Shalat Iftitah 2 Rakaat Ringan sebelum Shalat Tarawih, Begini Tuntunanya

Salah satu sunnah dalam bulan Ramadhan adalah mendirikan qiyamu Ramadhan, yang lebih dikenal dengan shalat tarawih. Yaitu 8 rakaat tarawih ditambah 3 shalat witir. Masing-masing dilakukan tanpa tasyahud awal, sehingga formasinya adalah 4 rakaat- 4 rakaat- 3 rakaat. Bisa juga dengan formasi 2-2-2-2-3 atau 2-2-2-2-2-1.

Sebelum melaksanakan shalat tarawih, sebagaimana tertuang dalam berbagai hadits Nabi Muhammad saw, disunnahkan mengerjakan shalat sunnah dua rakaat ringan, atau shalat Iftitah. Berbeda dengan shalat lazimnya, shalat iftitah punya beberapa kekhususan.

Diantara beberapa dalil yang berkaitan dengan shalat iftitah adalah sebagai berikut. Pertama, hadits riwayat Muslim yang diriwayatkan dari Aisyah ra:

عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا قَامَ مِنْ اللَّيْلِ لِيُصَلِّيَ افْتَتَحَصَلاَتَهُ بِرَكْعَتَيْنِ خَفِيفَتَيْنِ

Artinya: Diriwayatkan dari Aisyah, ia berkata: Adalah Rasulullah saw apabila akan melaksanakan salat lail, beliau memulai (membuka) salatnya dengan (salat) dua rakaat yang ringan-ringan. (HR Muslim)

Hadits yang kedua adalah riwayat Imam Muslim dari Abu Hurairah ra:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِذَا قَامَأَحَدُكُمْ مِنْ اللَّيْلِ فَلْيَفْتَتِحْ صَلاَتَهُ بِرَكْعَتَيْنِ خَفِيفَتَيْنِ

Artinya: Diriwayatkan dari Abu Hurairah, dari Nabi saw, beliau bersabda: Apabila salah saeorang dari kamu akan melakukan salat lail, hendaklah memulai salatnya dengan dua rakaat yang ringan-ringan. (HR Muslim)

Hadits yang ketiga adalah riwayat Imam Abu Daud:

حَدَّثَنَا عَبْدُ الْمَلِكِ بْنُ شُعَيْبِ بْنِ اللَّيْثِ حَدَّثَنِي أَبِي عَنْ جَدِّي عَنْ خَالِدِ بْنِ يَزِيدَ عَنْ سَعِيدِ بْنِ أَبِي هِلاَلٍ عَنْ مَخْرَمَةَ بْنِ سُلَيْمَانَ أَنَّ كُرَيْبًا مَوْلَى ابْنِ عَبَّاسٍ أَخْبَرَهُ أَنَّهُ قَالَ سَأَلْتُ ابْنَ عَبَّاسٍ كَيْفَ كَانَتْ صَلاَةُ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِاللَّيْلِ قَالَ بِتُّ عِنْدَهُ لَيْلَةً وَهُوَ عِنْدَ مَيْمُونَةَ فَنَامَ حَتَّى إِذَا ذَهَبَ ثُلُثُ اللَّيْلِ أَوْ نِصْفُهُ اسْتَيْقَظَ فَقَامَ إِلَى شَنٍّ فِيهِ مَاءٌ فَتَوَضَّأَ وَتَوَضَّأْتُ مَعَهُ ثُمَّ قَامَ فَقُمْتُ إِلَى جَنْبِهِ عَلَى يَسَارِهِ فَجَعَلَنِي عَلَى يَمِينِهِ ثُمَّ وَضَعَ يَدَهُ عَلَى رَأْسِي كَأَنَّهُ يَمَسُّ أُذُنِي كَأَنَّهُ يُوقِظُنِي فَصَلَّى رَكْعَتَيْنِ خَفِيفَتَيْنِ قَدْ قَرَأَ فِيهِمَا بِأُمِّ الْقُرْآنِ فِي كُلِّ رَكْعَةٍ ثُمَّ سَلَّمَ ثُمَّ صَلَّى حَتَّى صَلَّى إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً بِالْوِتْرِ ثُمَّ نَامَ فَأَتَاهُ بِلاَلٌ فَقَالَ الصَّلاَةُ يَا رَسُولَ اللهِ فَقَامَ فَرَكَعَ رَكْعَتَيْنِ ثُمَّ صَلَّى لِلنَّاسِ

Artinya: Abdul Malik bin Syu’aib bin al-Lais telah menceritakan kepada kami, ayahku telah menceritakan kepadaku, diriwayatkan dari kakekku,diriwayatkan dari Khalid bin Yazid, diriwayatkan dari Sa’id bin Abi, diriwayatkan dari Makhramah bin Sulaiman sungguh Kuraib hamba ibnu Abbas ia menceritakan bahwa dirinya berkata: Saya bertanya kepada Ibnu Abbas, bagaimana salat Rasulullah saw pada malam hari dimana saya bermalan di tempatnya sedang beliau (Rasulullah) berada di tempat Maimunah, maka beliaupun tidur, apabila waktu  telah memasuki sepertiga malam atau setengahnya beliau bangun dan menuju ke griba (wadah air dari kulit)kemudian beliau berwudlu dan aku pun berwudlu bersama beliau, lalu beliau berdiri (untuk melakukan salat) dan aku pun berdiri di sebelah kirinya, maka beliau menjadikan aku berada di sebelah kanannya, kemudian beliau meletakkan tangannya di atas kepalaku, seolah-olah beliau memegang telingaku, seolah-olah beliau membangunkanku, kemudian beliau salat dua rakaat ringan-ringan, beliau membaca ummul-Qur’an pada setiap rakaat, kemudian beliau mengucapkan salam sampai beliau salat sebelas rakaat dengan witirnya, kemudian beliau tidur. Maka sahabat Bilal menghampirinya sambil berseru; waktu salat wahai Rasulullah, lalu beliau bangkit (bangun dari tidurnya) dan salat dua rakaat, kemudian memimpin salat orang banyak. (HR Abu Dawud)

Baca Juga:  Ramadhan 2017, Lazismu Se-Jatim Terima dan Salurkan Zakat Rp 18.729.582.160

Dari beberapa hadits itu, terdapat beberapa kesimpulan tentang pelaksanaan shalat iftitah:

1.  Salat iftitah dua rakaat dilakukan sebelum melaksanakan qiyamu lail atau qiyamu Ramadhan

2.   Cara melakukan salat iftitah dua rakaat tersebut yaitu pada rakaat pertama setelah takbiratul-ihram membaca doa iftitah pendek, yaitu: “Subhanallah dzil malakuuti wal jabaruti wal kibriya-i wal ‘adzamah”,

3. Kemudian dilanjutkan dengan membaca surat al-Fatihah, dilanjutkan dengan rukun shalat lainnya, yaitu rukuk tanpa membaca ayat atau surat lainnya. Setelah rukuk, dilanjutkan dengan i’tidal, sujud, duduk di antara 2 sujud, sujud, dan kembali berdiri memasuki rakaat kedua. Bacaan dalam setiap gerakan shalat tersebut tidak beda dengan shalat fardlu maupun sunnah lainnya.

