diberikannya hak penilaian atas kegiatan yang dilakukan menjawab harapan masyarakat umum yang selama ini menganggap bahwa penilaian siswa berpusat pada pengetahuan kognitif, beban belajar (ilmu pengetahuan) yang terlalu berat, dan kurang bermuatan karakter.

4. Proses belajar di sekolah yang menjadi lima hari jika dilihat konsepnya lebih dalam tidak serta merta mengalienasi pelajar dari lingkungan sekitar. Program Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) yang disusun oleh Kemendikbud melibatkan keluarga dan masyarakat sebagai pembimbing secara kolaboratif bersama pihak sekolah. Melibatkan keluarga dan masyarakat dalam proses pendidikan di sekolah mampu meningkatkan kesadaran bahwa pendidikan tidak sekadar tanggung jawab guru dan sekolah, melainkan tanggung jawab bersama. Bentuknya, proses pendidikan bisa dilakukan di tengah-tengah kampung, masjid, gereja, taman, dan tempat-tempat umum lainnya.

5. Waktu libur Sabtu-Ahad secara penuh yang didapatkan pelajar menjadi waktu yang panjang untuk berkreativitas secara lebih luas. Waktu libur yang panjang ini dapat menjadi waktu senggang yang panjang untuk mengembalikan semangat beraktivitas di hari Senin. Mengembalikan mood agar lebih segar setelah beraktivitas bermanfaat untuk menjaga proses belajar mengajar berjalan efektif.

baca: Full Day School Bisa menangkal Radikalisme di Sekolah, Maarif Institute

Berdasarkan hasil diskusi yang panjang tersebut, Pimpinan Pusat Ikatan Pelajar Muhammadiyah menyatakan sikap sebagai berikut:
1. Mengapresiasi kebijakan Kemendikbud yang fokus pada pengembangan pendidikan karakter serta mendukung penyesuaian waktu belajar lima hari agar proses dan hasilnya efektif mendukung jargon Revolusi Mental yang digagas Presiden Jokowi di mana revolusi membutuhkan perubahan sosial-kebudayaan yang berlangsung cepat dan menyangkut dasar serta pokok kehidupan masyarakat.
2. Karena ini berkaitan dengan kebijakan nasional, penerapannya membutuhkan penyesuaian di berbagai daerah. Untuk itu, kami mendorong Kemendikbud untuk melakukan sosialisasi lebih luas mengenai hal ini agar semua pihak mengerti apa yang direncanakan. Agar tidak miskomunikasi dan terjebak pada perdebatan istilah-istilah tertentu yang tidak masuk pada substansinya. Sosialisasi ini juga penting agar pada tataran aplikasi, sekolah tidak sekadar menambah jam pelajaran sehingga malah justru memberatkan para siswa. Penyesuaian ini dilakukan tentu saja diterapkan dengan mempertimbangkan bobot capaian yang telah dimaksud sesuai dengan rencana program.
3. Dalam penerapannya di awal ajaran baru nanti, IPM mengharap pada sekolah sepenuhnya memperhatikan hak-hak pelajar untuk berkembang sesuai dengan minat, bakat, dan potensi para peserta didik. Mari jadikan sekolah sebagai rumah kedua yang menyenangkan bagi pelajar untuk berkarya nyata bagi bangsa dan negara.

Demikian pernyataan sikap Pimpinan Pusat Ikatan Pelajar Muhammadiyah ini dibuat. Semoga kita semua bisa bersinergi dalam upaya mewujudkan cita-cita besar untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Semoga Allah SWT. selalu meridhoi setiap langkah perjuangan kita.
Amiin.

Nuun Walqolami Wama Yasthurun
Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Jakarta, 12 Juni 2017/ 17 Ramadhan 1438 H
Velandani Prakoso
Ketua Umum PP IPM
(0857-4700-0596)

Inilah, Kabar Peniadaan Pendidikan Agama di Sekolah Tidak Benar

Mendikbud Muhajir Sekolah 5 hari fullday
Mendikbud Muhajir Sekolah 5 hari fullday
Mendikbud foto:kemdikbud.go.id

Jakarta, Kemendikbud — Beredarnya pemberitaan yang menyebutkan bahwa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) akan meniadakan Pendidikan Agama di sekolah adalah tidak benar. Upaya untuk meniadakan pendidikan Agama itu tidak ada di dalam agenda reformasi sekolah sesuai arahan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) ungkap Kepala Biro Komunikasi dan Layanan Masyarakat (Ka BKLM) Ari Santoso.

baca: Full Day School Bisa menangkal Radikalisme di Sekolah, Maarif Institute

“Justru pendidikan keagamaan yang selama ini dirasa kurang dalam jam pelajaran pendidikan agama akan semakin diperkuat melalui kegiatan ekstrakurikuler,” disampaikan Ari Santoso usai mengikuti Rapat Koordinasi dan Sinkronisasi Kebijakan dengan Unit Pelaksana Teknis di kantor Kemendikbud, Jakarta, Selasa sore (13/6).

