Mendikbud Muhadjir Effendy, Jabat Presiden Organisasi Menteri Pendidikan Asia Tenggara

Jakarta, Indonesia terpilih untuk memimpin organisasi menteri-menteri pendidikan se-Asia Tenggara atau South East Asian Ministers of Education Organization (SEAMEO). Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) RI, Muhadjir Effendy, menjabat sebagai Presiden SEAMEO untuk kurun waktu dua tahun, yaitu 2017-2019.

Serah terima jabatan Presiden SEAMEO berlangsung dalam Konferensi Menteri Pendidikan se-Asia Tenggara ke-49 (49th SEAMEO Council Conference) di Jakarta, (25/7/2017). Menteri Pendidikan Thailand  Teerakiat Jareonsettasin menyerahkan jabatan Presiden SEAMEO kepada Mendikbud Muhadjir Effendy, disaksikan para delegasi SEAMEO dari 11 negara Asia Tenggara.

Dalam sambutan singkatnya usai serah terima jabatan, Mendikbud mengatakan komitmennya untuk meneruskan kerja sama yang baik antarnegara anggota SEAMEO, baik di bidang pendidikan, sains, maupun kebudayaan. “Indonesia dan SEAMEO akan terus berupaya berkontribusi secara signifikan untuk kemajuan pendidikan, sains, dan kebudayaan di kawasan Asia Tenggara,” katanya.

Sebelumnya dalam sambutan selamat datang atau welcome speech, Mendikbud menyampaikan bahwa Pemerintah Indonesia berkomitmen untuk terus memperluas akses pendidikan bagi warga negaranya, mulai dari jenjang pendidikan anak usia dini (PAUD), hingga pembelajaran sepanjang hayat atau life long learning. Karena itulah Indonesia aktif menjalin kerja sama dengan negara lain dan bergabung dengan organisasi internasional, baik tingkat regional maupun global, antara lain dengan SEAMEO. “Saya yakin SEAMEO bisa berkontribusi secara signifikan dalam meningkatkan kualitas hidup dan menjamin masa depan yang cerah untuk negara anggotanya secara regional,” ujarnya.

Menteri Pendidikan Thailand, Teerakiat Jareonsettasin mengatakan, selama dua tahun menjadi Presiden SEAMEO (2015-2017), ia sangat memperhatikan keberagaman yang dimiliki negara-negara Asia Tenggara dalam setiap kunjungannya. Menurutnya, negara-negara ASEAN memiliki keunikannya masing-masing. Meskipun berbeda-beda, tuturnya, semua negara anggota bisa menghargai keberagaman itu. “SEAMEO is providing an  example of unity in diversity,” katanya.

Pertemuan menteri-menteri pendidikan Asia Tenggara akan berlangsung selama tiga hari di Jakarta, yaitu pada 25 s.d. 27 Juli 2017. Hari pertama akan diisi dengan sidang pleno dengan seluruh delegasi negara anggota SEAMEO, bilateral meeting antara Indonesia dengan Malaysia dan Indonesia dengan Timor Leste, hingga gala dinner yang dimeriahkan dengan pertunjukan seni-budaya. Pada hari kedua para delegasi akan mengikuti agenda “school and cultural visit” dengan mengunjungi SMKN 27 Jakarta dan Museum Nasional Indonesia. Di hari ketiga mereka akan bersiap-siap kembali ke negara masing-masing. (Desliana Maulipaksi)
Sumber :

Mengapa Mereka Mengkritik Keras Full Day School

Pendidikan karakter yang memadai kepada anak didik di sekolah-sekolah, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy melontarkan gagasan kemungkinan penerapan sistem belajar-mengajar dengan sekolah sehari penuh (Full Day School).

Kata Menteri Muhadjir, FDS ini tidak berarti peserta didik belajar seharian penuh di sekolah, tetapi memastikan bahwa peserta didik dapat mengikuti kegiatan-kegiatan penanaman pendidikan karakter, seperti mengikuti kegiatan ekstrakurikuler. Menurut Muhadjir, FDS dapat membendung pengaruh-pengaruh buruk yang diterima anak saat orang tua sibuk bekerja dan tak sempat mengawasi. Selama satu hari di sekolah, banyak hal yang bisa dipelajari anak-anak untuk menambah wawasan mereka.

Tapi, di luar dugaan, gagasan Menteri Muhadjir mendapat kritik tajam dari berbagai kalangan, dari orang awam hingga cendekiawan. Imam Prasodjo menyebut pernyataan Mendikbud membuat dahi mengkerut; Luthfi Assyaukanie menyebut Mendikbud blunder; Denis Maltoha (filsuf?) menyebut Mendikbud sesat pikir dan kejam (Quereta, 9/8/2016); dan masih banyak lagi kritik-kritik yang jauh lebih tajam bahkan cenderung kasar (di antaranya dalam bentuk meme). Uniknya, tidak sedikit dari para pengritik itu (disadari atau tidak) merupakan “eks anak didik” FDS.

Pada dasarnya FDS sudah diterapkan di banyak sekolah di negeri ini, baik secara tersirat maupun tersurat. Yang tersirat seperti boarding school, pesantren, pendidikan seminari, dan sekolah-sekolah kedinasan yang pada umumnya bahkan menerapkan full day and night school.