Baca Juga:  Sambut Ramadhan, Pemuda Muhammadiyah Magetan Ngaji Keabsahan Dalil Shalat Tarawih Formasi 4-4-3

 

4. Adapun dalam rakaat kedua , hanya membaca surat al-Fatihah sebagaimana rakaat pertama tanpa tambahan membaca surat ataupun ayat al-Quran. Sehingga dalam 2 rakaat salat iftitah hanya membaca al-Fatihah tanpa membaca surat/ayat lainnya.

5. Bagaimana cara membaca alfatihah dalam shalat iftitah: jahr (suara keras) atau sir (pelan)? Jika merujuk pada hadits yang ketiga riwayat Imam Abu Daud, yang bisa mendengar apa yang dibaca oleh Nabi Muhammad saat shalat iftitah, maka bacaan tersebut dilakukan dengan jahr.

6. Dilaksanakan sendiri atau secara berjamaah. Lagi-lagi merujuk pada hadits yang ketiga riwayat Imam Abu Daud, ia menunjukkan kebolehan shalat ini dilakukan secara berjamaah.

***

Tulisan ini disarikan dari Buku Himpunan Putusan Tarjih Muhammadiyah, Buku Tanya Jawab Agama  (Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah) jilid 1, 3, 4, dan 5,  serta “Tuntunan Ibadah Pada Bulan Ramadhan” (Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah).

Wallahu aa’lam bi al-shawab. (kholid)

sumber: pwmu.co

KH AR Fachruddin, Sosok Teladan Pemimpin Umat

Di tangannya, Islam terasa sangat mudah dan toleran. Dalam berdakwah, ia memegang prinsip: Islam harus dibawakan dengan senyum.

Ia menyadari betul, senyum memiliki nilai ibadah. Kata Nabi SAW, ”Senyummu kepada saudaramu adalah sedekah.”

Memimpin dengan senyum, kesan itulah yang melekat pada diri ulama kharismatik ini. Agaknya, prinsip ‘senyum’ ini ikut membentuk wajah Muhammadiyah—ormas Islam yang pernah beberapa periode dipimpinnya—terasa teduh.

Tokoh dan ulama Muhammadiyah itu tak lain adalah KH Abdul Razaq Fachruddin atau lebih akrab disapa dengan panggilan Pak AR. Dilahirkan di Clangap, Purwanggan, Yogyakarta, pada 14 Februari 1916.

Ia adalah anak ketujuh dari 11 bersaudara pasangan KH Fachruddin dengan Nyai Hajjah Fachruddin binti KH Idris. KH Fachruddin adalah seorang lurah naib (penghulu) dari Istana Pakualaman. Di kala usianya menginjak 16 tahun, ia menjadi yatim karena ayahnya meninggal dunia.

Masa kanak-kanak Abdul Razaq dihabiskan di Pakualaman. Setelah berusia tujuh tahun, bersama orang tuanya ia pindah ke Purwanggan. Ia menempuh pendidikan dasar di sekolah-sekolah Muhammadiyah.

Mulai dari Standard School Muhammadiyah Bausasran, Madrasah Muallimin Muhammadiyah, Sekolah Guru Darul Ulum Muhammadiyah Sewugalur, Kulonprogo, sampai Tabligh School Muhammadiyah.

Perjalanan kariernya dimulai dari bawah, yaitu sebagai guru dan mubaligh pada usia yang masih belia, 18 tahun. Dengan bekal pendidikan yang diperolehnya tersebut, tahun 1936 ia dikirim oleh Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah untuk menjadi guru di sekolah-sekolah Muhammadiyah yang ada di Palembang.

Ia mendedikasikan diri sebagai guru di Palembang selama 10 tahun. Setelah itu, ia pulang ke kampung halamannya, Bleberan.

Tahun 1944, atas permintaan kepala sekolah Darul Ulum, ia mengajar di sana dan menjadi anggota pengurus Muhammadiyah Sewugalur. Ketika Indonesia merdeka, tahun 1945, AR ikut menjadi anggota Barisan Keamanan Rakyat (BKR) tingkat kecamatan atau pasukan Hizbullah Yon 39. Ia juga pernah menjadi pamong desa Kelurahan Galur, Brosot, Kulonprogo, selama setahun.

Pada awal kemerdekaan negeri ini, Pak AR diangkat menjadi pegawai Departemen Agama. Berbagai jabatan pernah ia emban, seperti kepala Kantor Urusan Agama di Adikarto, Wates, pada tahun 1974.

Tidak lama kemudian, ia pindah ke Kulonprogo, Sentalo, dalam jabatan yang sama. Selama sembilan tahun (1950-1959), ia menjadi pegawai jawatan agama Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) yang berkantor di Kepatihan.

Tahun 1959, ia pindah ke Semarang dan menjabat sebagai kepala Kantor Penerangan Agama Provinsi Jawa Tengah. Tahun 1964, ia kembali ke Yogyakarta dan menjabat sebagai kepala Kantor Penerangan Agama Provinsi DIY hingga pensiun tahun 1972.

Hukum Membuat Patung Dan Menggambar Dalam Islam

Keputusan mengenai hukum menggambar diambil berdasarkan beberapa pertimbangan:
Pertama, masalah seni gambar dan patung dapat dikategorikan sebagai masalah hukum yangma’qulul-ma’na, yaitu masalah hukum syar’i yang logika hukumnya dapat dipahami melalui penalaran rasional.
Kedua, larangan pembuatan patung dan gambar makhluk hidup itu dapat dilihat dalam konteks perjuangan Nabi Muhammad saw memberantas ajaran penyembahan berhala dan menegakkan ajaran tauhid yang murni, apabila membuat patung dan gambar itu tidak diberantas maka akan terjadi perusakan akidah baru itu. Sedangkan bilamana tidak dikhawatirkan merusak akidah, maka larangan tersebut tidak ada.
Seperti dalam kasus boneka mainan anak-anak. Hal ini juga dapat dipahami dari alasan Nabi saw memerintahkan penyingkiran tabir bergambar karena memalingkan beliau dari Allah dan mengingatkan pada dunia serta mengganggu kekhusyukan salatnya. Jika semua alasan itu tidak ada, maka larangannya pun tidak ada.
Ketiga, di zaman modern, pembuatan patung dan gambar makhluk bernyawa kebanyakan bukanlah untuk disembah dan bagaimanapun, rasanya tidak ada umat Islam yang menyembah patung. Di lain pihak, patung dan gambar mempunyai beberapa manfaat, yang dulu tidak ada di zaman Nabi saw, misalnya untuk pelajaran, pengabadian peristiwa sejarah seperti patung biorama, dan lain-lain.
Keempat, dalam al-Qur’an kecaman kepada patung adalah karena dipuja dan diyakini sebagai penjelmaan Tuhan. Sedangkan patung-patung yang dibuat Nabi Sulaiman as tidak dikecam karena bukan untuk tujuan dan tidak terkait dengan penyembahan. (Tanya Jawab Agama V: 227-228).
Wallahu a’lam bish-shawab. 