Dijelasakannya bahwa pertanyaan wartawan kepada Mendikbud Muhadjir Effendy usai Rapat Kerja dengan Komisi X DPR RI mengenai apakah dengan penerapan lima hari sekolah akan meniadakan madrasah atau mengaji. Pertanyaan tersebut dijawab Mendikbud dengan tegas bahwa sesuai dengan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Permendikbud) Nomor 23 Tahun 2017, sekolah dapat bekerja sama dengan lembaga pendidikan yang menyelenggarakan pendidikan karakter yang sesuai dengan nilai karakter utama religiusitas atau keagamaan.

baca: Sekolah 5 Hari Dorong Siswa Ikut Diniyah, Mendikbud Muhadjir Effendy

“Judul pemberitaan tersebut tidak tepat. Ada konteks yang terlepas dari pernyataan Mendikbud usai Raker dengan Komisi X tadi siang,” jelas Ari.

Ari menambahkan, bahwa Mendikbud mencontohkan penerapan penguatan pendidikan karakter yang dilakukan beberapa kabupaten seperti Kabupaten Siak yang memberlakukan pola sekolah sampai pukul 12 lalu dilanjutkan dengan belajar agama bersama para uztad. Siswa diberi makan siang yang dananya diambil dari APBD. Kemudian Mendikbud menyampaikan pola yang diterapkan Kabupaten Pasuruan. Seusai sekolah, siswa belajar agama di madrasah diniyah.

Pernyataan Mendikbud telah sesuai dengan pasal 5 ayat 6 dan ayat 7 Permendikbud tentang Hari Sekolah yang mendorong penguatan karakter religius melalui kegiatan ekstrakurikuler.

“Termasuk di dalamnya kegiatan di madrasah diniyah, pesantren kilat, ceramah keagamaan, retreat, katekisasi, baca tulis Al Quran dan kitab suci lainnya,” pungkas Ari. (*)

Jakarta, 13 Juni 2017
Biro Komunikasi dan Layanan Masyarakat Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

Full Day School Bisa menangkal Radikalisme di Sekolah, Maarif Institute

Mendikbud Muhajir Sekolah 5 hari fds
Mendikbud Muhajir Sekolah 5 hari fds
Mendikbud Muhajir Sekolah 5 hari (foto kompas)

Wacana Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI untuk menetapkan program full day school (sekolah sehari penuh) sebagai bagian dari kebijakan Program Pendidikan Karakter (PPK) mendapatkan dukungan banyak pihak. Maarif Institute menyambut baik kebijakan Menteri Muhadjir ini.

“Pada dasarnya Maarif Institute mendorong kebijakan ini, sekolah memiliki peran lebih aktif dan leluasa dalam upaya melawan radikalisme yang sering kali dilakukan di luar jam sekolah,” kata Direktur Eksekutif Maarif Institute Muhammad Abdullah Darraz di Jakarta, Senin (12/6).

Darraz menjelaskan bahwa melalui adanya kebijakan ini, berarti sekolah bisa meminimalisir peran kelompok radikal. Menurut dia, benteng sekolah bisa diperkuat untuk menghalau kelompok radikal dengan memperkaya kehidupan sekolah dengan kegiatan-kegiatan siswa yang positif dan beragam.

Baca juga: Sekolah 5 Hari Dorong Siswa Ikut Diniyah, Mendikbud Muhadjir Effendy

“Program full day school bukanlah hal yang baru di Indonesia. Dalam tradisi pendidikan di Indonesia, program ini sudah banyak dilakukan. Kita berharap bisa meminimalisir peran kelompok radikal,” tandas dia.

Kekhawatiran sebagian pihak mengenai implementasi program full day school, kata Darraz harus disikapi dengan pembuktian implementasi full day school yang tetap memenuhi hak-hak dan kreativitas anak, termasuk pelibatan lingkungan sekitar sekolah dalam proses pembelajaran.