Yang tersurat seperti SMA A. Wahid Hasyim (Jombang, Jawa Timur), SMA Internasional Budi Kartini (Surabaya, Jawa Timur), SMA Tunas Luhur Paiton (Probolinggo, Jawa Timur), SMP-SMA Al-Mamoen (Cianjur, Jawa Barat), dan lain-lain.

Mencermati kritik-kritik terhadap FDS, saya teringat Imam Ghazali yang membagi manusia menjadi empat golongan (tipe). Pertama, rajulun yandri wa yadri annahu yadri (orang yang tahu dan tahu dirinya tahu). Kedua, rajulun yadri wa la yadri annahu yadri (orang yang tahu dan tidak tahu dirinya tahu).

Ketiga, rajulun la yadri wa yadri annahu la yadri (orang yang tidak tahu dan tahu bahwa dirinya tidak tahu). Keempat, rajulun la yadri wa la yadri annahu la yadri (orang yang tidak tahu dan tidak tahu bahwa dirinya tidak tahu).

Dengan meminjam kategorisasi Imam Ghazali, saya ingin melihat tipe-tipe kritik yang dilontarkan publik terhadap FDS. Pertama, mereka yang tahu apa dan bagaimana FDS dan tahu plus minusnya jika FDS diterapkan. Mereka gencar mengritik FDS karena dilandasi pengetahuan yang cukup tentang pendidikan. Tapi mungkin karena perbedaan perspektif dalam melihat FDS (antara dirinya dan sang Menteri) sehingga tidak ada titik temu. Perhatikan, misalnya, komentar Imam Prasodjo berikut ini:

“Ketahuilah Pak Menteri bahwa terlalu banyak sekolah yang tak layak sebagai lingkungan belajar, atau bahkan tak layak hanya sebagai tempat sekadar berkumpul. Lihatlah kondisi SD dan SMP di banyak wilayah, apalagi daerah terpencil. Angka statistik di Kemendikbud pasti tersedia yang menunjukkan berapa banyak sekolah yang rusak, tak ada toilet, tak ada halaman bermain, atau bahkan sudah masuk kategori zona berbahaya.”

Jelas ada perspektif yang berbeda antara apa yang dipikirkan Menteri Muhadjir dan yang dipikirkan Imam Prasodjo. Aktivis Nurani Dunia ini melihat kemungkinan penerapan FDS dari sudut pandang negatif, yakni untuk sekolah-sekolah yang dari sudut pandang Menteri Muhadjir pun sebenarnya tidak mungkin akan menjadi tempat penerapan FDS.

Kedua, mereka yang pada dasarnya memahami apa dan bagaimana FDS, namun (mungkin karena alasan-alasan subjektif) mereka tidak tahu bahwa dirinya paham. Termasuk katagori ini adalah mereka yang sudah lama bergerak di dunia pendidikan (guru, dosen) dan sebagian merupakan alumni (produk) dari pesantren dan atau boardong school. Mereka menjadi kritikus terdepan seolah-olah tidak pernah merasakan manfaat dari FDS. Psikolog Yayah Khisbiyah menyebut mereka ini sebagai great pretender. Orang-orang yang sejatinya mengerti tapi penuh kepura-puraan.

Ketiga, mereka yang benar-benar tidak tahu FDS dan tahu dirinya tidak tahu. Mereka ini bisa dari kalangan awam, bisa juga dari kalangan cerdik pandai yang bukan ahli pendidikan. Prinsipnya kritik dulu, mencermati kemudian. Mengritik mungkin karena mengikuti arus, tapi karena sadar dirinya tidak tahu, maka tetap berusaha mencari tahu apa dan bagaimana FDS. Orang-orang seperti ini biasanya mau menerima penjelasan karena sadar akan ketidaktahuan dirinya. Setelah tahu, bisa berubah mendukung, bisa juga tetap mengkritik.

Keempat, mereka yang tidak tahu FDS dan tidak tahu kalau dirinya tidak tahu. Ini kelompok yang paling buruk. Mengkritik seolah-olah tahu, padahal tidak tahu. Bisa dari kalangan awam, bisa juga dari kalangan orang-orang ternama tapi bukan ahli di bidang pendidikan.

Mereka tidak tahu diri atau sok tahu. Atau bisa juga waton suloyo (asal mencela) untuk sekadar mencari popularitas. Termasuk dalam tipe ini adalah kalangan artis yang tiba-tiba jadi pengamat pendidikan dengan kritik-kritiknya yang tajam seperti Deddy Corbuzier, Sophia Latjuba, Rossa, Tyas Mirasih, dan Julia Perez.

“Gagasan program Full Day School belum tepat diterapkan di Indonesia karena memang secara filosofis dan praktis, gagasan tersebut bermasalah,” kata Anamg Hermansyah.

“Dunia pendidikan kita ini jangan dijadikan kelinci percobaan. Ini bukan waktunya untuk menjadi kelinci percobaan, dan siswa-siswa kita juga bukan kelinci percobaan,” kata Fadli Zon.

Jika anggota Komisi X DPR RI dan Wakil Ketua DPR RI ini mau memahami penjelasan Mendikbud, keduanya bisa masuk kritikus tipe ketiga, tapi jika tidak mau tahu, mungkin termasuk tipe keempat. Wallahu’alam!