A.R Fachruddin Cahaya Kesederhanaan Muhammadiyah

A.R Fachruddin menjadi ketua PP Muhammadiyah terlama sepanjang sejarah. Hidupnya sederhana. Ceramahnya sejuk. Pantang baginya menerima uang untuk kegiatan berdakwah. Ia wafat tanpa pernah memiliki rumah.
tirto.id – Pengalaman indekos di Jalan Cik Ditiro 19 A, Yogyakarta, puluhan tahun silam masih berkesan dalam ingatan Syaifuddin Simon (58 tahun). Ia tak pernah menyangka sosok bersahaja yang menjadi bapak kosnya ternyata salah satu tokoh penting di Tanah Air.

“Pak A.R itu orangnya sangat, sangat, sangat sederhana,” kata Simon, mantan jurnalis yang pernah bekerja di Republika, saat menceritakan pengalamannya kepada Tirto, Selasa (23/5/2017).

Abdul Rozak (A.R) Fachruddin memang lebih akrab disapa Pak AR. Kata “sangat” yang diulang Simon sampai tiga kali menjelaskan banyak hal soal sikap hidup Pak AR.

Lahir di Pakualaman Yogyakarta pada 14 Februari 1916 dari pasangan K.H. Fachruddin dan Maimunah binti K.H. Idris Pakualaman, Pak A.R mengabdikan sebagian besar hidupnya untuk memajukan umat Islam melalui organisasi Muhammadiyah.

Di Muhammadiyah, Pak A.R bekerja dari bawah. Ia pernah menjadi guru di sepuluh lebih sekolah Muhammadiyah, menjadi Ketua Pemuda Muhammadiyah, ketua ranting, ketua cabang, ketua wilayah, hingga akhirnya menjadi Ketua Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah. Pak A.R tercatat sebagai pemimpin PP Muhammadiyah terlama dalam sejarah (1968-1990). Jabatan itu dia emban berdasarkan usul Buya Hamka setelah wafatnya K.H Fakih Usman yang merupakan Ketua PP Muhammadiyah tersingkat dalam sejarah.

“Dalam Muktamar ke-38 tahun 1968 di Yogyakarta diputuskan bahwa Fakih Usman diangkat menjadi Ketua PP Muhammadiyah, meskipun yang memperoleh suara terbanyak adalah A.R Fachrudin. Kepemimpinan Fakih Usman hanya berlangsung sekitar sepekan—ini merupakan kepemimpinan yang paling singkat dalam sejarah Muhammadiyah—karena beliau meninggal,” seperti dilansir dari 1 Abad Muhammadiyah: Gagasan Pembaruan Sosial Keagamaan.

Menjadi orang nomor satu dan terlama di Muhammadiyah tidak lantas mengubah gaya hidup Pak A.R. Kemana-mana ia lebih suka mengayuh sepeda atau mengendarai motor Yamaha bututnya. Motor keluaran tahun 1970-an itu merupakan pemberian pengusaha batik bernama Prawiro Yuwono yang tidak tega melihat orang penting di Muhammadiyah berdakwah ke berbagai daerah hanya menggunakan sepeda.

“Motor itu dia pakai sampai komponennya rusak, butut, olinya berceceran,” ujar Simon.

Suatu hari dalam perjalanan menuju Pajangan, Bantul, motor Pak A.R mogok. Ia lantas menuntun motornya ke bengkel yang lumayan jauh. Tiba-tiba saja Pak A.R bertemu salah seorang kenalannya.

“Lho, Pak, kok motornya dituntun?” tanya kenalannya itu.

Mendengar pertanyaan itu Pak A.R menjawab enteng: “Kalau tidak dituntun takut nanti ngamuk.”

Tawaran berkendara enak dan nyaman bukannya tidak ada. Awal dekade 1980-an, perwakilan PT Astra datang menawarkan mobil Toyota Corolla DX keluaran terbaru secara cuma-cuma. Namun, Pak A.R menolak. Alasannya sederhana saja, ia tidak bisa menyetir dan ogah direpotkan dengan urusan perawatan.

“Mobil kalau [Pak A.R] mau banyak yang kasih, tapi dia tidak pernah mau,” ujar Simon.

Pak A.R sempat berjualan bensin eceran di depan rumah yang dipinjami Muhammadiyah demi menambah biaya kuliah anaknya. Bisa dibayangkan, pemimpin organisasi sebesar Muhammadiyah, memimpin selama lebih dari dua dekade, berjualan bensin eceran untuk mendapatkan pemasukan.

Ia menolak dikasih uang untuk ceramah. Kalau pun terpaksa harus menerima, uang itu sepenuhnya akan dibagikan ke para pegawai Muhammadiyah yang belum sejahtera.

Sekali waktu Pak A.R pernah coba membeli rumah tetapi uang muka dan cicilan yang telah dibayarkan malah dibawa kabur pengembang. Hingga akhir hayatnya Pak A.R tidak pernah memiliki rumah sendiri.

“Aneh tidak kalau zaman sekarang?” tanya Simon dengan nada retoris.

Meski melakoni hidup dengan kesederhanaan Pak A.R memiliki pergaulan luas. Teman-temannya berasal dari berbagai kalangan. Mulai dari tukang becak, intelektual, budayawan, menteri, hingga presiden. Simon mengatakan Gus Dur kerap datang berkunjung ke kediaman Pak A.R bila ingin membicarakan masalah-masalah nasional.

“Karena Pak A.R orang Muhammadiyah yang paling dekat dengan Pak Harto,” kata Simon.

Sekali waktu usai shalat subuh berjamaah dengan anak-anak kosnya, Pak A.R bercerita bahwa dirinya baru saja mengirim surat kepada Presiden Soeharto. Isi suratnya singkat, tentang rencana Muhammadiyah mendirikan universitas di Yogyakarta.