“Adapun asumsi-asumsi penolakan yang dilontarkan sebagian pihak terhadap kebijakan ini hendaknya dapat didialogkan secara konstruktif,” imbuh dia.

Lebih lanjut, Darraz mengatakan sudah sepatutnya penolakan itu tidak dilakukan secara apatis. Dia menilai Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan telah melakukan kajian mendasar terhadap lahirnya kebijakan ini.

“Oleh karena itu berbagai perbedaan dalam menanggapi kebijakan ini perlu didialogkan secara lebih terbuka,” pungkas dia. Sumber: Suara Pembaruan

Sekolah 5 Hari Dorong Siswa Ikut Diniyah, Mendikbud Muhadjir Effendy

Mendikbud Muhajir Sekolah 5 hari
Mendikbud Muhajir Sekolah 5 hari
Mendikbud Muhajir Sekolah 5 hari (foto Detik)

Jakarta, Penerapan kebijakan sekolah lima hari dalam sepekan tidak bakal meminggirkan keberadaan pendidikan agama (diniyah) yang ada di luar sekolah. Penerapan kebijakan tersebut justru mendorong siswa untuk ikut madrasah diniyah.

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy mengatakan sekolah agama itu dapat diintegrasikan dengan pembentukan karakter.

“Madrasah diniyah justru diuntungkan karena akan tumbuh dijadikan sebagai salah satu sumber belajar yang dapat bersinergi dengan sekolah dalam menguatkan nilai karakter religius,” kata dia melalui siaran pers yang dikutip dari Republika, Ahad (11/6).

Mendikbud sudah menginstruksikan kepada guru untuk menghindari kegiatan ceramah dalam kelas dan mengganti dengan aktivitas positif. “Di antaranya mengikuti madrasah diniyah, bagi siswa muslim,” kata dia.

baca: Full Day School Bisa menangkal Radikalisme di Sekolah, Maarif Institute

Mendikbud menyebutkan setiap guru wajib mengetahui dan memastikan di mana dan bagaimana siswanya mengikuti pelajaran pendidikan agama sebagai bagian dari penguatan nilai relijiusitas.

“Guru juga wajib memantau siswanya agar terhindar dari pengajaran sesat atau mengarah pada intoleransi,” kata Muhadjir.

Mendikbud meminta orang tua dan masyarakat tidak membayangkan kebijakan ini membuat siswa berada di kelas sepanjang hari. Kebijakan ini ingin mendorong siswa melakukan aktivitas yang menumbuhkan budi pekerti, serta keterampilan abad 21.

Aktivitas tersebut tidak hanya dilakukan di lingkungan sekolah tetapi juga di tempat publik. Dia menyebutkan tempat publik itu seperti surau, masjid, gereja, pura, lapangan sepakbola, museum, taman budaya, dan sanggar seni.

Artinya, ia melanjutkan, perbandingan porsi proses belajar, yakni 70 persen pembentukan karakter dan 30 persen pengetahuan.

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan berencana menerapkan lima hari sekolah dalam sepekan akan mulai tahun ajaran baru 2017/2018 atau Juli 2017. Pelajar akan bersekolah lima kali dalam sepekan dan delapan jam setiap hari.

Rencana ini mendapat penolakan dari PBNU yang menilai keberadaan anak di sekolah selama delapan jam berarti mengaktifkan full day school. Padahal, masyarakat Muslim menolak full day school karena membuat anak tidak bisa mengaji pada sore hari. (bs)

Demi Membela Alqur’an Dari Penista Bapak Ini Naik Sepeda Motor dari Malang Ke Jakarta

abdul-manan-naik-motor-grand-96

cahayaumat.net, Demo dan seruhan Jihad Umat Islam di Jakarta jum’at, tanggal 04 November 2016, megugah semangat bapak Abdul Manan walau umur sudah senja. Abdul Manan yang kini berusia 70 tahun itu rela menaiki sepeda motor honda grand tahun 1996 yang sudah lama menemaninya kemana dia pergi untuk berdakwah.