Yang menarik, di luar kritik-kritik keras yang berkembang di media dan (terutama) media sosial, FDS justru mendapat apresiasi dan dukungan dari para pendidik kenamaan seperti Arif Rachman, Rhenald Kasali, dan Komaruddin Hidayat.

sumber: http://geotimes.co.id/setelah-full-day-school-menteri-muhadjir-dikritik/

Sikap PP Ikatan Pelajar Muhammadiyah Tentang Kebijakan Penyesuaian 5 Hari Sekolah

Pernyataan Pimpinan Pusat Ikatan Pelajar Muhammadiyah
Tentang Kebijakan Penyesuaian 5 Hari Sekolah

Assalamu’alaikum Wr.Wb
Mengawali tahun ajaran baru 2017/2018, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Prof. Dr. Muhadjir Effendy, M.Ap mengeluarkan kebijakan penyesuaian jam belajar siswa selama lima hari di sekolah. Kebijakan ini merupakan wujud dari implementasi Program Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) yang dijalankan mulai tanggal 1 Juli 2017. Menanggapi kebijakan baru ini, Pimpinan Pusat Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) melakukan serangkaian kajian dengan berbagai pertimbangan sebagai berikut:

1. IPM memandang pendidikan sebagai sektor strategis bagi pembangunan peradaban bangsa. Ketika sistem pendidikan yang dijalankan baik, maka baik pula kualitas manusia di dalamnya. Karena strategisnya sektor ini, sistem pendidikan yang dijalankan di Indonesia harus mampu mengembangkan manusianya menjadi insan yang cerdas, berakhlak mulia, kreatif, berbudi luhur, dan memiliki daya saing tinggi.

2. Modal yang penting agar mampu bersaing di ranah global adalah memiliki sumber daya manusia yang berkarakter dan berbudaya. Kita boleh menjulang ke atas langit, tapi juga harus mengakar kuat ke dalam bumi. Oleh karena itu, pendidikan karakter menjadi kerangka utama pengembangan manusia Indonesia yang salah satunya termanifestasikan melalui sistem pendidikan yang terstruktur dan sistematis.

3. Urgensi pelaksanaan pendidikan karakter akhir-akhir ini dirasa penting di tengah menguatnya paham ekstremisme, sektarianisme, terorisme, dan penyebaran ideologi transnasionalis yang berpotensi melunturkan semangat dan nilai-nilai Pancasila di kalangan masyarakat. Menanamkan identitas ke-Indonesiaan sejak dini diharapkan menjadi bekal kemajuan bangsa di masa depan.
4. Agar pendidikan karakter ini bisa berjalan optimal, diperlukan sinergisitas berbagai pihak. Sekolah bekerjasama dengan keluarga, tokoh masyarakat, tokoh agama, pengusaha, hingga lembaga keagamaan sehingga memiliki pandangan dan kesadaran yang sama. Keterlibatan berbagai pihak ini memungkinkan para pelajar untuk belajar secara langsung bersama pihak luar sehingga tercipta proses dialog dan pembelajaran yang mencerahkan. Sekolah dengan demikian menjadi ruang diskursus yang dapat memantik nalar kritis dan apresiatif para siswa.

5. Dalam menyelenggarakan program ini, hak-hak pelajar tidak boleh dikesampingkan. Pelajar memiliki hak untuk dibimbing dan diarahkan sesuai minat, bakat, dan potensinya masing-masing yang belum tentu sama. Hak pelajar ini juga termasuk kesempatan untuk berkreasi dan mengembangkan minat dan bakat tersebut.

Kerangka diskusi yang disebutkan di atas kami gunakan untuk melihat kebijakan Kemendikbud sehingga menghasilkan beberapa poin penting sebagai berikut:
1. IPM mengapresiasi upaya pemerintah mengedepankan aspek pendidikan karakter bagi pelajar di Indonesia. Pada bagian ini, suksesnya pelajar memasuki jenjang pendidikan tidak sekadar diukur dari materi pelajaran yang disampaikan di kelas saja. Memberikan porsi 70% untuk pembentukan karakter dan 30% untuk ilmu pengetahuan memungkinkan pelajar mendapatkan materi yang aplikatif dan berguna dalam kehidupan secara langsung, meski tidak meninggalkan pengetahuan umum.

2. Jika dihitung berdasarkan proporsi yang disebut di atas, penyesuaian waktu sekolah menjadi 5 hari tidak serta merta dilihat sebagai penambahan waktu dan pemadatan belajar siswa. Delapan jam sehari tidak melulu dihabiskan di dalam kelas mendengarkan ceramah guru. Jika porsi pengetahuan umumnya 30 persen, maka dari delapan jam itu hanya 2,4 jam saja yang difokuskan untuk mengkaji ilmu pengetahuan secara khusus. Selebihnya, waktunya dapat digunakan untuk mengembangkan ilmu pengetahuan yang didapat dari praktik yang dibimbing oleh guru. Ilmu dari praktik di laboratorium atau di lingkungan secara langsung lebih memudahkan siswa mencerap materi dan merasakan kegunaan ia belajar materi.

baca: Sekolah 5 Hari Dorong Siswa Ikut Diniyah, Mendikbud Muhadjir Effendy

3. Di luar porsi 30 persen untuk pengetahuan umum, pelajar dimungkinkan untuk mengembangkan minat dan bakatnya di luar kelas. Kegiatan ekstrakulikuler seperti olahraga, kesenian, PMR, jurnalistik, kegiatan keagamaan, organisasi siswa, dan komunitas kreatif lainnya memungkinkan untuk dibentuk di sekolah. Pemberian porsi yang besar pada kegiatan pengembangan ini dan diberikannya hak penilaian atas kegiatan yang dilakukan menjawab harapan masyarakat umum yang selama ini menganggap bahwa penilaian siswa berpusat pada pengetahuan kognitif, beban belajar (ilmu pengetahuan) yang terlalu berat, dan kurang bermuatan karakter.