“Pak Harto, Muhammadiyah bade bangun universitas, menawi kerso monggo,” kata Simon menirukan ucapan Pak A.R mengenai isi surat yang dikirim ke Soeharto.

Simon menilai isi surat Pak A.R kepada Soeharto sangat diplomatis. Sebab di dalamnya tidak ada kata atau kalimat meminta bantuan, tetapi justru lebih berupa tawaran ikut membantu. Dan benar saja, selang seminggu surat itu dikirim, telepon berdering dari pihak Soeharto.

“Ternyata ada cek beberapa ratus juta. Waktu itu uang segitu besar sekali,” ujar Simon.

A.R Fachruddin Cahaya Kesederhanaan Muhammadiyahshare infografik

Gaya Dakwah
Suatu hari pengurus masjid di sekitar kawasan Poncowinatan dekat Malioboro datang ke kediaman Pak A.R. Mereka kebingungan lantaran ada salah satu donator masjid dari keluarga non-Muslim ingin jenazah ayahnya disalatkan sebelum dikubur.

Mendengar cerita ini Pak A.R bergegas datang ke lokasi. Setibanya di lokasi Pak A.R memerintahkan pengurus masjid memasukkan peti mati jenazah si non-Muslim. Ia meminta peti jenazah diletakkan di sisi ruangan masjid. Setelah itu Pak A.R mengajak jamaah melaksanakan shalat Ashar berjamaah.

Usai shalat anak almarhum bertanya kepada Pak A.R mengapa peti mati ayahnya tidak diletakan di depan orang salat seperti saat orang Islam meninggal. Pak A.R menjawab: “Yang di depan, kan, orang Islam. Kalau non-Muslim diletakkan di samping. Ini cara kami menghormati dan mengistimewakan tamu.”

Penguasaan ilmu agama yang mendalam justru mematangkan pribadi Pak A.R. Cara dakwahnya sejuk dan mengajak. Bukan menghakimi apalagi memusuhi. Wajar ceramah-ceramah Pak A.R yang disiarkan TVRI Yogyakarta tidak hanya didengar oleh umat Islam tapi juga non-Muslim.

“Pak A.R kalau ada undangan ceramah dari masyarakat kecil dan dari orang kaya, yang diutamakan datang ke masyarakat kecil. Kebalikan dengan [penceramah] zaman sekarang,” ujar Simon.

Di akhir kepengurusan Pak A.R pada tahun 1989, Muhammadiyah untuk pertama kalinya membuat terobosan bekerjasama dengan bank dalam rangka penataan administrasi keuangan dan konsolidasi organisasi. Bank Rakyat Indonesia (BRI) dipilih karena dinilai lebih bermaslahat.

“Kerja sama dengan bank untuk pertama kalinya ini merupakan langkah yang berani karena di lingkungan umat Islam masih terdapat perbedaan pendapat tentang kehalalan bank, terutama berkaitan dengan riba dan bunga bank,” 1 Abad Muhammadiyah: Gagasan Pembaruan Sosial Keagamaan.

Pak A.R Wafat
Jumat 17 Maret 1995 kabar duka datang dari Rumah Sakit Islam Jakarta: Pak A.R wafat. Ia pergi setelah mengalami perawatan intensif selama tiga pekan karena komplikasi penyakit vertigo, pembengkakan jaringan, dan leukemia.

Presiden Soeharto, Menteri Agama Tarmizi Taher, Ketua Umum MUI KH Hasan Basri, Ketua Umum DPP PPP Ismail Hasan Metareum, Ketua PP Muhammadiyah sempat melayat ke rumah sakit. Jenazah Pak A.R kemudian dibawa ke Masjid Istiqlal. Di sana, ribuan umat Islam sudah menanti untuk menshalatkan jenazahnya.

Presiden Soeharto memesan khusus sebuah pesawat Hercules untuk membawa jenazah Pak A.R ke kampung halamannya Yogyakarta. Di Masjid Besar Kauman Keraton Yogyakarta ribuan umat Islam juga sudah berkumpul. Meluber ke sisi barat alun-alun depan keraton.

“Ini peristiwa langka,” kata sejarawan Universitas Gadjah Mada Djoko Suryo seperti diberitakan Harian Republika.

Amien Rais dalam sambutan atas nama keluarga dan Muhammadiyah mengatakan Pak A.R pergi meninggalkan tiga warisan: kesederhanaan, kejujuran, dan keikhlasan. Jenazah Pak A.R dikebumikan di Pemakaman Umum Karang Kajeng berderet dengan pendiri Muhammadiyah K.H Ahmad Dahlan.

Di bawah matahari yang redup dan gerimis kecil, pekik takbir pelayat mengiringi perjalanan Pak A.R ke rumahnya yang abadi.

Pak A.R tercatat sebagai pemimpin PP Muhammadiyah terlama dalam sejarah (1968-1990)
Menjadi orang nomor satu dan terlama di Muhammadiyah tidak lantas mengubah gaya hidup Pak A.R

sumber: tirto.id – jay/nqm

https://tirto.id/ar-fachruddin-cahaya-kesederhanaan-muhammadiyah-cpwf

Mendikbud Muhadjir Effendy, Jabat Presiden Organisasi Menteri Pendidikan Asia Tenggara

Jakarta, Indonesia terpilih untuk memimpin organisasi menteri-menteri pendidikan se-Asia Tenggara atau South East Asian Ministers of Education Organization (SEAMEO). Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) RI, Muhadjir Effendy, menjabat sebagai Presiden SEAMEO untuk kurun waktu dua tahun, yaitu 2017-2019.

Serah terima jabatan Presiden SEAMEO berlangsung dalam Konferensi Menteri Pendidikan se-Asia Tenggara ke-49 (49th SEAMEO Council Conference) di Jakarta, (25/7/2017). Menteri Pendidikan Thailand  Teerakiat Jareonsettasin menyerahkan jabatan Presiden SEAMEO kepada Mendikbud Muhadjir Effendy, disaksikan para delegasi SEAMEO dari 11 negara Asia Tenggara.

Dalam sambutan singkatnya usai serah terima jabatan, Mendikbud mengatakan komitmennya untuk meneruskan kerja sama yang baik antarnegara anggota SEAMEO, baik di bidang pendidikan, sains, maupun kebudayaan. “Indonesia dan SEAMEO akan terus berupaya berkontribusi secara signifikan untuk kemajuan pendidikan, sains, dan kebudayaan di kawasan Asia Tenggara,” katanya.