Bapak Abdul Manan berangkat dari kediamannya di Jalan Sidomakmur 99 Desa Mulyoagung, Kecamatan Dau, Kabupaten Malang, hari Selasa (1/11) sore, Pak Manan sampai Bekasi pada, Rabu (2/11) malam. Saat dihubungi pwmu.co, dia sedang bersiap melaksanakan shalat Isya di Masjid At-Taqwa. Kabar terakhir sebelum berita ini di muat pwmu.co Kamis pagi, dia sudah sampai Jakarta semalam sekitar pukul 22.00. 

baca juga: Jangan Pecah Bela Umat Islam –  Dahniel Azhar Di Hadapan Pak Presiden Jokowi

Pria asli Batu Malang ini memang terkenal selalu bersemangat dalam menggerakan dakwah Islam sampai ke pelosok-pelosok desa. Dengan mobilitas dakwah yang tinggi, di temani Vespa atau Honda ‘Ulung’ serta sepatu boot kesayangannya, Pak Manan tiap bulan berkeliling ke Cabang-Cabang Muhammadiyah se-Kabupaten Malang. Manan juga menginisiasi berdirinya beberapa masjid di pelosok Desa di Kabupaten Malang.(bs)

sumber: http://www.pwmu.co/17476/2016/11/bersepeda-motor-malang-jakarta-pria-70-tahun-ini-siap-ikuti-aksi-4-november.html

 

 

 

Jangan Pecah Bela Umat Islam –  Dahniel Azhar Di Hadapan Pak Presiden Jokowi

cahayaumat.net –  Pernyataan dan pertanyaan Dahniel Azhar Ketua Umum Pemuda Muhammadiyah, dalam pertemuan dengan Presiden Jokowi (1/11/2016). Yang di posting di akun pribadi facebook nya, Dahniel menyatakan 2 poin Penting untuk umat di hadapan Pak Presiden Joko Widodo. 
Saya Ikut Serta dengan beberapa tokoh agama  Muhammadiyah, NU dan MUI yang diundang oleh Presiden Joko Widodo, pada Hari ini Selasa, 1 November 2016 Pukul 11.00 WIB. 

Pak Presiden yang didampingi Menkopolhukam, Menteri Agama, dan Mensesneg. Langsung berdialog dengan 10 orang perwakilan dari Muhamamdiyah, 10 orang dari MUI dan 10 0rang dari NU.

Suasana pertemuan menurut saya layaknya pertemuan resmi, Pak Presiden menyampaikan Pertama apa gerangan tujuan beliau mengundang para tokoh tersebut, dilanjutkan beberapa tokoh menyampaikan pandangannya. Dalam Catatan saya setelah Pak Jokowi menyampaikan pendahuluan, dilanjutkan oleh Ketum MUI, kemudian Ketum NU, dan Ketum Muhammadiyah. Dan Salah Seorang Ketua PP Muhammadiyah, Pak Goodzubir menyampaikan pesan beliau. Dilanjutkan Pak Presiden memberikan respon. 

Singkatnya, semua tokoh agama menyampaikan Bahwa proses Hukum harus dilakukan dengan adil dan berkeadilan, Bahkan Pak Haedar menyampaikan, sengketa Publik Bisa memperoleh Titik moderat bila Jalur Hukum dilakukan dengan adil, dan kami fokus pada bagian itu, Namun. Pak Haedar menyampaikan pesan, penting juga agaknya Pak presiden menularkan keteladanan kepada para Kepala daerah seluruh Indonesia agar tidak Asal ucap, dan tidak ceroboh dalam menggunakan kata-kata”

baca juga: Demi Membela Alqur’an Dari Penista Bapak Ini Naik Sepeda Motor

Menjawab pernyataan para tokoh tersebut Pak Presiden menyatakan; 

Sebagai Presiden saya tidak Akan melakukan intervensi apapun terhadap proses Hukum, klo tidak berjalan dengan baik baru saya Turun tangan. Saya tidak melindungi Ahok, saya bertemu dengan Ahok dalam kaitan Sebagai Presiden dan gubernur saja.

Setelah Pak Joko Widodo menjawab saya, angkatan Tangan mohon izin Untuk menyampaikan sesuatu.