4. Proses belajar di sekolah yang menjadi lima hari jika dilihat konsepnya lebih dalam tidak serta merta mengalienasi pelajar dari lingkungan sekitar. Program Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) yang disusun oleh Kemendikbud melibatkan keluarga dan masyarakat sebagai pembimbing secara kolaboratif bersama pihak sekolah. Melibatkan keluarga dan masyarakat dalam proses pendidikan di sekolah mampu meningkatkan kesadaran bahwa pendidikan tidak sekadar tanggung jawab guru dan sekolah, melainkan tanggung jawab bersama. Bentuknya, proses pendidikan bisa dilakukan di tengah-tengah kampung, masjid, gereja, taman, dan tempat-tempat umum lainnya.

5. Waktu libur Sabtu-Ahad secara penuh yang didapatkan pelajar menjadi waktu yang panjang untuk berkreativitas secara lebih luas. Waktu libur yang panjang ini dapat menjadi waktu senggang yang panjang untuk mengembalikan semangat beraktivitas di hari Senin. Mengembalikan mood agar lebih segar setelah beraktivitas bermanfaat untuk menjaga proses belajar mengajar berjalan efektif.

baca: Full Day School Bisa menangkal Radikalisme di Sekolah, Maarif Institute

Berdasarkan hasil diskusi yang panjang tersebut, Pimpinan Pusat Ikatan Pelajar Muhammadiyah menyatakan sikap sebagai berikut:
1. Mengapresiasi kebijakan Kemendikbud yang fokus pada pengembangan pendidikan karakter serta mendukung penyesuaian waktu belajar lima hari agar proses dan hasilnya efektif mendukung jargon Revolusi Mental yang digagas Presiden Jokowi di mana revolusi membutuhkan perubahan sosial-kebudayaan yang berlangsung cepat dan menyangkut dasar serta pokok kehidupan masyarakat.
2. Karena ini berkaitan dengan kebijakan nasional, penerapannya membutuhkan penyesuaian di berbagai daerah. Untuk itu, kami mendorong Kemendikbud untuk melakukan sosialisasi lebih luas mengenai hal ini agar semua pihak mengerti apa yang direncanakan. Agar tidak miskomunikasi dan terjebak pada perdebatan istilah-istilah tertentu yang tidak masuk pada substansinya. Sosialisasi ini juga penting agar pada tataran aplikasi, sekolah tidak sekadar menambah jam pelajaran sehingga malah justru memberatkan para siswa. Penyesuaian ini dilakukan tentu saja diterapkan dengan mempertimbangkan bobot capaian yang telah dimaksud sesuai dengan rencana program.
3. Dalam penerapannya di awal ajaran baru nanti, IPM mengharap pada sekolah sepenuhnya memperhatikan hak-hak pelajar untuk berkembang sesuai dengan minat, bakat, dan potensi para peserta didik. Mari jadikan sekolah sebagai rumah kedua yang menyenangkan bagi pelajar untuk berkarya nyata bagi bangsa dan negara.

Demikian pernyataan sikap Pimpinan Pusat Ikatan Pelajar Muhammadiyah ini dibuat. Semoga kita semua bisa bersinergi dalam upaya mewujudkan cita-cita besar untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Semoga Allah SWT. selalu meridhoi setiap langkah perjuangan kita.
Amiin.

Nuun Walqolami Wama Yasthurun
Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Jakarta, 12 Juni 2017/ 17 Ramadhan 1438 H
Velandani Prakoso
Ketua Umum PP IPM
(0857-4700-0596)

Inilah, Kabar Peniadaan Pendidikan Agama di Sekolah Tidak Benar

Mendikbud Muhajir Sekolah 5 hari fullday
Mendikbud Muhajir Sekolah 5 hari fullday
Mendikbud foto:kemdikbud.go.id

Jakarta, Kemendikbud — Beredarnya pemberitaan yang menyebutkan bahwa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) akan meniadakan Pendidikan Agama di sekolah adalah tidak benar. Upaya untuk meniadakan pendidikan Agama itu tidak ada di dalam agenda reformasi sekolah sesuai arahan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) ungkap Kepala Biro Komunikasi dan Layanan Masyarakat (Ka BKLM) Ari Santoso.

baca: Full Day School Bisa menangkal Radikalisme di Sekolah, Maarif Institute

“Justru pendidikan keagamaan yang selama ini dirasa kurang dalam jam pelajaran pendidikan agama akan semakin diperkuat melalui kegiatan ekstrakurikuler,” disampaikan Ari Santoso usai mengikuti Rapat Koordinasi dan Sinkronisasi Kebijakan dengan Unit Pelaksana Teknis di kantor Kemendikbud, Jakarta, Selasa sore (13/6).