Sebelumnya dalam sambutan selamat datang atau welcome speech, Mendikbud menyampaikan bahwa Pemerintah Indonesia berkomitmen untuk terus memperluas akses pendidikan bagi warga negaranya, mulai dari jenjang pendidikan anak usia dini (PAUD), hingga pembelajaran sepanjang hayat atau life long learning. Karena itulah Indonesia aktif menjalin kerja sama dengan negara lain dan bergabung dengan organisasi internasional, baik tingkat regional maupun global, antara lain dengan SEAMEO. “Saya yakin SEAMEO bisa berkontribusi secara signifikan dalam meningkatkan kualitas hidup dan menjamin masa depan yang cerah untuk negara anggotanya secara regional,” ujarnya.

Menteri Pendidikan Thailand, Teerakiat Jareonsettasin mengatakan, selama dua tahun menjadi Presiden SEAMEO (2015-2017), ia sangat memperhatikan keberagaman yang dimiliki negara-negara Asia Tenggara dalam setiap kunjungannya. Menurutnya, negara-negara ASEAN memiliki keunikannya masing-masing. Meskipun berbeda-beda, tuturnya, semua negara anggota bisa menghargai keberagaman itu. “SEAMEO is providing an  example of unity in diversity,” katanya.

Pertemuan menteri-menteri pendidikan Asia Tenggara akan berlangsung selama tiga hari di Jakarta, yaitu pada 25 s.d. 27 Juli 2017. Hari pertama akan diisi dengan sidang pleno dengan seluruh delegasi negara anggota SEAMEO, bilateral meeting antara Indonesia dengan Malaysia dan Indonesia dengan Timor Leste, hingga gala dinner yang dimeriahkan dengan pertunjukan seni-budaya. Pada hari kedua para delegasi akan mengikuti agenda “school and cultural visit” dengan mengunjungi SMKN 27 Jakarta dan Museum Nasional Indonesia. Di hari ketiga mereka akan bersiap-siap kembali ke negara masing-masing. (Desliana Maulipaksi)
Sumber :

Mengapa Mereka Mengkritik Keras Full Day School

Pendidikan karakter yang memadai kepada anak didik di sekolah-sekolah, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy melontarkan gagasan kemungkinan penerapan sistem belajar-mengajar dengan sekolah sehari penuh (Full Day School).

Kata Menteri Muhadjir, FDS ini tidak berarti peserta didik belajar seharian penuh di sekolah, tetapi memastikan bahwa peserta didik dapat mengikuti kegiatan-kegiatan penanaman pendidikan karakter, seperti mengikuti kegiatan ekstrakurikuler. Menurut Muhadjir, FDS dapat membendung pengaruh-pengaruh buruk yang diterima anak saat orang tua sibuk bekerja dan tak sempat mengawasi. Selama satu hari di sekolah, banyak hal yang bisa dipelajari anak-anak untuk menambah wawasan mereka.

Tapi, di luar dugaan, gagasan Menteri Muhadjir mendapat kritik tajam dari berbagai kalangan, dari orang awam hingga cendekiawan. Imam Prasodjo menyebut pernyataan Mendikbud membuat dahi mengkerut; Luthfi Assyaukanie menyebut Mendikbud blunder; Denis Maltoha (filsuf?) menyebut Mendikbud sesat pikir dan kejam (Quereta, 9/8/2016); dan masih banyak lagi kritik-kritik yang jauh lebih tajam bahkan cenderung kasar (di antaranya dalam bentuk meme). Uniknya, tidak sedikit dari para pengritik itu (disadari atau tidak) merupakan “eks anak didik” FDS.

Pada dasarnya FDS sudah diterapkan di banyak sekolah di negeri ini, baik secara tersirat maupun tersurat. Yang tersirat seperti boarding school, pesantren, pendidikan seminari, dan sekolah-sekolah kedinasan yang pada umumnya bahkan menerapkan full day and night school.

Yang tersurat seperti SMA A. Wahid Hasyim (Jombang, Jawa Timur), SMA Internasional Budi Kartini (Surabaya, Jawa Timur), SMA Tunas Luhur Paiton (Probolinggo, Jawa Timur), SMP-SMA Al-Mamoen (Cianjur, Jawa Barat), dan lain-lain.

Mencermati kritik-kritik terhadap FDS, saya teringat Imam Ghazali yang membagi manusia menjadi empat golongan (tipe). Pertama, rajulun yandri wa yadri annahu yadri (orang yang tahu dan tahu dirinya tahu). Kedua, rajulun yadri wa la yadri annahu yadri (orang yang tahu dan tidak tahu dirinya tahu).

Ketiga, rajulun la yadri wa yadri annahu la yadri (orang yang tidak tahu dan tahu bahwa dirinya tidak tahu). Keempat, rajulun la yadri wa la yadri annahu la yadri (orang yang tidak tahu dan tidak tahu bahwa dirinya tidak tahu).

Dengan meminjam kategorisasi Imam Ghazali, saya ingin melihat tipe-tipe kritik yang dilontarkan publik terhadap FDS. Pertama, mereka yang tahu apa dan bagaimana FDS dan tahu plus minusnya jika FDS diterapkan. Mereka gencar mengritik FDS karena dilandasi pengetahuan yang cukup tentang pendidikan. Tapi mungkin karena perbedaan perspektif dalam melihat FDS (antara dirinya dan sang Menteri) sehingga tidak ada titik temu. Perhatikan, misalnya, komentar Imam Prasodjo berikut ini:

“Ketahuilah Pak Menteri bahwa terlalu banyak sekolah yang tak layak sebagai lingkungan belajar, atau bahkan tak layak hanya sebagai tempat sekadar berkumpul. Lihatlah kondisi SD dan SMP di banyak wilayah, apalagi daerah terpencil. Angka statistik di Kemendikbud pasti tersedia yang menunjukkan berapa banyak sekolah yang rusak, tak ada toilet, tak ada halaman bermain, atau bahkan sudah masuk kategori zona berbahaya.”

Jelas ada perspektif yang berbeda antara apa yang dipikirkan Menteri Muhadjir dan yang dipikirkan Imam Prasodjo. Aktivis Nurani Dunia ini melihat kemungkinan penerapan FDS dari sudut pandang negatif, yakni untuk sekolah-sekolah yang dari sudut pandang Menteri Muhadjir pun sebenarnya tidak mungkin akan menjadi tempat penerapan FDS.

Kedua, mereka yang pada dasarnya memahami apa dan bagaimana FDS, namun (mungkin karena alasan-alasan subjektif) mereka tidak tahu bahwa dirinya paham. Termasuk katagori ini adalah mereka yang sudah lama bergerak di dunia pendidikan (guru, dosen) dan sebagian merupakan alumni (produk) dari pesantren dan atau boardong school. Mereka menjadi kritikus terdepan seolah-olah tidak pernah merasakan manfaat dari FDS. Psikolog Yayah Khisbiyah menyebut mereka ini sebagai great pretender. Orang-orang yang sejatinya mengerti tapi penuh kepura-puraan.

