Home Kolom Kesungguhan Dr. saad Ibrahim MA dalam Mencari ilmu

Kesungguhan Dr. saad Ibrahim MA dalam Mencari ilmu

646
1

Saad IbrahimKesungguhan Dr. saad Ibrahim MA dalam Mencari ilmu

Oleh: Fadh Ahmad Arifan

Seorang pria berbaju batik bermotif Muhammadiyah keluar dari mobil Baleno warna silver. Ia parkir di depan mobilnya Wakil direktur Pascasarjana UIN Malang. Otomatis saya habiskan bekal makanan dan bergegas masuk ke kelas. Hari itu giliran mas Asvi burhanuddin mempresentasikan makalah tentang tafsir Hermeneutika. Wajah Pria asal Pacet mojokerto itu serius banget membaca isi makalah kawanku tadi. “Sepertinya… asvi kena banyak revisi fadh”. Bisik teman sebelahku Faisol rizal.

Makalah sampean belum mencantumkan siapa saja yang mengkampanyekan tafsir ini di IAIN/UIN. Dengarkan… kebanyakan orang yg mengajarkan tafsir bibel ini bukan ahli tafsir dan ushul fiqh. Azyumardi azra, komaruddin dkk tidak mengerti apa-apa tentang tafsir Quran.” Masih kata pria tersebut,”Quraish shihab tidak setuju dengan pemakaian hermeneutika terhadap kitabullah“. Benarlah ucapan dosen ini. Di buku terbaru Prof Quraish shihab yang berjudul Kaidah Tafsir, beliau mengkritisi hermeneutika.

Prof Dr. Quraish shihab adalah pembimbing disertasinya yang jumlah halamannya dibawah 100. Konon disertasi tertipis di Indonesia. Disertasinya telah diterbitkan UIN maliki press dengan judul “Kemiskinan perspektif al Quran”. Suami dari rochimah ini lulus dari prodi tafsir Quran pada tahun 1997. Saat menimba ilmu di jakarta, ayah lima anak ini mengaku belajar banyak ke Nurcholis madjid dan Harun nasution. “Kita tidak bisa ambil satu lalu kita meniru. Ibaratnya ada bunga bunga yang kita ambil dari berbagai tempat, lalu kita letakkan di vas bunga. Itulah kita“. Jadi bukan ikuti satu dua guru, tapi memadukan semuanya hingga menjadi kita. Itu yang saya pahami saat bertanya kepada beliau,”Cak nur dan Prof harun liberal, untuk apa belajar kepada mereka?”

Pak Saad Ibrahim, lahir 17 November 1954. Pada 40 hari sebelum dilahirkam ke dunia, beliau menjadi yatim. Saat kelas 4 di MI, ia diajari membaca kitab kuning. Usai lulus dari MI, pak Saad bantu-bantu kakaknya bertani dan cari kayu bakar (Majalah Mimbar, edisi Februari 2016).

Pak saad ini bisa dijadikan uswah dalam mencari ilmu. Tekadnya kuat. Saat kuliah, selain dibiayai kakaknya, ia jual sawah warisan bapaknya. “Sampean harus punya iradah dari sekarang, harus lanjut S3. Ada biaya ngapain tidak lanjut jenjang doktoral? Dulu saya punya prinsip kuat harus kuliah, maka saya tidak berfikir di belakang harinya.” Katanya sambil menepuk pundakku.

Pak saad juga seorang kutu buku. Kakek dari garis ibunya saat wafat meninggalkan banyak kitab kuning. Kalau ke toko buku lagi tidak bawa uang, beliau pinjam temannya. Di lain kesempatan beliau pernah bercerita kalau dirinya pernah mengalami peralihan teologi. Dari NU ke muhammadiyah. Katanya muhammadiyah rasional dan mampu memberi pencerahan.

Saat diskusi panel dengan Prof Dr Ahmad zahro di aula Pascasarjana (gedung lama), pak Saad memberi wejangan yang tidak akan saya lupakan,”Warga NU memberi manfaat bagi sesama warga NU itu biasa. Warga Muhammadiyah memberi manfaat bagi sesama warga Muhammadiyah juga biasa. Yang luar biasa adalah ketika warga NU memberi manfaat bagi warga Muhammadiyah, atau sebaliknya, warga Muhammadiyah memberi manfaat bagi warga NU“.

Meski aktif jadi pucuk pimpinan PWM muhammadiyah jawa timur, beliau dipercaya menjadi ketua Prodi di pascasarjana Unhasy Jombang. Boleh jadi, masuknya pak Saad ke lembaga yang dikelola keluarga Gus Sholah itu tak lepas dari ajakan Prof Dr Imam suprayogo. Beliau marah sekali jika ada mahasiswanya yang lulusan pesanten tapi buta kitab kuning. “Saya ini bukan lulusan pondok tapi alhamdulillah saya bisa baca kitab kuning“. Katanya di tengah perkuliahan. Wallahu’allam

Penulis adalah Pendidik di MTs Muhammadiyah 2 Malang, Jawa timur

1 COMMENT

  1. Penting untuk mewarnai tidak diwarnai, menggarami dimana saja supaya rasanya ada dan terasa. Menjadikan Islam Nusantara Yang Berkemajuan. Selamat.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here