Dijelasakannya bahwa pertanyaan wartawan kepada Mendikbud Muhadjir Effendy usai Rapat Kerja dengan Komisi X DPR RI mengenai apakah dengan penerapan lima hari sekolah akan meniadakan madrasah atau mengaji. Pertanyaan tersebut dijawab Mendikbud dengan tegas bahwa sesuai dengan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Permendikbud) Nomor 23 Tahun 2017, sekolah dapat bekerja sama dengan lembaga pendidikan yang menyelenggarakan pendidikan karakter yang sesuai dengan nilai karakter utama religiusitas atau keagamaan.

baca: Sekolah 5 Hari Dorong Siswa Ikut Diniyah, Mendikbud Muhadjir Effendy

“Judul pemberitaan tersebut tidak tepat. Ada konteks yang terlepas dari pernyataan Mendikbud usai Raker dengan Komisi X tadi siang,” jelas Ari.

Ari menambahkan, bahwa Mendikbud mencontohkan penerapan penguatan pendidikan karakter yang dilakukan beberapa kabupaten seperti Kabupaten Siak yang memberlakukan pola sekolah sampai pukul 12 lalu dilanjutkan dengan belajar agama bersama para uztad. Siswa diberi makan siang yang dananya diambil dari APBD. Kemudian Mendikbud menyampaikan pola yang diterapkan Kabupaten Pasuruan. Seusai sekolah, siswa belajar agama di madrasah diniyah.

Pernyataan Mendikbud telah sesuai dengan pasal 5 ayat 6 dan ayat 7 Permendikbud tentang Hari Sekolah yang mendorong penguatan karakter religius melalui kegiatan ekstrakurikuler.

“Termasuk di dalamnya kegiatan di madrasah diniyah, pesantren kilat, ceramah keagamaan, retreat, katekisasi, baca tulis Al Quran dan kitab suci lainnya,” pungkas Ari. (*)

Jakarta, 13 Juni 2017
Biro Komunikasi dan Layanan Masyarakat Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

Nayiatul Aisyiyah Peduli Nanik, Wanita Panceng Kena Musibah Ganda

Nanik Foto pwmu.co

Menjadi seorang ibu adalah impian setiap pasangan yang telah menikah. Begitu pula dengan Nanik. Penantian 14 tahun bersama Suryadi, suaminya, untuk mendapat momongan, baru dijawab Allah pertengahan Mei lalu.

Namun, ujian datang lagi. Setelah 20 hari pascamelahirkan melalui operasi Caesar, wanita 35 tahun ini pun harus kembali menjalani operasi. Kali ini tulang lengan kirinya harus dioperasi akibat kecelakaan lalu lintas, 10 haru lalu (3/6). Bagi wanita dari keluarga tak mampu ini, dua kali menjalani operasi adalah sesuatu yang berat, karena membutuhkan biaya besar. Nanik seperti mendapat musibah ganda.

Kondisi itu memunculkan empati Pimpinan Daerah Nasyiatul Aisyiyah (PDNA)—disingkat Nasyiah—Kabupaten Gresik. Mereka bergerak untuk membantu meringankan beban berat Nanik. “Biaya operasi pascakecelakaan yang mencapai Rp 13 juta juga menjadi dasar kami mengumpulkan donasi,” kata Nurul Afianah Amd Keb, Ketua Departemen Sosial Kesehatan PDNA Kabupaten Gresik.

“Alhamdulillah dana sebesar Rp 4.550.000 berhasil kami himpun untuk membantu mengembalikan pinjaman beliau,” kata Ifa Faridah SPdI, Ketua PDNA Kabupaten Gresik, saat melaporkan dan menyampaikan bantuan, Senin (12/6). “Kami juga mengajukan bantuan kepada LAZISMU Kabupaten Gresik. Alhamdulillah mendapat santunan sebesar Rp 750.000,” ujar Ifa Ketua PDNA Gresik. 

Sementara itu, Pimpinan Ranting Nasyiatul Aisyiyah (PRNA) Ketanen juga turut memberikan donasi sebesar Rp 500.000 untuk Nanik yang juga merupakan anggota PRNA Ketanen.

Menempati rumah keponakannya di Dusun Sono, Desa Ketanen, Kecamatan Panceng, Kabupaten Gresik, kondisi Nanik saat ini masih kesulitan untuk menyusui bayinya. Sementara suaminya yang bekerja sebagai buruh ternak sapi masih harus mencicil pinjaman uang yang ia gunakan untuk operasi patah tulang istrinya.

Bagi pembaca yang juga ingin berempati bisa menghubungi Nurul Afianah 085745350157. (Tari) Sumber: pwmu.co

Full Day School Bisa menangkal Radikalisme di Sekolah, Maarif Institute

Mendikbud Muhajir Sekolah 5 hari fds
Mendikbud Muhajir Sekolah 5 hari fds
Mendikbud Muhajir Sekolah 5 hari (foto kompas)

Wacana Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI untuk menetapkan program full day school (sekolah sehari penuh) sebagai bagian dari kebijakan Program Pendidikan Karakter (PPK) mendapatkan dukungan banyak pihak. Maarif Institute menyambut baik kebijakan Menteri Muhadjir ini.

“Pada dasarnya Maarif Institute mendorong kebijakan ini, sekolah memiliki peran lebih aktif dan leluasa dalam upaya melawan radikalisme yang sering kali dilakukan di luar jam sekolah,” kata Direktur Eksekutif Maarif Institute Muhammad Abdullah Darraz di Jakarta, Senin (12/6).

Darraz menjelaskan bahwa melalui adanya kebijakan ini, berarti sekolah bisa meminimalisir peran kelompok radikal. Menurut dia, benteng sekolah bisa diperkuat untuk menghalau kelompok radikal dengan memperkaya kehidupan sekolah dengan kegiatan-kegiatan siswa yang positif dan beragam.