Ketiga, mereka yang benar-benar tidak tahu FDS dan tahu dirinya tidak tahu. Mereka ini bisa dari kalangan awam, bisa juga dari kalangan cerdik pandai yang bukan ahli pendidikan. Prinsipnya kritik dulu, mencermati kemudian. Mengritik mungkin karena mengikuti arus, tapi karena sadar dirinya tidak tahu, maka tetap berusaha mencari tahu apa dan bagaimana FDS. Orang-orang seperti ini biasanya mau menerima penjelasan karena sadar akan ketidaktahuan dirinya. Setelah tahu, bisa berubah mendukung, bisa juga tetap mengkritik.

Keempat, mereka yang tidak tahu FDS dan tidak tahu kalau dirinya tidak tahu. Ini kelompok yang paling buruk. Mengkritik seolah-olah tahu, padahal tidak tahu. Bisa dari kalangan awam, bisa juga dari kalangan orang-orang ternama tapi bukan ahli di bidang pendidikan.

Mereka tidak tahu diri atau sok tahu. Atau bisa juga waton suloyo (asal mencela) untuk sekadar mencari popularitas. Termasuk dalam tipe ini adalah kalangan artis yang tiba-tiba jadi pengamat pendidikan dengan kritik-kritiknya yang tajam seperti Deddy Corbuzier, Sophia Latjuba, Rossa, Tyas Mirasih, dan Julia Perez.

“Gagasan program Full Day School belum tepat diterapkan di Indonesia karena memang secara filosofis dan praktis, gagasan tersebut bermasalah,” kata Anamg Hermansyah.

“Dunia pendidikan kita ini jangan dijadikan kelinci percobaan. Ini bukan waktunya untuk menjadi kelinci percobaan, dan siswa-siswa kita juga bukan kelinci percobaan,” kata Fadli Zon.

Jika anggota Komisi X DPR RI dan Wakil Ketua DPR RI ini mau memahami penjelasan Mendikbud, keduanya bisa masuk kritikus tipe ketiga, tapi jika tidak mau tahu, mungkin termasuk tipe keempat. Wallahu’alam!

Yang menarik, di luar kritik-kritik keras yang berkembang di media dan (terutama) media sosial, FDS justru mendapat apresiasi dan dukungan dari para pendidik kenamaan seperti Arif Rachman, Rhenald Kasali, dan Komaruddin Hidayat.

sumber: http://geotimes.co.id/setelah-full-day-school-menteri-muhadjir-dikritik/

Sikap PP Ikatan Pelajar Muhammadiyah Tentang Kebijakan Penyesuaian 5 Hari Sekolah

Pernyataan Pimpinan Pusat Ikatan Pelajar Muhammadiyah
Tentang Kebijakan Penyesuaian 5 Hari Sekolah

Assalamu’alaikum Wr.Wb
Mengawali tahun ajaran baru 2017/2018, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Prof. Dr. Muhadjir Effendy, M.Ap mengeluarkan kebijakan penyesuaian jam belajar siswa selama lima hari di sekolah. Kebijakan ini merupakan wujud dari implementasi Program Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) yang dijalankan mulai tanggal 1 Juli 2017. Menanggapi kebijakan baru ini, Pimpinan Pusat Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) melakukan serangkaian kajian dengan berbagai pertimbangan sebagai berikut:

1. IPM memandang pendidikan sebagai sektor strategis bagi pembangunan peradaban bangsa. Ketika sistem pendidikan yang dijalankan baik, maka baik pula kualitas manusia di dalamnya. Karena strategisnya sektor ini, sistem pendidikan yang dijalankan di Indonesia harus mampu mengembangkan manusianya menjadi insan yang cerdas, berakhlak mulia, kreatif, berbudi luhur, dan memiliki daya saing tinggi.

2. Modal yang penting agar mampu bersaing di ranah global adalah memiliki sumber daya manusia yang berkarakter dan berbudaya. Kita boleh menjulang ke atas langit, tapi juga harus mengakar kuat ke dalam bumi. Oleh karena itu, pendidikan karakter menjadi kerangka utama pengembangan manusia Indonesia yang salah satunya termanifestasikan melalui sistem pendidikan yang terstruktur dan sistematis.

3. Urgensi pelaksanaan pendidikan karakter akhir-akhir ini dirasa penting di tengah menguatnya paham ekstremisme, sektarianisme, terorisme, dan penyebaran ideologi transnasionalis yang berpotensi melunturkan semangat dan nilai-nilai Pancasila di kalangan masyarakat. Menanamkan identitas ke-Indonesiaan sejak dini diharapkan menjadi bekal kemajuan bangsa di masa depan.
4. Agar pendidikan karakter ini bisa berjalan optimal, diperlukan sinergisitas berbagai pihak. Sekolah bekerjasama dengan keluarga, tokoh masyarakat, tokoh agama, pengusaha, hingga lembaga keagamaan sehingga memiliki pandangan dan kesadaran yang sama. Keterlibatan berbagai pihak ini memungkinkan para pelajar untuk belajar secara langsung bersama pihak luar sehingga tercipta proses dialog dan pembelajaran yang mencerahkan. Sekolah dengan demikian menjadi ruang diskursus yang dapat memantik nalar kritis dan apresiatif para siswa.

5. Dalam menyelenggarakan program ini, hak-hak pelajar tidak boleh dikesampingkan. Pelajar memiliki hak untuk dibimbing dan diarahkan sesuai minat, bakat, dan potensinya masing-masing yang belum tentu sama. Hak pelajar ini juga termasuk kesempatan untuk berkreasi dan mengembangkan minat dan bakat tersebut.

Kerangka diskusi yang disebutkan di atas kami gunakan untuk melihat kebijakan Kemendikbud sehingga menghasilkan beberapa poin penting sebagai berikut:
1. IPM mengapresiasi upaya pemerintah mengedepankan aspek pendidikan karakter bagi pelajar di Indonesia. Pada bagian ini, suksesnya pelajar memasuki jenjang pendidikan tidak sekadar diukur dari materi pelajaran yang disampaikan di kelas saja. Memberikan porsi 70% untuk pembentukan karakter dan 30% untuk ilmu pengetahuan memungkinkan pelajar mendapatkan materi yang aplikatif dan berguna dalam kehidupan secara langsung, meski tidak meninggalkan pengetahuan umum.