Saya perkenalkan Diri, “saya Dahnil Anzar Simanjuntak, Ketua Umum Pimpinan Pusat Pemuda Muhammadiyah, Pak Presiden izinkan saya menyampaikan dua Hal. Pertama adalah pertanyaan, kedua adalah Saran. Pertama. Mengapa Pagi ini yang tokoh-tokoh Agama yang diundang pada Pagi Hari ini hanya dari Muhammadiyah, MUI dan NU? Karena Ada kesan diluar sana Pak Presiden sedang memecah belah kami umat Islam, Karena diluar sana pasti berkembang perspektif Muhammadiyah, MUI dan NU sudah dikangkangi oleh Presiden Mereka pasti tidak bisa bersikap obyektif lagi, Padahal Seperti Pak Presiden ketahui sikap Muhammadiyah, MUI dan NU sudah jelas, mengapa saudara-saudara kami yang  ingin memobilisir demo itu tidak diundang juga, saya Kira alangkah baiknya dan arifnya jika Mereka diundang dan diajak Untuk berdialog, tidak Cuma kami.”. 
“Kedua, Pak Presiden, Publik kecewa, agaknya penting Pak Presiden menyatakan dengan tegas dan terang Bahwa kita Akan tindak secara Hukum bila Ahok betul menistakan keberagaman dan Islam. Pidato Seperti itu penting Pak Presiden sampaikan Seperti seterang dan tegas bapak menyampaikan Akan lawan Pungli se rupiah pun, agar UMAT tenang dan yakin, Mereka butuh sikap terang dari bapak. Demikian Pak Presiden, mohon maaf dengan sangat bila tidak perkenan, Maklum saya yang paling Muda disini”.
Setelah pernyataan saya tersebut Pak Presiden menyampaikan;
” Penting Hari ini kita membangun kultur Ekonomi, Politik, Sosial dan budaya yang kuat Untuk menjawab Masalah kesenjangan Antar wilayah, nah Salah satunya ya melalui revolusi mental itu. Hari ini kita terlalu banyak memproduksi Undangan-undang dan mohon maaf Orientasinya proyek. Dikit-dikit hukum, dikit-dikit Hukum Padahal nilai Etika diatas hukum maka Revolusi mental penting”

baca juga : Mengocehlah…. Agar Jakarta Tak Seperti Granada

Demikian ya, Terimakasih.
Akhirnya pertemuan ditutup Pak Presiden Joko Widodo dengan diakhiri sesi foto, dan terus terang saya Senang bisa menyampaikan pesan dan kritik langsung kepada Pak Joko Widodo, walau tidak dijawab dengan terang. Semoga Allah SWT selalu Meridhai dan melindungi Bangsa ini.
Jakarta, Selasa, 1 Nov 2016, Pukul 14.30 WIB
Salam

Dahnil Anzar Simanjuntak

Ketua Umum Pimpinan Pusat Pemuda Muhammadiyah

Aher Minta Mahasiswa Al-Azhar Bentengi Akidah Jabar

Foto: Republika/Edi Yusuf  

 

 

 

 

 

 

 

 

 

cahayaumat.net, KAIRO — Gubernur Jawa Barat (Jabar) Ahmad Heryawan meminta mahasiswa Al-Azhar, Kairo, Mesir, terutama asal Jabar, segera berkhidmah bentengi akidah umat.

Pernyataan Aher, panggilan akrab Ahmad Heryawan, itu disampaikan di depan mahasiswa Al-Azhar dalam diskusi kebangsaan dan tarhibRamadhan di Aula Keluarga Paguyuban Masyarakat Jawa Barat (KPMJB) di Mesir, Jumat (3/6) malam waktu Mesir (CLT). Selain Aher, narasumber lainnya dalam dialog itu, yakni Duta Besar RI untuk Mesir Helmi Fauzi.

Hadir dalam kesempatan itu Kepala Dinas Pendidikan Jabar Asep Hilman, Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Jabar Ferry Sofwan, Asisten Bidang Kesra Setda Jabar Ahmad Hadadi, dan sejumlah komisaris Bank BJB.

Aher menjelaskan, banyak fenomena aliran menyimpang di Tanah Air. Kondisi itu dipicu oleh kekosongan figur yang bisa menjelaskan agama secara utuh, khususnya di beberapa pedesaan.

Khusus Islam, ungkap dia, sangat kurang ulama, ajengan, ustaz, dan kiai di perkampungan yang memberikan pemahaman utuh sesuai mainstream yang diturunkan Nabi Muhammad SAW dan para sahabatnya.

Aher menyebut, kekosongan peran itulah yang membuat sejumlah pembawa aliran sesat leluasa menularkan pemahamannya ke masyarakat. Di tengah kondisi itu, papar dia, masyarakat yang menjadi calon korbannya tengah direlung persoalam ekonomi dan pendidikan. “Kedua faktor ini penopang mudahnya masyarakat ditulari pemahaman sesat.”