Baca juga: Sekolah 5 Hari Dorong Siswa Ikut Diniyah, Mendikbud Muhadjir Effendy

“Program full day school bukanlah hal yang baru di Indonesia. Dalam tradisi pendidikan di Indonesia, program ini sudah banyak dilakukan. Kita berharap bisa meminimalisir peran kelompok radikal,” tandas dia.

Kekhawatiran sebagian pihak mengenai implementasi program full day school, kata Darraz harus disikapi dengan pembuktian implementasi full day school yang tetap memenuhi hak-hak dan kreativitas anak, termasuk pelibatan lingkungan sekitar sekolah dalam proses pembelajaran.

“Adapun asumsi-asumsi penolakan yang dilontarkan sebagian pihak terhadap kebijakan ini hendaknya dapat didialogkan secara konstruktif,” imbuh dia.

Lebih lanjut, Darraz mengatakan sudah sepatutnya penolakan itu tidak dilakukan secara apatis. Dia menilai Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan telah melakukan kajian mendasar terhadap lahirnya kebijakan ini.

“Oleh karena itu berbagai perbedaan dalam menanggapi kebijakan ini perlu didialogkan secara lebih terbuka,” pungkas dia. Sumber: Suara Pembaruan

Sekolah 5 Hari Dorong Siswa Ikut Diniyah, Mendikbud Muhadjir Effendy

Mendikbud Muhajir Sekolah 5 hari
Mendikbud Muhajir Sekolah 5 hari
Mendikbud Muhajir Sekolah 5 hari (foto Detik)

Jakarta, Penerapan kebijakan sekolah lima hari dalam sepekan tidak bakal meminggirkan keberadaan pendidikan agama (diniyah) yang ada di luar sekolah. Penerapan kebijakan tersebut justru mendorong siswa untuk ikut madrasah diniyah.

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy mengatakan sekolah agama itu dapat diintegrasikan dengan pembentukan karakter.

“Madrasah diniyah justru diuntungkan karena akan tumbuh dijadikan sebagai salah satu sumber belajar yang dapat bersinergi dengan sekolah dalam menguatkan nilai karakter religius,” kata dia melalui siaran pers yang dikutip dari Republika, Ahad (11/6).

Mendikbud sudah menginstruksikan kepada guru untuk menghindari kegiatan ceramah dalam kelas dan mengganti dengan aktivitas positif. “Di antaranya mengikuti madrasah diniyah, bagi siswa muslim,” kata dia.

baca: Full Day School Bisa menangkal Radikalisme di Sekolah, Maarif Institute

Mendikbud menyebutkan setiap guru wajib mengetahui dan memastikan di mana dan bagaimana siswanya mengikuti pelajaran pendidikan agama sebagai bagian dari penguatan nilai relijiusitas.

“Guru juga wajib memantau siswanya agar terhindar dari pengajaran sesat atau mengarah pada intoleransi,” kata Muhadjir.

Mendikbud meminta orang tua dan masyarakat tidak membayangkan kebijakan ini membuat siswa berada di kelas sepanjang hari. Kebijakan ini ingin mendorong siswa melakukan aktivitas yang menumbuhkan budi pekerti, serta keterampilan abad 21.

Aktivitas tersebut tidak hanya dilakukan di lingkungan sekolah tetapi juga di tempat publik. Dia menyebutkan tempat publik itu seperti surau, masjid, gereja, pura, lapangan sepakbola, museum, taman budaya, dan sanggar seni.

Artinya, ia melanjutkan, perbandingan porsi proses belajar, yakni 70 persen pembentukan karakter dan 30 persen pengetahuan.

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan berencana menerapkan lima hari sekolah dalam sepekan akan mulai tahun ajaran baru 2017/2018 atau Juli 2017. Pelajar akan bersekolah lima kali dalam sepekan dan delapan jam setiap hari.

Rencana ini mendapat penolakan dari PBNU yang menilai keberadaan anak di sekolah selama delapan jam berarti mengaktifkan full day school. Padahal, masyarakat Muslim menolak full day school karena membuat anak tidak bisa mengaji pada sore hari. (bs)

Sekolah Macapat Gresikan, Ikhtiar Dakwah Kultural Muhammadiyah Gresik

Mulai Rabu (15/3) malam, Sekolah Macapat Gresikan dibuka di Gedung Dakwah Muhammadiyah Gresik. Kegiatan yang diselenggarakan oleh Lembaga Seni Budaya dan Olahraga (LSBO) Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Gresik rencananya rutin diadakan tiap pekan.

“Kegiatan ini rencananya akan dilaksanakan, secara rutin setiap hari Rabu malam dengan 15 kali pertemuan. Kalau perlu diperpanjang jika diperlukan”, kata Sri Wahyuni SAg, Ketua LSBO PDM Gresik.

Sekolah Macapat Gresikan diasuh langsung oleh Mat Kauli, 86 tahun, seorang pakar Macapat Gresikan. “Beliau, yang belajar Macapat sejak tahun 1949 dari ayahnya yang bernama Samadi Mitisastro di daerah Gumantar Gresik, sangat bersemangat memberikan pelajaran Macapat ini. Karena menurut beliau sangat jarang orang mau belajar Macapat, sehingga kegiatan ini menjadi harapan untuk pelestarian Macapat Gresikan,” kata Wahyuni.