2. Jika dihitung berdasarkan proporsi yang disebut di atas, penyesuaian waktu sekolah menjadi 5 hari tidak serta merta dilihat sebagai penambahan waktu dan pemadatan belajar siswa. Delapan jam sehari tidak melulu dihabiskan di dalam kelas mendengarkan ceramah guru. Jika porsi pengetahuan umumnya 30 persen, maka dari delapan jam itu hanya 2,4 jam saja yang difokuskan untuk mengkaji ilmu pengetahuan secara khusus. Selebihnya, waktunya dapat digunakan untuk mengembangkan ilmu pengetahuan yang didapat dari praktik yang dibimbing oleh guru. Ilmu dari praktik di laboratorium atau di lingkungan secara langsung lebih memudahkan siswa mencerap materi dan merasakan kegunaan ia belajar materi.

baca: Sekolah 5 Hari Dorong Siswa Ikut Diniyah, Mendikbud Muhadjir Effendy

3. Di luar porsi 30 persen untuk pengetahuan umum, pelajar dimungkinkan untuk mengembangkan minat dan bakatnya di luar kelas. Kegiatan ekstrakulikuler seperti olahraga, kesenian, PMR, jurnalistik, kegiatan keagamaan, organisasi siswa, dan komunitas kreatif lainnya memungkinkan untuk dibentuk di sekolah. Pemberian porsi yang besar pada kegiatan pengembangan ini dan diberikannya hak penilaian atas kegiatan yang dilakukan menjawab harapan masyarakat umum yang selama ini menganggap bahwa penilaian siswa berpusat pada pengetahuan kognitif, beban belajar (ilmu pengetahuan) yang terlalu berat, dan kurang bermuatan karakter.

4. Proses belajar di sekolah yang menjadi lima hari jika dilihat konsepnya lebih dalam tidak serta merta mengalienasi pelajar dari lingkungan sekitar. Program Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) yang disusun oleh Kemendikbud melibatkan keluarga dan masyarakat sebagai pembimbing secara kolaboratif bersama pihak sekolah. Melibatkan keluarga dan masyarakat dalam proses pendidikan di sekolah mampu meningkatkan kesadaran bahwa pendidikan tidak sekadar tanggung jawab guru dan sekolah, melainkan tanggung jawab bersama. Bentuknya, proses pendidikan bisa dilakukan di tengah-tengah kampung, masjid, gereja, taman, dan tempat-tempat umum lainnya.

5. Waktu libur Sabtu-Ahad secara penuh yang didapatkan pelajar menjadi waktu yang panjang untuk berkreativitas secara lebih luas. Waktu libur yang panjang ini dapat menjadi waktu senggang yang panjang untuk mengembalikan semangat beraktivitas di hari Senin. Mengembalikan mood agar lebih segar setelah beraktivitas bermanfaat untuk menjaga proses belajar mengajar berjalan efektif.

baca: Full Day School Bisa menangkal Radikalisme di Sekolah, Maarif Institute

Berdasarkan hasil diskusi yang panjang tersebut, Pimpinan Pusat Ikatan Pelajar Muhammadiyah menyatakan sikap sebagai berikut:
1. Mengapresiasi kebijakan Kemendikbud yang fokus pada pengembangan pendidikan karakter serta mendukung penyesuaian waktu belajar lima hari agar proses dan hasilnya efektif mendukung jargon Revolusi Mental yang digagas Presiden Jokowi di mana revolusi membutuhkan perubahan sosial-kebudayaan yang berlangsung cepat dan menyangkut dasar serta pokok kehidupan masyarakat.
2. Karena ini berkaitan dengan kebijakan nasional, penerapannya membutuhkan penyesuaian di berbagai daerah. Untuk itu, kami mendorong Kemendikbud untuk melakukan sosialisasi lebih luas mengenai hal ini agar semua pihak mengerti apa yang direncanakan. Agar tidak miskomunikasi dan terjebak pada perdebatan istilah-istilah tertentu yang tidak masuk pada substansinya. Sosialisasi ini juga penting agar pada tataran aplikasi, sekolah tidak sekadar menambah jam pelajaran sehingga malah justru memberatkan para siswa. Penyesuaian ini dilakukan tentu saja diterapkan dengan mempertimbangkan bobot capaian yang telah dimaksud sesuai dengan rencana program.
3. Dalam penerapannya di awal ajaran baru nanti, IPM mengharap pada sekolah sepenuhnya memperhatikan hak-hak pelajar untuk berkembang sesuai dengan minat, bakat, dan potensi para peserta didik. Mari jadikan sekolah sebagai rumah kedua yang menyenangkan bagi pelajar untuk berkarya nyata bagi bangsa dan negara.

Demikian pernyataan sikap Pimpinan Pusat Ikatan Pelajar Muhammadiyah ini dibuat. Semoga kita semua bisa bersinergi dalam upaya mewujudkan cita-cita besar untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Semoga Allah SWT. selalu meridhoi setiap langkah perjuangan kita.
Amiin.

Nuun Walqolami Wama Yasthurun
Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Jakarta, 12 Juni 2017/ 17 Ramadhan 1438 H
Velandani Prakoso
Ketua Umum PP IPM
(0857-4700-0596)

Inilah, Kabar Peniadaan Pendidikan Agama di Sekolah Tidak Benar

Mendikbud Muhajir Sekolah 5 hari fullday
Mendikbud Muhajir Sekolah 5 hari fullday
Mendikbud foto:kemdikbud.go.id

Jakarta, Kemendikbud — Beredarnya pemberitaan yang menyebutkan bahwa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) akan meniadakan Pendidikan Agama di sekolah adalah tidak benar. Upaya untuk meniadakan pendidikan Agama itu tidak ada di dalam agenda reformasi sekolah sesuai arahan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) ungkap Kepala Biro Komunikasi dan Layanan Masyarakat (Ka BKLM) Ari Santoso.

baca: Full Day School Bisa menangkal Radikalisme di Sekolah, Maarif Institute

“Justru pendidikan keagamaan yang selama ini dirasa kurang dalam jam pelajaran pendidikan agama akan semakin diperkuat melalui kegiatan ekstrakurikuler,” disampaikan Ari Santoso usai mengikuti Rapat Koordinasi dan Sinkronisasi Kebijakan dengan Unit Pelaksana Teknis di kantor Kemendikbud, Jakarta, Selasa sore (13/6).