Menurut Aher, aliran sesat yang selama ini mengancam masyarakat, yakni ajaran yang mainstream-nya bertolak belakang dengan ajaran Nabi. Di antaranya, penolakan terha dap pemerintahan dan penyalahgunaan hukum pernikahan.

Aher sengaja mendatangi para mahasiswa asal Jabar di Mesir untuk meminta berpartisipasi menjaga umat di kampung halaman.

Untuk itu, ia mengimbau sebisa mungkin para mahasiswa Al-Azhar asal Jabar menuntaskan waktu kuliah S1 dalam kurun waktu empat atau lima tahun dan segera pulang kampung membangun peradaban.

Aher menyatakan siap mem bantu mahasiswa Jabar yang berkuliah di Al-Azhar. “Kami butuh peran mereka untuk menjaga dan mewujudkan stabilitas di Tanah Air,” ujarnya.

Gubernur KPMJB di Mesir Apan Sanapraja menyambut baik motivasi Aher terkait akselerasi misi pendidikan. Ia mengaku akan mengingatkan teman-temannya untuk segera berkontribusi kepada Provinsi Jabar.

Pihaknya sepakat untuk memberi kontribusi terhadap kemajuan Provinsi Jabar. “Jabar harus menjadi provinsi termaju dibandingkan provinsi lain,” ujarnya.

Apan menyebutkan, di Mesir terdapat sekitar 500 warga Jabar yang kuliah di Al-Azhar. Sandi F dari Kairo ed: Nashih Nashrullah

www.republika.co.id

Warga Pelita Sambut Ramadhan dengan Pawai Obor

cahayaumat.net, DEPOK — Sekitar 500 warga Kavling Pelita Air Service, Pancoran Mas, Kota Depok, menyambut bulan suci Ramadhan dengan pawai obor. Warga beramai-ramai mendatangi Masjid Nururrahman yang terletak di tengah kompleks untuk bersama-sama memeriahkan Ramadhan. Pria-wanita, tua maupun muda, hingga anak-anak ikut serta dalam kegiatan Tarhib Ramadhan yang diselenggarakan pengurus Badan Kemakmuran Masjid (BKM) Nururrahman.

Ketua BKM Nururrahman, Syahruddin El-Fikri mengatakan, kegiatan Tarhib Ramadhan ini diselenggarakan dengan tujuan memeriahkan bulan suci Ramadhan. “Kegiatan ini diharapkan dapat memotivasi setiap umat Islam, khususnya warga di RW 15 Kavling Pelita untuk bersama-sama meningkatkan ibadah pada bulan Ramadhan,” ujarnya.

Ia berharap, kegiatan tersebut dapat memotivasi jamaah dalam mengisi Ramadhan dengan berbagai amaliyah yang positif. “Kegiatan ini juga menjadi ajang silaturahim antarwarga untuk memperkuat ukhuwah Islamiyah,” tambahnya.

Kegiatan Tarhib Ramadhan ini diikuti oleh lima kafilah dari setiap RT, yakni kafilah dari RT 1-5. Warga memeriahkan momentum Tarhib Ramadhan ini dengan berbagai penampilan. Ada yang membuat replika Masjid Nururrahman, membuat onta dari kertas, kostum atau busana muslim, dan tentu saja masing-masing-masing kafilah membawa obor.

Ketua Panitia Tarhib Ramadhan Ustadz Khoirudin menjelaskan, pihaknya menyediakan hadiah untuk peserta terbaik. Mulai dari kreasi peserta dalam membuat atribut pawai, kostum terbaik, kekompakan kafilah, jumlah peserta terbanyak, hingga yel-yel terbaik. “Pemenang akan diumumkan pada peringatan malam Nuzulul Quran,” ujarnya.

Dalam kesempatan ini, pengurus BKM Nururrahman juga menyampaikan sejumlah kegiatan yang akan dilaksanakan di Masjid Nururrahman dalam mengisi Ramadhan. Di antaranya pesantren kilat ramadhan, Kultum Bakda tarawih, kajian kitab Riyadhus Shalihin, Kultum setiap Bakda shubuh, serta santunan untuk anak yatim.

Ketua RT 3, Jauhari menambahkan warganya sangat antusias menyambut datangnya Ramadhan. “Bulan suci Ramadhan selalu memberi inspirasi bagi warga kami untuk meningkatkan ibadah dan keimanan.” ungkap Jauhari.

 

 

www.republika.co.id