Pembukaan Sekolah Macapat Gresikan selain dihadiri oleh peserta umum dan warga Muhammadiyah Gresik, juga dihadiri oleh Wakil Ketua PDM Gresik Mustakim SS MSi dan pakar Karawitan Jawa, Drs Sugeng Adi Pitoyo M Hum dari Unesa.

Wahyuni menjelaskan, macapat adalah salah satu jenis genre tembang Jawa yang ringkas dan mudah digunakan sebagai media menyampaikan suatu ajaran, ungkapan kegelisahan, bahkan ungkapan cinta kasih.

“Tembang Jawa itu sebenarnya ada 3, yaitu tembang macapat, tembang tengahan, dan tembang gedhe,” tambah Dodik Priyambada, Ketua Majelis Dikdasmen PDM Gresik yang juga seorang pemerhati budaya Jawa.

Pada acara perdana ini Bapak Mat Kauli mengajarkan kepada peserta tembang ‘Pucung’, salah satu jenis macapat. Para peserta secara bergantian dan bersamaan melagukan tembang itu, dengan gembira dan penuh semangat. “Pada pertemua Rabu malam berikutnya, akan dilanjutkan dengan tembang tembang Macapat lainnya, “ kata Sriwahyuni.

LSBO PDM Gresik telah memulai sebuah langkah untuk memperkuat media dakwah kultural melalui tembang Macapat. Ayo dukung! (MN) sumbe: pwmu.co

Aksi 212 dan Ahok di Mata Konsultan Singapura

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَلَوۡ شَآءَ رَبُّكَ لَجَعَلَ ٱلنَّاسَ أُمَّةً۬ وَٲحِدَةً۬‌ۖ وَلَا يَزَالُونَ مُخۡتَلِفِينَ (١١٨) إِلَّا مَن رَّحِمَ رَبُّكَ‌ۚ وَلِذَٲلِكَ خَلَقَهُمۡ‌ۗ وَتَمَّتۡ كَلِمَةُ رَبِّكَ لَأَمۡلَأَنَّ جَهَنَّمَ مِنَ ٱلۡجِنَّةِ وَٱلنَّاسِ أَجۡمَعِينَ

“Jika Tuhanmu menghendaki, tentu Dia menjadikan manusia umat yang satu, tetapi mereka senantiasa berselisih pendapat. Kecuali orang-orang yang diberi rahmat oleh Tuhanmu. Dan untuk itulah Allah menciptakan mereka. Kalimat Tuhanmu [keputusan-Nya] telah ditetapkan: sesungguhnya Aku akan memenuhi neraka Jahannam dgn jin dan manusia [yang durhaka] semuanya.” (QS. Huud [11] ayat 118-119).

Aksi 212 2016. (Foto: ANTARA/Sigid Kurniawan)
(cahayaumat.net) — Jumat (2/12/2016) pagi jam 10:00 di kawasan Marina Bay Singapore, saya meeting dgn Jonathan, partner bisnis saya, seorang Cina Singapura beragama Katolik. 

Dia Doktor lulusan salah satu universitas terbaik di Amerika Serikat, dia mantan banker yang sekarang jadi konsultan keuangan untuk investor Timur Tengah yang bergerak di dunia penerbangan.

Sebelum meeting, tiba-tiba dia bertanya kepada saya, “Bukankah di Jakarta sekarang lagi ada demo besar-besaran 212, Pak Nur?”

“Oh kamu tahu juga ya?” Begitu ujar saya. Ternyata dia tahu dari media massa di Singapura.

Saya lantas menunjukkan TV live streaming di Android saya yang memperlihatkan jutaan manusia berjubel di Monas dan jalan protokol sekitarnya di Jakarta Pusat, serta menyambung dgn lautan manusia yang tumpah ruah di Bundaran Bank Indonesia. 

How amazing is it?” Begitu komentar Jo setengah tak percaya. 

“Berapa banyak manusia kah ini? Saya perkirakan antara 2-4 juta jiwa. Ini sudah lebih dari separuh penduduk Singapura (5,5 juta jiwa),” ujarnya menjawab pertanyaannya sendiri. 

Sebagai seorang “profesional” yang selalu bekerja secara terencana dan sistematis, dia lantas melempar rentetan pertanyaan:

“Berapa lamakah perencanaan demo ini?”

“Siapakah yang memimpin demo ini?” 

“Bagaimana cara komunikasi antara pemimpin dan peserta demo?”

“Bagaimana mengatur transportasinya?”       

“Bagaimana mengatur logistiknya?”

“Bagaimana mengatur fasilitas pendukungnya (ambulans, toilet dll)?”

“bagaimana mengatur tempatnya?” 

Saya hanya bisa menggeleng sambil berucap, “saya nggak tahu Jo.”

Lantas Jo pun bergumam sambil geleng-geleng kepala,”Saya nggak percaya, ada orang/organisasi di manapun di dunia ini (note: dia sering melanglang buana) yang sanggup menggerakkan orang sebanyak itu dalam waktu singkat, impossible (tidak mungkin)Pasti ada kekuatan besar diluar manusia yang menggerakkannya.”

Diskusi kami pun beralih ke alasan dan penyebab demo. Rupanya si Jo ini tau juga dari media massa Singapura, bahwa ini merupakan rentetan unjuk rasa umat Muslim Indonesia akibat kasus penistaan agama oleh Guberbur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok.

Gantian, sekarang saya yang bertanya kepadanya,”Bagaimana pendapatmu tentang hal ini Jo?”