Dijelasakannya bahwa pertanyaan wartawan kepada Mendikbud Muhadjir Effendy usai Rapat Kerja dengan Komisi X DPR RI mengenai apakah dengan penerapan lima hari sekolah akan meniadakan madrasah atau mengaji. Pertanyaan tersebut dijawab Mendikbud dengan tegas bahwa sesuai dengan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Permendikbud) Nomor 23 Tahun 2017, sekolah dapat bekerja sama dengan lembaga pendidikan yang menyelenggarakan pendidikan karakter yang sesuai dengan nilai karakter utama religiusitas atau keagamaan.

baca: Sekolah 5 Hari Dorong Siswa Ikut Diniyah, Mendikbud Muhadjir Effendy

“Judul pemberitaan tersebut tidak tepat. Ada konteks yang terlepas dari pernyataan Mendikbud usai Raker dengan Komisi X tadi siang,” jelas Ari.

Ari menambahkan, bahwa Mendikbud mencontohkan penerapan penguatan pendidikan karakter yang dilakukan beberapa kabupaten seperti Kabupaten Siak yang memberlakukan pola sekolah sampai pukul 12 lalu dilanjutkan dengan belajar agama bersama para uztad. Siswa diberi makan siang yang dananya diambil dari APBD. Kemudian Mendikbud menyampaikan pola yang diterapkan Kabupaten Pasuruan. Seusai sekolah, siswa belajar agama di madrasah diniyah.

Pernyataan Mendikbud telah sesuai dengan pasal 5 ayat 6 dan ayat 7 Permendikbud tentang Hari Sekolah yang mendorong penguatan karakter religius melalui kegiatan ekstrakurikuler.

“Termasuk di dalamnya kegiatan di madrasah diniyah, pesantren kilat, ceramah keagamaan, retreat, katekisasi, baca tulis Al Quran dan kitab suci lainnya,” pungkas Ari. (*)

Jakarta, 13 Juni 2017
Biro Komunikasi dan Layanan Masyarakat Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

Nayiatul Aisyiyah Peduli Nanik, Wanita Panceng Kena Musibah Ganda

Nanik Foto pwmu.co

Menjadi seorang ibu adalah impian setiap pasangan yang telah menikah. Begitu pula dengan Nanik. Penantian 14 tahun bersama Suryadi, suaminya, untuk mendapat momongan, baru dijawab Allah pertengahan Mei lalu.

Namun, ujian datang lagi. Setelah 20 hari pascamelahirkan melalui operasi Caesar, wanita 35 tahun ini pun harus kembali menjalani operasi. Kali ini tulang lengan kirinya harus dioperasi akibat kecelakaan lalu lintas, 10 haru lalu (3/6). Bagi wanita dari keluarga tak mampu ini, dua kali menjalani operasi adalah sesuatu yang berat, karena membutuhkan biaya besar. Nanik seperti mendapat musibah ganda.

Kondisi itu memunculkan empati Pimpinan Daerah Nasyiatul Aisyiyah (PDNA)—disingkat Nasyiah—Kabupaten Gresik. Mereka bergerak untuk membantu meringankan beban berat Nanik. “Biaya operasi pascakecelakaan yang mencapai Rp 13 juta juga menjadi dasar kami mengumpulkan donasi,” kata Nurul Afianah Amd Keb, Ketua Departemen Sosial Kesehatan PDNA Kabupaten Gresik.

“Alhamdulillah dana sebesar Rp 4.550.000 berhasil kami himpun untuk membantu mengembalikan pinjaman beliau,” kata Ifa Faridah SPdI, Ketua PDNA Kabupaten Gresik, saat melaporkan dan menyampaikan bantuan, Senin (12/6). “Kami juga mengajukan bantuan kepada LAZISMU Kabupaten Gresik. Alhamdulillah mendapat santunan sebesar Rp 750.000,” ujar Ifa Ketua PDNA Gresik. 

Sementara itu, Pimpinan Ranting Nasyiatul Aisyiyah (PRNA) Ketanen juga turut memberikan donasi sebesar Rp 500.000 untuk Nanik yang juga merupakan anggota PRNA Ketanen.

Menempati rumah keponakannya di Dusun Sono, Desa Ketanen, Kecamatan Panceng, Kabupaten Gresik, kondisi Nanik saat ini masih kesulitan untuk menyusui bayinya. Sementara suaminya yang bekerja sebagai buruh ternak sapi masih harus mencicil pinjaman uang yang ia gunakan untuk operasi patah tulang istrinya.

Bagi pembaca yang juga ingin berempati bisa menghubungi Nurul Afianah 085745350157. (Tari) Sumber: pwmu.co

Full Day School Bisa menangkal Radikalisme di Sekolah, Maarif Institute

Mendikbud Muhajir Sekolah 5 hari fds
Mendikbud Muhajir Sekolah 5 hari fds
Mendikbud Muhajir Sekolah 5 hari (foto kompas)

Wacana Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI untuk menetapkan program full day school (sekolah sehari penuh) sebagai bagian dari kebijakan Program Pendidikan Karakter (PPK) mendapatkan dukungan banyak pihak. Maarif Institute menyambut baik kebijakan Menteri Muhadjir ini.

“Pada dasarnya Maarif Institute mendorong kebijakan ini, sekolah memiliki peran lebih aktif dan leluasa dalam upaya melawan radikalisme yang sering kali dilakukan di luar jam sekolah,” kata Direktur Eksekutif Maarif Institute Muhammad Abdullah Darraz di Jakarta, Senin (12/6).

Darraz menjelaskan bahwa melalui adanya kebijakan ini, berarti sekolah bisa meminimalisir peran kelompok radikal. Menurut dia, benteng sekolah bisa diperkuat untuk menghalau kelompok radikal dengan memperkaya kehidupan sekolah dengan kegiatan-kegiatan siswa yang positif dan beragam.

Baca juga: Sekolah 5 Hari Dorong Siswa Ikut Diniyah, Mendikbud Muhadjir Effendy

“Program full day school bukanlah hal yang baru di Indonesia. Dalam tradisi pendidikan di Indonesia, program ini sudah banyak dilakukan. Kita berharap bisa meminimalisir peran kelompok radikal,” tandas dia.

Kekhawatiran sebagian pihak mengenai implementasi program full day school, kata Darraz harus disikapi dengan pembuktian implementasi full day school yang tetap memenuhi hak-hak dan kreativitas anak, termasuk pelibatan lingkungan sekitar sekolah dalam proses pembelajaran.

“Adapun asumsi-asumsi penolakan yang dilontarkan sebagian pihak terhadap kebijakan ini hendaknya dapat didialogkan secara konstruktif,” imbuh dia.

Lebih lanjut, Darraz mengatakan sudah sepatutnya penolakan itu tidak dilakukan secara apatis. Dia menilai Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan telah melakukan kajian mendasar terhadap lahirnya kebijakan ini.

“Oleh karena itu berbagai perbedaan dalam menanggapi kebijakan ini perlu didialogkan secara lebih terbuka,” pungkas dia. Sumber: Suara Pembaruan