Jo lantas menjawab, “Ini sih konyol dan sangat fatal. Bagaimana mungkin seorang Gubernur melecehkan agama yang dipeluk oleh mayoritas warganya sendiri?”

“Masalah agama sangat sensitif, apalagi menyangkut Kitab Suci yang menjadi pedoman hidup pemeluknya, yang lantas dinistakan oleh orang yang beragama lain,” ujarnya.

Lantas dia lanjutkan, “Ibaratnya ada tamu yang datang ke rumah Anda, lalu dia menghina isteri Anda, wah isteri Anda jelek, jorok, bau, bla bla… ya sangat wajarlah kalau Anda, anak-anak dan keluarga Anda marah.”

Ternyata Jo juga tahu karakter Ahok yang suka marah-marah dan mengeluarkan kata-kata kotor. Lantas dia pun bertanya sambil keheranan, “Bagaimana mungkin orang seperti ini bisa terpilih jadi Gubernur di Ibu Kota negara Anda, Pak Nur?”

Saya langsung jawab, “Dia jadi Gubernur DKI karena menggantikan Jokowi yang naik jadi Presiden RI, jadi yang dipilih rakyat DKI waktu itu adalah figur Jokowi, bukan Ahok.” 

“Oohh gitu ya,” ujarnya maklum.

Lantas iseng-iseng saya ganti bertanya kepadanya, “Apakah orang seperti Ahok bisa jadi pemimpin di Singapura, Jo?”

Saya menanyakan hal ini karena ingar, ada pihak yang pernah mengatakan, jika Ahok tidak dikehendaki di Jakarta, dia bisa jadi gubernur di Hongkong atau di Singapura, jadi rakyat Jakarta yang rugi.

Dia pun tertawa sambil menjawab, “No way, Pak Nur. Di Singapura seorang pemimpin harus mempunyai standar moral dan etika yang tinggi, dia harus mengayomi dan bukan mencari musuh. Dia harus bisa jadi teladan bagi warganya.” 

“Tidak layak bagi pemimpin di Singapura untuk marah-marah dan mengeluarkan kata-kata kotor/tidak pantas kepada warganya di depan publik, apalagi sampai melecehkan keyakinan warganya,” ujarnya.

“Bukankah dia pekerja keras, bersih, jujur, performance-nya bagus dan diakui orang banyak?” sergah saya.

Dia pun ketawa lagi sambil menjawab, “Bagi kami, Ahok hanyalah seorang hard worker, Pak. Dan bukan seorang pemimpin.” 

“Loh koq?”

“Kalau Aanda bekerja keras dan mengikuti aturan (termasuk tidak boleh korupsi) pastilah performance Anda bagus, seperti kami-kami ini, para profesional di Singapura,” katanya.

“Ooh gitu ya,” ucap saya sambil nyeruput kopi. 

Lantas kami pun back to laptop, kembali ke topik diskusi, membahas potensi dan rencana investasi di bisnis penerbangan di Indonesia.

Wallahu a’lam bish-showab.

NHA di jejaring WhatsApp

sumber:www.mediaislamia.com

editor:buyasorta

Penemu Hatam: Mudahkan Al-Quran untuk Diingat dan Dihafal

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَلَقَدۡ يَسَّرۡنَا ٱلۡقُرۡءَانَ لِلذِّكۡرِ فَهَلۡ مِن مُّدَّكِرٍ۬

“Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan Al Qur’an untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran?” (QS. Al-Qamar [54] ayat 17).

Abdul Latief, penemu metode Hatam (Hafal Tanpa Menghafal). (cahayaumatNA)
(cahayaumat.net) — Penemu metode Hatam (Hafal Tanpa Menghafalkan) Abdul Latief
mengatakan, mudahkan Al-Quran untuk diingat dan diambil pelajarannya.
Dai praktisi di bidang Al-Quran itu mengutip ayat Al-Quran
surat Al-Qamar yang artinya, “Dan sungguh telah kami mudahkan Al-Quran untuk
diingat, maka adakah orang yang mau mengambil pelajaran?”
“Menjadi penghafal Quran (hafidz) tidak perlu menghafal
ayat-ayat lalu mengingat, dgn metode multimedia juga dapat membantu,”
kata Latief.
Menurutnya, mengaji dgn metode have fun, berdamai dgn digital (tahfidz melalui multimedia) dan
peran orang tua diganti dgn gadget
menjadi beberapa langkah untuk cepat menghafal Al-Quran terhadap anak.
“Biasakan orangtua memberikan contoh dan perintah
tentang Al-Quran kepada anak agar apa yang orangtua lakukan berlaku juga kepada
anak,” tambahnya.
Kunci metode meng-Hatam dgn Ucahayaumat yaitu mengulang-ulang
bacaan dan hafalan Al-Quran dalam kegiatan apapun, seperti dalam perjalanan.
Multimedia terbagi menjadi audio dan video, jadi mensiasati ayat-ayat Allah
dalam audio maupun video, termasuk menggunakan irama yang disukai dalam menghapal
ayat-ayat Allah tersebut.

Pria yang juga seorang pengusaha itu berpesan bagi
seluruh umat Islam, tidak susah untuk menghafalkan Al-Quran, tergantung seperti
apa niat dan tindakan yang akan ditanamkan pada diri umat Islam itu sendiri. 

(Mirajnews.com/id)

sumber:www.mediaislamia.com

editor:buyasorta